[Kajian] Sekantung Cinta di Pundak Hera

Kajian Sajak Naimah Hera Hizboel: Narimo Ing Pandum dan Sajak 26 Juni 2009

Oleh Ilham Q. Moehiddin

MEMBACA Herawati Ibrahim, alias Naimah Hera Hizboel dalam beberapa sajaknya, tak akan lepas mata sebelum syair usai. Jika masih mungkin menyebut sajak-sajaknya: mencerahkan.

Siapa Hera ini? Dia adalah perempuan produktif dengan puluhan karya dan aktifitas. Saya sendiri belum mengenal dia, sampai karyanya saya baca. Dalam setiap tarikan penanya, Hera ini bernafas, memendar larik cahaya, yang dengan mudah menerangi makna yang hendak kita capai. Sederhana kalimatnya, namun dalam dasarnya.

hidup adalah
rangkaian dari keharusan demi keharusan
yang tak terelakkan

karenanya
tak usah dicermati
tak usah dikritisi
tak usah ditangisi
tak usah disesali

tanggalkan hati
singkirkan rasa
jalani semua apa adanya
dan biarkan mengalir mengikuti kehendak-Nya

syukuri saja dan terus syukuri
agar menjelma menjadi butiran-butiran cinta
yang akan mengiringi langkah kita
menuju mahligai-Nya…

(Narimo Ing Pandum – Naimah Herawati Hizboel, Juni 2009)

Seperti itulah Hera ini memaknai hidup dan hubungannya dengan Tuhannya.

“Hidup adalah rangkaian dari keharusan demi keharusan yang tak terelakkan.”

Benar. Hidup memang tak perlu dilihat dan dirasakan rumit, serumit yang seharusnya.

“Jalani semua apa adanya dan biarkan mengalir mengikuti kehendak-Nya.”

Apa yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan (Illahi Taala) itu dari manusia. Secara sederhana; cuma agar manusia menjalani apa yang telah dihadirkan dengan semestinya, sewajarnya. Kendati tak perlu risau jejak kau tinggal. Bukan manusia yang hendak menghitungnya. Bukankah, amalan itu tak laksana buah persik; harum aromanya, manis rasanya, mampu disentuh dengan tekstur pada permukaannya yang sedikit kasar.

Itulah amalan itu. Dan Hera ini mengerti benar.

Jejak kata-kata Hera masih akan berlanjut jika dia tak menahan diri. Sepertinya, memang dia ini menahan-nahan diri; hendak berenang dalam lautan kalimat Ilahiyah, tetapi ada malu untuk melakukannya. Jadinya, dia di tepian saja, sambil memandang pada kejauhan, dia ambil satu-satu hal yang penuh makna.

Memang, sampai detik ini, belum ada orang yang mampu merenangi keluasan samudera artifisial ilahiyah yang sejak periode penciptaan itu menghampar. Kendati banyak yang sudah mencoba merenanginya, tak pernah jua sampai ke tepian selanjutnya. Mereka moksa pada pertengahan. Larung berbenam campur, sebab rasa bahagia yang memenuhi dada, rasanya sudah cukup. Mereka lalu menjelma sufi, waliullah. Jika engkau tak mau aku katakan; bahwa mereka itu, yang sedang menggenggam ujung kain jubah para rasul dan nabi.

Naimah Herawati Hizboel rupanya berhasil memanifestasikan banyak pemaknaan dari cinta. Sepertinya di pundak perempuan ini ada sekantung besar penuh cinta yang memberatinya. Pundaknya yang disesaki kantung cinta ini, walau berat, bahagia dia memikulnya. Sebab tak ada sepenggal maknanya dia luput. Hera benar-benar tahu apa yang dilakukannya, apa yang jalaninya, dan apa yang dituliskannya. Dia ini faham.

syukuri saja dan terus syukuri
agar menjelma menjadi butiran-butiran cinta
yang akan mengiringi langkah kita
menuju mahligai-Nya…

Bukankah telah aku katakan, bahwa dia faham benar apa yang dia tuliskan, dia rasakan. Bacalah empat larik di atas itu. Hera, barangkali, telah merasakan kehadiran bentuk energi murni dalam hidupnya, yang dia hanya mampu memaknainya sebagai cinta; pergulatan hidup, problematika, kiasan-kiasan arus moksa, keparipurnaan rasa dan estetika, kesendirian, dan baluran dari perasaan-perasaan serta hasrat-hasrat indah lainnya. Dan Hera hanya sanggup memaknainya sebagai cinta: Hera faham benar.

Hera tahu benar hidup itu dimulai dari mana, kemana pertengahannya, dan dimana akhirnya. Hidup bukan ketika engkau keluar dari rahim ibu, tetapi hidup itu dimulai sesegera ketika kau menghadapi masalah; bahagia, duka, lara, gembira.

Selepasnya, dia pun tahu hendak kemana pertengahan hidup ini di larung. Kata-kata dalam sajak Hera tidak membuat mabok, tidak pula kita dihinggapi trance. Tetapi menggapainya, merayapinya, merenggutnya, menikmatinya, adalah sensasi tersendiri. Adalah hal unik ketika kita berusaha menempel di setiap larik kata-kata Hera itu.

Engkau pasti segera tahu apa yang aku maksud jika usai menyimak ini:

pendar cahaya lampu-lampu di sudut kota
seolah pantulan usiaku
terang
gemerlap
bakan terkadang muram dan sepi

Allahu Robbi
semua yang ada padaku adalah
karunia-Mu yang tak terhingga
susah senang adalah nyanyian hati
bahagia derita adalah pelangi-pelangi jiwa

aku belajar dan terus belajar
menghapus paksa birunya rinduku
agar ia tak lagi membutakan mata hatiku dan
menghalangi langkahku menuju-Mu

Allahu Robbi
harapanku pada-Mu tak kunjung usai
meski hidup tak pernah pasti
meski gelombang menampar keras tubuh ini
tak lantas surut asaku pada-Mu
tak lantas surut jiwa ini menggapai tepian hati-Mu

Allahu Robbi
di titik usiaku saat ini
air mata kesadaran menetes membasahi pipi dan
relung-relung hatiku
di titik usiaku saat ini
terurai doa
harapan
dan mimpi-mimpi indah tentang
asa-ku pada-Mu

Allahu Robbi jangan kau tutup mata hatiku dari cinta-Mu
karuniai aku mimpi-mimpi indah tentang kasih sayang-Mu
dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu
amin

(Naimah Hera Hizboel, Sajak 26 Juni 2009)

Bukankah perumpamaan yang coba di tarik Hera dalam bahasa syairnya sangat-sangat bersifat manusia; manusiawi sekali. Bukankah, hal-hal yang disebutkan Hera itu, kerap singgah menghampiri perjalanan hidup kita. Tak ada bayangan orang lain yang mencoba menjadi orang lain, cukup diri sendiri.

Faktanya, memang, kita selalu berjuang untuk diri sendiri. Ketika entitas lain menghampiri kita, selebihnya akan selalu dianggap sebagai jembatan kesempurnaan. Tidak ada orang yang benar-benar berada di samping kita, sehingga kita menyangkalinya. Kita ini sekadar manusia; cuma sekadar manusia.

***

“Ah, Hera ini, terlalu cepat hendak menggapai Tuhannya.” Demikian kata seorang dosen sastra kenalanku, ketika kutunjukkan padanya sajak Hera. Aku tahu perkataan sahabatku itu pun berbungkus umpama; Hera berusaha laju, melewati hasratnya, mengingkarinya, menyingkirkannya, hanya agar supaya dia lebih dekat pada Allah. Hera membungkus hasrat kemanusiaannya dalam doa dan metode, menekannya, agar lebih khusyuk pada Tuhannya.

Demikian kata kawanku itu.

Padanya, aku katakan perseberangan pendapatku, yang akhirnya kami harus memperdebatkan (mendiskusikan) sajak Hera ini sampai pukul satu dini hari. Di kampus tempatnya bekerja. Saat malam dekat menghampiri pagi.

Aku sampaikan pokok pikiranku; ketika engkau manusia, maka sulit menjelma lain. Kau hanya manusia, demikian itu kau ditakdirkan, dilahirkan. Kesadaran pada entitas macam itu, membuat kau harus berpaling pada entitas Ilahiyah. Mengadu, menumpah gejolak, berpegang, bahkan tak akan malu engkau meminta. Tuhan menjadi tempat yang baik untuk mendiskusikan masalah, dan berusaha menebak jawaban sebagai solusi.

Demikian, pula aku menyilangi pendapatnya.

Panjang dan luas kami bersilangan pendapat, yang awalnya dari sajak Hera, hingga menghantar kami berdua pada tukar pendapat soal manusia dan ketuhanan. Bukan main, kami, dalam diskusi itu saling melempar rujukan, saling mematahkan referensi, saling bunuh pemahaman.

Banyak sudah akhirnya buku yang kami rujuk-rujuk, tak sempat aku menghitungnya. Kepala kami seperti ditembus sejumlah judul dan kutipan dalam buku, serta nama pengarangnya. Jika kawanku itu lari pada referensi thasawuf, aku mengejarnya ke sana. Jika dia mencoba menghilang di tikungan sufistik, aku sudah menunggunya di ujung tikungan berikutnya. Jika dia itu hendak menyelam dalam referensi konsep ketauhidan dalam sanad yang berbeda-beda, maka aku membuntutinya dan berusaha menyelam disampingnya, tak mau ketinggalan. Kawanku itu sungguh cakap di bidang yang terakhir aku sebut itu.

Jikalau malam tak menghampiri pagi, tak akan pungkas diskusi itu, tak akan ingat aku untuk pulang. Kami berpisah dengan akrab sambil tertawa terbahak-bahak.

***

Begitulah, hingga mengapa aku menulis jurnal ini. Larik kalimat dalam sajak Hera menetak tepat titik kesadaran bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari rutinitas penghambaan, sebagaimana hujjah manusia itu diciptakan.

Ada ujar-ujar tentang manusia yang tak boleh lari dari masalah, tetapi menyelesaikan masalah itu. Tetapi, apa yang dikandung dalam kalimat Hera rupanya tidak merujuk larinya manusia dari masalah, bahwa pencarian pada hakikat ketuhanan adalah juga solusi untuk menyelesaikan masalah. Kadangkala, engkau, kita, mesti bersimpuh. Sekali waktu. Luangkanlah.

***

Allahu Robbi jangan kau tutup mata hatiku dari cinta-Mu
karuniai aku mimpi-mimpi indah tentang kasih sayang-Mu
dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu
amin

Melegakan. Membaca permohonan Hera agar tak tutup dasar hatinya. Memohon jalan keluar dengan terang cahaya yang menjilam membenamkan gelap.

Permohonan untuk melapangkan hati adalah prosesi klasik pada pemberian ruang yang luas dimana nantinya pada sudutnya engkau akan duduk secara tenang untuk memudahkanmu menyelesaikan masalah. Ruang inilah yang kerap kita minta dalam doa, bukan meminta solusi. Ruang luas yang kita minta itu akan menjadi alat bagi manusia, kita, untuk meretas masalah, memisahkannya, mentautkan ujung satu dengan ujung lainnya, sehingga solusi engkau dapatkan. Kendati, bagaimana melakukannya, sangat tergantung dengan caramu sendiri. Mana bisa engkau menjulurkan, merentangkan kekusutan, membuka buhul tersimpul, jika ruang bagimu tak ada. Jika kondisi mendesakmu sedemikian sempit. Bergerak pun engkau tak bisa.

Maka;

…dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu..

Perempuan Hera ini meminta. ***

Mei, 2010.

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: