Kesehatan Jurnalis

Journalist on work

Beban dan jam kerja yang tinggi kadang membuat wartawan lupa akan kesehatannya sendiri.

Pekerjaan jurnalistik memang penuh resiko. Namun, resiko yang tak bisa diabaikan adalah dampak buruk kegiatan sehari-hari terhadap kesehatan jurnalis. Resiko ini, umumnya muncul perlahan-lahan dan menahun, kerap kali justru tak disadari. Tuntutan pekerjaan, seperti mengejar tengat (deadline), menguber narasumber, menulis berita di bawah tekanan waktu dan pikiran, mengakibatkan jurnalis beresiko terserang stres tinggi. Banyak jurnalis yang terbiasa dengan pola hidup yang tak teratur, terserang penyakit dalam seperti ginjal, hati, paru-paru bahkan jantung.

Untuk itu jurnalis harus memperhatikan waktu istirahat dan hal-hal lainnya, seperti: tidur cukup, jika perlu tak merokok, kebersihan tempat kerja, dan sanitasi lingkungan sekitar kantor.

Jenis-jenis Ancaman Kesehatan.

Masa-masa awal menjalankan tugas sebagai reporter merupakan saat yang penting dicermati. Pada masa ini, reporter baru paling gampang terkena stres. Penyakit ini menyerang mereka yang belum terbiasa dengan tuntutan deadline yang ketat dan beban liputan yang banyak. Ditambah lagi jam kerja jurnalis yang panjang dan cenderung tak teratur.

Namun, tak perlu khawatir. Menurut para ahli jiwa, stres tak selalu berdampak negatif. Manusia bahkan membutuhkan stres untukm pertumbuhan fisik dan psikisnya. Sederhananya, jangan menghindari stres. Jangan cemas, jika disela-sela kesibukan meliput, hantu stres itu datang.

Kombinasi yang ideal antara sejumlah stres yang moderat dan keterampilan mengatasi stres yang berimbang akan memungkinkan manusia tumbuh dan berkembang secara berlanjut serta terhindar dari kondisi strain dan stagnasi.” (Sawitri Supardi, psikolog di Bandung, Jawa Barat).

Ancaman yang tak kalah serius adalah kurang tidur. Ini memang ancaman klasik dan sekaligus klise bagi jurnalis, namun jangan anggap enteng. Bagi jurnalis, menghadapi deadline, selain asyik juga merupakan saat yang menegangkan dan membutuhkan stamina yang luar biasa, sebab sering harus bergadang semalam suntuk untuk menulis berita, mempersiapkan program siaran esok harinya.

Menurut penelitian medis, kurang tidur (sleep deprivation–SD) akan berpengaruh secara fisik. “SD akan mempengaruhi kepribadian dan rasa humor seseorang, kemampuan koordinasi tubuh akan menurun. Tidur itu adalah proses anabolik atau pembuatan jariangan tubuh dan akan mengembalikan pasokan energi tubuh yang terkuras oleh aktivitas sepanjang hari. Tidur juga merupakan masa buat tubuh untuk memperbaiki jaringan otot. Hormon pertumbuhan dikeluarkan saat tidur.” (Dr Neil B Kavey, Direktur Pusat Penyakit Tidur pada Pusat Medis Columbia-Presbyterian, New York).

Dilaporkan juga, para peneliti menemukan bukti bahwa kurang tidur bisa mengacaukan metabolisme tubuh dan mungkin mempercepat kedatangan dan memperparah penyakit yang ada hubungannya dengan usia, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas dan penuurunan ingatan (sumber: Reuters).

Karena itu penting membayar waktu tidur yang terampas saat deadline dan bekerja dengan tidur yang cukup.

Gangguan kesehatan pada jurnalis yang mendapat perhatian besar di berbagai negara adalah penyakit yang disebut luka kaku yang berulang-ulang (repetitive strain injury—RSI). Penyebabnya, mengarah pada layar komputer. Sebab penyakit ini mengena lebih banyak pada pengguna komputer aktive.

Di Indonesia, kasus ini belum banyak dikeluhkan. Tetapi penyakit ini cukup mengganggu cukup serius. Jumlah jurnalis yang terkan penyakit ini terus meningkat. Pada 1991, di Inggris penderita penyakit ini mencapai 100.000 orang.

Gejala penyakit ini bermacam-macam, tapi umumnya dimulai dengan gangguan pada tungkai lengan. Gangguan ini muncul selama dan sesudah bekerja dengan menggunakan keyboard (papan ketik), tetapi tidak pada saat-saat lainnya. Jika ada reporter, redaktur, layouter, designer atau bagian lain yang mengerjakan tugasnya mengandalkan kompoter, mengeluhkan kondisi leher dan lengan yang tak bisa digerakkan, seperti tak dapat memegang cangkir dan menggenggam dengan baik untuk beberapa saat, jangan panik. Tenangkan diri Anda sebelum memberitahukannya pada pimpinan Anda atau memeriksakannya pada dokter.

Langkah Mencegah RSI:

  1. Sebaiknya menggunakan kursi yang memiliki pengatur tinggi-rendah, sandaran punggungnya dapat ditegakkan dan dibaringkan. Komputer Anda harus memiliki penampang untuk menaikkan layar dan meja memiliki tempat pijakan kaki.
  2. Pusatkan perhatian agar posisi tubuh Anda pas dengan posisi keyboard. Lengan harus sejajar saat mengetik dan kedua kaki harus dapat menjejak lantai dengan nyaman. Jika Anda memiliki kaki yang pendek, mungkin Anda membutuhkan sandaran kaki, kursi yang dapat diatur ketinggiannya, atau keduanya. Di depan keyboard harus ada ruang yang cukup untuk menumpukan lengan saat istirahat dan saat membaca tulisan di layar komputer. Duduk tegak, menggunakan sandaran kursi, dengan pundak dan bahu yang dapat dikendurkan, serta memandang layar dari sudut 15 derajat ke bawah. Tak boleh ada tekanan pada paha dari kursi karena ini dapat mengakibatkan terbatasnya sirkulasi udara dan menekan syaraf scintica yang menyebabkan pegal pada pinggang.
  3. Seringlah mengistirahatkan diri dan mengalihkan pandangan dari layar komputer. Disarankan agar Anda bisa beristirahat selama 15 menit setelah 75 menit bekerja di depan komputer. Disarankan pula beristirahat selama 30 detik dari layar setiap lima menit sekali daripada istirahat panjang setiap jam. Para jurnalis sebaiknya menggunakan istirahat makan siang dengan menjauh dari meja kerja.
  4. Disarankan pula untuk berolahraga selama dua menit sebelum memulai bekerja untuk mencegah munculnya gejala RSI.

Penyakit Ringan Lainnya:

  1. Tambahan terhadap RSI, gangguan pada mata saat menghadap layar komputer sering juga dikeluhkan. Sakit kepala, pandangan buram, gambar memusingkan, stres dan lekas marah akan timbul sebagai akibatnya. Direkomendasikan; jika perlu, keyboard, meja dan dinding serta lingkungan sekitarnya tidak memiliki sifat memantul dan penggunaan komputer menghindari pola warna terlalu gelap dan terlalu terang.
  2. Perhatikan selalu kebersihan perlatan kerja. Debu dan ion positif dan statis yang menempel pada layar monitor komputer akan menyebabkan pori-pori tertutup dan mengeringkan mata serta mengakibatkan iritasi kulit. Bersihkan komputer Anda secara berkala atau memasang pelindung debu pada layar komputer saat tidak digunakan serta lapisan lantai dan lapisan meja antistatis yang terbuat dari serat alam untuk mengurai aspek statis di layar VDU.
  3. Akibat resiko radiasi saat menghadap layar VDU, siapapun diberikan hak untuk pindah ke bagian pekerjaan non-VDU tanpa resiko pada salary dan prospek karier.
  4. Penelitian London Hazard Center, menunjukkan bahwa pengguna mesin fotokopi dan printer laser, yang menghasilkan ozon, dapat menyebabkan resiko kesehatan jika berada dalam posisi yang salah atau menggunakan mesin ini dalam waktu yang lama. Ruang kerja harus mendapatkan aliran udara yang baik, dan jangan bekerja dalam radius tiga meter dari mesin ini.
Journalist on work

Journalist on work

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: