[Kajian Sastra] Gaya Deiktik yang Kuat dalam Tulisan Julia Napitupulu

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

 

Suatu waktu, Julia Napitupulu, mentautkan enam tulisannya ke wall account Facebook milik saya. Jelas sekali maksudnya…agar saya membacanya. Tulisan-tulisan Julia saya salin, sehingga mudah bagi saya membacanya satu per satu. Keenam tulisan Julia itu adalah:

1) Dendam Kepada Penjual Coklat (kumpulan puisi pendek, 2010); 2) Hanya Sekali dan Tak Pernah; 3) Lahir Sebagai Pecinta; 4) Merekam Kedamaian; 5) Satu Hari Ku Hidup Untukmu; 6) Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita.

Gaya bahasa populer memenuhi pembacaanku. Tapi tidak selalu. Pada satu-dua tulisan Julia kental menggunakan metafor, tetapi di satu-dua tulisan lainnya metafor-nya sangat tipis. Dan, yang menarik dari tulisannya sehingga enak dan renyah di baca adalah gayanya berkisah.

Karena semua tulisan ini bagus-bagus, maka saya hanya akan sharing dari model penceritaan Julia saja.

Ada tiga tulisan yang mengandung mutual yang intens antara karakternya: Hanya Sekali dan Tak Pernah, Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita, dan Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Judul terakhir ini sengaja saya pisahkan, sebab ‘unik’ dan akan saya bahas terakhir.

Di luar kisah berjudul ‘Satu Hari Ku Hidup Untukmu’, saya nyaris subjetif ketika membaca kedua tulisan lainnya. Entah. Barangkali saya terbawa melankoli sehingga nyaris mengubur sisi objektifitas saya. Tetapi…sungguh, kedua penceritaan ini menghanyutkan, renyah, mengalir, tak padat metafor, begitu mudah difahami.

Ada perbedaan ketika kita menceritakan pengalaman pribadi, dan fiksi. Pengalaman empirik seringkali memuluskan sebuah tulisan sehingga alurnya mengalir. Empirisme dalam bentuk tulisan memang membuat kita (pembaca) serasa menjadi bagian dari diri si penulis dalam pembacaan.

Pada dua tulisan ini saya pun menemukan direct core yang unik dan sukar dilakukan pada kebanyakan penulis:

“Suamiku, suatu saat kamu akan berterimakasih aku pernah tempelkan surat ini di kulkas kita (p.s.: ga usah pula kamu tanya kenapa aku nempelnya di kulkas, ya).”

[pembuka pada tulisan Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita]

Atau,

“Katakan…Berapa kali dalam sehari aku melintas di pikiranmu.”

“Hanya sekali…karena sesungguhnya kamu tak pernah keluar lagi…”

[paragraf kedua, Hanya Sekali dan Tak Pernah]

Direct core macam ini sebenarnya biasa saja, hanya jarang sekali ada penulis yang bisa meletakkannya begitu saja di permulaan tulisan. Kebanyakan mereka harus mengantarnya dulu, sebelum membuat kalimat macam itu. Tapi Julia lancar sekali melakukannya. Ini bagus dan layak dipertahankan sebagai penciri.

Sebenarnya saya sangat penasaran pada kisah Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Pada kisah ini, Julia sedikit unik, dengan menempatkan objek penceritaannya dalam anti-laksem “bolak-balik”, aku bermaksud sebagai dia, dan dia bermaksud sebagai aku. Julia menghindar dari lexical definition.

Penghindaran unik ini biasa disebut deiktik, dan sudah dimulai Julia sejak dari judul kisahnya, Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Dalam kisah ini, penulis, menceritakan kesan-kesannya pada sang kekasih yang terkena stroke akut, sehingga melemahkan beberapa fungsi motorik primer tubuhnya. Dan untuk bisa membahagiakan karaktek ‘Aku’ yang diwakili si penulis, karakter ‘Dia’ hendak memenuhi hari “terakhirnya” dengan segala keindahan suasana. Tetapi, dalam pembacaan, kita digiring oleh penulis untuk merasakan itu dari sisi ‘Aku’, dan bukan dari sisi ‘Dia’.

Membaca kisah Julia ini, saya teringat pada Yale Bloomfield, seorang linguistik Amerika. Bloomfield berhasil meneruskan pendapat Sapir yang semula hanya berkutat pada linguis tradisional penduduk Amerika. Metode pemutahiran Bloomfield inilah yang membuat saya teringat ketika membaca cara berkisah Julia.

Entahlah, apakah sebelumnya Julia sudah menyadarinya atau belum, agaknya Julia telah melakukannya. Pada re-struktur karakter yang terantar lewat definisi, ciri pembeda, dan dasar penentuan opisisi fonologi.

Tanpa disengaja (atau memang disengaja), Julia menyentuh antimentalis Bloomfield dalam gaya penceritaannya, sehingga mengantarkan konsepsi komunikasi Julia pada pembacanya sebagai stimulus pencerita yang hendak memunculkan reaksi berbeda pada pembaca.

Pada Bloomfield, yang penting dalam bahasa adalah fungsinya, sebagai penghubung stimulus penutur (atau pencerita) dengan reaksi mitra tutur (atau pembaca). Definisi ‘Aku’ tidak memperturutkan bunyi dan maksud sebagai ‘Aku’ dan demikian pula dengan definisi ‘Dia’. Julia memperlakukan penyebaran definisi dan sifat akustik menjadi sesuatu yang penting.

Mari kembali ke Julia lagi.

Kisah ini sendiri adalah kisah yang terangkat dalam penceritaan dari memori masa lampau penulis. Dalam notes penulis, tertera; bahwa kisah ini dituliskan kembali setelah delapan tahun ‘mengendap’. Artinya, memori yang melekat pada dinding benak penulis, sedemikian kuatnya, sehingga penulis begitu lancar mengkisahkannya kembali.

Maka, simaklah.

Satu Hari Ku Hidup Untukmu

Oleh Julia Napitupulu (30 Juni 2010)

Setelah 5 hari ‘mati suri’, belum pernah tekadku begitu kuat untuk hidup dengan sikap seolah-olah besok aku mati…jadi, hari ini sangat berharga.

Kupegang lengannya lembut: “Mau makan apa..?”

“Terserah…yang kau suka…” jawabmu termangu.

“Ya jangan dong…kan aku yang mau traktir…pengen apa?” desakku (duh, besok aku tak hidup lagi…katakan, mau makan apa?? Apa pun…aku siap..maksudku, perutku siap, dompet lumayan siap..)

“Yah..ga usah yang mahal-mahal lah, kasian duitmu abis nanti…”

Aduh, aku terharu banget…Rasanya ada magma yang siap meledak dari pusat jantungku. Melebur dengan mata air yang sudah menggantung sejak tadi di pelupuk mataku. Kok masih sempet-sempetnya kau mikirin aku…kan aku udah kerja, udah bisa lah kalau traktir-traktir makan aja.

Sebenarnya acara makan-makan ini juga sesuatu yang ‘ditularkan’ dari mu. Kuingat dirimu dulu…selalu menutup hari yang ‘berat’ dengan makanan terbaik, meski tidak harus dari restoran terbaik. Kau memperlakukan acara makan bersama layaknya seorang Ibu yang menjamu putranya yang kembali dari medan perang. Sehabis berselisih, makan bersama. Kelar kerja bakti seharian, makan bersama. Sehabis bertangis-tangisan, makan bersama. Untuk mu makan bersama, seperti berpelukan di momentum terpenting, di mana setiap orang akan mengenang masing-masing seperti saat mereka sedang berpelukan damai.

“Dulu kan suka gado-gado? Atau gudeg? Inget gudeg yang di Benhil…manis kan? Aku juga ga suka…kalau yang ini kayak yang di pramuka…gurih, asin, selera kita banget deh…” desakku penuh harap, sambil kucari gairah berpelisir makanan itu di matanya.

Tapi entah kapan sudah menguap rupanya excitement itu. Matanya bertemu dengan mataku…mengerti bahwa aku ingin membahagiakannya, seolah-olah besok aku beneran bakal mati. Tuturku dalam hati, ”aku menyesal, saat kau masih doyan banget makan di luar, aku jarang traktir makan…malah suka kelayapan.”

Kau mampu ‘membaca’ tutur hatiku, hanya lewat tatapan sesal mataku. Lalu senyummu hadir, dikembangkan semata-mata untuk membesarkan hatiku…“Saya pengen (pizza) aja…” Tuturmu dengan lafal yang udah agak kacau karena darah keparat itu membuat ‘sumbatan’ kecil lagi untuk yang kesekian kalinya di otakmu.

Aku tak mampu menangkap kata ‘pizza’ yang kau sebutkan, karena pengucapanmu yang sudah tak jelas. Setengah mati aku berpikir keras, agar tak perlu menyinggung harga dirimu. Mataku jelalatan memelototi deretan restoran yang kau maksud. Apa sih katanya…bihaaa??? Bisaa…??

“Ooooo PIZZAAAAA ya…?” kejarku nyaris teriak. Ujung matamu yang turun seperti ujung mataku yang turun mengedip gembira. Kegembiraan yang sedikit direkayasa, yang ku tahu hanya untuk membesarkan hatiku. Tapi aku ga peduli, karena aku sudah ambil sikap seolah-olah ini hari terakhirku. Jangankan Pizza, Menara Pisa sekali pun kalau perlu kuboyong ke hadapanmu sekarang.

Lalu kita menaiki tangga itu, dan betapa bangganya aku…tubuhmu yang memang tak terbilang tinggi namun selalu terasa menjulang itu, sudah agak membungkuk, bahkan kakimu mengkerut. Tapi otot-otot dilenganmu selalu berdenyut gagah. Tanganmu bersih tapi besar jari-jarinya, layaknya tangan lelaki. Selalu membuatku aman.

Interupsi datang dari empat orang pria yang dengan gaya melecehkan seolah-olah aku ini bukan manusia, terang-terangan melirik kakiku yang telanjang penuh gairah. Yang satu wajahnya ganteng banget, satu kayak kurang umur, dua lagi ancur jijay(ihh…masi inget lhoh gw!!☺). Menangkap basah ‘teman sejati’nya dilecehkan, rahangmu yang maskulin langsung mengeras…dan balas menatap mereka dengan garang. “APAA LIAT-LiAT?”

Whuih…power seorang marinir sejati. Sesaat, tiba-tiba dampak stroke-mu seperti tak punya kuasa. Adduhhhhhh, dalam hatiku, sudahlah, mubazir sekali kalau tekanan darahmu sampai bergolak lagi hanya karena empat mahkluk ga penting yang nepsong karena ngeliat betis perempuan. Tapi meskipun peristiwa heorik ini sudah ga ke-itung berkali-kali kualami, mau ga mau dadaku tetap tergetar juga…

Wouwww…moment of truth…I’m saved again by my Hero.

Tiba-tiba…tubuhmu seperti tegak dan menaungi tubuhku yang jauh lebih sehat. Pemuda-pemuda malang itu pun mengkerut, kayak cacing tanah disiram air mendidih. Tadinya aku mau berkata padamu, “sudahlah…ga perlu ribut karena hal-hal sepele…ga worth it”, tapi berhubung besok aku mati, aku memutuskan untuk mengakuimu sebagai pahlawanku, the only one hero.

“Makasi ya…keparat-keparat pengecut itu mengkeret semua cuman karena digituin aja…” Kau cuma menanggapi dengan mengangkat dagumu dengan anggun bak bangsawan…dadaku sesak, dan membatin—aduhh, siapa lagi yang bakal membelaku nanti..??

In my childhood, I cant think of any other need as strong as the need for your protection…

Lalu kita pun duduk, muka bertemu muka, masing-masing tahu, bukan acara makan bersama ini yang menjadi agenda utama. Aku memberanikan diri mengangkat wajahku dan menatap langsung ke matanya…sedetik, dua detik. Fenomena ‘flashback’ itu terjadi lagi. Kita memang seperti cermin ya…

Semua orang bilang begitu. Masing-masing kita pun meyakini begitu, dari dulu. Bedanya, dulu dua cermin ini kerap saling menyilaukan dan memantulkan sinar mematikan ke sesamanya. Sekarang tidak, kini dua cermin ini bekerja dengan seharusnya. Menjawab sebelum yang satunya bertanya, menangis sebelum yang satunya mengadu. Mengangguk paham sebelum yang satunya berujar.

Gemetar tanganmu mengambil kertas dan pulpen. Keringatmu menetes untuk memerintahkan jemari-jemarimu agar patuh kepada instruksi dari otak. (dasar stroke keparat!!! kalau kamu manusia, sudah habis kau kuinjak-injak!!)

Tulisanmu untukku sungguh-sungguh menjadi pondasi untuk ku melanjutkan perjalanan hidupku selanjutnya…dan entah mengapa, detik itu aku tahu, bahwa secarik kertas itu adalah pemberianmu yang terakhir. Mungkin ini yang namanya bisikan jiwa. “Sayangku…saya tidak tahu apa yang mau kita bicarakan…(isakku dalam hati saat membaca kalimat pertamamu…bahkan kau pun tahu ya, kita ke sini emang bukan mau makan).

Lalu mataku menelusuri tulisan indah yang kentara ditulis oleh tangan yang gemetar. Tangan maskulin tercinta yang sudah ga nyambung antara mata dan tangan, kubaca hampir tanpa bernapas; but I do love you…You sphere the air of our home…like a sun in my heart, shining all the time…be shining wherever U are…i love you so much, my Sunshine…”dan bait-bait berikutnya mengabur karena tetes di pelupukku.

Sempurna…

Bila benar ku mati besok, kematianku akan sempurna. Karena di hari terakhirku, aku mendengar pernyataan yang paling jujur dari jiwa…betapa indah maknaku bagimu.

Jadi aku mataharimu ya? Karena itukah kau betah berjam-jam bicara denganku, meski hari sudah gelap? Karena itukah kau betah berdansa bernyanyi lama-lama denganku, meski pesta sudah lama usai? Karena bersama ‘matahari’, hari selalu saja terasa seperti baru dimulai.

Tak tahan dengan keterharuan yang sangat, setengah melompat aku membenamkan kepalaku di dadamu yang aman, dan merasakan tanganmu membelai rambutku, tapi kali itu bukan Kau Pa, yang bicara seperti biasa. Mungkin bibirmu terlalu letih, aku tersedu meratap…“aku sayang Papa…cinta sekali…sayaaannngggg sekaliii. Trima kasih sudah memaknaiku sebagai Mataharimu. Aku tak kan mati suri lagi…doakan ku untuk menemukan Matahariku…dan juga memanggilnya SunShine ku ya Pa…”

Kurekam semua detil di hari itu, Pa. Setiap tarikan nafas, setiap tatapan mata, setiap sentuhan, setiap kata, yang terucap…dan yang tak sanggup terucap. Kurekam dan kuabadikan di jiwa…seperti Papa mengabadikan aku di jiwa mu…

Satu hari…dimana ku sungguh benar-benar hidup, hanya untukmu…

Jakarta, Sabtu, 25 juni 2010, 02.20 wib

Penuh bangga, haru & cinta, mengenang Dia, 8 tahun yang silam..

Saran professional yang dapat saya berikan pada penulis adalah; sebaiknya kisah ini diangkat ke bentuk novel romantic-love story, sehingga akan terasa benar gagasan dan ide dasarnya, yang memang kuat itu.

Julia berhasil menciptakan keseluruhan gagasannya dalam lansekap yang terbatas, sehingga memuat kemungkinan kisah bisa dilebarkan dengan menggali lebih dalam memori penulis. ***

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: