Pers Bertanggung Jawab Itu Bukan Pers Bebas

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Pers bebas di Indonesia kini terlalu “bebas”. Sudah saatnya komponen media dan serikat kerja jurnalistik memproteksi lingkungannya dengan regulasi yang lebih jelas dan ketat soal media dan pers. Sungguh, jika harus memilih, saya lebih suka “pers bertanggungjawab”; kendati belum tentu mencerdaskan, minimal mampu bersikap adil, dan tak merugikan orang.

***

Kegagapan dunia media massa selepas era diktatorian, membuncah hingga membangun efek yang menggembirakan sekaligus mencemaskan. Media marak dimana-mana. Jurnalis tiba-tiba membludak. Masalah-masalah humanitarian dan kejahatan kemanusiaan yang kerap dijauhi media—karena ancaman ketika orde baru—bermunculan, dan menjadi referensi baru orang-orang di Indonesia.

Malafungsi pemerintahan juga tidak lepas dari geligi pers yang tiba-tiba “tajam”. Korupsi mendapat kolom-kolom yang lebih luas di halaman-lahaman koran. Proyek  fiktif, nepotisme pejabat, agraria; mendapat durasi yang lebih panjang di radio dan televisi.

Tidak cuma media cetak, media elektronik, semacam radio, televisi, dan situs berita internet (news website), menolak ketinggalan untuk segera meramaikan lapangan informasi. Tidak perlu disurvey resmi pun, Anda, ketika itu, akan segera tahu seperti apa pertumbuhan yang saya maksud. Tengok saja lapak koran, wajah penjualnya pun nyaris tak kelihatan, terhalau tabloid dan majalah yang bergelantungan. Belum yang terhampar dan yang teratur rapi di rak jualan.

Dahulu, saat pagi, saya kerap mengunjungi pedagang koran yang berlapak di ujung jalan kompleks dimana saya tinggal. Saya suka pedagangnya, orangnya suka bercanda dengan lugas. Maksud saya..benar-benar lugas. Segala kejadian dia tahu, kendati sangat mungkin kurang detil. Tetapi, enak sekali mendengar komentarnya tentang persoalan politik, ekonomi dan sosial yang dia baca, wah… seru dan heboh. Terkadang ada yang kurang kita cermati, namun diketahui olehnya. Mungkin karena banyaknya bahan bacaan yang dia “lahap” setiap hari. Sampai-sampai soal klenik pun dia tahu.

Ketika mengunjungi lapak korannya pertama kali, saya sempat bingung, mau membeli media yang mana. Koran; beraneka nama, kadang bombastis (kadang pula seperti kurang kreatif memilih nama media), benner-nya besar-besar, warnanya pun mencolok. Majalah; beraneka segmen, mulai dari majalah politik, ekonomi, infotainment..sampai yang hot pun ada, tidak ketinggalan majalah dan tabloid beraroma klenik alias hantu-hantuan (saya sampai mengira-ngira bagaimana lagak si wartawan ketika bikin janji dan mewawancarai sang hantu). Tabloid; model ini yang paling ramai… Sepertinya semua hal bisa dikemas dalam bentuk seperti ini. Akhirnya, saya pun memilih salah satu koran dan juga sebuah majalah. Yang “serius” tentunya.

Telusuri-lah channel di radio pada jalur FM dan AM, padat dan sesak—seperti padatnya jalur ke puncak saat akhir pekan. Semua jenis radio sepertinya ada. Segmented sekali. Berijin atau belum berijin, geser gelombang sedikit, suara announcer sudah menghantam anak telinga Anda.

Mungkin karena modal yang harus gede, televisi lokal tetap tumbuh, walau tak sekencang media lainnya. Asal mampu memformat program sendiri, walau sederhana, yang penting harus tayang. Jika durasinya masih kosong, tapi tak ada program, gampang…angkat telepon, lalu kontak stasiun televisi lokal lainnya…jadilah barter program. Yang penting eksis.

Situs berita internet (news website) agak murah. Cukup beli domain (kadang harus menyewa per tahun atau per lima tahun), rekrut tenaga teknis sebagai webmaster, gerilya-kan dua jurnalis untuk info terbaru (selebihnya comot aja dari koran harian), ngantornya di garasi dulu, jadilah.

Terlebih, saat ini, survey media terbaru dari sebuah lembaga independen di Amerika Serikat, menyebut news website lebih terdepan dari televisi dan media cetak. Saya tidak jelas alat ukurnya apa, tetapi saya menduga bahwa news website memiliki kecepatan mensajikan berita (update). Boleh pula, karena mainstream media sudah bergeser karena makin seringnya manusia membutuhkan informasi, serta kemunculan tehnologi layar blue-ray (sebuah inovasi layar tipis tercanggih yang dapat dilipat dan digulung—memungkinkan tampilan koran, buku, dan majalah dalam bentuk digital). Era kertas akan segera ditinggalkan. Solusi tepat yang lebih revolusioner untuk menekan penggunaan kayu sebagai bahan baku kertas.

Pertumbuhan media yang gegap-gempita itu seketika dinamai “pers bebas”. Julukan ini, ketika itu, dianggap cukup representatif terhadap kondisinya, di Indonesia. Nah…kita masih akan bicara panjang lagi soal ini di bagian lain tulisan ini.

Tetapi, tidak akan seru jika pemandangan itu tidak dilihat dalam bentuk kurva. Jika Anda suka melihat pertumbuhannya, sebaiknya lihat juga trend penurunannya. Sebab, ada waktu dimana pertumbuhan media dan pekerja media (staf dan jurnalis) menjadi sangat intens, namun dalam waktu yang tidak terlalu lama pula, media-media itu satu per satu bertumbangan. Soalnya beragam; mulai dari kekurangan modal, kurang teliti mengkalkulasi biaya-biaya, konflik internal, kompetisi yang tidak seimbang, tidak laku (kurang pendengar dan pemirsa), tidak tersebar (terdistribusi) dengan baik, bahkan ada yang memilih tutup karena disomasi akibat pencemaran nama baik.

Menggunakan analogi kecambang, media di Indonesia satu dekade lebih ini, memang seperti itu. Tumbuh dengan cepat, namun begitu cepat pula “dipetik”. Jujur, saya tidak memiliki catatan resmi dan terbaru soal jumlah media yang pernah hadir; jumlah yang kemudian mati, dan jumlah yang masih bertahan hingga kini. Tetapi secara eksplisit, kita dapat melihat dengan jelas, media-media mana saja yang masih berdiri, baik karena kemampuan pemiliknya mengelola, pun karena enggan untuk mati.

Kita tidak akan berpanjang lebar soal ini, sebab sari tulisan ini bukan hendak menggebas soal itu. Sudah ada yang mengurusi itu, biar mereka saja. Saya lebih suka menyoroti media-media itu (sekaligus pekerjanya) dari sisi bagaimana mereka mensajikan berita; di domain mana mereka berpijak; masyarakat sasaran pembaca dan pemirsanya; dan tentu saja, se-bertanggungjawab apa media-media itu. Mari kita lihat.

***

Dari semula, saya sudah menyatakan lebih senang dengan istilah “pers bertanggung jawab”. Sebab, istilah ini, seharusnya lebih pas ketimbang “pers bebas”. Jika bicara pers bebas, kita seolah telah menempatkan diri kita pada kotak liberalisme. Ini tidak bagus. Kebebasan pers yang berlebihan akan cenderung mensamarkan posisi media. Dia menggembirakan sekaligus merusak.

Pers sendiri sudah diakui secara kolosal adalah salah satu penemuan manusia yang paling mempengaruhi hidup. Informasi adalah nafas pers. Sulit sekali bagi orang untuk tidak mencintai bidang ini, karena sifat utama yang dimilikinya itu. Pers bisa sangat bersahabat, namun bisa demikian membahayakan. Pers bisa sangat aman, tetapi bisa penuh resiko. Pers bisa menyelamatkan, pun dapat membunuh. Ini dia… Keunggulan ini lahir dikarenakan sebuah kelemahan manusia; terlalu mudah diagitasi.

Terlalu mudah diagitasi. Aha…pers benar-benar menemukan habitatnya.

Simak-lah contoh empirik ini; media kerap dijadikan senjata, bahkan hingga kini. Bagaimana pers Amerika Serikat mempengaruhi pendapat masyarakat dunia tentang kebijakan perang mereka di semenanjung Arabia. Pers pemerintah Amerika Serikat (Fox Group) bahkan pernah digunakan pemerintah Nixon dan Truman untuk menipu masyarakat Amerika Serikat sendiri terhadap kebijakan perang mereka di Vietnam—sekaligus pers-lah yang membunuh karakter Nixon perihal skandal Watergate dan Iran Contra. Masih banyak contoh lain yang akan lebih subtantif untuk menggabarkan posisi pers. Tapi biarlah Anda cari sendiri saja.

Maka, pers sebagai sebuah senjata, akan sama mematikannya ketika digunakan, maupun ketika tak digunakan (dibungkam). Ketika digunakan, produknya bisa mempengaruhi banyak orang, atau memanipulasi banyak orang, atau mencerdaskan banyak orang. Namun, ketika dibungkam, maka dalam sekejap masyarakat akan terkotak-kotak; ada yang pandai, ada pula yang bodoh, ada yang terisolir karena informasi yang tersumbat, pun ada yang tetap terbuka, ada yang paham, sekaligus ada pula yang tak paham. Pemerintah mana pun tak akan bisa bertahan pada sebuah stabilitas dalam kondisi semacam ini. Betapa mematikan, bukan?

Jika kita menyadari kekuatannya, betapa tidak bijaksananya membiarkan pers itu sangat bebas. Pers yang terlalu bebas, sama sekali hanya menghadirkan keuntungan semu, dan benar-benar mengarahkan pada kerugian yang nyata. Kekuatan pers yang tidak dikelola dengan baik, akan mengancam siapa saja dan apa saja. Kekuatan ini terlalu mudah dapat disalahgunakan. Mari kita riset kecil-kecilan.

Pisahkan dua kelompok masyarakat. Lalu isolir kedua kelompok itu dengan menggunakan produk pers sebagai alat. Suguhi satu kelompok masyarakat dengan informasi yang benar, lalu sajikan pula ke satu kelompok masyarakat dengan informasi yang salah. Nah, biarkan pers bekerja dalam satu bulan saja. Pada bulan berikutnya, lihatlah, satu kelompok akan paham dan pandai, tetapi satu kelompok lainnya akan keliru dan pandir.

Riset kecil itu memperlihatkan pada Anda bentuk pers yang sebenarnya; sebuah belati bermata tunggal, satu sisi akan sangat melukai, sedang sisi yang lain tidak. Namun, penampakannya tetap tak berubah. Tetap sebuah belati.

Bayangkan saja jika belati ini terlalu bebas digunakan.

Nah, mengenai hal ini pada kondisi Indonesia, sangat berisiko. Media yang seenaknya tumbuh. SIUPP bisa diurus belakangan, asal bisa terbit/mengudara, langsung jalan saja. Kini, di jalan-jalan, begitu mudahnya kita temui media dengan muatan yang beragam dan tendensi yang macam-macam. Mulai dari media kelas percetakan hingga yang media yang kelas stensilan, ada. Informasi begitu mudahnya tiba di tangan orang-orang, tanpa saringan. Satu-satunya penghalang sebuah informasi media dapat tiba ke tangan masyarakat, adalah redaktur. Selebihnya, menggunakan saringan konvensional, yakni logika masyarakat. Pemerintah atau siapa saja yang berkepentingan dengan urusan ini, hanya bisa “membacot”; Ah…masyarakat kita kan udah pinter-pinter, udah bisa memilih sendiri mana informasi yang baik buat mereka, atau mana yang tidak.

Gaya berkilah macam itu, menurut saya, hanya upaya cuci tangan dari kesalahan yang disengaja demi semata-mata keuntungan. Sebab, soalnya adalah, bukan masyarakat yang melulu harus memilah informasinya, tetapi media atau pers-lah yang seharusnya lebih dulu melakukan itu. Karena, pada tataran masyarakat, kadang sebuah informasi tidak dipilah lagi, tetapi sudah langsung digunakan, dan dimanfaatkan.

Masyarakat tidak mau terlalu sibuk untuk memilah-milah informasi. Bagi yang sadar informasi, mekanisme ini kadang mereka terapkan, tetapi bagaimana dengan kebanyakan masyarakat Indonesia lainnya. Secara umum, masyarakat selalu mengira, semua produk pers adalah benar. Kelak, masyarakat harus pula tahu, beberapa produk pers, tidak selalu benar. Cukup banyak yang menyesatkan, bahkan membodohi. Untung-untung tidak menghasut (seperti kebanyakan produk pers yang kerap beredar di wilayah konflik).

Ada pula pendapat Dedy N Hidayat soal pers bebas itu. Dalam bukunya; Fundamentalisme Pasar dan Konstruksi Sosial Industri Penyiaran: Kerangka Teori Mengamati Pertarungan di Sektor Penyiaran, yang diterbitkan FISIP-UI tahun 2003, menyebut bahwa kemunculan

sistem pers yang lebih bebas di tanah air adalah akibat desakan para aktor sosial dalam proses liberalisasi pers di Indonesia. Hal ini dengan jelas didasarkan atas dogma neoliberalisme yang antara lain mengklaim bahwa “the greater the play of the market forces, the greater the freedom of the press; the greater the freedom of the press, the greater the freedom of the audience choice”. Intinya adalah; bahwa kekuatan pasar sangat ditentukan oleh pers bebas; dan pers bebas itu sangat ditentukan oleh kebebasan masyarakat untuk memilih.

Dalam konteks pers bebas, hujjah di atas benar sekali. Bahwa sebuah komunitas masyarakat yang bebas memilih kehendaknya akan segera menciptakan permintaan yang akan diamini oleh pers bebas, dan kebebasan pers itu akan senantiasa membangun kekuatan pasar. Ini equal dengan liberalisme.

Pendapat liberal ini, menurut saya, sangat pincang. Jika sirkular, maka kebebasan masyarakat untuk membuat pilihan itu akan memperlihatkan posisi masyarakat yang tersandera. Karena pasar yang kuat itu selanjutnya akan mendikte pilihan.

Ilustrasinya sederhanya sekali; masyarakat yang bebas mengkonsumsi informasi, pers yang bebas memberikan produk-produk informasinya, dan pasar media (pemilik media) yang bebas mendistribusikan asupan informasi.

Jika masyarakat menginginkan informasi seluas-luasnya, kemudian pers yang bekerja bebas itu memberikannya dengan produk-produk informasi, maka pasar akan segera meresponnya dengan menyodorkan semua pilihan. Nah, ketika semua pilihan itu sudah diberikan, maka tidak ada ruang lagi yang dapat digunakan masyarakat untuk menciptakan pilihan baru, sebab semuanya sudah diberikan. Pasar akan secara berkelanjutan mendistribusikan semua bentuk informasi untuk kepentingan kapital, sehingga pola seperti itu akan terformat secara baku. Pada putaran selanjutnya, pemilik media-lah yang secara kasat mata menempatkan diri sebagai penentu pilihan. Apa saja yang diberikan pemilik media—dan pers bebas sebagai kaki tangannya—maka itulah yang akan diasup masyarakat. Ini penyanderaan namanya.

Sebaliknya, pers yang terkontrol dengan bijaksana—saya suka menyebutnya sebagai pers bertanggungjawab—akan selektif dan imparsial; berada ditengah kepentingan masyarakat dan kepentingan pemilik media. Baik pers dan masyarakat tidak berada dalam posisi tersandera. Pers (dan pekerja pers) akhirnya tidak menjadi sekadar kaki tangan demi kapitalisasi keuntungan pemilik media, tetapi menjadi penentu dan penyeimbang antara kepentingan pemilik media dan kepentingan pers (beserta pekerja pers). Kepentingan masyarakat akan informasi berisi dan berbobot (berguna) terselamatkan, tidak bisa didikte oleh pemilik media.

Inilah pembalikan dari skema liberal itu; bekerjasamanya dan saling berikatnya kepentingan masyarakat dan pers di satu sisi, dari tekanan kepentingan kapital pemilik media di sisi lain. Masyarakat akan tercerdaskan, pers dan pekerjanya akan kuat (bahkan memiliki nilai tawar tinggi), dan pemilik media tidak lagi melihat keuntungan kapital sebagai komoditas utama.

Pers Bertanggungjawab = Pers yang Bersih

Di Indonesia, sekarang ini, sayangnya, masih menganut skema pers liberal di atas itu. Lihatlah, betapa masyarakat kita sangat didikte oleh pemilik media. Bahkan komponen pekerja pers masih berlaku sebagai kaki tangan pemilik media.

Ketika masyarakat menginginkan informasi hiburan, maka komponen pers meresponnya secara bebas. Semua jenis informasi yang ada, asal bisa dilabel sebagai “informasi hiburan” maka akan diproduksi, hingga batasannya menjadi raib sama sekali. Karena terbayang keuntungannya, para pemilik media pun mengakomodasi itu.

Maka jadilah…setiap hari masyarakat disodori informasi-informasi yang telah diberi label “hiburan”. Karena ruang bagi pilihan sudah tidak ada, maka apapun yang kemudian berikan oleh media, akan segera dikonsumsi masyakarat. Tak peduli apakah informasi itu berguna atau tidak, benar atau tidak, membahayakan atau tidak, masyarakat akan nunut saja karena sudah ada label “hiburan” yang disematkan pemilik media.

Jika antitesis skema liberal itu adalah masyarakat dan pers yang menjadi penyeimbang kepentingan kapital pemilik media, maka pada tesis liberal (yang terjadi di Indonesia kini) justru pers dan pemilik media berelaborasi untuk menggerogoti fungsi kelayakan dan kepatutan sosial masyarakat.

Nah, karena penggerogotan itu sudah dilakukan begitu lama, maka fungsi kelayakan dan kepatutan sosial masyarakat itu sudah menipis, bahkan sebentar lagi akan hilang sama sekali. Masyarakat kini sudah sulit membedakan mana hiburan dan mana ruang privasi orang lain; sulit membedakan mana ruang publik dan mana ruang pribadi. Urusan kamar tidur orang lain kini ditonton sebagai hiburan di ruang tengah keluarga orang lainnya.

Social humanitarian atau kepekaan sosial seharusnya hanya berkisar pada persoalan kemasyarakatan secara insubstansial, semacam saling tolong-menolong dalam berbagai urusan kemasyarakatan; pembangunan sarana prasarana umum, tragedi sosial, keduka-citaan, kesehatan, dan pendidikan. Tidak melebar ke hal-hal subtantif, semacam pertengkaran rumah tangga, perselisihan perkawinan, dan segala tetek-bengek pribadi lainnya.

Pergeseran nilai sosial ini sangat mungkin terjadi jika pers yang ada tidak bertanggungjawab, sangat bebas. Dan, media mengakomodasi itu semua hingga sampai ke ruang-ruang tonton masyarakat. Sekarang ini, ada orang yang sakit kepala, jika tidak mengetahui perkembangan hubungan Ariel dan Luna Maya; meriang tubuhnya jika tak tahu mengapa Krisdayanti bercerai dengan Anang Hermansyah; tak lelap tidurnya jika belum tahu apakah Bambang Soeharto masih tinggal serumah dengan Mayangsari.

Mengapa orang harus merasa terhibur dengan kesulitan orang lain? Senang sekali hatinya, nyaman tidurnya, atau enak makannya setelah menonton orang lain yang sedang kesusahan. Media yang kerap memberi “sampah” pada masyarakat seperti ini, akan segera menciptakan masyarakat bermental “sampah” pula.

Telah bertanggungjawab-kah sikap pers dan media yang seperti ini? Pikir lagi.

Menurut saya, pers dan media harus memberikan asupan informasi yang akan berdampak positif dalam kehidupan masyarakat. Pers dan media sesungguhnya adalah alat yang akan sangat konstributif secara positif, jika saja kedua elemen ini menyadari pentingnya kebangunan sikap sosial masyarakat terhadap kepentingan masyarakat itu sendiri.

Sebagai alat pembelajaran sosial, pers dan media bisa lebih selektif memberikan pilihan pada masyarakat, dan tidak membiarkan masyarakat yang menentukan pilihannya sendiri atas informasi.

Jadi, tak perlu heran, jika di tas sekolah anak 15 tahun Anda, terselip kliping artikel tentang “15 Titik Kepuasan Seksual Pada Wanita” yang diperolehnya dari majalah khusus dewasa. Atau, di komputer jinjingnya ada file PDF berjudul “Nikmatnya Gadis-Gadis SMU” yang diperolehnya dari situs 17tahun.com, atau di antara deretan buku yang tersusun rapi di meja belajarnya ada majalah-buku ber-cover story “Mencari Tuah Di Pantai Selatan: Batu Pikat Sukmo Membuat Anda Mampu Berbicara Dengan Jin”.

Pers dan media yang sengaja mengarahkan diri pada semata-mata keuntungan kapital untuk kepentingannya, akan secara frontal mendorong masyarakat pada keruntuhan sosial.

“Ah…masyarakat kita kan udah pinter-pinter, udah bisa memilih sendiri mana informasi yang baik buat mereka, atau mana yang tidak.”

Baiklah, jika kalimat itu masih digunakan untuk membela diri. Tetapi, masyarakat itu ibarat spons, dan informasi produk pers adalah air, maka tidak akan ada bedanya ketika Anda meletakan air bersih  atau air comberan di atas spons itu; kedua-duanya akan diserap tanpa sisa.

Jika ini yang Anda maksud sebagai pers bebas, betapa tidak bertanggungjawabnya Anda sebagai bagian dalam lingkarannya.

Produk Pers Bebas Selalu Tak Sehat

Sebagai produk sebuah sistem liberal, pers bebas memang diformat sedemikia rupa hingga memenuhi harapan kapitalisasi modal. Di negara yang memiliki kecenderungan menjadikan pers bebas sebagai komoditas industri, macam Amerika Serikat dan Eropa Barat, masyarakat yang dijadikan sasaran komoditasnya benar-benar jadi bulan-bulanan.

Sesungguhnya, pers bebas memang dirancang untuk mendiskreditkan manusia secara komunal, dan dijadikan alat untuk melemahkan fundamen sosial negara-bangsa lainnya. Itulah sebabnya, sistem ini sengaja dipromosikan dan dikampanyekan secara intens di negara-negara yang berada di luar, dimana sistem ini dikembangkan.

Karena tujuannya untuk melemahkan, maka sasarannya tentu pada remaja dan masyarakat yang kurang berpendidikan, yang terbukti sangat rentan dalam hal menyaring informasi. Tidak mengkonsumsi produk pers bebas, atau tidak mengadopsi sistem pers bebas, akan dicap tidak modern, dicap tidak mau bergaul dengan komunitas pers dunia, dicap tidak toleran.

“Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah. Kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka.” Henry Ford, dalam The International Jew: The World Foremost Problem. Kutipan ini mengungkap misi Yahudi dalam penguasaan masyarakat oleh media massa, dan pers bebas sebagai senjata.

Menurut saya, Henry Ford tidak saja melihat bahwa Yahudi Internasional adalah masalah besar dunia, tetapi juga memperuncing sudut pandang bahwa gagasan mengkampanyekan sistem pers bebas ke negara-negara berkembang, tidak sekadar untuk menciptakan pengaruh ekstrem terhadap sistem politik dan ekonomi, tetapi juga memberikan ruang bagi destruktifitas terhadap pola fikir dan mental generasi muda pada negara-negara bersangkutan.

Pemikiran dan mentalitas yang terkooptasi secara menahun, akan secara masif memberi ruang pada masuknya pandangan dan prinsip sosial yang menyimpang, sekaligus membuka pintu seluas-luasnya pada pengaruh ekstrem kapitalisme-liberalisme dan zionisme internasional.

Pers bebas yang tadinya semata-mata dilihat hanya memproduksi informasi, kini menghasilkan varian produk informasi yang makin ekstrem; media yang mensajikan material porno (subvarian: foto porno, cerita porno, video porno, etc.); media yang mensajikan ekstrimisme (subvarian: info tentang pemberontakan, info tentang konflik, info tentang tiranisme, etc.); media yang mensajikan kekerasan(subvarian: info tentang kekerasan remaja, info tentang rasialisme, info tentang kekerasan antar agama, etc.); media yang mensajikan kejahatan (subvarian: info tentang penculikan, info tentang pembunuhan, info tentang penyiksaan, info tentang pembajakan, etc.).

Dari varian info-info sekecil apapun itu, masyarakat belajar darinya, mengenali dan memahami caranya, hingga terdorong untuk melakukannya; disebabkan masyarakat telah disodori dan dicecoki pemahaman menyeluruh tentang itu. Ini, seperti mengimpor konflik dari satu tempat ke tempat lainnya; memindahkan kejahatan dari satu tempat ke tempat lainnya; dan menempatkan asusila dari satu tempat ke tempat lainnya.

Bukankah informasi bersifat paradoks? Berguna sekaligus membahayakan.

Masih tak percaya? Saya pernah berkunjung ke salah satu komunitas nelayan di sebuah pulau di Sulawesi Tenggara. Masyarakat nelayan ini, ternyata, mencari ikan dengan menggunakan bom yang mereka racik sendiri dari komponen pupuk Urea. Mau tahu bagaimana? Ternyata informasi perihal pupuk yang sedemikian lengkap dengan mudahnya mereka dapatkan. Bahkan, informasi itu memuat kandungan kimia pupuk secara lengkap dan terperinci. Jadi, mereka akhirnya tahu, bahwa salah satu bahan dasar dan bahan yang memiliki prosentase komposisi terbesar dalam pupuk Urea adalah Amonium nitrat dan belerang. Maka, tak perlu repot mencari dua jenis kimia itu, keduanya sudah tersedia secara instan dalam pupuk. Cukup di sagrai, kemudian dimampatkan dalam botol, dan seterusnya… (maaf, saya tidak akan terlalu jauh mengurai cara mereka membuat bom ikan. Khawatir, Anda menyalahgunakannya..hahaha), jadilah sebuah bom yang memiliki daya ledak tinggi. Bom racikan mereka dari bahan pupuk ini sangat efektif digunakan dalam kondisi basah sekalipun. Ikan dan karang bisa luluh-lantak dalam sekejap karenanya.

Terbukti, bukan? Sebuah informasi, seperti cerita saya di atas, sangat paradoks mempengaruhi orang. Informasi, jika digunakan secara tepat dan bijaksana, akan sangat berguna; sebaliknya, jika digunakan secara salah dan serampangan, akan sangat membahayakan.

Selebihnya, adalah kebijaksanaan pers dan media dengan lebih bertanggungjawab menghindari peyebarluasan infomasi yang potensial destruktif, dengan cara yang tentunya efektif, selektif dan kreatif.

Dalam konteks “pupuk jadi bom” tadi, misalnya, secara efektif, pers dan media dapat secara bertanggungjawab memberikan informasi perihal kegunaan, sifat, dan efek pupuk tersebut bagi tanaman—tak perlu sampai begitu terperinci dan detil mengungkap kandungan kimia pada pupuk itu. Memberikan pengetahuan tentang pupuk yang baik, dan bagaimana sifat pupuk terhadap tanaman lebih penting, ketimbang mengurai senyawa pupuk dan bagaimana memformulasikannya, bukan? Di satu sisi akan merugikan produsen pupuk, di sisi lain, petani, biasanya tak peduli dengan yang remeh seperti itu.

Secara selektif, pers dan media, memiliki hak istimewa untuk memilah informasi yang penting diketahui, dan mana yang tidak. Pers dan media, sangat tahu perihal ini. Berikan informasi pertanian lengkap pada petani; lalu berikan informasi lengkap tentang bahan kimia pada ahli kimia. Jangan dibalik, loh ya…

Secara kreatif, pers dan media, dapat mengemas informasi ini dalam kemasan yang lebih populer, atau didaktis, atau edukatif, pun serius dan kaku. Terserah saja. Kemasan itu menentukan segmentasinya, bukan?

“Loh..itu kan sama dengan membatasi masyarakat memperoleh informasi yang benar dan akurat?”

Siapa bilang begitu? Bertanggungjawab tidak sama dengan membatasi. Bukankah Anda telah membuka batasan itu dengan memberikan semua informasi “yang diperlukan” dengan cara yang lebih efektif, selektif, dan kreatif. Memberikan informasi yang lengkap pada konsumen yang tepat, menghindarkan pers dan media dari tudingan tak bertanggungjawab.

Persoalan, bahwa seorang petani mampu mendapatkan informasi soal komposisi kimia dan cara memformulasikan pupuk, adalah hal yang berbeda. Itu tergantung usaha masing-masing orang.

Inilah intinya, kawan. Inilah penekanan saya dalam artikel ini. Pers dan media di Indonesia harus memenuhi kebutuhan informatika dengan cara yang bertanggungjawab. Negara harus berada pada posisi menjaga informasi tertentu tidak disalahgunakan, dalam akses terbatas, dan untuk keperluan, yang juga, terbatas.

***

Mari kita tarik konkrisitas ini dalam ranah informasi hiburan yang “dikaburkan” entitasnya oleh pemilik media; infotainment.

Dahulu, sejatinya, sebuah informasi hiburan adalah sesuatu yang menginformasikan perihal agenda-agenda hiburan; info pertunjukan, info pameran, info game komputer terbaru, info lokasi rekreasi, info griyatawang terbaik, dan lain sebagainya. Sejatinya, informasi-informasi semacam ini akan memberitahukan secara lengkap dan terperinci segala sesuatu yang berkenaan dengan hal-hal yang menghibur pada masyarakat.

Walau sifatnya yang semi-advertaising (setengah iklan, atau bahkan iklan sama sekali), namun informasi seperti inilah yang lebih pantas disebut infotainment—informasi intertainment.

Informasi semacam itu (dalam format yang sesungguhnya, bukan yang telah dipelintir), tentu saja, akantetap mendatang keuntungan buat rumah produksi dan media. Karena sifatnya yang promoted, informasi seperti ini dapat dikemas sedemikian rupa hingga menarik untuk ditonton atau dilihat.

Entitas informasi hiburan ini, kemudian dikaburkan, dipelintir, bahkan formatnya diubah sama sekali oleh para pemodal dalam industri media. Informasi hiburan ini tiba-tiba berisi gibah, rumor rendahan, gosip murahan, material yang mengganggu, dan tidak mencerdaskan konsumennya.

Perubahan format informasi hiburan ini, sepertinya hendak mengakhiri era informasi kredibel dan pantas, sekaligus memulai era informasi sampah, tidak bermutu, dan agitatif negatif, bahkan kalangan keagamaan melabel tayangan itu sebagai tayangan amoral. Tidak mendidik. Inilah produk pers bebas.

Tayangan gunjing, secara esensial adalah produk pers bebas. Tayangan seperti ini telah menyimpang jauh dari domain pers yang sejati, pers yang bertanggungjawab. Makanya, orranisasi pekerja pers, semacam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), sangat keras menentang masuknya produk pers bebas dalam domain pers Indonesia. Bahkan para pekerja desas-desus itu mereka tolak disebut sebagai jurnalis.

KPI mencatat, dalam tahun 2005 saja, acara gunjing muncul selama 13 jam dalam satu hari (lebih dari setengah hari). Sedangkan dalam kurun waktu 2002-2005 jumlah acara gunjing di televisi swasta meningkat dari 24 episode per pekan (3 episode per hari) naik hingga 180 episode per pekan (26 episode per hari).

Sedang catatan Agus Maladi Irianto dari Pascasarjana FISIP-UI, sepanjang Januari-Agustus 2007 saja, acara gunjing ini durasinya naik rata-rata 15 jam per hari (lebih dari 210 episode per pekan).

Di tanah air, jika saya tak keliru, dari sejumlah televisi swasta yang beroperasi secara nasional, hanya satu televisi yang telah mencoba mengurangi tayangan desas-desus. Sebagai televisi berita dan olahraga, TVOne kini masih memiliki program Expose. Televisi ini masih terkontaminasi dengan tayangan tak bermutu.

Stasiun MetroTV, bolehlah diberikan jempol untuk memulai, perlahan-lahan menjauhi praktek-praktek pers bebas. Tidak ada sama sekali tayangan rumor di televisi ini. Bahkan, televisi ini, sepertinya, mencoba memformat gaya lain dalam informasi hiburan. Mereka menyebutnya jurnalisme rasa, dalam program JustAlvin. Bahkan, host acara itu, Alvin, dengan tegas menyebut tayangannya bukan gosip, bukan rumor, informasi selebritas mereka peroleh dari tangan pertama, dari si pesohor sendiri.

Tayangan itu, bolehlah. Tidak ada unsur gibah dan desas-desus di situ. Kebanyakan para pesohor hanya berkisah tentang persoalan lain, dan tidak menyentuh hal-hal pribadi. Satu lagi talkshow yang mirip ini, adalah Kick Andy. Singkatnya, kedua tayangan ini sangat bermutu, dan mencerdaskan.

Kedua televisi tadi, kini sedang belajar bagaimana membebaskan diri dari implikasi pers bebas, dan dari bayang-bayang rumah produksi yang telah menyalahartikan pers bertanggungjawab. Kedua televisi ini sedang mencoba mempraktekkan pers yang bertanggungjawab; jurnalisme bertanggungjawab; dan media yang bertanggungjawab. Jika boleh saya memberi label, kedua televisi inilah yang layak disebut televisi Indonesia.

Kedua televisi ini, TVOne dan MetroTV, sedang menjauhkan konten siaran mereka dari hal-hal berbau gibah, desas-desus, dan gunjing murahan ala infotainment. Lalu, bagaimana kabar televisi lainnya, wah…rupanya mereka masih terperangkap dalam mainstream pers bebas, masih melihat penderitaan dan kesulitan orang sebagai komoditas tontonan.

Jika, media di Indonesia masih terkungkung dalam perangkap pers bebas, maka saya lebih suka mendorong-dorong kembalinya pers bertanggungjawab sebagai nyawa dan nafas pers di Indonesia. []

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: