Lima (5) Aturan Bill Kovach dan Tom Rosentiel

The Elements of Journalism

(The Elements of Journalism)

  1. Jangan menambah atau mengarang apapun.
  2. Jangan menipu atau menyesatkan pembaca.
  3. Bersikaplah transparan dan sejujur mungkin tentang metode atau motivasi Anda dalam melakukan reportase. Jujur dalam menjelaskan semua hal yang relevan untuk diketahui pembaca, termasuk kalau ada hubungan Anda dengan orang-orang dalam reportase Anda denga  masalah yang dibahas.
  4. Bersandarlah pada reportase Anda sendiri. Lakukan sendiri wawancara, meneliti dokumen dan tidak mewawancarai pihak ketiga (termasuk apa yang disebut “pengamat” atau “pakar”) yang tak melihat sendiri proses di mana isu yang direportasekan berlangsung.
  5. Bersikaplah rendah hati.

 

Media penerbitan harus mempromosikan jurnalisme yang bermutu. Ini konvensi saja, Media memilih menerbitkan naskah/berita/artikel/feature radio dan televisi yang dibuat dengan gaya bertutur, hingga mudah dinikmati dan dimengerti pembaca. Naskah macam ini menuntut reporter dan editor melakukan usaha. Reporter tak sekadar duduk di belakang meja dan menulis.

Redaktur memilih naskah yang dalam. Perdebatannya bernas, baik dari aspek sejarah, logika, sosial, politik, ekonomi, lingkungan dan sebagainya. Reporter dan redaktur harus mengerti perdebatan klasik yang ada dibalik pilihan-pilihan yang ada dalam laporan. Jika ada buku atau referensi lain yang perlu disebutkan dalam laporannya, maka buku atau referensi lainnya itu harus dimasukkan dalam tubuh laporan. Jangan memasukkan referensi apapun yang tak relevan dengan laporan. Ini menggangu alur berita/narasi. Jangan karena menghendaki kedalaman hingga harus mengorbankan kenyamanan pembaca. Laporan harus ditulis dengan lancar, dengan memikat, hingga idealnya pembaca tak melepaskan bacaannya atau perhatiannya dari receiver/layar televisis sebelum berita/narasi tuntas.

Bahasa yang berusaha dikembangkan media penerbitan, adalah bahasa yang komunikatif, mudah dimengerti. Media Penerbitan/Penyiaran ingin tampil dengan sopan serta santun. Reporter, penyiar, pembaca berita dan redaktur tidak menggunakan kata-kata yang tak perlu, yang tak senonoh. Sebisa mungkin tak menggunakan singkatan, karena kebiasaan ini ternyata merusak bahasa Indonesia.

Pakailah rasa dalam bahasa. Kutipan harus dibuat seperti aslinya. Tak perlu semua dalam bahasa Indonesia standar. Eyang atau Ama tak perlu diganti dengan kakek, atau Ina tak perlu diganti dengan nenek. Rasa bahasa ini justru memperkaya bahasa Indonesia. Ini dimaksudkan agar para pembaca/pendengar/pemirsa Media Penerbitan/Penyiaran lebih mengenal berbagai perbedaan, budaya, etnis yanga ada di Sulawesi Tenggara, dan Indonesia umumnya.

Ingatlah. Bahasa Indonesia ala orde baru menekankan ultra-nasionalisme sehingga menekan identitas bahasa-bahasa dari banyak etnis yang tinggal di Indonesia. Saya menolak menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan. (Benedict Anderson, profesor bahasa dari University of Cornell).

Media Penerbitan/Penyiaran tak bertindak sejauh Benedict Anderson, namun reporter/penyiar/editor Media Penerbitan/Penyiaran senantiasa ingat dan sadar akan ganasnya bahasa dan ganasnya kekuasaan.

Setiap reporter harus mencantumkan semua nomor telepon rumah, telepon kantor, telepon seluler, atau email narasumber di bawah naskah. Ini penting, agar redaktur/editor dapat meningkatkan akurasi dengan melakukan pengecekan ulang terhadap fakta, angka, ejaan, tahun, data dan sebagainya. Juga penting bagi kelengkapan database narasumber Media Penerbitan/Penyiaran.

Media Penerbitan/Penyiaran menghargai sejarah, termasuk sejarah individu, hingga penulisan referensi kedua (biodata narasumber, letak geografis, sejarah daerah) sebaiknya dibuat dengan menggunakan pertimbangan ini.

Sebelum wawancara dilakukan, setiap narasumber sebaiknya ditanya, dia ingin ditulis/disebut dengan nama apa. Misalnya La Ode Kaimoeddin sebaiknya ditulis/disebut Kaimoeddin, La Ode Ali Hanafi sebaiknya ditulis/disebut Ali, Andrey Djufri ditulis/disebut Andrey.

Penulisan nama media cetak, maskapai penerbangan, perusahaan, lembaga pemerintah, dicetak miring. Sertakan pula nama tempat dibelakang nama-nama itu. Nama radio harus disertai nama frekwensinya. Misalnya, biro Pelita Air Service Kendari, dinas Perdagangan dan Industri Kendari.

 

Hindari beberapa hal seperti ini:

Kata-kata dan frase yang berbunga-bunga seperti: “menyampaikan” (digunakan “memberikan”), “menyampaikan pujian” (digunakan “memuji”), “tempat duduk yang tersedia” (cukup “tempat duduk”).

Kata depan yang disambung dengan kata kerja yang tak perlu dibuat seperti: memeriksa pada, melihat ke.

Gaya bicara dalam berita yang bertutur, seperti: “Semalam gubernur pulang ke rumah istrinya” … “Kaimoeddin minum the bersama beberapa anak kecil…”

Bahasa yang menunjukkan adanya konspirasi dengan dokumen-dokumen rahasia, berita acara rahasia, pertemuan rahasia, dan bocoran yang diperoleh Media Penerbitan/Penyiaran.

Kata-kata yang tak jelas seperti: sungguh-sungguh, amat sangat, penting, cukup penting, agak.

Kata-kata yang tak berguna seperti: sebagian besar dari, dalam beberapa kasus, sehubungan dengan, mengenai hal itu.

Pengaruh gaya bahasa asing yang tak perlu.

Penggunaan istilah asing seperti: idee fixe, raison d’etre, en masse, dan sebagainya.

Kata-kata klise seperti: tes acid, kacau-balau, dan lain-lain.

Sebutan pekerjaan yang disandang orang seperti: anggota dewan Hasid Pedansa, pengacara Arbab Paproeka, penyair drama Saleh Hanan.

Komentar politik dalam berita yang bertutur dan judul. Pembaca harus dapat mempercayai objektivitas reportase berita yang kita buat.

Kata-kata dan Frase Transisional.

Untuk membantu alur kalimat antarbagian tulisan, penggunaan kata-kata atau frase transisional amat membantu. Penggunaannya akan memperlancar alur pemberitaan. Namun, reporter Media Penerbitan/Penyiaran harus tetap mengingat, penggunaan frase ini harus jelas mengingat ketatnya aturan penulisan.

Kata-kata dan frase transisional digunakan dalam beberapa kategori:

  • Kontras: “tetapi”, “namun”, “meskipun demikian”
  • Perbandingan: “sama halnya”, “demikian juga”
  • Kronologi: “sementara itu”, “sebelumnya”, “kemudian”, “dalam pertunjukan sebelumnya”, “kesimpulannya”, “kecelakaan yang selanjutnya”, “ulasan ini diluncurkan setelah”, “dalam perkembangan yang berbeda”, “ini adalah rangkaian perkelahian yang terakhir”
  • Situasi Geografis: “memberikan pidato pembukaan kuliah umum di Kendari”, “di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara”
  • Perkembangan Tematis: “tentang rencana kepolisian untuk melucuti senjata rakitan milik pengungsi Ambon di Buton”, tentang krisis lingkungan global”, “juga”.

Kebanyakan kalimat tidak bisa menjadi penghubung yang efektif antara bagian-bagian tematis.

Contoh kalimat yang terlalu lunak: [Ia juga berbicara tentang sikap media terhadap proses pemilihan walikota Kendari.]. Kalimat ini menunda alur dramatis dalam tulisan.

Lebih baik reporter Media Penerbitan/Penyiaran menggunakan “juga” sebagai kata transisional yang tua dan menggunakan beberapa detail seperti: [Ia juga mengungkapkan ‘ungkapan absurd’ media massa tentang pemilihan walikota Kendari.].

Bentuk pertanyaan juga membantu menunda alur penulisan Hard News. Pertanyaan sebaiknya tidak digunakan sebagai medium transisional.  Lihat perbedaan bentuk pertanyaan dalam kalimat ini: [Apa yang ia pikir tentang rencana embargo DPW PAN Sulawesi Tenggara terhadap DPRD kota Kendari karena kesalahan prosedur pemilihan? “Ini benar-benar tidak layak dan hanya akan memperburuk citra legislatif kota Kendari di mata masyarakat,” ujarnya.].

Maka, lebih baik reporter Media Penerbitan/Penyiaran menulis: [Tentang rencana embargo DPW PAN Sulawesi Tenggara terhadap DPRD kota Kendari, ia mengatakan: “Ini benar-benar tidak layak…”].

Bill Kovach & Tom Rosentiel

Bill Kovach & Tom Rosentiel

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: