Daily Archives: 17 Juli 2011

Desa yang Teduh, Buah Mpana, dan Siluet Hitam

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Dari : Hera Hizboel (Rabu pukul 9:46)

Dear Ilham,

Aku lega bahwa ternyata Pos sungguh masih setia pada kita. Semua teman baikku, mendapat jatah 1 novel dariku. Kalau aku kirim padamu, berarti dikau termasuk teman baikku. Jangan pikirkan itu.
hmmm… Aku membayangkan indahnya tempatmu menyepi. Kapan2 cerita detail tentang tempat itu ya!
Ilham yang baik,
Please jangan sebut aku penulis cerdas cendekia, ah! Salah banget tahu nggak. hahahaha
Aku tak sabar menunggu ceritamu ttg pengalaman spiritual itu, dan aku juga “berdebar” menunggu bacaanmu tentangku. hehehehe

Salam hangat,
hera

***

KAMIS, minggu ketiga bulan Mei 2010. Sepagian itu aku menunggu suara yang tentunya demikian melekat di anak telinga. Suara sepeda motor tukang pos. Sengaja aku meluang waktu di beranda depan rumah; “menyantap” koran pagi…sesekali menyesap kopi yang segera menjadi dingin karena udara pagi diluaran. Meluang waktu seperti ini bukan tanpa alasan, aku sedang menunggu sesuatu, tentunya.

Biasanya, selepas kunjung dari sebuah toko buku, pulangnya tasku pasti terselip satu buku belanjaanku, setidaknya. Tetapi pada minggu sebelumnya, tiga buah buku yang menyita selera bacaku tidak kutemui di rak pajang. Sebuah buku tentang tinjauan ekonomi; sebuah lagi buku tentang thasawuf karya penulis asing terjemahan; dan buku milik Naimah Herawati Hizboel, Pendar Jingga di Langit Ka’bah, terbitan Langit Kata.

Tak usahlah aku menyebut dua judul buku lainnya di atas itu, tak mau aku, sebab diterbitkan atas dasar lisensi, bukan murni karya penulis dan penerbit nasional.

Lalu mengapa aku sepagian itu menunggu pak Pos di beranda depan? Karena tidak kutemukan di rak pajang, jadilah aku memesan lewat jasa toko buku bersangkutan. Mereka berjanji padaku paling lambat tujuh hari.

Baiklah, mumpung harga buku terbitan nasional masih cocok dengan kantong pas pasan seperti aku, maka aku pun lanjur memesan. Tetapi, aku dengar kabar harga buku akan naik beberapa persen di bulan bulan ke depan, sebabnya yang aku dengar; harga kertas sedang naik.

Wualaah…ini akal akalan para industrialis pulp and papers saja. Para pembalak berijin itu sedang dijepit perang terhadap illegal logging, mereka lantas merajuk dengan trik menurunkan produksi. Beralasan itulah hingga isunya melebar ke soal harga kertas. Padahal, ketika perang pemerintah melawan pembalak itu sedang ramainya seperti sekarang, mana mungkin mereka kena imbas. Bukankah mereka itu “pembalak berijin keluaran menteri”? Bukankah pemerintah hanya memerangi para pembalak liar? Jujur sajalah jika hendak memperlebar gain keuntungan, tidak dengan cara bersembunyi di balik punggung program anti-balak bikinan pemerintah, dan lalu “menghasut” usaha yang bahan bakunya mereka pasok.

Bip…bip…bip… suara klakson sepeda motor hadir disela bunyi mesinnya. Itu pak Pos. Dia tersenyum, yang aku balas dengan menanyakan kabarnya. Sehat saja, katanya. Tangannya merogoh tas gandeng mirip saku besar warna cokelat, lalu dikeluarkan-lah tiga paket berpembungkus cokelat. Dua dari paket itu segera kutebak sebagai buku pesananku, sebab di sisi kiri berdekatan dengan cap pos ada cap penerbit. Tetapi apa paket ketiga itu? Melihat bentuknya mirip dengan kedua paket lainnya. Kuduga itu buku kiriman Hera, penulis Pendar Jingga di Langit Ka’bah itu.

Jika benar, maka buku itu terlambat sehari, hingga datangnya pas betul dengan dua buku lainnya itu.

Setelah bercanda sebentar dengan pak Pos, kulepas dia menjalankan tugasnya. Tidak ada pegawai di dunia ini setelaten pengantar surat, urusan jasa yang paling tua umurnya. Tak peduli hujan, panas, perang, atau damai, pun mereka tetap bekerja. Resiko pekerjaan? Mungkin. Tetapi, siapapun boleh memilih untuk menolak melakukannya, bukan? Dan, orang seperti pak Pos, buktinya, tidak menolak tugas macam itu.

Aku langsung membuka pembungkus paket ketiga, yang dua biar belakangan saja, toh aku sudah tahu apa isinya. Penasaranku benar, paket ketiga itu adalah buku karya penulis Hera. Warna jingga pada sampulnya menegaskan judulnya. Ada gambar orang tawaf di sana. Megah Ka’bah berselubung kiswah beludru hitam tebal, memampang pintunya yang besar, kesan emas juga terlihat. Aku buka segel plastik tipis pelungkupnya, lalu aku ke bagian daftar isi buku. Begitulah kebiasaanku sebelum membaca buku; menelusuri judul bab lebih duhulu.

Setelah menerima buku Pendar Jingga di Langit Ka’bah, aku simpan buku Hera itu, pada tumpukan teratas dari tiga buku bekalku. Tak kubaca dulu buku itu. Siang itu aku harus berangkat menuju ke sebuah tempat, di sebuah pulau, untuk menyepi, meluang waktu dengan sengaja. Demikianlah aku jika hendak membaca, tak boleh ada interupsi, biar isi buku benar melekat pada benak.

Mobil sudah dipanaskan mesinnya, sepagian tadi. Aku masuk rumah untuk berbenah, memilah beberapa pakaian untuk aku bawa, notebook, se-pack rokok kegemaran, dan…baju hangat, sebab tempatku menyepi nanti udaranya lumayan dingin.

Maka, jadilah aku berangkat ketika mentari nyaris vertikal.

***

AKU selalu ke tempat ini untuk menghindari bingar, dan lepas dari rindu. Kabaena, nama tempat itu. Ini pulau kelahiran ibu bapakku. Letaknya paling selatan di jazirah tenggara Sulawesi. Mencapainya; berkendara kurang lebih tiga jam dengan mobil, lalu naik kapal kurang lebih tiga jam pula. Penciri bagi siapapun untuk tahu apakah pulau itu sudah dekat; ketika angin menyibak awan nimbus yang berkumpul di pangkal sebuah gunung batu berbentuk kotak. Begitu gunung batu itu terlihat, maka perjalananmu akan segera pungkas di dermaga. Nama gunung itu Watu Sangia (harfiah dari bahasa setempat untuk Batu Suci, atau Batu Para Dewa).

Gunung Watu Sangia

Ada beberapa versi riwayat yang berkenaan penamaan pulau Kabaena hubungannya dengan keberadaan gunung batu itu. Pelaut muslim dari kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, dahulu ketika mengunjungi Jawa untuk berdagang, menjadikan gunung batu di pulau itu sebagai penanda separuh perjalanan laut mereka. Konon, nama Kabaena itu juga awalnya dari mereka itu; saat mereka bersua pertama kali, mereka terkejut dengan bentuknya yang nyaris menyerupai kubus. Lalu mereka teringat pada Baitullah, dan memberinya sebutan “batu yang mirip Ka’bah” atau Kaba’ena. Itu merujuk karena mirip saja, tidak ada maksud lain.

Allah SWT memang berkuasa atas segalanya. Gunung Watu Sangia ini menjadi landmark pulau Kabaena hingga kini. Jika melihatnya dan memandangnya dengan lekat, seketika engkau akan tersadar pada pertanyaan; bagaimana bisa batu sebesar itu seolah olah ditancapkan pada bumi? Atau macam terlihat tumbuh dari alas bumi. Allahu Akbar!

Akan eksotik melihat pemandangan pada gunung itu tatkala engkau mengunjunginya pada bulan antara Maret sampai Juni. Sebab pada bulan bulan itu hujan demikian rapat turun, sehingga puncak gunung itu terlihat berselimut halimun. Berputar putar mengitari dinding tebingnya yang vertikal. Sesekali engkau akan menemuinya diselubungi halimun tebal pada puncaknya, hingga tampaklah seperti jamur raksasa.

Selepas dermaga Sikeli, aku masih harus berkendara menuju sebuah desa sejuk di kaki gunung batu itu. Ada tiga desa yang inap tetap pada punggungnya; desa Rahadopi, desa Tirongkotua, dan desa Tangkeno. Nah, tujuanku adalah desa Rahadopi itu. Disanalah aku akan menghabiskan waktu lepas dari bingar kota.

Umumnya, ketiga desa ini bersuhu sejuk. Pada musim penghujan, dingin akan mengigit mencapai tulang, kadangkala. Ada lelucon bahwa tempat seperti ini sangat bagus buat beranak pinak; karena dingin akan melarangmu bangkit dari peraduan, asik mendekap istri, bolehlah. Hahahahaha…lelucon segar, sesekali, tak mengapa kan?

Tempat ini, desa Rahadopi, aku memilihnya untuk bertenang, barang sebentar. Desa ini asri, udaranya sejuk, indah. Bagai melekat di punggung gunung Watu Sangia. Di seberang tampak jajaran gunung Sampapolulo, yang juga kerap berselimut kabut. Selalu, warganya ramah menyambut. Pada beranda rumah tinggi, tempatku sering membaca, dapat kulihat Sikeli, wilayah pelabuhan, dan beberapa desa lain yang berjejer indah di sepanjang jalan; Rahampuu, dan Teomokole.

Di relung lembah, di kaki gunung Sampapopulo, menjalar alir air sungai La’Kambula; berarus deras tatkala musim penghujan, dipenuhi batu besar, berair dingin sekali. Sejuk berenang di sana pada musim kemarau. Selalu senang, khidmat rasanya berada di sini saat Ramadhan; selalu tak terasa waktu saat Idul Fitri menjemputmu. Waktu seakan lekas rasanya.

Buah. Ada suatu buah yang tak ada di tempat lain, mungkin. Suatu buah hutan yang aku gemari, buah Mpana namanya. Rasanya asam manis. Munculnya di pangkal batang pada tumbuhan Mpana, berdaun pedang yang lebar. Warna buahnya cokelat tua mirip warna kulit lengkeng, namun tampak ditumbuhi duri permukaannya. Bukan duri yang tajam dan melukai, cuman duri lunak. Isi buahnya; terdiri dari puluhan bulatan kecil bertitik hitam tengahnya yang berkumpul hingga ukurannya sebesar gundu. Menyantap buah ini sangat asik saat ramai dengan keluarga atau kawan, sambil bercakap cakap.

Di desa itulah aku “melahap” Sazkia. Tiga hari aku menikmatinya. Saat petang, dan saat malam mendekat subuh.

Aku baca Pendar Jingga di Langit Ka’bah lebih dulu, agar perhatianku tidak disusupi fikiran hasil bacaan dari buku lainnya.

Pengalaman “Menakutkan”

Membaca pengalaman trance Sazkia pada saat dia dihampiri Lailatul Qadr di mesjid Atta’awun itu membuat aku teringat pada pengalaman serupa yang aku alami.

Jika Sazkia berjumpa dengan rombongan malaikat yang shalat berjamaan didepannya, maka aku sulit menyebut mahkluk apa yang aku jumpai saat trance itu. Warna dan penampakannya saja berbeda, seingatku.

Pengalamanku bukan Lailatul Qadr, sebab terjadi tidak pada saat pertengahan Ramadhan. Terjadi pada malam malam biasa, saat sendirian, seusai sholat malam.

Ketika itu, wanita yang pernah menjadi istri pertamaku, sedang menjalankan tugas jurnalistik; ikut serta dalam rombongan KRI Soputan ke sejumlah pulau kecil di wilayah laut paling tenggara Sulawesi. Pada hari kedua kepergiannya, aku tiba tiba terbangun dari tidurku disebabkan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku mendadak terbangun dan tertegun duduk di pinggir ranjang.

Jam pada dinding menunjuk angka kurang sedikit setengah dua dinihari. Sulit memejam mata kembali, aku memutuskan berwudhu, lalu sholat lail. Aku tak peduli apakah waktu untuk sholat lail sudah tepat atau lewat, namun saat itu aku sholat niatku adalah sholat lail. Seusai mengucap salam, sesuatu seperti mendorongku… bergerak ke arah tempat tidur.

(maaf, semua rambut di tubuhku merinding kembali sebab ketika menuliskan ini aku kembali mengingat pengalaman itu…).

Aku duduk dengan baik, aku angkat kedua kaki dan mengarahkan punggungku ke bantal di bagian kepala ranjang. Rasanya tidak semenit punggungku melekat pada springbed lunak itu, tiba tiba aku merasa berada pada sebuah ruang yang maya mengambang. Tubuhku seolah ringan bukan main. Aku mencoba menoleh panik pada dinding, dan mataku bersirobok pada jam dinding; jarum merah menunjuk detik tidak bergerak sama sekali. Sepi sekali sekelilingku.

Dalam keadaan ringan ini, sekuat tenaga aku hendak mendorong keinginanku untuk tersadar dari tidurku. Tetapi aku bingung, sebab sebenarnya aku memang berada dalam kondisi tidak sedang tidur, namun tidak pula sedang terjaga; aku berada di ruang dan waktu di antara sadar dan tidak.

Saat itulah aku melihat serombongan orang berjalan ke arahku. Seketika takut menyelubungi tubuhku. Aku benar benar takut. Selama ini aku tidak gentar pada siapapun, kecuali satu hal yang tak nampak olehku di dunia; Allah SWT. Menurutku, aku sebaiknya hanya pantas takut pada satu hal Itu. Aku tak akan pernah mau manusia dan mahkluk membuatku takut. Tetapi saat itu aku benar benar takut luar biasa. Orang orang—atau lebih tepat kusebut, siluet siluet hitam—besar itu, merebutku dari udara, menekanku hingga menyentuh tanah, mengikat tutup pada mataku dengan sehelai kain, kemudian tubuhku diangkat kembali dan ditumpukan pada bahu masing masing dari mereka.

Aku mengira ada kurang lebih enam siluet yang memikul tubuhku, sementara telingaku dengan jelas mendengar ribuan langkah dibelakang mereka. Banyak siluet lain yang mengikuti siluet siluet yang membopongku. Rasanya agak lama aku di kondisi itu, sehingga aku rasakan mereka berhenti di sebuah tempat. Aku tak tahu tempat apa itu. Mataku dibebat kain, aku tak bisa melihat suasana sekelilingku. Aku merasakan tubuhku diangkat lalu seperti diturunkan, dan diletakkan di sebuah bidang datar (yang belakangan aku tahu mirip sebuah altar dari batu pualam keras).

Setelah membaringkan tubuhku. Mereka seperti bersorak sorak, riuh sekali, bingar sekali. Aku bahkan mencoba untuk mengerti kata apa yang mereka teriakkan. Mirip diksi Arab, namun kurang jelas karena diucapkan sambil berteriak dan berulang ulang. Lalu seketika mereka diam serentak. Tak terlalu lama aku rasakan sesuatu menempel dileherku. Rasanya dingin dan tajam. Dalam kondisi itu, aku bahkan bisa merasakan apa apa yang menyentuh tubuhku. Bidang datar itu terasa dingin di punggungku. Demikian pula benda yang menempael di leherku itu.

Belakangan aku tahu ternyata benda itu semacam belati besar mirip pedang; semacam senjata pemenggal.

Rupanya aku dibawa mereka ke tempat itu tujuannya untuk dipenggal, tetapi aku tidak tahu mengapa, dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Tapi aku tak peduli dengan jawabannya, sebab benda dileherku terasa makin dingin dan mulai bergerak menggesek. Saat itulah kepanikan, ketakutanku menjadi jadi. Menggigil hingga berpeluh, aku rasakan.

Tetapi semua gerakan mereka tiba tiba berhenti. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka terdiam seketika, mematung. Karena terasa terlalu lama, aku merasa tubuhku sedikit bertenaga. Aku memberanikan diri membuka penutup mataku. Saat itulah, dari jarak yang demikian dekat, aku dapat melihat siluet siluet ini dengan jelas. Tak berwajah, tanpa bentuk paripurna, hanya siluet; mirip bayangan tubuh pada tanah yang bangun dan berjalan tegak. Sebuah siluet yang paling dekat denganku terlihat menggenggam pisau besar itu. Ketika melihat tempatku berbaring, sebuah batu persegi, serupa pualam keras, licin dan dingin.

Mereka tidak bergerak, diam mematung. Pada bagian muka yang aku duga adalah bagian wajah mereka, aku lihat tampak menengadah ke arah langit. Semuanya mereka, siluet yang ribuan itu, disekelilingku menengadah menghadap pada satu pandangan. Ke langit.

Apa yang sedang mereka pandangi sehingga mereka bisa diam mematung semacam itu? Aku pun menoleh ke arah langit seperti kelakuan mereka. Langit yang sebelumnya kelabu, tiba tiba perlahan menghitam. Di balik awan yang bergulung gulung hitam itu, terlihat cahaya sesekali benderang, seperti ada petir yang menyambar hingga membuatnya terang sesekali. Semakin lama cahaya itu berpendar kian terang, kemudian membuat silau. Mataku terasa sakit. Lalu sinar cemerlang itu meredup perlahan seiring dengan tersibaknya awan membuka ke arah berlawanan, seperti gerbang yang rentang terbuka. Pada bagian yang terbuka itulah sinar cemerlang seperti menerobos hendak menghujam bumi.

Hal aneh kemudian terjadi. Siluet yang kuduga ribuan jumlahnya itu, tanpa aba aba langsung jatuh bersujud di hadapan sinar itu. Semuanya bertingkah seperti itu. Maksudku semuanya, kecuali aku. Dari tempatku dibaringkan aku dapat melihat jumlah mereka, Naudzubillah… Allahu Akbar…ternyata jumlah mereka mungkin jutaan, sebab mataku tak menemukan ufuk yang bersih tanpa ada sosok sosok itu.

Sejauh mataku memandang berkeliling, kulihat hanya sosok sosok itu yang sedang bersujud tanpa bergerak. Aku segera turun dan berjalan ke tepian di mana bagian cahaya itu jatuh. Disanalah aku melihat dengan jelas dari sumber mana sinar itu keluar; sinar itu memancar cemerlang dari sebuah benda yang besar membentuk huruf arab ber-harakaat. Aku baca, dan segera sadar untuk menghapalnya; kalimat tauhid itu.

Setelah membacanya tiga kali dan yakin telah aku hapalkan, anehnya suasana di sekitarku perlahan berubah. Sosok sosok bayangan itu menipis perlahan lahan kemudian hilang. Begitu juga dengan kondisi di sekelilingku, yang kembali mewujud seperti semula; ke bentuk kamar yang aku tempati.

Kudapati tubuhku masih terbaring pada posisi ketika aku hendak bersandar tadi. Jarum penunjuk detik pada jam di dinding terlihat bergerak lagi.

Ketika semua kondisi kamar itu terasa sudah kembali seperti semula, maka inilah hal yang membuatku takjub dan merasa luar biasa hingga kini. Kalimat tauhid, yang bersinar cemerlang itu seperti masih melekat tepat di flafon kamar itu, tepat di atas kepalaku. Aku dirasuki takjub yang luar biasa hebat hingga tak bisa bergerak.

Berbeda dengan suasana sekelilingku yang berubah cukup cepat itu, kalimat tauhid yang seolah menempel di flafon itu demikian perlahan menipis dari pandanganku. Itulah mengapa aku bisa membacanya berulang ulang sampai tulisan itu benar benar hilang sama sekali. Agak sedikit lama hingga aku pulih benar dari kondisi kesima itu. Sadarku pulih sepenuhnya, dan segera tahu mesjid sudah mengumandangkan azan subuh.

Peristiwa itu terjadi di penghujung tahun 1999. Selama empat tahun selanjutnya, setelah pengalaman itu, aku tidak pernah berhasil tahu apa makna dari pengalaman yang aku alami. Satu satunya hal yang aku lakukan pada permulaan adalah; segera mencari tahu apa arti sesungguhnya kalimat itu. Hampir tiga bulan pertama aku sibuk mengejar literatur, yang tak kusangka ternyata jawabannya datang dari ibuku sendiri, seorang guru agama Islam dan pengajar mengaji itu.

Pada beliau aku ceritakan pengalaman itu. Beliau terdiam setelah mendengarnya, lalu menangis masuk ke kamar. Aku pulang saja. Dua hari setelahnya, beliau menelepon, meminta agar aku mengunjunginya lagi. Tanpa diminta pun aku memang akan selalu mengunjungi beliau.

Dihadapanku, beliau berkata tentang arti kalimat itu. Menurut beliau kalimat yang aku lihat itu adalah bentuk penegasan yang keras perihal ketauhidan Allah SWT. Sebentuk kalimat dasar yang sekaligus membangun makna maha luas.

“Ceritakan pengalaman itu untuk mengurangi takutmu, tetapi jangan sebut kalimat yang kau lihat itu pada orang lain. Tentunya ada alasan hingga mengapa kamu diperlihatkan hal hal macam itu. Jika Allah menghendaki pengalaman itu untuk semua orang, maka Allah akan memperlihatkannya pada semua orang. Simpanlah untukmu, dan bersabarlah.” Begitu pesan ibuku.

Sayangnya…hingga sekarang, aku kira aku telah “ditegur” oleh Khalik. Ada sesuatu salah, atau keliru berat yang pernah aku buat, barangkali.

Ya…mungkin itu adalah sebuah teguran, peringatan. Sayangnya lagi, aku tak pernah ingat atau tahu apa salahku. Apakah aku harus ingat? Barangkali…dengan ingat apa salahku…sedikit menenangkan fikir dari ribuan tanya perihal tersebut.

Tapi, tak mengapa…aku masih bersyukur; jiwaku tak direnggut-Nya saat itu juga.

Dan, yang aku tahu, ketika berurusan dengan hal hal sulit, aku cukup mengucapkan kalimat itu dalam hati dengan sungguh sungguh dan takzim; maka urusanku pasti mudah.

Mungkin itu faedahnya….***

Iklan

Senggama

Senggama itu boleh, tapi sebaiknya lakukan bersama muhrim-mu. Senggama boleh tapi aneh jika merekam-rekamnya. Merekam mungkin tak mengapa, tapi salah jika beredar-edar.

Senggama boleh tapi tak baik ditonton orang. Terekam, mungkin lagi sial, tapi lebih sial jika tertonton. Terlarang pula menyebarkannya. Kini senggama itu bukan hal privat lagi.

Dahulu engkau mesti mempersiapkan banyak hal ketika hendak melakukannya; tempat yang baik, waktu yang tepat, momentum yang romantis, persetujuan yang teguh, dan penyelesain yang paripurna. Tak boleh ada kecewa terselip di antara keduanya, setelahnya.

Kini senggama itu jadi hiburan, atau untuk menghibur.

Padahal Tuhan, untuk urusan senggama ini, menunggu Adam dirundung sepi dahulu, kemudian Dia bertindak. Bagi Adam, dibuatkannya seorang Hawa, perempuan untuk menghapus sepinya, untuk disenggama agar keturunannya banyak.

Bukan main urusan senggama itu? Bukankah senggama ini urusan yang luar biasa penting, sehingga Tuhan harus mencipta dua jenis kelamin berbeda; agar bisa bertemu. Itulah mengapa senggama itu sakral.

Di berbagai peradaban dunia, senggama ini demikian sakral dan kultus. Pada kebudayaan India, senggama itu menjelma sebuah kitab khusus; Kamasutra. Banyak prosesi, banyak pantangan, banyak rutinitas, sebelum engkau melangkah pada senggama.

Di kebudayaan Mesir, engkau harus direndam pada rempah, agar harum. Biar Amum Ra tidak kecewa, konon. Tubuhmu akan berbungkus sutra, peraduanmu akan ditebari mawar dan diberi gaharu. Konon, pula, pada Lingga dan Yoni, disepuh segala haruman berlapis-lapis aromanya. Biar Amum Ra tidak kecewa, konon.

Di kebudayaan Eropa, urusan senggama itu berbelit sengkarut urusannya. Lelaki harus melalui 90 hari kenal, satu tahun tunang, sebulan pingit. Di sepanjang waktu itu, si perempuan dipersiapkan dengan serius. Maka itu, prosesi nikahnya berlangsung cepat. Keluarga mengawasi sedemikian ketat. Selalu ada pengawal si perempuan ketika berduaan dengan tunangannya, sekali pun. Sayang sekali, saat senggama mereka masih merasa harus; polos telanjang.

Di kebudayaan Arab-Islam, senggama sedemikian kultus, sehingga jika abai dan lalai, kau bisa kena rajam, akibatnya. Perempuan tak boleh jalan sendiri tanpa muhrim. Memandang dengan seronok akan membangun prasangka di kalangan keluarga perempuan, dan perempuan itu sendiri. Ketika bertemu pun, lelaki hanya cukup melihat melalui barzah, melalui tabir. Prosesnya panjang berjenjang. Setelah semuanya kau lewati, masih tersisa satu pantang; engkau berdua harus berpenutup saat senggama. Tak boleh telanjang polos.

Cukup hanya pada bagian yang akan bertemu; penyenggama dan tersenggama, yang terbuka. Sebab, jika polos, engkau berdua akan lebih mirip binatang. Rasakan sensasinya, tapi jangan pula mempermalukan malaikat. Malaikat akan malu, menutup mata, jika ada sepasang muhrim bersenggama tak berpenutup. Mereka akan membalikkan badan sampai engkau berdua, usai.

Bahkan sebelum senggama, engkau, kalian berdua, harus berdoa dulu; agar senggama itu tak dicampuri setan dan iblis, agar senggama itu berbuah anak sholeh, patuh pada Rabb Ul-llah. Setelah selesai, berdoalah pula, sebaiknya. Dan, engkau sekalian harus mandi pada akhirnya. Junub akan mengakhiri prosesi senggama ini. Ibadahmu akan percuma jika engkau tak menutupnya dengan junub.

Tetapi, sekarang, lihatlah senggama itu.

Orang orang mempermainkannya semaunya. Menjadi boleh dengan siapa saja, dilakukan dengan cara apa saja, di mana saja. Kadang pula diabadikan; buat di tonton sendiri, atau beramai-ramai kawan dan sahabat. Masih tak puas, diedar dengan sengaja, sehingga orang sedunia melihat perbuatanmu.

Segala mitos kau buat, sebagai alasan. Ukuran, bentuk, dan kepiawaian “menjungkir-balikkan” perempuan, engkau banggakan. Karena ketidakpuasanmu, hewan pun kau bunuh. Apa salah Buaya, engkau kejar tangkurnya? Apa dosa Badak, engkau gergaji culanya? Ada apa dengan kambing? Setelah melahapnya, jadi alasanmu mengunjungi lokalisasi. Ular kau betot tubuhnya, hingga darahnya muncrat lalu lahap kau teguk. Macan kau kejar-kejar hanya karena kuku dan tulangnya. Bahkan bakau pun kau balak untuk bisa melingkarkan akar baharnya di lenganmu.

Perbuatan yang bodoh, sungguh!

Apa hewan-hewan itu pernah berperjanjian padamu perihal tubuh mereka? Apa mereka berutang seutas tangkur, sebuah cula, sekilo daging, seliter darah, sepotong kuku dan tulang, dan sebatang akar, padamu? Tidak, tentunya. Lalu mengapa angkau bunuh mereka? Tingkahmu mirip rentenir, membunuh penghutang yang tak membayar puluhan tahun.

Setelah engkau anggap diri hebat pada urusan senggama, tak cukup perempuan bagimu, lelaki pun kau senggama. Kau bilang; tak mengapa Lingga itu berlumuran tinja. Hih…najis!

Padahal engkau cuman mengejar; sensasi dan erotisme. Tidak cuman lelaki, perempuan pun, kini, sama saja.

Tahukah engkau, bahwa senggama itu, dihakikatkan pada urusan keturunan saja.

Lalu, orang-orang berteori dan berspekulasi tentang cara dan upaya. Bahkan ada sekolahnya untuk kau pelajari dengan juluk seksologis.

Senggama itu, kini, pun dipelototi kanak-kanak. Urusan perempuan buka paha, buka dada menjadi gampang. Yang dahulu kau harus datang dalam rombongan memintanya dengan cara yang baik dan diberitahukan pada umum dengan cara yang baik pula.

Lembaga nikah tidak sekuat dan keramat lagi. Dahulu memeriksa orang zina itu cepat dan berujung hukum yang keras, kini terbalik. Dahulu perempuan akan sangat marah jika dipelototi dengan pandangan seronok, lalu baru akan marah besar jika pantatnya kau tepuk, lalu baru akan murka jika dadanya kau senggol, dan engkau akhirnya dilaporkan sebagai peleceh.

Kini, kadang perempuan baru marah besar, murka hatinya, jika tak kau peluk, tak kau raba-raba, tak kau berikan sensasi dan erotisme yang dia minta.

Perempaun saat ini, umumnya, tak ada malu tersisa lagi pada hati dan fikirnya. Walau pada tubuhnya tinggal melekat kutang dan cawat saja. Batasan rogol menjadi makin tinggi.

Seharusnya internet itu, material bergambar senggama itu, diawasi tidak saja Kementerian dan polisi, tetapi orangtua juga. Terlalu besar lembaga Kementerian (Depag dan Kemenkominfo) itu jika urusannya hanya haji, penyuluhan, pendidikan dan latihan. Seharusnya mereka duduk pula di kursi pengawas (bukan pengatur) sebagai polisi content. Jika kau tak bisa awasi content maka tak perlu sok ribut soal material senggama yang teredar.

China saja yang kau tuduh komunis dan ateis itu, mampu mengawasi content hingga material senggama tak edar bebas. Tiap tahun ribuan orang dibui di sana karena coba-coba. Jika kau bukan ateis mengapa tak mencoba lebih baik dari orang yang kau sangka ateis. ***

Catatan ringan Ilham Q. Moehiddin (Juni 2010)

 

*Maaf, catatan ini aku tulis seusai “nge-dumel” pada media, pada lembaga terkait, dan para penyuka senggama. Kebodohan itu laksana tongkat; semakin panjang semakin rapuh. Tongkat serupa itu baiknya segera dipatahkan.

Kata “Muhrim” biasa dilafalkan lidah orang Indonesia untuk “Mahrom”. Secara gramatikal penggunaan yang benar adalah ‘Mahrom’ yang merujuk hubungan keluarga/sedarah. Sedangkan ‘Muhrim’ merujuk pada pemakai kain ihram saat berhaji. Info ini dimungkinkan atas revisi, saudaraku Syaiful Alim.


[Resensi] Cahaya Ka’bah Memendar Memanggil Sazkia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Judul: Pendar Jingga di Langit Ka’bah
Penulis: Naimah Herawati Hizboel
Harga : Rp50.000,00
ISBN 976-602-96610-0-2
Penerbit: Langit Kata

Jl. Penjernihan 1 No.14 Jakarta Pusat 10210
Telp/Fax. 021 5711034

***

“Tapi apa bedanya? Tidakkah ujung selalu kembali menemukan pangkal, dan pangkal menemukan ujung?”

(halaman 28, baris 32 sampai baris 33,
Pendar Jingga di Langit Ka’bah, Naimah Herawati Hizboel,
Langit Kata, Jakarta).

***

Buku Pendari Jingga di Langit Ka’bah bersampul cantik itu, oleh Hera, dikirimkannya padaku tak lama berselang setelah diluncurkan di BONDIES Café & Lounge di Kemang, Jakarta. Dia memintaku datang pada peluncuran bukunya, tapi aku tidak bisa. Ada urusan yang mendesakku untuk diselesaikan di bagian timur paling jauh Indonesia. Aku meminta maafnya, dan diberikannya.

Hati penulis perempuan ini sungguh baik. Kami belum pernah sekali pun bermuka muka secara langsung pada satu forum atau meja diskusi, belum sama sekali. Tetapi dia dengan cepat menganggapku teman baiknya, padahal kami berkenalan baru saja, melalui jejaring Facebook, pula. Aku mengundangnya menjadi bagian dari panel penulis tetap di The Indonesia Freedom Writers, sebuah perhimpunan penulis yang aku gagas sejak satu setengah tahun lalu. Sebuah perhimpunan yang bertujuan saling membagi pengalaman, ide dan gagasan dengan para penulis pemula. Dia langsung setuju, tanpa ada alasan sedikit pun.

***

Aku tak pernah menyangka isi buku itu sampai aku usai membaca bab keempat. Tadinya, aku mengira akan menemukan kisah Sazkia mengharu biru sepanjang bab hingga buku usai tuntas terbaca. Hera tiba tiba mengayun kisah Sazkia; dari flashback masa lampau gadis itu kepada hidupnya yang sekarang. Walau sempat terkejut, aku segera senang dengan gaya mengayun penulis ini pada plot. Pandai dia menyemat sambung setting, sehingga kita tak perlu gagap melihat batasnya.

Sazkia, nama gadis dalam buku itu, berkisah pedih sejak bab satu dimulai. Menjadi gadis tunggal dalam keluarganya, segera dirasakannya sebagai ujian tersendiri. Beruntung dia, dimilikinya dua orangtua yang telaten dan penuh tanggung jawab. Tak sadar dia, pada awalnya, wejangan wejangan, didikan orang tuanya itu, akhirnya menjadi dasar pijakannya ketika hidupnya berlanjut pada tangga nasib berikutnya.

Tetapi, bagaimana Sazkia menempuh pedih hidupnya tak bisa lama kau “nikmati”. Sebab, kisahnya pungkas—dan menurutku—menggantung seketika saat Anda meninggalkan bab keempat itu. Nanti akan saya beritahu apa yang aku maksud dengan kisah yang menggantung itu. Benarkah itu adalah kelalaian Hera? Atau justru disengaja olehnya, juga akan terjawab sendiri pada bab-bab selanjutnya selepas bab keempat itu.

Biar mudah bagimu, maka aku beritahu; buku ini mulai berkisah pada bab kelima.

***

Pada halaman tujuh baris ketiga, para pembaca buku ini, oleh Sazkia, akan dibawa pada stereotype kekerasan dalam keluarga yang tak berujung hukum. Apa penyiksa istri—kendati dia masih bersuamikan si lelaki itu secara sah—tidak bisa disentuh hukum?

Bagaimana posisi hukum negara bagi perempuan dalam hal ini?

Hukum normatif semestinya berlaku pada sang mantan suami. Tidak ada ruang bagi tukang siksa pada undang undang pidana kekerasan dalam rumah tangga. Jika alasannya, karena Sazkia masih istri sahnya, maka pertanyaannya; apa ada ruang dalam hukum Islam perihal kekerasan seperti itu? Tidakkah dengan jelas hukum Islam menyebut soal aniaya—terlebih terhadap kekasih hidup, sang istri—adalah juga dosa besar? Keras dan terang, Islam menyimpul hukumnya pada kasus macam itu.

Lantas, mengapa Sazkia seperti “membiarkan” kedua hukum itu berada di luar pintu rumahnya, saat aniaya berlangsung didalamnya? Sazkia ini, terasa, terlalu menerima nasib.

Lalu, di bagian mana pada kisah Sazkia itu yang menggantung? Keingintahuanku pada nasib sang mantan suami ketika berhadapan dengan hukum normatif pupus, saat tak kutemukan sedikit pun perihal itu hingga bab empat usai. Penasaran aku dibuatnya. Gemas juga mengetahui sungguh “baik” nasib lelaki tukang aniaya itu.

Rupanya Sazkia “masih tak enak hati” hendak membuka ujung nasib mantan suaminya selepas perceraiannya. Sazkia, atau Hera, menggantung tulisannya hingga tak pungkas kisah ini untuk para pembacanya. Sehingga, engkau yang membaca ini akan diliputi tanya penuh dalam benak; mengapa hakim (peradilan) hanya memutus perpisahan Sazkia saja? Tidak sekaligus mengusulkan perkara perempuan itu dilanjutkan untuk memproses tindakan biadab mantan suami Sazkia? Bukankah lebam dan siksa batin pada Sazkia terbaca pedih bukan main, maka memungkinkan bagi Sazkia, dan pemakluman dari pembaca menuntut Sazkia bertindak lebih jauh; menuntut hukum pada mantan suaminya, misalnya?

Sazkia ini, sebenarnya, hendak menegaskan stereotype macam itu. Sazkia ini hendak memperlihatkan lewat sebuah contoh, bahwa perempuan Indonesia kebanyakan—akan selalu—seperti itu. Mungkin akan mengobati rasa marah kesumat, hati remuk redam para pembaca, jika saja Sazkia membalas tindak amarah membabi buta sang mantan suami dengan hukum negara yang setimpal.

Membaca sang sang suami terpenjara, misalnya, akan bisa mengobati gejolak amarah pembaca ketika “merasakan derita” Sazkia ini. Tapi, rupanya Sazkia, tidak. Sazkia tidak membalas, Sazkia memilih bersikap syuhud.

Tetapi, mungkin akan baik jika Hera mengantar sikap Sazkia pada tulisan, tidak dengan lepas begitu saja; sepertinya Sazkia, melepas posisi perwakilannya terhadap para pembacanya. Oh, Hera… Oh, Sazkia…

Tetapi, aku keras menduga; ini disengaja oleh sang penulis. Sejak awal aku katakan perempuan ini memang piawai menyulam plot, menjalin setting. Aku mengira itu memang disengaja, sebab novel ini bergenre memoar. Mungkin dengan menelanjangi nasib si mantan suami, terasa akan terlalu vulgar. Mungkin ini caranya memancing emosi pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, pada bab bab perjalanan spiritualnya.

Seolah Hera ingin menegaskan kisahnya dalam buku itu; beginilah aku pada awalnya, dan demikianlah aku pada pertengahan ini. Itu membuatku bisa mengatur dan menjaga seperti apa aku akhirnya, kelak. Oh, Hera… Oh, Sazkia…

***

“Sudah kau baca Pendar Jingga di Langit Ka’bah?”

Begitulah aku menyapa sahabatku, yang dosen sastra, penggemar sanad ketauhidan itu, di suatu sore, dari balik telepon genggamku. Dia tertawa, renyah suaranya. Syukurlah, berarti dia masih sehat sehat saja.

“Waktu kau datang membawakanku sajaknya, namanya segera aku ingat. Saat di toko buku aku lihat buku itu tertera namanya, lantas aku beli. Sudah aku baca.” Sahutnya dari seberang telepon. Tak perlu kutanya dia ada di mana. Sore itu, aku tahu, dia menerima teleponku dari rumahnya; sebab suara anak kecil berteriak teriak terdengar jelas olehku. Itu anak lelakinya, usianya masih empat tahun.

“Tadinya aku hendak merekomendasikannya padamu. Tetapi karena kau sudah memilikinya, maka aku hendak meminta pendapatmu saja. Bagaimana?” Kataku lagi.

“Kau sekarang di rumah ya?” Tak langsung dijawabnya pertanyaanku. Justru aku benarkan lebih dulu pertanyaan baliknya itu. “Mirip panduan perjalanan, namun lengkap. Kalaupun ini sebuah panduan perjalanan umroh, sangat layak aku miliki. Membacanya serasa sedang ikut umroh bersamanya…hehehehe.”

“Jangan terkekeh. Bagaimana menurutmu buku itu sebagai sebuah memoar?”

“Layak. Pantas. Manusiawi. Membacanya, membagi pada kita gambaran besar hidup seorang hamba, yang benar benar menghamba. Kedekatan macam itu terhadap entitas Ilahiyah, cukup jarang ditemui. Aku justru hendak bertanya padamu; apakah rutinitas dan kesengajaan merendah hakikat sedemikian rupa itu, akan mengantarmu sedemikian dekat pada spiritualitas yang paripurna?” Kawanku itu balik bertanya.

“Itulah pintunya, sahabatku. Tidakkah kau merasakan dahsyatnya tutur buku itu ketika perempuan itu dihampiri berturut turut pengalaman spiritual yang hebat? Padanya, eksistensi ketuhanan menjadi sebuah keniscayaan. Jika dia berontak, rebelitasnya terbaca terlalu santun, menurutku. Aku mengira, Hera ini, tak menyadari ketika rindunya menjelma cinta. Cinta yang datar namun keras, pada entitas maha dahsyat. Makanya, dia dihampiri-Nya, beruntun, berulang ulang.” Jelasku padanya.

“Thasawuf-sufistik? Nyaris, menurutku.” Kata kawanku itu, “seandainya, jika dia mau menyerahkan seluruh dunianya untuk akhiratnya. Maksudku, seluruhnya.”

Tegas dan kentara telaah kawanku itu. Hebat, kali ini dia tak punya selera mendebat pendapatku. Padahal, aku tahu persis kegemarannya; lebih dulu mematahkan asumsiku sebagai jalan masuk pada perdebatan yang bernas. Biar lebih liat, katanya. Pusing kepalanya kalau tidak berbantahan denganku, barangkali.

“Dare alle luce…buku yang bagus.” Katanya padaku diakhir percakapan itu.

Demikianlah bahasan kami perihal Hera dan buku Pendar Jingga di Langit Ka’bah, karya memoarnya itu. Seperti kata kawanku tadi; dare alle luce (berarti; membawa terang, dalam bahasa Italia), begitulah nilai buku itu.

Kuucapkan salam padanya dan kutitipkan salam-cium buat anak lelakinya. Aku sayang pada anaknya itu, tetapi kadang jika tak awas, jarimu akan direnggutnya, lalu digigitnya. Aku berjanji akan mengunjunginya tak lama lagi.

***

Sesungguhnya buku ini mulai bercerita pada Bab 5. Perjalanan Jiwa. Sesungguhnya penulis mulai melepas jejak pengalamannya pada kisah di bab ini. Pada bab sebelum bab 5, pesan terkait yang timbul hanyalah bahwa penulis, atas nama Sazkia ini, membuhul niatnya pada perjumpaan spiritualis; antara dia, dengan tanah suci; dengan Tuhan pemilik tanah suci; dengan Tuhan pemilik semesta; dengan Allah SWT saja.

Anda bisa membuktikan prasangka saya pada paragraf awal bab tersebut.

Mari menikmati konflik spritualis: Sazkia mulai bergulat pada konflik internal dirinya, terbaca pada bab 6, di penuturan penuturannya, doa doanya.

“Gusti Allah yang Agung, ampuni aku wahai pemeliharaku. Aku ingin menghapusnya. Menyudahi peperangan yang menyandera batin dan hatiku. Semua harus segera aku anggap tamat dan berlalu setelah aku menanggung rasa sakit yang mengiris-iris, yang telah mengubah semua persepsiku kepadanya yang selama ini menghantui benakku. Tujuh tahun yang melelahkan, cukuplah sudah. Aku ingin mendirikan sholat dan berzikir di depan pintu Ka’bah-Mu. Bersimpuh hanya untuk-Mu. Menyerahkan segalanya hanya kepada-Mu.”

Demikianlah. Doanya kecil saja, tetapi harapan untuk perwujudannya demikian besar, melampaui batas mitsal.

Permintaannya pun latif saja, tetapi harapannya selalu ma’ad jua pada Allah SWT, sang Qahhar, maha perkasa itu.

***

Buku ini beralur pendek; berkisah soal Sazkia pra remaja kemudian remaja; pernikahan pertama Sazkia; pekerjaan dan karir Sazkia; pernikahan kedua Sazkia; berakhir pada pengalaman spiritual Sazkia. Aku suka cara penulis ini mengayun plot, demikian halus.

Plotnya melompat lompat namun berkait mengikat ; plot ini diantar oleh Sazkia melalui ingatan-ingatannya pada peristiwa lampau dan kondisi terkini yang ditemuinya. Plotnya berputar pada; kehidupan Sazkia lalu pada keinginan mendekati Allah lewat Haji, pada kehidupan Sazkia lagi; kemudian pada “percintaan” dan kerinduan Sazkia pada Allah yang termanifestasi melalui pengalaman-pengalaman spiritual Sazkia.

Ini terekam pada kalimat yang terkutip di halaman 28, baris 32 sampai 33. “Tapi apa bedanya? Tidakkah ujung selalu kembali menemukan pangkal, dan pangkal menemukan ujung?”

Demikian itu intinya, ibadah itu, hidup manusia itu; berputar melingkar, berulang, mirip tawaf pada prosesi haji. Ini yang hendak disampaikan Hera, lewat Sazkia.

 

Dua Hal Lainnya Dalam Catatanku

Buku ini hendak berkisah tentang dua perjalanan pada satu kisah; perjalanan spiritual, dan perjalanan jism mitsali (jasmaniah). Alur kisah yang terbangun menceritakan kedua perjalanan ini sekaligus pada satu plot dan setting, dengan piawai dijalin penulisnya.

Saat sedang melakukan perjalanan umroh secara jasmaniah, pada saat yang sama Sazkia pun melakukan perjalanan rohani yang dikisahkan menakjubkan dan penuh keberuntungan yang serba kebetulan. Membaca perjumpaan demi perjumpaan Sazkia dengan aura spiritualisme, sungguh, kita akan segera berguman, “sungguh beruntungnya perempuan ini.”

Sepertinya; nasibnya yang penuh dengan pedih pada masa lalu itu, terbayar lunas dengan semua kebetulan dan keberuntungan yang menghampirinya dalam perjalanan itu.

Settingnya pun terjalin indah. Hera dengan piawai mampu melompat ringan dan indah dari penuturan soal perasaan melankolisnya ketika berada di masjid Quba, Madinah, seketika Anda dibawanya di desa Tambi, Sliyeg, Indramayu; pada sosok penari topeng Mimi Rasinah.

Demikian pula tatkala Sazkia sedang diombang ambing rasa, dimabok estetika, saat sebuah aura maha dahsyat, energi murni menghampirinya saat sholat di mesjid Nabawi, Anda akan dijalin pada pengalaman yang nyaris mirip saat Sazkia berada di sebuah mesjid Atta’awun, Puncak, Jawa Barat. Sungguh ringan lompatannya, lembut sulaman kisahnya, sehingga dua kisah pada dua setting berbeda terayun dan terbuhul cantik.

Salutku pula pada editornya; kawan Rusdi Amrullah Mathari, cemerlang dia menyunting kisah pada naskah.

***

Membaca pengalaman trance Sazkia pada saat dia dihampiri Lailatul Qadr di mesjid Atta’awun itu membuat saya teringat pada pengalaman serupa yang saya alami.

Jika Sazkia berjumpa dengan rombongan malaikat yang shalat berjamaah tepat dihadapannya, maka aku sulit menyebut mahkluk apa yang aku jumpai saat trance macam itu. Warna dan penampakannya saja berbeda, seingatku.

Tapi nanti, aku kisah pengalaman itu di lain tulisan. Silahkan Anda “nikmati” Hera ini dulu ya?

Novel memoar ini hendak mendekati tasawuf, dan ketaudihan pada Allah SWT, lewat seorang manusia perempuan bernama Sazkia. Lewat dirinya, Sazkia hendak bilang bahwa merindui, “bercinta” dengan Allah itu bisa dilakukan oleh siapa saja, setiap kalian orang Muslim.

Mendekati-Nya, sebaiknya menjadi sebuah cita-cita utama dalam konsep spiritualitas setiap orang, tetapi bahwa berakhir jatuhnya pilihan Sang Khalik pada siapa? Tentu tergantung Sang Maha Suci. Engkau bahkan tidak boleh menggugat. Engkau bahkan tidak boleh bertanya. Pungkas hakmu bahkan sebelum engkau bersedekap dalam liang tanah.

***

Banyak hal yang bisa Anda petik usai membaca Pendar Jingga di Langit Ka’bah ini. Hera membagikan banyak kisah dalam perjalanan itu; tentang kota kota suci megah, suasana masyarakat arabian, sifat lekat komunalnya, beragam pantangan ketika berada di sejumlah tempat itu. Khususnya, bagi pembaca non-wahabi, perbedaan tuntunan dan tuntutan peribadatan yang teramat kentara dengan tata cara pengikut faham Ahlul Sunnah Wal-Jamaah, Muhammadiyah, dan bahkan Syiah.

Kita akhirnya menjadi tahu, apa yang tidak boleh dilakukan saat berada di salah satu dari tempat tempat itu; masjid Quba, misalnya. Walau pun engkau Sunni, Syiah, Muhammadiyah, atau Syalafi, tidak boleh melanggar hukum Wahabi. Jika tak hirau, niscaya tongkat para Asykar barang sebentar akan mampir dipunggungmu. Minimal, engkau akan dihalau, menjauh keluar dari lokasi ibadah itu.

Mata Sazkia, atau Hera, serasa mewakili mata kita. Menerima penjelasannya soal bentuk arsitektur masjid Quba, arsitektur masjid Nabawi, dan masjidil Harram, benak kita bisa langsung membayangkan. Anda, kita, akan merasa ikut serta dalam perjalanan umroh perempuan Sazkia itu.

Lezatnya Kurma Nabi, sekaligus berjalan jalan di kebunnya; dan keajaiban Medan Magnet, seperti tak mau kita lepas kisah di penghabisan bab.

Ada nuansa lain ketika membaca buku ini, dan membuat aku mengira bahwa buku ini selain sebuah novel, include pula, mirip travel guide umroh. Semua hal yang layak berada dalam sebuah travel guide, Anda akan temui ketika membacanya; bagaimana mengurus umroh, siapa yang Anda mesti hubungi pada paket umroh plus, seperti apa akomodasi yang bakal Anda dapatkan, suasana Jeddah, Madinah, dan Mekkah; tarif beberapa hotel, toko cinderamata murah, harga dan jenis makanan di tempat tempat tertentu, bahkan siapa yang mesti Anda temui, hingga siapa yang menemani Anda sebagai pemandu, ada dalam buku ini.

Mirip sebuah paket hemat, cukup beli satu buah buku, Anda akan memperoleh sebuah novel memoar, dan sebuah travel guide. Beruntungnya Anda, bukan?

Tetapi selebihnya, bahwa buku ini memang layak adalah keseriusan penulisnya mempersiapkannya. Bahasanya rancak, padanan katanya terpilih, plot, dan setting-nya mengayun indah dan tak nampak berbekas batas pada dua bagiannya. Baik sekali.

Sejumlah nama pada endorsment buku ini terasa mewakili kualitasnya. Ada Kurnia Effendi, penulis terkenal itu. Ada Arief Joko Wicaksono, jurnalis yang juga penyair itu. Dan, ada Hadi M Djunaid, seorang wartawan kawakan yang luas relasinya.

Selebihnya, buku ini memang sangat layak untuk dibaca. Pantas pula terselip berjejer di rak buku koleksi Anda.

Tapi apa bedanya? Kau bertanya, Sazkia?

Benar Sazkia…Apa Bedanya? Bukan begitu, Hera?

Begitulah, aku telah jujur padamu. ***


[Kajian] Sekantung Cinta di Pundak Hera

Kajian Sajak Naimah Hera Hizboel: Narimo Ing Pandum dan Sajak 26 Juni 2009

Oleh Ilham Q. Moehiddin

MEMBACA Herawati Ibrahim, alias Naimah Hera Hizboel dalam beberapa sajaknya, tak akan lepas mata sebelum syair usai. Jika masih mungkin menyebut sajak-sajaknya: mencerahkan.

Siapa Hera ini? Dia adalah perempuan produktif dengan puluhan karya dan aktifitas. Saya sendiri belum mengenal dia, sampai karyanya saya baca. Dalam setiap tarikan penanya, Hera ini bernafas, memendar larik cahaya, yang dengan mudah menerangi makna yang hendak kita capai. Sederhana kalimatnya, namun dalam dasarnya.

hidup adalah
rangkaian dari keharusan demi keharusan
yang tak terelakkan

karenanya
tak usah dicermati
tak usah dikritisi
tak usah ditangisi
tak usah disesali

tanggalkan hati
singkirkan rasa
jalani semua apa adanya
dan biarkan mengalir mengikuti kehendak-Nya

syukuri saja dan terus syukuri
agar menjelma menjadi butiran-butiran cinta
yang akan mengiringi langkah kita
menuju mahligai-Nya…

(Narimo Ing Pandum – Naimah Herawati Hizboel, Juni 2009)

Seperti itulah Hera ini memaknai hidup dan hubungannya dengan Tuhannya.

“Hidup adalah rangkaian dari keharusan demi keharusan yang tak terelakkan.”

Benar. Hidup memang tak perlu dilihat dan dirasakan rumit, serumit yang seharusnya.

“Jalani semua apa adanya dan biarkan mengalir mengikuti kehendak-Nya.”

Apa yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan (Illahi Taala) itu dari manusia. Secara sederhana; cuma agar manusia menjalani apa yang telah dihadirkan dengan semestinya, sewajarnya. Kendati tak perlu risau jejak kau tinggal. Bukan manusia yang hendak menghitungnya. Bukankah, amalan itu tak laksana buah persik; harum aromanya, manis rasanya, mampu disentuh dengan tekstur pada permukaannya yang sedikit kasar.

Itulah amalan itu. Dan Hera ini mengerti benar.

Jejak kata-kata Hera masih akan berlanjut jika dia tak menahan diri. Sepertinya, memang dia ini menahan-nahan diri; hendak berenang dalam lautan kalimat Ilahiyah, tetapi ada malu untuk melakukannya. Jadinya, dia di tepian saja, sambil memandang pada kejauhan, dia ambil satu-satu hal yang penuh makna.

Memang, sampai detik ini, belum ada orang yang mampu merenangi keluasan samudera artifisial ilahiyah yang sejak periode penciptaan itu menghampar. Kendati banyak yang sudah mencoba merenanginya, tak pernah jua sampai ke tepian selanjutnya. Mereka moksa pada pertengahan. Larung berbenam campur, sebab rasa bahagia yang memenuhi dada, rasanya sudah cukup. Mereka lalu menjelma sufi, waliullah. Jika engkau tak mau aku katakan; bahwa mereka itu, yang sedang menggenggam ujung kain jubah para rasul dan nabi.

Naimah Herawati Hizboel rupanya berhasil memanifestasikan banyak pemaknaan dari cinta. Sepertinya di pundak perempuan ini ada sekantung besar penuh cinta yang memberatinya. Pundaknya yang disesaki kantung cinta ini, walau berat, bahagia dia memikulnya. Sebab tak ada sepenggal maknanya dia luput. Hera benar-benar tahu apa yang dilakukannya, apa yang jalaninya, dan apa yang dituliskannya. Dia ini faham.

syukuri saja dan terus syukuri
agar menjelma menjadi butiran-butiran cinta
yang akan mengiringi langkah kita
menuju mahligai-Nya…

Bukankah telah aku katakan, bahwa dia faham benar apa yang dia tuliskan, dia rasakan. Bacalah empat larik di atas itu. Hera, barangkali, telah merasakan kehadiran bentuk energi murni dalam hidupnya, yang dia hanya mampu memaknainya sebagai cinta; pergulatan hidup, problematika, kiasan-kiasan arus moksa, keparipurnaan rasa dan estetika, kesendirian, dan baluran dari perasaan-perasaan serta hasrat-hasrat indah lainnya. Dan Hera hanya sanggup memaknainya sebagai cinta: Hera faham benar.

Hera tahu benar hidup itu dimulai dari mana, kemana pertengahannya, dan dimana akhirnya. Hidup bukan ketika engkau keluar dari rahim ibu, tetapi hidup itu dimulai sesegera ketika kau menghadapi masalah; bahagia, duka, lara, gembira.

Selepasnya, dia pun tahu hendak kemana pertengahan hidup ini di larung. Kata-kata dalam sajak Hera tidak membuat mabok, tidak pula kita dihinggapi trance. Tetapi menggapainya, merayapinya, merenggutnya, menikmatinya, adalah sensasi tersendiri. Adalah hal unik ketika kita berusaha menempel di setiap larik kata-kata Hera itu.

Engkau pasti segera tahu apa yang aku maksud jika usai menyimak ini:

pendar cahaya lampu-lampu di sudut kota
seolah pantulan usiaku
terang
gemerlap
bakan terkadang muram dan sepi

Allahu Robbi
semua yang ada padaku adalah
karunia-Mu yang tak terhingga
susah senang adalah nyanyian hati
bahagia derita adalah pelangi-pelangi jiwa

aku belajar dan terus belajar
menghapus paksa birunya rinduku
agar ia tak lagi membutakan mata hatiku dan
menghalangi langkahku menuju-Mu

Allahu Robbi
harapanku pada-Mu tak kunjung usai
meski hidup tak pernah pasti
meski gelombang menampar keras tubuh ini
tak lantas surut asaku pada-Mu
tak lantas surut jiwa ini menggapai tepian hati-Mu

Allahu Robbi
di titik usiaku saat ini
air mata kesadaran menetes membasahi pipi dan
relung-relung hatiku
di titik usiaku saat ini
terurai doa
harapan
dan mimpi-mimpi indah tentang
asa-ku pada-Mu

Allahu Robbi jangan kau tutup mata hatiku dari cinta-Mu
karuniai aku mimpi-mimpi indah tentang kasih sayang-Mu
dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu
amin

(Naimah Hera Hizboel, Sajak 26 Juni 2009)

Bukankah perumpamaan yang coba di tarik Hera dalam bahasa syairnya sangat-sangat bersifat manusia; manusiawi sekali. Bukankah, hal-hal yang disebutkan Hera itu, kerap singgah menghampiri perjalanan hidup kita. Tak ada bayangan orang lain yang mencoba menjadi orang lain, cukup diri sendiri.

Faktanya, memang, kita selalu berjuang untuk diri sendiri. Ketika entitas lain menghampiri kita, selebihnya akan selalu dianggap sebagai jembatan kesempurnaan. Tidak ada orang yang benar-benar berada di samping kita, sehingga kita menyangkalinya. Kita ini sekadar manusia; cuma sekadar manusia.

***

“Ah, Hera ini, terlalu cepat hendak menggapai Tuhannya.” Demikian kata seorang dosen sastra kenalanku, ketika kutunjukkan padanya sajak Hera. Aku tahu perkataan sahabatku itu pun berbungkus umpama; Hera berusaha laju, melewati hasratnya, mengingkarinya, menyingkirkannya, hanya agar supaya dia lebih dekat pada Allah. Hera membungkus hasrat kemanusiaannya dalam doa dan metode, menekannya, agar lebih khusyuk pada Tuhannya.

Demikian kata kawanku itu.

Padanya, aku katakan perseberangan pendapatku, yang akhirnya kami harus memperdebatkan (mendiskusikan) sajak Hera ini sampai pukul satu dini hari. Di kampus tempatnya bekerja. Saat malam dekat menghampiri pagi.

Aku sampaikan pokok pikiranku; ketika engkau manusia, maka sulit menjelma lain. Kau hanya manusia, demikian itu kau ditakdirkan, dilahirkan. Kesadaran pada entitas macam itu, membuat kau harus berpaling pada entitas Ilahiyah. Mengadu, menumpah gejolak, berpegang, bahkan tak akan malu engkau meminta. Tuhan menjadi tempat yang baik untuk mendiskusikan masalah, dan berusaha menebak jawaban sebagai solusi.

Demikian, pula aku menyilangi pendapatnya.

Panjang dan luas kami bersilangan pendapat, yang awalnya dari sajak Hera, hingga menghantar kami berdua pada tukar pendapat soal manusia dan ketuhanan. Bukan main, kami, dalam diskusi itu saling melempar rujukan, saling mematahkan referensi, saling bunuh pemahaman.

Banyak sudah akhirnya buku yang kami rujuk-rujuk, tak sempat aku menghitungnya. Kepala kami seperti ditembus sejumlah judul dan kutipan dalam buku, serta nama pengarangnya. Jika kawanku itu lari pada referensi thasawuf, aku mengejarnya ke sana. Jika dia mencoba menghilang di tikungan sufistik, aku sudah menunggunya di ujung tikungan berikutnya. Jika dia itu hendak menyelam dalam referensi konsep ketauhidan dalam sanad yang berbeda-beda, maka aku membuntutinya dan berusaha menyelam disampingnya, tak mau ketinggalan. Kawanku itu sungguh cakap di bidang yang terakhir aku sebut itu.

Jikalau malam tak menghampiri pagi, tak akan pungkas diskusi itu, tak akan ingat aku untuk pulang. Kami berpisah dengan akrab sambil tertawa terbahak-bahak.

***

Begitulah, hingga mengapa aku menulis jurnal ini. Larik kalimat dalam sajak Hera menetak tepat titik kesadaran bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari rutinitas penghambaan, sebagaimana hujjah manusia itu diciptakan.

Ada ujar-ujar tentang manusia yang tak boleh lari dari masalah, tetapi menyelesaikan masalah itu. Tetapi, apa yang dikandung dalam kalimat Hera rupanya tidak merujuk larinya manusia dari masalah, bahwa pencarian pada hakikat ketuhanan adalah juga solusi untuk menyelesaikan masalah. Kadangkala, engkau, kita, mesti bersimpuh. Sekali waktu. Luangkanlah.

***

Allahu Robbi jangan kau tutup mata hatiku dari cinta-Mu
karuniai aku mimpi-mimpi indah tentang kasih sayang-Mu
dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu
amin

Melegakan. Membaca permohonan Hera agar tak tutup dasar hatinya. Memohon jalan keluar dengan terang cahaya yang menjilam membenamkan gelap.

Permohonan untuk melapangkan hati adalah prosesi klasik pada pemberian ruang yang luas dimana nantinya pada sudutnya engkau akan duduk secara tenang untuk memudahkanmu menyelesaikan masalah. Ruang inilah yang kerap kita minta dalam doa, bukan meminta solusi. Ruang luas yang kita minta itu akan menjadi alat bagi manusia, kita, untuk meretas masalah, memisahkannya, mentautkan ujung satu dengan ujung lainnya, sehingga solusi engkau dapatkan. Kendati, bagaimana melakukannya, sangat tergantung dengan caramu sendiri. Mana bisa engkau menjulurkan, merentangkan kekusutan, membuka buhul tersimpul, jika ruang bagimu tak ada. Jika kondisi mendesakmu sedemikian sempit. Bergerak pun engkau tak bisa.

Maka;

…dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu..

Perempuan Hera ini meminta. ***

Mei, 2010.


[Kajian] Purnami yang Manis, dan Gugatan Perbenturan Sosio-Kultural dalam Ide Tulisan

(catatan ringan dari diskusi Satellite Event Ubub Writers & Readers Festival 2010 , Cafe Lapiaza, Kamis 10 Februari 2011)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

RUANG duabelas kali tujuh meter persegi pada Kamis malam, 10 Februari 2011, itu dipenuhi para sastrais muda Kendari. Beberapa budayawan kawakan Sultra juga hadir. Lima buah kursi menemani meja panjang yang diatur rapi membelakangi backdrop bertulis Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival 2010.

Di luar Cafe Lapiaza, petir sesekali menerangi malam yang beranjak, menemani gerimis yang jatuh sejak petang. Tiba tiba hujan lebat berbaur angin, hampir saja menciutkan nyali panitia acara malam itu. Tentu saja, kondisi macam itu, dapat membuat banyak undangan tak bisa hadir. Tapi mereka kembali tersenyum, saat hujan mereda, satu per satu kawan kawan sastrais Kendari berdatangan, memenuhi tempat itu. Sebagian basah oleh gerimis yang menyisa.

Community Development Manager UWRF, Kadek Purnami

Community Development Manager UWRF, Kadek Purnami, dan I Wayan Juniartha serta M. Aan Mansyur telah datang sekitar 10 menit sebelum tengat acara yang dipatok pukul 19.30 waktu Indonesia bagian Timur. Agar lebih menikmati acara malam itu, saya bersama penyair Adhy Rical mengambil tempat duduk agak pojok, dekat kerai bambu, membelakangi jalan Sao Sao yang telah kuyup oleh hujan.

Suasana hangat di Cafe Lapiaza cukup menenangkan semua orang. Apalagi bagi sastrawan Syaifuddin Gani, dari Teater Sendiri yang bertindak sebagai koordinator acara. Kegiatan pendukung sebagai bagian dari promo Ubud Writers & Readers Festival 2010, memang antara lain hendak membedah buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity, yang diselaraskan dengan diskusi, pembacaan puisi, pemutaran film pendek UWRF di Bali 2010, yang barusan kelar Oktober lalu.

Sebelum memasuki inti acara, kami semua dihibur dengan pembacaan puisi oleh penyair Irianto Ibrahim, penyair Syaifuddin Gani, penyair M. Aan Mansyur, Sulprina Rahmin Putri, Galih, Sendri Yakti,  Laode Gusman Nasiru dan Frans Patadungan. Suguhan sebuah puisi yang sangat kuat, Perahu Kanak-Kanak karya Irianto Ibrahim, ikut membangun gairah setiap orang yang malam itu tampak “kedinginan”.

Semakin hangat suasana, saat seorang remaja bernama Debora Grace L, melagukan “Mei” puisi Joko Pinurbo, dan sebuah puisi lain milik Hamdy Salad. Suara merdu Debora, demikian ritmik melagukan dua puisi itu. Seandainya saja malam itu, Joko Pinurbo dan Hamdy Salad hadir, saya sangat yakin mereka berdua kelak mau sepanggung dengan Debora ini.

Debora Grace L, melagukan "Mei" puisi Joko Pinurbo, dan sebuah puisi lain milik Hamdy Salad

Lalu acara dimulai. Panitia UWRF langsung menyuguhkan ke mata sastrawan Kendari sebuah film pendek UWRF 2010. Wajah wajah sastrais Indonesia silih berganti dengan beberapa sastrais asing yang menjadi peserta dan tamu UWRF 2010. Kurnia Effendi berkomentar soal kenyaman lokasi acara sejak pertama kali dia datang, lalu silih muncul Sitor Situmorang, Sutardji C. Bachri, bahkan Head Chief of CitiBank Indonesia. Footage saling berlapis cepat, menyuguhkan pada mata beragam acara selingan dalam UWRF. Ramai, menarik, dan prestisius tentunya. Ubud Writers & Readers Festival memang dikemas sangat apik oleh Mudra Swari Saraswati Foundation, yang didukung penuh oleh Hivos, sebuah lembaga nirlaba yang bertujuan memajukan literasi dan perdamaian.

Tercatat di situs resmi UWRF, pada perhelatan 2010 lalu, dari 143 peserta yang diundang, 37 peserta adalah partisipan tuan rumah, Indonesia, sedang sisanya berasal dari berbagai negara (49 diantaranya dari Australia).

Dalam monolognya selepas penayangan film pendek, Kadek Purnami yang manis itu, mengatakan bahwa UWRF berangkat dari gagasan besar mempromosikan kembali Bali seusai dua kali tragedi bom. Mengembalikan Bali sebagai kota perdamaian, kota kultur, bahwa rakyat Bali khususnya, dan Indonesia pada umumnya, tidak akan tunduk dengan aksi negatif pada kemanusiaan macam itu. UWRF juga hendak menegaskan posisi atas gagasan tersebut dalam bentuk literasi perdamaian yang berpokok pada keragaman budaya dalam kesatuan. Itulah mengapa UWRF mengambil tema Bhineka Tunggal Ika pada perhelatan 2010. Tema yang beragam telah menghias tujuh sepuluh kali penyelenggaraan UWRF sebelumnya, sejak 2003 silam.

“Secara keseluruhan, mencerminkan keberagaman daerah serta kantong-kantong kesusasteraan di Indonesia. Juga mencerminkan keragaman genre, aliran, tema, dan kecenderungan kesusasteraan Indonesia, yang mempresentasikan penghormatan Ubud Writers & Readers Festival pada upaya memajukan penulis-penulis muda berkualtas,” jelas Purnami.

Kebangsaan penulis bukan hal terpenting. Karya dan kiprahnya yang berkaitan dengan tema festival yang menjadi pertimbangan utama UWRF. “Pemilihan peserta undangan lebih didasari kriteria yang berkaitan dengan dunia kepenulisan dan perbukuan. Tidak ada di luar hal itu,” tambah I Wayan Juniartha.

Intinya, Purnami hendak menegaskan, bahwa Mudra Swari Saraswati Foundation dan Hivos berkeinginan kegiatan UWRF yang mereka gagas dan laksanakan itu untuk menampilkan para penulis muda berkualitas dari jumlahnya yang banyak itu. Dari beberapa penyelenggaraan, UWRF mendapat pujian dan apresiasi yang sangat baik, tidak saja dari kalangan penulis muda, tetapi juga dari para penulis kawakan yang sengaja diundang pada UWRF.

Penjelasan yang konprehensif dan detil itu, ditambah wajah manis Purnami, agaknya membuat semua yang hadir segera faham seperti apa dan bagaimana gagasan besar UWRF itu. “Penjelasannya oke…yang ngejelasinnya juga manis,” celetuk seorang sasrais tepat di samping saya. Saya hanya tersenyum dengan celetuk itu. Tapi, paras Purnami memang manis malam itu, yang berhias dengan dandanan batik berpunggung belah rendah, dipadankan legging hitam dan sepatu merah datar.

Yang menarik pada acara malam itu, saat buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity, ikut dibedah oleh peserta bersama pihak UWRF. Prosa Batubujang karya Benny Arnas antara lain menjadi topik pembicaraan, bersama karya lain; prosa Barong karya Sunaryono Basuki Ks, prosa La Runduma karya Waode Wulan Ratna.

Ikut disikusikan juga beberapa puisi, macam; Gerombolan Sepeda karya Andha S., Lukisan yang Hendak Diselesaikan karya Arif Rizki, dan Pesta Makan Laba-Laba karya Wendoko. Saya sendiri ikut mengulas prosa Batubujang (B. Arnas) dan puisi Suluk Bunga Padi (A. Muttaqin).

Prosa Batubujang karya B. Arnas, disepakati oleh para peserta malam itu sebagai prosa yang kuat. Pilihan kata yang digunakan Benny Arnas tidak menjadi soal, namun beberapa peserta memang tertarik pada muatan sosio-kultural yang disuguhkan Benny dalam prosanya itu. Bahwa Benny dikatakan hendak mengajukan dua soal kekinian yang memang sangat akrab disekeliling orang kampung, yakni perbenturan tradisi lokal dan tradisi modern. Benny hendak menunjukkan pada pembacanya, bahwa perbenturan macam itu memang sukar dihindari namun bukan berarti tidak bisa ditemukan titik tengahnya. Menurut Syaifuddin Gani, ide Benny cenderung orisinil dan mengakhiri perdebatan pada dua mainstream tradisi ini dengan tak satupun pihak yang dimenangkan. Karakter pak Mur akhirnya mati tertimpa batubujang yang dibela-belanya, sedang Mang Jali harus kembali ke Lubuk Senalang, membengkalai pekerjaan, sebab investor pun menarik diri dari proyek itu.

Barangkali memang demikian maksud yang hendak dibenam Benny dalam Bajubajang-nya, yang kemudian ditangkap oleh kawan kawan malam itu. Tetapi bagi saya pribadi, yang ikut memberikan apresiasi pada putaran ketiga, Benny memang ikut mengetengahkan realitas perbenturan tersebut. Tapi itu hanya cara Benny saja untuk mengantar protesnya pada kerja kerja kebanyakan LSM lingkungan yang kerap tak bertanggungjawab. Itu dikemas rapi oleh Benny, bahkan sejak dari paragraf ke empat dari 58 paragraf panjang prosanya.

Anas juga tak habis pikir, bagaimana penduduk bisa lebih mendengarkan ajakan pemerintah kota. Orang-orang berseragam coklat itu selalu berseru panjang lebar perihal penggunaan batamerah, untuk menyemen parit dan membuat jalan-jalan kecil—mereka menyebutnya “trotoar”—di pinggir jalan raya yang baru mulai dibangun beberapa minggu yang lalu. Mengapa pula penduduk patuh pada orang-orang LSM yang katanya peduli lingkungan tapi tak sedikitpun peduli pada kehidupan orang lain. Para ‘pecinta alam’ itu selalu berkoar-mengajak orang-orang kampung agar tidak menggunakan batubujang bila hendak menyemen parit, memperkuat dinding-dinding beton rumah tua, atau bentuk pekerjaan lain, yang memungkinkan batubujang dipilih sebagai bahan bakunya. (Paragraf ke-4, Batubajang, Benny Arnas).

Cukup telak, Benny, mengemukakan pendapatnya yang dia bungkus rapi pada Batubajang-nya itu. Dalam kenyataannya memang benarlah apa kata Benny. Kebanyakan LSM yang mambangun site di tengah masyarakat, sekadar menjalankan proyek pemerintah atau proyek yang didonori asing belaka. Setelah usai pekerjaan mereka itu, merekapun pergi. Meninggalkan masyarakat yang masih saja hidup kekurangan. Bukankah persoalan lingkungan hidup adalah persoalan kemasyarakatan juga. Justru di masyarakat itulah intinya. Jika masyarakat tak terbangun (ekonomi dan sosial), mana mungkin lingkungan akan ikut terjaga. Ketimbang membuang uang untuk membeli minyak tanah, misalnya, masyarakat yang berekonomi lemah akan lebih memilih masuk hutan untuk mencari kayu bakar. Menangkapi hewan langka untuk dijual dengan harga mahal. Untuk realitas macam ini, Benny telah tepat mengetengahkannya.

Buku 'Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity (UWRF 2010)

Beberapa mahasiswa penggiat sastra juga berusaha menelaah isi buku Bhinaka Tunggal Ika kaitannya dengan beberapa karya yang ada didalamnya. Bahwa buku tersebut tidak sedemikian dapat langsung mempesonakan keberagaman (diversity) dalam konteks adat-budaya. “Serangan” dimulai dari La Runduma karya Waode Wulan Ratna, yang mengugat perlawanan batin dan laku seorang perempuan muda dalam adat pingitan (posuo—adat Buton) di kampungnya. Penentangan si perempuan muda berpuncak pada laku terlarangnya dengan lelaki pilihannya dalam kamar (tempat di mana adat Posuo itu difokuskan) di hari akhir prosesi adat tersebut.

Kritik keras perihal ide prosa ini datang dari budayawan dan seniman Laode Djagur Bolu. Menurut Djagur, sebatas literasi yang berangkat dari ide kreatif penulisnya, maka La Runduma sepenuhnya bisa diterima, tetapi jika telah mengugat dasar tradisi suatu komunitas adat-budaya maka akan lancung menajamkan friksi. Literasi sebagai salah satu produk budaya-manusia, menurut Djagur akan berpotensi mengkooptasi pandangan penikmat literasi usia muda yang mengkonsumsi literasi tersebut. Diperparah, jika para remaja penikmat literasi kurang bisa mencari literasi pembandingnya, sehingga literasi awal yang mereka baca seketika membentuk presepsi tunggal. Kecemasan budayawan Djagur itu memang beralasan, sehingga I Wayan Juniartha menanggapinya dengan santun. Lelaki tampan bertubuh subur itu, menegaskan pihaknya akan ikut memperhatikan aspek tersebut. Namun, Juniartha juga menyarankan agar sebuah karya literasi semestinya “dilawan” dengan literasi juga.

Masih terkait dengan itu, seorang penikmat sastra lainnya, Irfan Ido, juga ikut menyuarakan pendapatnya sehubungan prosa Madakaripura, yang dinukil dari novel Niskala, karya Hermawan Aksan. Pada prosa, atau novel itu, menurut Irfan, telah terjadi pendobrakan sejarah perihal figur Gajahmada, yang oleh penulisnya digambarkan sebagai penindas dan penakluk. Novel Niskala sendiri memang diangkat dari kisah kuno Perang Bubat perihal perang antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit (Jawa). Peristiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14, sekitar tahun 1360 Masehi.

Menurut Irfan, pendobrakan sejarah yang dilakukan Hermawan sudah pasti berlandaskan ide tertentu, tetapi seketika akan menampilkan wajah  lain dari Gajahmada yang selama ini dikenal umum sebagai tokoh pemersatu. Kendati membawa cara pandang baru, semestinya, kata Irfan, Hermawan juga mempertimbangkan perasaan sosio-historycal masyarakat Jawa dan Sunda.

M. Aan Mansyur menjawab kecemasan Ifran, bahwa novel Niskala, yang dipetik ke bentuk prosa Madakaripura dalam buku itu, hanyalah bentuk keberagaman atas ide kepenulisan. Hermawan rupanya, hendak menampilkan sosok lain dari Gajahmada yang selama ini luput dikenal umum.

Secara garis besar, saya sepakat dengan Aan Mansyur. Menurut saya, orang harus diberikan alternatif perspektif perihal sosok Gajahmada ini. Gajahmada memang benar kerap tampil dalam pembacaan sebagai sosok pemersatu Majapahit (Mataram), tetapi bukankah langkah pemersatuannya itu dilakukan lewat jalan penaklukan? Artinya, Gajahmada harus dilihat dalam perspektif yang imparsial, yakni Gajahmada sebagai permersatu sekaligus sebagai penakluk. Dua karakter tugas yang dilakukannya dalam waktu bersamaan.

Tidak beberapa karya di atas saja yang dinilai memuat ide perbenturan sosio-kultural, sosio-knowledge, dan sosio-history. Pada putaran ketiga, saya pun sempat mengapresiasi puisi Suluk Bunga Padi karya A. Muttaqin, yang sempat dinilai pada sesi pertama sebagai karya sosio-kultural. Barangkali berbeda cara pandang, saya justru menenggarai bahwa ide dasar A. Muttaqin dalam Suluk Bunga Padi, adalah hendak menggugah kegamangan sosio-attitude masyarakat sekarang yang dicitrakannya melalui padi.

A. Muttaqin, barangkali, mencoba bersabar pada sikap ketidak-pedulian masyarakat lokal dan peran pemerintah yang sama sekali kosong, terhadap isu investasi yang sedang marak. Terlihat jelas, entitas masyarakat desa yang diwakili oleh kalimat “Setenang perahu Fansuri”.

Hamzah Fansuri adalah penyair sufi Melayu Klasik (Angkatan Pujangga Lama) yang sangat terkenal dengan syair-syair keagamaannya, semisal pada Syair Perahu-nya yang begitu teduh dan tenang.

Sesuatu yang hendak dipotret A. Muttaqin, sejauh pengamatan saya, mirip dengan kegundahan selepas “tragedi” Kedungombo. Saat rumah rebah, dan ladang menjadi danau.

Tak pelak memang, semua karya yang termuat dalam buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmoni in Diversity, ini adalah karya terpilih dan hebat. Apresiasi bagus wajarlah bila diberikan pada panitia UWRF dan tim kurator yang telah berpayah-payah menseleksi dan menempatkan kedudukan karya sesuai kualitasnya. Buku ini sendiri, sebagai sebuah bunga rampai, patut mendapat penghargaan.

Baik Kadek Purnami, Ni Wayan Juniartha, M. Aan Masyur, dan Syaifuddin Gani yang hadir malam itu “mengkuliahi” para sasrais Kendari perihal UWRF, patut mendapat pujian. Dengan lancar mereka mampu menjawab semua gugatan, telaah, diskursus yang berkembang dalam diskusi yang dipandu penyair Adhy Rical itu.

Namun, sayang sekali, keempat panelis itu tidak satupun yang menjawab kecemasan saya, yang pada sesi ketiga diamini semua peserta. Kecemasan saya soal ancaman terhadap perkembangan literasi nasional Indonesia, dihadapan panel Pasar Bebas. Panel Pasar Bebas, mau tidak mau, harus dilihat sebagai salah satu instrumen ancaman terhadap perkembangan literasi nasional. Dunia kepengarangan, termasuk sastrawan dan penulis pada umumnya, serta dunia perbukuan, akan diterjang oleh entitas literasi asing dalam mainstream selera pasar.

Gejalanya bukan tidak tampak. Lihat saja, ketika harian Kompas menurunkan laporan soal “Suram dan Lesunya Penerbitan Buku” (Senin, 31 Januari 2011). Laporan itu dengan rinci menyebut salah satu persoalan yang menghadang adalah langka dan mahalnya bahan baku, yang secara umum diambil dari kayu (wood-paper). Pembalakan resmi yang mengkatrol kuota kayu tebang labih dari 55% teralokasi ke ekspor, adalah pemicu utama kelangkaan. Lalu investasi asing di sektor furniture ikut menggerus bahan baku sebanyak 15% dan sisanya masih harus dibagi pada pengusaha pulp & paper nasional dan asing. Mahalnya bahan baku akan ikut mengkerek tingginya harga cetak buku, lalu berimbas pada tingginya nilai cetak oleh penerbit dan pengarang, serta berakhir pada tingginya harga buku yang harus dibayar oleh konsumen.

Serbuan literasi asing juga mencemaskan. Lusinan penerbit lebih suka membeli hak cetak sejumlah karya novel asing, kemudian diterjemahkan, ikut membanjiri pasar buku nasional. Jika tidak begitu, maka penetrasi penerbit asing dapat dilakukan dengan bagi modal kepemilikan (penyertaan modal), atau pure-investment publishing (non penyertaan modal).

Anak-anak kita sekarang cenderung mengikuti trend, dan lebih memilih membaca novel-novel; Saptaquel Harry Potter, atau Cronicles of Narnia, padahal ada The Cronicles of Willy Flarkies karya Satrio Wibowo. Bahkan orang muda lebih suka membaca novel-novel; The Doomsday Key 2012-nya James Rollins, You Suck (The Vampir Diaries) karya Christopher Moore, atau Escape Over The Himalayas karya Maria Blumencron, ketimbang membaca Giganto (Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo) karya Koen Setyawan, atau Dwilogi Prabu Siliwangi-nya E. Rokajat Asura.

Perkembangan literasi asing lewat transliterasi akan ikut mempengaruhi perkembangan tema lokal, dan paling mencemaskan adalah perpindahan literasi lokal/kuno/langka secara sistematis lewat metode transliterasi bahasa Indonesia ke bahasa asing. Kejadian serupa yang menandai pengklaiman literasi kuno epos La Galigo, dan banyak literasi kuno Bali dan Jawa, serta bentuk bentuk literasi langka di daerah lainnya.

Sebagaimana imperialisme kuno yang masuk lewat jalur trading, perpindahan kekayaan literasi asli Indonesia dahulu sukar dicegah. Eropa terbukti menyimpan ratusan ribu manuskrip dan perkamen (bahkan lontara) sastra tradisional nusantara, baik dalam bentuk asli maupun hasil terjemahannya saja. Pola trading gaya baru (pasar bebas) akan membawa dampak yang tak jauh berbeda, dan makin memperkeras bentuk ancamannya.

Kendatipun demikian, saya sangat berharap kegiatan UWRF ini terus ada dan berkembang. Bagi saya, kegiatan lain seperti UWRF, ini pun jika bisa juga lahir, sehingga makin menegaskan bentuk kehendak kita pada kebangunan dan kecemerlangan kembali literasi Indonesia yang sempat pernah mendunia.

Selebihnya, acara Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), yang diselenggarakan Yayasan Mudra Swari Saraswati yang diwakili Kadek Purnami dan I Wayan Juniartha, difasilitasi oleh Teater Sendiri (Syaifuddin Gani), serta disponsori Hivos, berlangsung dengan sangat baik. Elegan dan tuntas.

Malam kian larut saat acara itu pungkas, tepat pukul 24.00 waktu Indonesia bagian Timur. Kadek Purnami dan I Wayan Juniartha masih akan ke Ternate besok paginya untuk promo UWRF yang sama. “Sampai bertemu di Ubud,” seru keduanya berpamitan, sebelum masuk ke dalam mobil menuju hotel.

Mari menegakkan kembali kebangunan tradisi literasi Indonesia asli. Sekian. ***

Kendari, 11 Februari 2011

Penyair Irianto Ibrahim, membacakan 'Perahu Kanak-Kanak' yang dicuplik dari bukunya "Buton, Ibu dan Sekantong Luka".

M. Aan Mansyur, salah satu kurator UWRF, juga membacakan salah satu sajak pada sesi pembukaan.

Sulprina Rahmin Putri, juga tak ketinggalan menghibur undangan dalam pembacaan puisi.

Frans Patadungan, membaca puisi pada pembukaan.

Sastrawan Syaifuddin Gani, ikut mempersembahkan sebuah puisi di pembukaan.

Panelis: Syaifuddin Gani, M. Aan Mansyur, Kadek Purnami, I Wayan Juniartha. Adhy Rical (Moderator)

Undangan menyimak Frans Patadungan membaca puisi pada pembukaan acara.

Arham Kendari (Karikaturis & Penulis), Laode Djagur Bolu (Budayawan & Seniman), Sidin Lahoga (Sastrais), Irfan Ido (Sastrais). Cermat menyimak diskusi.

Ahid Hidayat (Dosen & Sastrawan), Sendri Yekti, dan undangan diskusi lainnya.

Ilham Q. Moehiddin, mojok bersama sastrais Iwan A'rab di meja bernomor 12.

Para undangan (mahasiswa dan penggiat sastra) mengikuti diskusi dengan antusias.

Syaifuddin Gani, Kadek Purnami, I Wayan Juniartha, Adhy Rical, dan M. Aan Mansyur. Berpose bersama seusai acara.


%d blogger menyukai ini: