Daily Archives: 18 Februari 2010

Kampanye Prematur

Kendaraan roda dua dan empat berbaur dalam arak-arakan panjang sebuah partai. Pemandangan serupa ini, tak hanya hari ini kita saksikan. Dalam sepekan ini, tiga kali partai politik menggelar arak-arakan di seputar kota.

Partai Persatuan Pembangunan, menggelar arak-arakan keliling kota, hendak memperlihatkan kepada masyarakat kota Kendari bahwa partai ini masih eksis di bumi Indonesia. Counter politik buru-buru dilayangkan Partai Persatuan Pembangunan-Reformasi.

Walau berbasis massa sama, kedua partai sekaligus elitnya ini, masih juga berupaya menjadi undakan politik pada tataran isu dan kepentingan yang tak jauh berbeda. Tidakkah ini dilihat sebagai simbol pembodohan politik rakyat? Masyarakat dipaksa menjadi bagian dari pertarungan dua kepentingan dan ambisi politik yang tadinya tak
terakomodasi dalam satu wadah.

Siapapun berhak berbeda. Siapa saja berhak berkumpul. Namun esensi sebuah cerita politik, terletak pada bagaimana meramu banyak kepentingan dan tujuan tanpa harus merugikan sebagian yang justru lebih besar. Namun esensi ini sering dilupakan dan semua kepentingan menjadi raksasa yang siap memakan siapa saja yang mencoba menjadi penghalang jalan menuju tujuan utamanya.

Seperti tidak mau ketinggalan, Partai Amanat Nasional juga melakukan kampanye prematur. Lapangan Edy Sabara disesaki ratusan orang. Ada yang hanya hendak melihat raut wajah Amien Rais, ada yang hanya menghendaki sedikit duit dari koordinator mobilisasi, ada yang hanya senang mendapat selembar baju kaos, bahkan ada yang sekadar
menganggap keramaian itu tak lebih dari sebuah pasar malam. Dimana badut-badut politik berkeliaran, komitmen kacang goreng dibangun, dan partisipasi untung-rugi dinyatakan.

Gerbong-gerbong politik mulai dilangsir. Lokomotif-lokomotif politik mulai ditarik, tanpa bunyi pluit masinis. Parpol-parpol ini mendahului start yang baru akan di rentang dua tahun ke depan, dengan kebohongan-kebohongan dan strategi-strategi jitu.

Pernah ada yang mengatakan, bahwa berpartai politik nyaris sama masuk komplotan penyamun. Penuh intrik, kepentingan sepihak, kebohongan dan muslihat. Jadi, sebaiknya bebaskan siapapun untuk menentukan keinginan dan maksudnya. Jargon dan propaganda hanya akan menggiring kita pada kepentingan yang menyesatkan. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumenilham q. moehiddin]


Kesaktian Pancasila

Satu Oktober, seperti yang sudah-sudah, rakyat Indonesia mengenang hari yang disebut Kesaktian Pancasila. Pada tanggal yang sama, 37 tahun lalu, tujuh orang jenderal di bunuh secara keji dan diluar batas perikemanusiaan oleh Partai Komunis Indonesia.

Kita tak mungkin tak mau tahu, bagaimana kejadian itu dapat di redam. Namun, yang jelas suasana yang tak pasti yang tercipta karena kejadian itu, berangsur pulih dan tenang kembali.

Kita mungkin bertanya-tanya, apa hubungan kejadian itu dengan lima sila yang menjadi dasar negara Indonesia? Pembunuhan keji yang kemudian dikenang dan dilabel dengan kata-kata Kesaktian Pancasila. Apa hikmah dan pelajaran dari kejadian ini? Yang paling tepat menilai dan mengambil inti pelajaran penting dari kejadian tersebut hanya kita sendiri.

Sampai dimana Pancasila membuktikan kesaktiannya sebagai dasar negara? Kita mungkin akan mengambil contoh dari peristiwa G 30 S PKI. Tapi, apa hanya itu?

37 Tahun berikutnya, Pancasila rupanya kurang beruntung menjadi lambang dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila mungkin sudah tua hingga kesaktiannya memudar. Ini dibuktikan dengan berseminya benih disintegrasi di bumi pertiwi ini. Bahkan benih itu
sudah tumbuh dan berbuah negara Timor Leste. Lalu dimana letak kesaktian sila ketiga Persatuan Indonesia.

Benih disintegrasi lainnya yang bisa saja tumbuh dan menjadi buah negara baru, jika pemerintah dan pemimpin kita masih tamak dan serakah. Korupsi merajalela, hingga rakyat terus hidup melarat dan miskin. Lantas dimana letak kesatian sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pelanggaran hak asasi manusia berupa penganiayaan, intimidasi dan penyiksaan oleh aparat keamanan, baik secara struktural dan moral, ternyata ikut menghilangkan kesaktian sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Para elit politik saling adu kekuatan yang berimbas pada masyarakat, juga menjadi soal lain di bumi Indonesia. Dalam perang politik, para elit pemimpinnya sering memanfaatkan nama rakyat untuk memuluskan tujuan-tujuan tersembunyi mereka. Pemimpin kita tidak hikmah, tak bijaksana, tak bermusyawarah dan tak menjadi wakil yang adil dalam setiap pengambilan keputusan. Rakyat sering dilangkahi dan disepelekan. Bertanyalah kita, seperti apa kesaktian sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan.

Masih ada harapan untuk Pancasila membuktikan kesaktiannya pada sila ketuhanan yang maha esa. Konflik agama yang terjadi di beberapa daerah menjadi semacam ancaman bagi Pancasila membuktikan kesaktian sila pertamanya.

Masih adakah harapan untuk mempertahankan Pancasila? Seperti apa harapan-harapan itu? Sebab kelima sila itu benar-benar tak dijadikan patokan dalam peri kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang. Atau dasar negara ini sebaiknya diganti saja? Silahkan Anda mentelaah dan menjawabnya sendiri. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]


Suksesi dan Dukungan

Nyaris tiga bulan ini kita menyaksikan suasana penuh dengan nuansa politik. Suasana itu terlihat jelas dengan mengalirnya dukungan kelompok yang mengatasnamakan masyarakat terhadap figur gubernur atau wakil gubernur. Lalu, kantor dewan propinsi dipenuhi kesibukan orang-orang yang hendak mengundi nasib menjadi gubernur atau calon gubernur.

Di tengah suasana itu, para pengundi nasib ini berupaya menarik perhatian masyarakat dengan sumbangan-sumbangan sampai ke pelosok kampung. Belum usai, gerilya duit para bakal calon gubernur, sekelompok orang mencatut nama rakyat Sultra mengumandangkan
wacana putra daerah. Lantas metode pemilihan langsung diusung ke kantor dewan, dengan sasaran menghindari permainan politik uang para wakil rakyat dalam bursa nantinya.

Kesibukan lain, terlihat di hotel-hotel atau ruang tunggu bandara. Para balon berkumpul dan membicarakan penyatuan kekuatan. Tak ketinggalan para pengikut setia menggelar seminar di hotel-hotel seraya bertanda-tangan menyatakan dukungan terhadap salah satu calon.

Para tim sukses mulai pula bergerilya. Tim-tim ini yang merupakan kalaborasi pelaku politik praktis, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan bahkan jurnalis, ramai-ramai mulai mengkampayekan jagoan mereka demi serupiah-dua “uang kaget”. Mereka ramai-ramai
mengumandangkan kebaikan, kelebihan atau bahkan menenggelamkan keburukan para bakal calon yang mereka dukung, sekadar untuk membohongi khalayak awam.

Pentas politik ini makin ramai setelah kalangan parpol mulai menyodorkan pilihan masing-masing. Partai-partai ini ramai pula mengundang para petinggi mereka dari Jakarta untuk mampir ke Sulawesi Tenggara ikut melihat dan memberi dukungan moral dalam persiapan berlaga memperebutkan kursi gubernur. Hamzah Haz yang bertopeng peresmian pesantren, Zainuddin MZ berlindung dibalik tablig akbar, atau Amien Rais yang beralasan melihat kantor cabang partai berlambang matahari terbit itu. Topeng-topeng mereka mulai terbuka, saat para pendukung mengarak panji-panji partai dan berkampanye
keliling kota.

Kecenderungan politik daerah kita yang masih centang-perenang. Jarang sekali kita menemui maksud baik di balik pergerakan politik yang berbau intrik, macam menghancurkan kredibiltas orang lain, membohongi masyarakat dengan janji-janji politik, atau berpura-pura visioner untuk kemajuan Sulawesi Tenggara.

Parade politik semu ini masih akan berlanjut sampai pemilihan dan proses pelantikan. Namun, yang tersisa dari semua kejadian ini, dapatkah semua dibuktikan semanis janji di mulut belaka? Mampukah para balon ini mempertahankan kepura-puraan? Siapa yang kelak jadi pecundang belaka? Atau, sudah adakah rencana besar mereka untuk daerah ini?

Mungkin sebaiknya kita tunggu saja hasilnya dan lihat apa sisi positif ramai-ramai politik lokal ini. Terus kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]


Tata Kota

Ruang adalah dimensi dalam kehidupan. Dalam berbagai kepentingan, ruang selalu ditafsirkan berbeda-beda. Dalam bidang militer, ruang sangat penting artinya. Menguasai ruang adalah target inti dalam suatu operasi. Tapi di bidang pemerintahan dan kemasyarakatan, ruang dapat ditafsirkan sebagai akses yang tak terbatas atas akumulasi kepentingan, kewajiban dan tanggungjawab.

Di wilayah kemasyarakatan pun, ruang memiliki arti harfiah dan bahkan sakral. Ruang bagi orang kampung mengandung arti sebuah harapan, kesempatan dan tanggungjawab.

Lalu bagaimana dengan konsep ruang dalam pemerintahan yang paralel dengan pembangunan kota? Konsep ruang disini diartikan, sampai dimana pemerintah kota menerapkan konsep ruang dengan pola terbatas terhadap konstruktivitas yang berkelanjutan, terarah, lestari dan tertata.

Kota Kendari jika dibawa pada konsep ini, sangatlah tak memadai. Pembangunan yang memang terasa tidak diiringi konsep tata ruang yang baik. Jika Anda berjalan-jalan keliling kota, Anda akan segera memahami kenapa konsep tata ruang pemerintah kota tak teratur.

Wilayah pemukiman bercampur baur dengan pusat-pusat perdagangan. Di sepanjang garis jalan utama, puluhan ruko berdiri tinggi berbaur dengan rumah tinggal. Areal perkantoran pemerintahan juga sama buruknya. Tak tertata rapi.

Sempadan jalan pun tak dibenahi. Padahal sejak pemerintahan Mansyur Pamadeng sampai A. Rasyid Hamzah (1978 sampai 1995) dalam struktur kota administrative, hingga periode Lasjkar Koedoes, Masyhur Masie Abunawas dan Andi Kaharuddin, kesulitan memperbaiki
sempadan jalan masih menjadi kendala.

Misalkan, di jalan Sam Ratulangi depan kantor pos hingga simpang tiga Saranani, sempadan jalan belum pernah diluruskan. Padahal, sempadan yang tak lurus dapat memicu kecelakaan lalulintas dan pejalan kaki. Sampai kapan ruang-ruang di kota Kendari dapat tertata rapi, hingga kesan sebuah kota yang sedang berbenah benar-benar terlihat. Sampai kapan pemerintah kota kita merasa bahwa konsep ruang sangat diperlukan dalam mekanisme pemerintahan mereka. Atau sampai dimana dana yang kita bayarkan lewat pajak digunakan sebagaimana mestinya untuk memperindah kota dan memperlengkap fasilitas didalamnya.

Hari ini, kota Kendari sudah memasuki usianya yang ketujuh. Mungkin sudah saatnya, jika kesadaran terhadap pentingnya ruang yang layak bagi kita, mulai dibangkitkan.

Sebuah kota harus nyaman untuk warganya. Dan suatu komunitas masyarakat harus paham pula bagaimana ruang dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]


[Arsip] Redaksional: Ulang Tahun Kota Kendari

27 September tujuh tahun lalu kota Kendari dilahirkan. Banyak nuansa
sejak kelahirannya yang dirasakan, dilihat bahkan didengarkan.
Kota Kendari terus berbenah. Bak gadis belia, dia terus didandani,
dipoles. Pembangunan terus pula dikejar, agar jurang ketertinggalan
dengan daerah lain tak makin melebar.

Kota ini terus berjalan dengan segala dinamikanya. Masalah dan solusi
ganti berganti mengisi khazanah hidup masyarakatnya yang heterogen
dan dinamis. Hidup dalam damai dan ketentraman mungkin cita-cita
semua orang, tapi kota ini terus berusaha mewujudkan cita-cita ini.

Menyambut hari jadi ke tujuh, kota Kendari begitu semarak. Lampulampu
hias terang benderang di setiap sudut kota. Orang-orang ramai
membuat lomba. Lomba kebersihan lingkungan, lomba gerak jalan, dan
lomba joget antar rukun tetangga, ikut menambah kegembiraan.

Marilah kita antar gadis belia ini, dengan semangat keteraturan,
kedamaian, tanpa kekerasan dan kejahatan kemanusiaan dan
lingkungan. Jadikan kota kita tercinta ini bersih, dan tentram, jauh dari
pergolakan kepentingan para pemimpinnya yang tamak dan serakah.
Jauh dari interfensi moral yang tak dapat dipertanggungjawabkan.

Kita sering lupa pada hal-hal yang sepele, dan terlalu membuang waktu
untuk hal-hal yang sama sekali tak berhubungan langsung dengan
harkat dan martabat bermasyarakat. Kita pun selalu dapat digiring
dalam konflik-konflik yang sama sekali tak berarti. Atau bahkan kita
terlampau takut berkata tidak untuk segala macam keinginan yang
justru akan merugikan kita.

Mari bercermin dengan usia kota kita. Mari bahu-membahu
membangun kota tercinta kita agar pembangunan dapat dirasakan
semua orang dan semua lapisan masyarakat. Hilangkan sikap
egosentrisme dan etnosentrisme, agar keberagaman yang unik di kota
kita tetap terpelihara.

Selamat hari jadi ke tujuh kota Kendari. Mari melangkah maju untuk
bersama. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian.[]


%d blogger menyukai ini: