[Resensi] Membangun Kesadaran Politik Gaya Ikhwan

Judul Buku : Tarbiyah Siyasyah Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin

Penulis : Dr. Ustman Abdul Mu’iz Ruslan

Pengantar : Prof. Dr. M. Amien Rais

Penerbit : Intermedia, Solo 2000

Tebal : 671 halaman.

 

Istilah “pendidikan politik” memang telah lama menjadi wacana di dunia elite politik. Pendidikan politik masyarakat senantiasa menjadi amanat yang dipikulkan di pundak para politisi, oleh organisasi partainya. Namun, pada tataran realitas, mereka lebih sering disibukkan dengan persaingan-persaingan, intrik-intrik dan mobilisasi massa untuk tujuan-tujuan politik praktisnya, ketimbang memikirkan proses pendidikan massanya agar memiliki kesadaran, wawasan dan partisipasi politik yang baik.

Berbeda dengan gerakan politik pada umumnya, gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin telah berhasil memainkan peran pendidikan politik masyarakatnya dengan sungguh-sungguh, konsisten, dan hati yang tulus. Sebuah gerakan dakwah yang mendasari perjuangan politiknya dengan pemahaman Islam yang integral dan kepemimpinan yang kharismatik. Sungguh suatu fenomena gerakan yang patut menjadi objek telaah, bagi kita, khususnya kaum muslimin, atau siapa saja yang peduli dengan gerakan reformasi bangsanya.

Amien Rais dalam pengantar buku ini mengakui gerakan yang dilakukan ikhwan ini memiliki sisi-sisi yang relevan untuk dijadikan bahan perenungan oleh gerakan dakwah Islam, atau gerakan reformasi manapun, yang ingin berjuang mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara ini. Di antaranya:

Pertama, kepemimpinan yang kharismatis dari Hasan Al-Banna. Ia menjadi pemimpin sejati dalam jamaah yang dirintisnya. Ia adalah referensi bagi pengikutnya, dalam aspek spiritual, moral, intelektual, sekaligus referensi kejuangan secara umum di medan dakwah. Pengikut ikhwan, bahkan akhirnya masyarakat umum, seperti mendapatkan sebuah kekuatan baru tatkala menyaksikan Al-Banna dengan begitu gigih memperjuangkan agama, yang mencakup juga semangat untuk membebaskan negeri Mesir dari kungkungan imperislisme Inggris.

Kedua, Ikhwan mendasari gerakannya dengan pemahaman Islam integral, didukung para ulama yang memiliki integritas keilmuwan yang menonjol. Meski akhirnya gerakan ini harus tunduk pada pemerintah dan konspirasi asing—dengan ditembak matinya sang pemimpin dan dipenjarakannya banyak tokoh ikhwan—namun bergagai karya tulis tokohnya kini memenuhi perpustakaan-perpustkaan dunia Islam.

Ketiga, proses pengkaderan yang sistemik dan berkesinambungan, yang menjadikan ikhwan sejak hari-hari awal perjuangannya dapat merekrut kader-kader militan. Baik para pemuda maupun para tokoh di Mesir, yang sosok kader itu—dimanapun kini berada—mampu menjaga orisinalitas nilai-nilai yang diperjuangkannya.

Buku ini adalah disertasi Ustman Abdul Mu’iz Ruslan yang sungguh mengagumkan. Ia telah berhasil mengungkapkan fakta-fakta sejarah perjuangan dakwah Ikhwan dalam rentan klimaks perjuangannya, yakni tahun 1928 hingga 1954, dari dokumentasi internalnya, selain juga dari berbagai buku yang ditulis oleh tokoh pengamat di luar ikhwan.

Buku ini mengingatkan pada kita betapa perjuangan memberdayakan masyatakat pada umumnya, juga berat dan membutuhkan waktu yang lama. Kepiawaian dan kecerdasan saja nyatanya tidaklah terlalu cukup. Ia membutuhkan kearifan, ketulusan, kesungguhan, dan ketahanan mental, hingga keberanian untuk menjadikan dirinya tebusan bagi tegaknya misi yang diperjuangkan.

Target pendidikan politik adalah kepribadian politik, kesadaran politik, perasaan politik, dan partisipasi politik sebagaimana yang disimpulkan penulis, sungguh merupakan target yang mulia.

Jika hal-hal ini bisa berbentuk dalam jiwa setiap masyarakat, yang ditegakkan dengan pilar-pilar ideologi (aqidah), spiritual, moral, dan intelektual, sungguh bangsa ini dan bangsa manapun di dunia, akan menjadi bangsa yang berkarakter dan berwibawa, dapat mengantarkan masyarakat menuju kedamaian sejati.

Buku ini sangat layak untuk dijadikan objek kajian oleh generasi muda Islam, sebagai bahan perenungan, untuk dipetik hikmahnya, dan diteladani untuk diaplikasikan di sini, tentu dengan penyesuaian di sana-sini.***

 

Resenser:

Arief Fauzi Marzuki

Mahasiswa Sosial-Politik Islam Pascasarjana UMS

Pada Hidayatullah, 10/XIII/Februari 2001

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: