Tata Kota

Ruang adalah dimensi dalam kehidupan. Dalam berbagai kepentingan, ruang selalu ditafsirkan berbeda-beda. Dalam bidang militer, ruang sangat penting artinya. Menguasai ruang adalah target inti dalam suatu operasi. Tapi di bidang pemerintahan dan kemasyarakatan, ruang dapat ditafsirkan sebagai akses yang tak terbatas atas akumulasi kepentingan, kewajiban dan tanggungjawab.

Di wilayah kemasyarakatan pun, ruang memiliki arti harfiah dan bahkan sakral. Ruang bagi orang kampung mengandung arti sebuah harapan, kesempatan dan tanggungjawab.

Lalu bagaimana dengan konsep ruang dalam pemerintahan yang paralel dengan pembangunan kota? Konsep ruang disini diartikan, sampai dimana pemerintah kota menerapkan konsep ruang dengan pola terbatas terhadap konstruktivitas yang berkelanjutan, terarah, lestari dan tertata.

Kota Kendari jika dibawa pada konsep ini, sangatlah tak memadai. Pembangunan yang memang terasa tidak diiringi konsep tata ruang yang baik. Jika Anda berjalan-jalan keliling kota, Anda akan segera memahami kenapa konsep tata ruang pemerintah kota tak teratur.

Wilayah pemukiman bercampur baur dengan pusat-pusat perdagangan. Di sepanjang garis jalan utama, puluhan ruko berdiri tinggi berbaur dengan rumah tinggal. Areal perkantoran pemerintahan juga sama buruknya. Tak tertata rapi.

Sempadan jalan pun tak dibenahi. Padahal sejak pemerintahan Mansyur Pamadeng sampai A. Rasyid Hamzah (1978 sampai 1995) dalam struktur kota administrative, hingga periode Lasjkar Koedoes, Masyhur Masie Abunawas dan Andi Kaharuddin, kesulitan memperbaiki
sempadan jalan masih menjadi kendala.

Misalkan, di jalan Sam Ratulangi depan kantor pos hingga simpang tiga Saranani, sempadan jalan belum pernah diluruskan. Padahal, sempadan yang tak lurus dapat memicu kecelakaan lalulintas dan pejalan kaki. Sampai kapan ruang-ruang di kota Kendari dapat tertata rapi, hingga kesan sebuah kota yang sedang berbenah benar-benar terlihat. Sampai kapan pemerintah kota kita merasa bahwa konsep ruang sangat diperlukan dalam mekanisme pemerintahan mereka. Atau sampai dimana dana yang kita bayarkan lewat pajak digunakan sebagaimana mestinya untuk memperindah kota dan memperlengkap fasilitas didalamnya.

Hari ini, kota Kendari sudah memasuki usianya yang ketujuh. Mungkin sudah saatnya, jika kesadaran terhadap pentingnya ruang yang layak bagi kita, mulai dibangkitkan.

Sebuah kota harus nyaman untuk warganya. Dan suatu komunitas masyarakat harus paham pula bagaimana ruang dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: