Desa yang Teduh, Buah Mpana, dan Siluet Hitam

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Dari : Hera Hizboel (Rabu pukul 9:46)

Dear Ilham,

Aku lega bahwa ternyata Pos sungguh masih setia pada kita. Semua teman baikku, mendapat jatah 1 novel dariku. Kalau aku kirim padamu, berarti dikau termasuk teman baikku. Jangan pikirkan itu.
hmmm… Aku membayangkan indahnya tempatmu menyepi. Kapan2 cerita detail tentang tempat itu ya!
Ilham yang baik,
Please jangan sebut aku penulis cerdas cendekia, ah! Salah banget tahu nggak. hahahaha
Aku tak sabar menunggu ceritamu ttg pengalaman spiritual itu, dan aku juga “berdebar” menunggu bacaanmu tentangku. hehehehe

Salam hangat,
hera

***

KAMIS, minggu ketiga bulan Mei 2010. Sepagian itu aku menunggu suara yang tentunya demikian melekat di anak telinga. Suara sepeda motor tukang pos. Sengaja aku meluang waktu di beranda depan rumah; “menyantap” koran pagi…sesekali menyesap kopi yang segera menjadi dingin karena udara pagi diluaran. Meluang waktu seperti ini bukan tanpa alasan, aku sedang menunggu sesuatu, tentunya.

Biasanya, selepas kunjung dari sebuah toko buku, pulangnya tasku pasti terselip satu buku belanjaanku, setidaknya. Tetapi pada minggu sebelumnya, tiga buah buku yang menyita selera bacaku tidak kutemui di rak pajang. Sebuah buku tentang tinjauan ekonomi; sebuah lagi buku tentang thasawuf karya penulis asing terjemahan; dan buku milik Naimah Herawati Hizboel, Pendar Jingga di Langit Ka’bah, terbitan Langit Kata.

Tak usahlah aku menyebut dua judul buku lainnya di atas itu, tak mau aku, sebab diterbitkan atas dasar lisensi, bukan murni karya penulis dan penerbit nasional.

Lalu mengapa aku sepagian itu menunggu pak Pos di beranda depan? Karena tidak kutemukan di rak pajang, jadilah aku memesan lewat jasa toko buku bersangkutan. Mereka berjanji padaku paling lambat tujuh hari.

Baiklah, mumpung harga buku terbitan nasional masih cocok dengan kantong pas pasan seperti aku, maka aku pun lanjur memesan. Tetapi, aku dengar kabar harga buku akan naik beberapa persen di bulan bulan ke depan, sebabnya yang aku dengar; harga kertas sedang naik.

Wualaah…ini akal akalan para industrialis pulp and papers saja. Para pembalak berijin itu sedang dijepit perang terhadap illegal logging, mereka lantas merajuk dengan trik menurunkan produksi. Beralasan itulah hingga isunya melebar ke soal harga kertas. Padahal, ketika perang pemerintah melawan pembalak itu sedang ramainya seperti sekarang, mana mungkin mereka kena imbas. Bukankah mereka itu “pembalak berijin keluaran menteri”? Bukankah pemerintah hanya memerangi para pembalak liar? Jujur sajalah jika hendak memperlebar gain keuntungan, tidak dengan cara bersembunyi di balik punggung program anti-balak bikinan pemerintah, dan lalu “menghasut” usaha yang bahan bakunya mereka pasok.

Bip…bip…bip… suara klakson sepeda motor hadir disela bunyi mesinnya. Itu pak Pos. Dia tersenyum, yang aku balas dengan menanyakan kabarnya. Sehat saja, katanya. Tangannya merogoh tas gandeng mirip saku besar warna cokelat, lalu dikeluarkan-lah tiga paket berpembungkus cokelat. Dua dari paket itu segera kutebak sebagai buku pesananku, sebab di sisi kiri berdekatan dengan cap pos ada cap penerbit. Tetapi apa paket ketiga itu? Melihat bentuknya mirip dengan kedua paket lainnya. Kuduga itu buku kiriman Hera, penulis Pendar Jingga di Langit Ka’bah itu.

Jika benar, maka buku itu terlambat sehari, hingga datangnya pas betul dengan dua buku lainnya itu.

Setelah bercanda sebentar dengan pak Pos, kulepas dia menjalankan tugasnya. Tidak ada pegawai di dunia ini setelaten pengantar surat, urusan jasa yang paling tua umurnya. Tak peduli hujan, panas, perang, atau damai, pun mereka tetap bekerja. Resiko pekerjaan? Mungkin. Tetapi, siapapun boleh memilih untuk menolak melakukannya, bukan? Dan, orang seperti pak Pos, buktinya, tidak menolak tugas macam itu.

Aku langsung membuka pembungkus paket ketiga, yang dua biar belakangan saja, toh aku sudah tahu apa isinya. Penasaranku benar, paket ketiga itu adalah buku karya penulis Hera. Warna jingga pada sampulnya menegaskan judulnya. Ada gambar orang tawaf di sana. Megah Ka’bah berselubung kiswah beludru hitam tebal, memampang pintunya yang besar, kesan emas juga terlihat. Aku buka segel plastik tipis pelungkupnya, lalu aku ke bagian daftar isi buku. Begitulah kebiasaanku sebelum membaca buku; menelusuri judul bab lebih duhulu.

Setelah menerima buku Pendar Jingga di Langit Ka’bah, aku simpan buku Hera itu, pada tumpukan teratas dari tiga buku bekalku. Tak kubaca dulu buku itu. Siang itu aku harus berangkat menuju ke sebuah tempat, di sebuah pulau, untuk menyepi, meluang waktu dengan sengaja. Demikianlah aku jika hendak membaca, tak boleh ada interupsi, biar isi buku benar melekat pada benak.

Mobil sudah dipanaskan mesinnya, sepagian tadi. Aku masuk rumah untuk berbenah, memilah beberapa pakaian untuk aku bawa, notebook, se-pack rokok kegemaran, dan…baju hangat, sebab tempatku menyepi nanti udaranya lumayan dingin.

Maka, jadilah aku berangkat ketika mentari nyaris vertikal.

***

AKU selalu ke tempat ini untuk menghindari bingar, dan lepas dari rindu. Kabaena, nama tempat itu. Ini pulau kelahiran ibu bapakku. Letaknya paling selatan di jazirah tenggara Sulawesi. Mencapainya; berkendara kurang lebih tiga jam dengan mobil, lalu naik kapal kurang lebih tiga jam pula. Penciri bagi siapapun untuk tahu apakah pulau itu sudah dekat; ketika angin menyibak awan nimbus yang berkumpul di pangkal sebuah gunung batu berbentuk kotak. Begitu gunung batu itu terlihat, maka perjalananmu akan segera pungkas di dermaga. Nama gunung itu Watu Sangia (harfiah dari bahasa setempat untuk Batu Suci, atau Batu Para Dewa).

Gunung Watu Sangia

Ada beberapa versi riwayat yang berkenaan penamaan pulau Kabaena hubungannya dengan keberadaan gunung batu itu. Pelaut muslim dari kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, dahulu ketika mengunjungi Jawa untuk berdagang, menjadikan gunung batu di pulau itu sebagai penanda separuh perjalanan laut mereka. Konon, nama Kabaena itu juga awalnya dari mereka itu; saat mereka bersua pertama kali, mereka terkejut dengan bentuknya yang nyaris menyerupai kubus. Lalu mereka teringat pada Baitullah, dan memberinya sebutan “batu yang mirip Ka’bah” atau Kaba’ena. Itu merujuk karena mirip saja, tidak ada maksud lain.

Allah SWT memang berkuasa atas segalanya. Gunung Watu Sangia ini menjadi landmark pulau Kabaena hingga kini. Jika melihatnya dan memandangnya dengan lekat, seketika engkau akan tersadar pada pertanyaan; bagaimana bisa batu sebesar itu seolah olah ditancapkan pada bumi? Atau macam terlihat tumbuh dari alas bumi. Allahu Akbar!

Akan eksotik melihat pemandangan pada gunung itu tatkala engkau mengunjunginya pada bulan antara Maret sampai Juni. Sebab pada bulan bulan itu hujan demikian rapat turun, sehingga puncak gunung itu terlihat berselimut halimun. Berputar putar mengitari dinding tebingnya yang vertikal. Sesekali engkau akan menemuinya diselubungi halimun tebal pada puncaknya, hingga tampaklah seperti jamur raksasa.

Selepas dermaga Sikeli, aku masih harus berkendara menuju sebuah desa sejuk di kaki gunung batu itu. Ada tiga desa yang inap tetap pada punggungnya; desa Rahadopi, desa Tirongkotua, dan desa Tangkeno. Nah, tujuanku adalah desa Rahadopi itu. Disanalah aku akan menghabiskan waktu lepas dari bingar kota.

Umumnya, ketiga desa ini bersuhu sejuk. Pada musim penghujan, dingin akan mengigit mencapai tulang, kadangkala. Ada lelucon bahwa tempat seperti ini sangat bagus buat beranak pinak; karena dingin akan melarangmu bangkit dari peraduan, asik mendekap istri, bolehlah. Hahahahaha…lelucon segar, sesekali, tak mengapa kan?

Tempat ini, desa Rahadopi, aku memilihnya untuk bertenang, barang sebentar. Desa ini asri, udaranya sejuk, indah. Bagai melekat di punggung gunung Watu Sangia. Di seberang tampak jajaran gunung Sampapolulo, yang juga kerap berselimut kabut. Selalu, warganya ramah menyambut. Pada beranda rumah tinggi, tempatku sering membaca, dapat kulihat Sikeli, wilayah pelabuhan, dan beberapa desa lain yang berjejer indah di sepanjang jalan; Rahampuu, dan Teomokole.

Di relung lembah, di kaki gunung Sampapopulo, menjalar alir air sungai La’Kambula; berarus deras tatkala musim penghujan, dipenuhi batu besar, berair dingin sekali. Sejuk berenang di sana pada musim kemarau. Selalu senang, khidmat rasanya berada di sini saat Ramadhan; selalu tak terasa waktu saat Idul Fitri menjemputmu. Waktu seakan lekas rasanya.

Buah. Ada suatu buah yang tak ada di tempat lain, mungkin. Suatu buah hutan yang aku gemari, buah Mpana namanya. Rasanya asam manis. Munculnya di pangkal batang pada tumbuhan Mpana, berdaun pedang yang lebar. Warna buahnya cokelat tua mirip warna kulit lengkeng, namun tampak ditumbuhi duri permukaannya. Bukan duri yang tajam dan melukai, cuman duri lunak. Isi buahnya; terdiri dari puluhan bulatan kecil bertitik hitam tengahnya yang berkumpul hingga ukurannya sebesar gundu. Menyantap buah ini sangat asik saat ramai dengan keluarga atau kawan, sambil bercakap cakap.

Di desa itulah aku “melahap” Sazkia. Tiga hari aku menikmatinya. Saat petang, dan saat malam mendekat subuh.

Aku baca Pendar Jingga di Langit Ka’bah lebih dulu, agar perhatianku tidak disusupi fikiran hasil bacaan dari buku lainnya.

Pengalaman “Menakutkan”

Membaca pengalaman trance Sazkia pada saat dia dihampiri Lailatul Qadr di mesjid Atta’awun itu membuat aku teringat pada pengalaman serupa yang aku alami.

Jika Sazkia berjumpa dengan rombongan malaikat yang shalat berjamaan didepannya, maka aku sulit menyebut mahkluk apa yang aku jumpai saat trance itu. Warna dan penampakannya saja berbeda, seingatku.

Pengalamanku bukan Lailatul Qadr, sebab terjadi tidak pada saat pertengahan Ramadhan. Terjadi pada malam malam biasa, saat sendirian, seusai sholat malam.

Ketika itu, wanita yang pernah menjadi istri pertamaku, sedang menjalankan tugas jurnalistik; ikut serta dalam rombongan KRI Soputan ke sejumlah pulau kecil di wilayah laut paling tenggara Sulawesi. Pada hari kedua kepergiannya, aku tiba tiba terbangun dari tidurku disebabkan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku mendadak terbangun dan tertegun duduk di pinggir ranjang.

Jam pada dinding menunjuk angka kurang sedikit setengah dua dinihari. Sulit memejam mata kembali, aku memutuskan berwudhu, lalu sholat lail. Aku tak peduli apakah waktu untuk sholat lail sudah tepat atau lewat, namun saat itu aku sholat niatku adalah sholat lail. Seusai mengucap salam, sesuatu seperti mendorongku… bergerak ke arah tempat tidur.

(maaf, semua rambut di tubuhku merinding kembali sebab ketika menuliskan ini aku kembali mengingat pengalaman itu…).

Aku duduk dengan baik, aku angkat kedua kaki dan mengarahkan punggungku ke bantal di bagian kepala ranjang. Rasanya tidak semenit punggungku melekat pada springbed lunak itu, tiba tiba aku merasa berada pada sebuah ruang yang maya mengambang. Tubuhku seolah ringan bukan main. Aku mencoba menoleh panik pada dinding, dan mataku bersirobok pada jam dinding; jarum merah menunjuk detik tidak bergerak sama sekali. Sepi sekali sekelilingku.

Dalam keadaan ringan ini, sekuat tenaga aku hendak mendorong keinginanku untuk tersadar dari tidurku. Tetapi aku bingung, sebab sebenarnya aku memang berada dalam kondisi tidak sedang tidur, namun tidak pula sedang terjaga; aku berada di ruang dan waktu di antara sadar dan tidak.

Saat itulah aku melihat serombongan orang berjalan ke arahku. Seketika takut menyelubungi tubuhku. Aku benar benar takut. Selama ini aku tidak gentar pada siapapun, kecuali satu hal yang tak nampak olehku di dunia; Allah SWT. Menurutku, aku sebaiknya hanya pantas takut pada satu hal Itu. Aku tak akan pernah mau manusia dan mahkluk membuatku takut. Tetapi saat itu aku benar benar takut luar biasa. Orang orang—atau lebih tepat kusebut, siluet siluet hitam—besar itu, merebutku dari udara, menekanku hingga menyentuh tanah, mengikat tutup pada mataku dengan sehelai kain, kemudian tubuhku diangkat kembali dan ditumpukan pada bahu masing masing dari mereka.

Aku mengira ada kurang lebih enam siluet yang memikul tubuhku, sementara telingaku dengan jelas mendengar ribuan langkah dibelakang mereka. Banyak siluet lain yang mengikuti siluet siluet yang membopongku. Rasanya agak lama aku di kondisi itu, sehingga aku rasakan mereka berhenti di sebuah tempat. Aku tak tahu tempat apa itu. Mataku dibebat kain, aku tak bisa melihat suasana sekelilingku. Aku merasakan tubuhku diangkat lalu seperti diturunkan, dan diletakkan di sebuah bidang datar (yang belakangan aku tahu mirip sebuah altar dari batu pualam keras).

Setelah membaringkan tubuhku. Mereka seperti bersorak sorak, riuh sekali, bingar sekali. Aku bahkan mencoba untuk mengerti kata apa yang mereka teriakkan. Mirip diksi Arab, namun kurang jelas karena diucapkan sambil berteriak dan berulang ulang. Lalu seketika mereka diam serentak. Tak terlalu lama aku rasakan sesuatu menempel dileherku. Rasanya dingin dan tajam. Dalam kondisi itu, aku bahkan bisa merasakan apa apa yang menyentuh tubuhku. Bidang datar itu terasa dingin di punggungku. Demikian pula benda yang menempael di leherku itu.

Belakangan aku tahu ternyata benda itu semacam belati besar mirip pedang; semacam senjata pemenggal.

Rupanya aku dibawa mereka ke tempat itu tujuannya untuk dipenggal, tetapi aku tidak tahu mengapa, dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Tapi aku tak peduli dengan jawabannya, sebab benda dileherku terasa makin dingin dan mulai bergerak menggesek. Saat itulah kepanikan, ketakutanku menjadi jadi. Menggigil hingga berpeluh, aku rasakan.

Tetapi semua gerakan mereka tiba tiba berhenti. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka terdiam seketika, mematung. Karena terasa terlalu lama, aku merasa tubuhku sedikit bertenaga. Aku memberanikan diri membuka penutup mataku. Saat itulah, dari jarak yang demikian dekat, aku dapat melihat siluet siluet ini dengan jelas. Tak berwajah, tanpa bentuk paripurna, hanya siluet; mirip bayangan tubuh pada tanah yang bangun dan berjalan tegak. Sebuah siluet yang paling dekat denganku terlihat menggenggam pisau besar itu. Ketika melihat tempatku berbaring, sebuah batu persegi, serupa pualam keras, licin dan dingin.

Mereka tidak bergerak, diam mematung. Pada bagian muka yang aku duga adalah bagian wajah mereka, aku lihat tampak menengadah ke arah langit. Semuanya mereka, siluet yang ribuan itu, disekelilingku menengadah menghadap pada satu pandangan. Ke langit.

Apa yang sedang mereka pandangi sehingga mereka bisa diam mematung semacam itu? Aku pun menoleh ke arah langit seperti kelakuan mereka. Langit yang sebelumnya kelabu, tiba tiba perlahan menghitam. Di balik awan yang bergulung gulung hitam itu, terlihat cahaya sesekali benderang, seperti ada petir yang menyambar hingga membuatnya terang sesekali. Semakin lama cahaya itu berpendar kian terang, kemudian membuat silau. Mataku terasa sakit. Lalu sinar cemerlang itu meredup perlahan seiring dengan tersibaknya awan membuka ke arah berlawanan, seperti gerbang yang rentang terbuka. Pada bagian yang terbuka itulah sinar cemerlang seperti menerobos hendak menghujam bumi.

Hal aneh kemudian terjadi. Siluet yang kuduga ribuan jumlahnya itu, tanpa aba aba langsung jatuh bersujud di hadapan sinar itu. Semuanya bertingkah seperti itu. Maksudku semuanya, kecuali aku. Dari tempatku dibaringkan aku dapat melihat jumlah mereka, Naudzubillah… Allahu Akbar…ternyata jumlah mereka mungkin jutaan, sebab mataku tak menemukan ufuk yang bersih tanpa ada sosok sosok itu.

Sejauh mataku memandang berkeliling, kulihat hanya sosok sosok itu yang sedang bersujud tanpa bergerak. Aku segera turun dan berjalan ke tepian di mana bagian cahaya itu jatuh. Disanalah aku melihat dengan jelas dari sumber mana sinar itu keluar; sinar itu memancar cemerlang dari sebuah benda yang besar membentuk huruf arab ber-harakaat. Aku baca, dan segera sadar untuk menghapalnya; kalimat tauhid itu.

Setelah membacanya tiga kali dan yakin telah aku hapalkan, anehnya suasana di sekitarku perlahan berubah. Sosok sosok bayangan itu menipis perlahan lahan kemudian hilang. Begitu juga dengan kondisi di sekelilingku, yang kembali mewujud seperti semula; ke bentuk kamar yang aku tempati.

Kudapati tubuhku masih terbaring pada posisi ketika aku hendak bersandar tadi. Jarum penunjuk detik pada jam di dinding terlihat bergerak lagi.

Ketika semua kondisi kamar itu terasa sudah kembali seperti semula, maka inilah hal yang membuatku takjub dan merasa luar biasa hingga kini. Kalimat tauhid, yang bersinar cemerlang itu seperti masih melekat tepat di flafon kamar itu, tepat di atas kepalaku. Aku dirasuki takjub yang luar biasa hebat hingga tak bisa bergerak.

Berbeda dengan suasana sekelilingku yang berubah cukup cepat itu, kalimat tauhid yang seolah menempel di flafon itu demikian perlahan menipis dari pandanganku. Itulah mengapa aku bisa membacanya berulang ulang sampai tulisan itu benar benar hilang sama sekali. Agak sedikit lama hingga aku pulih benar dari kondisi kesima itu. Sadarku pulih sepenuhnya, dan segera tahu mesjid sudah mengumandangkan azan subuh.

Peristiwa itu terjadi di penghujung tahun 1999. Selama empat tahun selanjutnya, setelah pengalaman itu, aku tidak pernah berhasil tahu apa makna dari pengalaman yang aku alami. Satu satunya hal yang aku lakukan pada permulaan adalah; segera mencari tahu apa arti sesungguhnya kalimat itu. Hampir tiga bulan pertama aku sibuk mengejar literatur, yang tak kusangka ternyata jawabannya datang dari ibuku sendiri, seorang guru agama Islam dan pengajar mengaji itu.

Pada beliau aku ceritakan pengalaman itu. Beliau terdiam setelah mendengarnya, lalu menangis masuk ke kamar. Aku pulang saja. Dua hari setelahnya, beliau menelepon, meminta agar aku mengunjunginya lagi. Tanpa diminta pun aku memang akan selalu mengunjungi beliau.

Dihadapanku, beliau berkata tentang arti kalimat itu. Menurut beliau kalimat yang aku lihat itu adalah bentuk penegasan yang keras perihal ketauhidan Allah SWT. Sebentuk kalimat dasar yang sekaligus membangun makna maha luas.

“Ceritakan pengalaman itu untuk mengurangi takutmu, tetapi jangan sebut kalimat yang kau lihat itu pada orang lain. Tentunya ada alasan hingga mengapa kamu diperlihatkan hal hal macam itu. Jika Allah menghendaki pengalaman itu untuk semua orang, maka Allah akan memperlihatkannya pada semua orang. Simpanlah untukmu, dan bersabarlah.” Begitu pesan ibuku.

Sayangnya…hingga sekarang, aku kira aku telah “ditegur” oleh Khalik. Ada sesuatu salah, atau keliru berat yang pernah aku buat, barangkali.

Ya…mungkin itu adalah sebuah teguran, peringatan. Sayangnya lagi, aku tak pernah ingat atau tahu apa salahku. Apakah aku harus ingat? Barangkali…dengan ingat apa salahku…sedikit menenangkan fikir dari ribuan tanya perihal tersebut.

Tapi, tak mengapa…aku masih bersyukur; jiwaku tak direnggut-Nya saat itu juga.

Dan, yang aku tahu, ketika berurusan dengan hal hal sulit, aku cukup mengucapkan kalimat itu dalam hati dengan sungguh sungguh dan takzim; maka urusanku pasti mudah.

Mungkin itu faedahnya….***

Tentang ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua tulisan milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: