Suksesi dan Dukungan

Nyaris tiga bulan ini kita menyaksikan suasana penuh dengan nuansa politik. Suasana itu terlihat jelas dengan mengalirnya dukungan kelompok yang mengatasnamakan masyarakat terhadap figur gubernur atau wakil gubernur. Lalu, kantor dewan propinsi dipenuhi kesibukan orang-orang yang hendak mengundi nasib menjadi gubernur atau calon gubernur.

Di tengah suasana itu, para pengundi nasib ini berupaya menarik perhatian masyarakat dengan sumbangan-sumbangan sampai ke pelosok kampung. Belum usai, gerilya duit para bakal calon gubernur, sekelompok orang mencatut nama rakyat Sultra mengumandangkan
wacana putra daerah. Lantas metode pemilihan langsung diusung ke kantor dewan, dengan sasaran menghindari permainan politik uang para wakil rakyat dalam bursa nantinya.

Kesibukan lain, terlihat di hotel-hotel atau ruang tunggu bandara. Para balon berkumpul dan membicarakan penyatuan kekuatan. Tak ketinggalan para pengikut setia menggelar seminar di hotel-hotel seraya bertanda-tangan menyatakan dukungan terhadap salah satu calon.

Para tim sukses mulai pula bergerilya. Tim-tim ini yang merupakan kalaborasi pelaku politik praktis, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan bahkan jurnalis, ramai-ramai mulai mengkampayekan jagoan mereka demi serupiah-dua “uang kaget”. Mereka ramai-ramai
mengumandangkan kebaikan, kelebihan atau bahkan menenggelamkan keburukan para bakal calon yang mereka dukung, sekadar untuk membohongi khalayak awam.

Pentas politik ini makin ramai setelah kalangan parpol mulai menyodorkan pilihan masing-masing. Partai-partai ini ramai pula mengundang para petinggi mereka dari Jakarta untuk mampir ke Sulawesi Tenggara ikut melihat dan memberi dukungan moral dalam persiapan berlaga memperebutkan kursi gubernur. Hamzah Haz yang bertopeng peresmian pesantren, Zainuddin MZ berlindung dibalik tablig akbar, atau Amien Rais yang beralasan melihat kantor cabang partai berlambang matahari terbit itu. Topeng-topeng mereka mulai terbuka, saat para pendukung mengarak panji-panji partai dan berkampanye
keliling kota.

Kecenderungan politik daerah kita yang masih centang-perenang. Jarang sekali kita menemui maksud baik di balik pergerakan politik yang berbau intrik, macam menghancurkan kredibiltas orang lain, membohongi masyarakat dengan janji-janji politik, atau berpura-pura visioner untuk kemajuan Sulawesi Tenggara.

Parade politik semu ini masih akan berlanjut sampai pemilihan dan proses pelantikan. Namun, yang tersisa dari semua kejadian ini, dapatkah semua dibuktikan semanis janji di mulut belaka? Mampukah para balon ini mempertahankan kepura-puraan? Siapa yang kelak jadi pecundang belaka? Atau, sudah adakah rencana besar mereka untuk daerah ini?

Mungkin sebaiknya kita tunggu saja hasilnya dan lihat apa sisi positif ramai-ramai politik lokal ini. Terus kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: