Persiapan Seorang Jurnalis

Jurnalisme adalah pekerjaan yang musykil. Pekerjaan ini menantang, baik secara politis, etik, maupun fisik. Pekerjaan ini juga menyenangkan. Untuk menggelutinya dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang luas. Para reporter harus mampu “membaca outline”, “menulis usulan tunggal” dan “menghitung waktu”. Dituntut memahami hukum karena hukum sering mempengaruhi media. Dibutuhkan keterampilan sosial untuk menjalin kontak dan wawancara dengan banyak orang di berbagai tempat. Pekerjaan ini juga membutuhkan penguasaan salah satu bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Seorang jurnalis-reporter harus punya rasa ingin tahu yang besar, mendalam, tabah, imajinatif, dan berani, siap menentang stereotip, membongkar mitos dan kebohongan. Memang terkesan adanya sisi glamour dalam pekerjaan tersebut berkat dukungan banyak film (kebanyakan film-film Hollywood mengangkat tema tentang jurnalisme dan sukses besar; semisal film “All President Man” tentang pembongkaran skandal Watergate dan Iran Kontra, “Welcome to Sarajevo” tentang bagaimana jurnalis televisi meliput di wilayah konflik di Bosnia-Sarajevo, dan banyak lagi lainnya).

Tak mengherankan jika saja suatu saat Anda melihat antrean panjang untuk mendapat pekerjaan ini. Namun hanya orang-orang yang berdedikasi tinggi yang dapat melakukannya. Seringkali kita temui, orang yang sudah pernah mengenyam pekerjaan ini terpaksa keluar karena “tak tahan banting”.

Semua jurnalis-reporter wajib menggunakan stylebook (buku panduan) ini sebagai buku pegangan utama peliputan.

. Media al Khalil, edisi 17 Agustus 2003 memberitakan Mazen Dana terbunuh dalam tugasnya di Irak.”]

Argumen, Perselisihan, dan Polemik: Ternyata Lebih Membunuh Mazen Dana

Oleh Mike Johnston

Tidak pernah saya berniat untuk membawa kolom ini ke dalam forum umum, dan saya telah membuat upaya teliti untuk menjaga politik dan polemik keluar dari wilayah itu. Seperti banyak orang, aku pun punya pendapat dan pandangan tentang banyak hal, dan aku menikmati mengekspresikannya. Tapi saya mengerti bahwa orang yang membaca kolom ini – memang, mereka membaca sebagian dari apa yang saya tulis-karena bidang saya pada subjek fotografi, jadi saya melakukan yang terbaik dengan tetap berpegang pada bidang saya.

Apapun yang saya yakini pada hal-hal non-fotografis masuk ke dalam tulisan itu, namun, saya tetap mendapatkan surat. Minggu terakhir ini, surat yang terburuk itu datang. Saya pikir cukup jelas bahwa banyak dari kita cukup kesal dengan situasi di Irak, yang kita masing-masing mengungkapkannya dengan cara bervariasi dan kadang-kadang rumit, misalnya, saya mendapat email yang negatif dari orang-orang di sebelah kiri saya yang merasa saya harus “menyembunyikan” pendapat saya dan tidak menyatakan ketidaksetujuan saya secara terang-terangan, serta dari orang-orang di sebelah kanan saya yang keberatan, dengan menyindir saya sebagai orang yang kehilangan patriotisme.

Sebagai catatan, posisi saya pada masalah Mazen Dana adalah searah dengan Reuters, yang juga menyatakan sebagai berikut:

“[Pemimpin Executive Reuters Grup] Tom Glocer telah menulis kepada Sekretaris Pertahanan, Donald Rumsfeld, meminta penyelidikan, rinci dan adil serta komprehensif terhadap kematian kamerawan Reuters, Mazen Dana.”  ~ pernyataan Reuters.

Saya percaya bahwa tentara yang membunuh Dana harus diadili secara militer karena pembunuhan – atau diadili di pengadilan manapun dengan tuduhan yang paling serius. Namun, tidak bagi saya yang berpendapat tentang soal bersalah atau tidak. Itu terserah proses hukum. Perasaan saya adalah bahwa proses yang sesungguhnya akan datang pada saatnya.

Marilah bersikap adil: di sana ada peluang bagi prajurit untuk berperang secara adil, dan saya percaya bahwa ia berada dalam bahaya dan melakukan tugasnya ketika ia menembak Dana. Dan marilah kita realistis: terlepas dari tingkat kesalahan atau kekurangannya, militer akan menemukan pembenaran dari tindakannya. Hal ini sukar dilakukan sebaliknya.

Tapi membunuh seorang wartawan tak bersenjata adalah salah, tidak peduli bagaimana hal itu terjadi. Jadi apa yang saya inginkan di sana adalah sebuah penyelidikan – Saya tidak berpikir itu menjadi wajar sebab saya tahu di sana tidak bisa dilakukan. Saya pikir harus ada perasaan bahwa penembakan terhadap seorang juru kamera tak bersenjata di siang bolong adalah kesalahan serius, dan bahwa hal itu sangatlah berdampak.

Beberapa tentara di Irak sedang sekarat, dan sisanya berusaha terus mempertaruhkan hidup. Jika Anda hendak menyalahkan sesuatu maka itu adalah sikap politik Anda, tetapi, dari sudut pandang mereka, negara mereka telah meminta mereka untuk berkorban dan mereka telah menjawab panggilan itu. Aku hanya bisa menghormati pilihan mereka itu. Tetangga saya – sesama warga Wisconsin, maksudku – yang di Irak. Saya bersimpati pada keluarga yang memiliki putra dan putri serta suami atau istri ada di Irak. Bagaimana tidak? Pada saat yang sama, saya masih menyesalkan Bush dan Rumsfeld dengan kebijakan “Instan Vietnam” (paling tidak, karena semua tetangga kami dalam sekarang ada dalam posisi terbuka, yang mereka dan keluarga mereka juga keberatan). Mereka berada dalam dua posisi – mendukung pemerintah dengan seragam, sementara tetap keberatan dengan kebijakan politik yang tidak saling eksklusif.

Persatuan Fotografer

Semua ini hanya pendapat satu orang, dan tidak signifikansi banyak kecuali kepada diri saya sendiri. Pendapat yang paling tidak terlegitimasi dalam kolom ini, karena tidak bersinggungan dengan fotografi. Intinya pada komentar saya minggu lalu tentang Mazen Dana, meskipun, bahwa saya menulis kolom saya untuk fotografer. Saya bohong jika simpati pada jurnalis foto. Sekarang banyak photografer yang dalam sejarah telah menjadi jurnalis foto. Dan banyak jurnalis foto telah berulang kali menempatkan diri mereka dalam bahaya hanya untuk sekadar mencoba membawa bukti-bukti kebenaran secara independen. Dalam beberapa perang, wartawan telah memberikan hidup mereka dalam proporsi yang lebih besar dari keseluruhan jumlah mereka sendiri daripada jumlah tentara Amerika yang ada. Seratus tiga puluh lima fotografer meninggal di Vietnam dan Indocina.

Ini bukan kerusakan kolateral, dan itu bukan risiko yang bodoh bagi mereka yang melakukan pekerjaan penting ini. Kebebasan pers adalah elemen penting dari ideologi politik demokarasi liberal Amerika – hal yang sama bahwa tentara Amerika juga mati untuk membela demokrasi liberal. Ini empiris. Lihatlah sejarah di seluruh dunia, dan Anda melihat pula apa yang pemerintah lakukan ketika mereka kembali. Pendiri kami tahu ini. Pers bebas di Amerika Serikat merupakan sarana konstitusional yang ditetapkan dan penuh semangat dilindungi yang mengatur secara langsung penyampaian informasi independen, dan dengan demikian, pemimpin militer kita bertanggung dan akuntabel. Saya bisa membuat argumen bahwa apa yang coba dilakukan wartawan di Irak penting bagi kebebasan dan demokrasi seperti apa yang tentara Amerika lakukan di sana; mengingat ambiguitas misi militer Amerika itu sendiri.

Tentu saja, kematian Mazen Dana disesalkan, dan jelas tidak membuat risiko pada mereka berkurang. Dalam pandangan saya, mereka juga telah meninggal dalam membela kebebasan.

—Mike Johnston

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: