Kampanye Prematur

Kendaraan roda dua dan empat berbaur dalam arak-arakan panjang sebuah partai. Pemandangan serupa ini, tak hanya hari ini kita saksikan. Dalam sepekan ini, tiga kali partai politik menggelar arak-arakan di seputar kota.

Partai Persatuan Pembangunan, menggelar arak-arakan keliling kota, hendak memperlihatkan kepada masyarakat kota Kendari bahwa partai ini masih eksis di bumi Indonesia. Counter politik buru-buru dilayangkan Partai Persatuan Pembangunan-Reformasi.

Walau berbasis massa sama, kedua partai sekaligus elitnya ini, masih juga berupaya menjadi undakan politik pada tataran isu dan kepentingan yang tak jauh berbeda. Tidakkah ini dilihat sebagai simbol pembodohan politik rakyat? Masyarakat dipaksa menjadi bagian dari pertarungan dua kepentingan dan ambisi politik yang tadinya tak
terakomodasi dalam satu wadah.

Siapapun berhak berbeda. Siapa saja berhak berkumpul. Namun esensi sebuah cerita politik, terletak pada bagaimana meramu banyak kepentingan dan tujuan tanpa harus merugikan sebagian yang justru lebih besar. Namun esensi ini sering dilupakan dan semua kepentingan menjadi raksasa yang siap memakan siapa saja yang mencoba menjadi penghalang jalan menuju tujuan utamanya.

Seperti tidak mau ketinggalan, Partai Amanat Nasional juga melakukan kampanye prematur. Lapangan Edy Sabara disesaki ratusan orang. Ada yang hanya hendak melihat raut wajah Amien Rais, ada yang hanya menghendaki sedikit duit dari koordinator mobilisasi, ada yang hanya senang mendapat selembar baju kaos, bahkan ada yang sekadar
menganggap keramaian itu tak lebih dari sebuah pasar malam. Dimana badut-badut politik berkeliaran, komitmen kacang goreng dibangun, dan partisipasi untung-rugi dinyatakan.

Gerbong-gerbong politik mulai dilangsir. Lokomotif-lokomotif politik mulai ditarik, tanpa bunyi pluit masinis. Parpol-parpol ini mendahului start yang baru akan di rentang dua tahun ke depan, dengan kebohongan-kebohongan dan strategi-strategi jitu.

Pernah ada yang mengatakan, bahwa berpartai politik nyaris sama masuk komplotan penyamun. Penuh intrik, kepentingan sepihak, kebohongan dan muslihat. Jadi, sebaiknya bebaskan siapapun untuk menentukan keinginan dan maksudnya. Jargon dan propaganda hanya akan menggiring kita pada kepentingan yang menyesatkan. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumenilham q. moehiddin]

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: