Kerja Keras Jurnalistik yang Menjatuhkan Presiden

Bab III:

Sekuel: Dari Lingkungan Media yang Diperbarui sampai Pelengseran Estrada yang Membuahkan Penghargaan Jurnalisme bagi PCIJ

Media Berubah

Untuk upaya pemecatan politisi, terobosan terjadi pada tanggal 6 Oktober, sewaktu seorang bekas teman judi dan bekas kroni Estrada, Gubernur Luis ‘Chavit’ Singson, mengadakan konferensi pers dan mengungkapkan bagaimana ia dulu pernah memberi suap—dengan pembayaran dari judi ilegal—kepada sang presiden. Ketika ditanya mengapa ia memilih untuk menentang presiden sekarang, sang gubernur berkata, ”Ia mengkhianati saya. Ia memanfaatkan saya sebagai kolektornya untuk pembayaran jueteng-nya. Setelah memanfaatkan saya, dia mencampakkan saya. Ia memberikan [franchise] Bingo Two-Ball di provinsi saya kepada Eric Singson, musuh politik saya yang saya kalahkan pada pemilihan gubernur tahun 1998. Mau saya taruh di mana muka saya di provinsi saya?” katanya kepada para reporter. Tuduhan Singson mengarah ke pemeriksaan senat atas tuduhan tersebut dan membuka jalan ke sidang pemecatan.

Pada saat itu, surat kabar dan stasiun televisi berebut untuk menggunakan bahan PCIJ yang terdokumentasi dengan baik, yang memperluas ruang lingkup kisah itu. ”Lingkungan media menjadi lebih terbuka menerima laporan investigasi tentang Estrada. Khalayak pun haus akan informasi tentang apa yang terjadi di Istana Malacanang,” kenang Sheila Coronel. ”Kami telah mengumpulkan banyak informasi terperinci pada waktu itu, jadi kami cepat-cepat menerbitkan kisah kedua pada akhir Oktober,” katanya.

Kali ini, kisah—”Cronies and Attorneys Front for Properties” (”Para Kroni dan Pengacara Berada Di Depan Properti”)—terbit di sejumlah surat kabar besar dan juga di televsi, yang semakin menambah bobot pengungkapan kisah pertama yang diterbitkan. ”TV masih belum puas. Padahal sebelumnya kami harus memohon kepada mereka untuk menayangkan kisah kami,” kata Coronel.

Banyak organisasi media yang tadinya dituduh anjing piaraan presiden kini bersikap berani dan giat mencari cerita, dengan melakukan investigasi sendiri. Salah satu contoh terbaik adalah ABS-CBN, jaringan TV terbesar di Filipina. Titik balik dalam keberuntungan politis Estrada merupakan kelegaan bagi banyak jurnalis Filipina yang merasa dicekik oleh tekanan politik dan ekonomi Estrada untuk membungkam kritisisme pers. ”Kini semua orang berupaya mencari lebih banyak rumah yang dihuni oleh para gundik Estrada,” papar Coronel. ”Media belajar melihat nilai investigasi dan pelaporan jangka panjang.” Demikian pula, saluran pers yang dianggap pro-Estrada kini menjadi target cemoohan dari para penentang Estrada.

Laporan PCIJ: Bukti Utama untuk Mendakwa Estrada

Bagi parlemen, penemuan PCIJ kini menjadi informasi yang tak dapat diabaikan. Tiga dari artikel pertama pusat jurnalisme disertakan dalam pendakwaan, diarsip oleh Dewan Perwakilan Rakyat di hadapan Senat pada tanggal 13 November. Joseph Estrada yang tadinya berkuasa sekarang menghadapi empat tuduhan: sogok, suap dan korupsi, pengkhianatan terhadap Kepercayaan Publik dan pelanggaran yang tercela terhadap konstitusi. Tiga dari tuduhan itu didasarkan atas laporan PCIJ, sementara yang keempat didasarkan atas tuduhan “peniup-peluit” Singson.

Sidang pendakwaan oleh Senat dimulai pada bulan Desember dan ditayangkan secara langsung. Estrada, mantan bintang film yang dikenal sebagai Asiong Salonga, atau Robin Hood versi Filipina, kini membintangi opera sabun nyata berjudul ”Bangkit dan Jatuhnya Presiden Filipina”. Estrada, yang dipilih pada tahun 1998 dengan platform untuk memerangi kemiskinan dan korupsi, sekarang hanya berperan sebagai penyangkal keras semua tuduhan.

Siaran itu segera menjadi pertunjukan TV yang paling populer di negara itu, menenggelamkan bahkan pertandingan bola basket profesional dan opera sabun favorit, ”Rosalinda”.

Kekuatan Rakyat: Estrada Dilengserkan

Betapapun jelasnya hasil sidang itu tampaknya bagi jutaan pemirsa, keputusan bersalah-—bagi keadilan formal-—bukanlah satu-satunya kemungkinan. Pertanyaan yang krusial tetapi belum terjawab adalah soal pendanaan petualangan real estat Estrada.

”Meskipun kami telah mendokumentasikan pembelian properti dan pembentukan perusahaan, kami belum melaporkan tentang dari mana asalnya uang untuk mendanani kepemilikan ini,” kenang Coronel. Dalam sebuah artikel. ”A Transaction Marred by Fraud” (”Transaksi yang Dirusak oleh Penipuan”), para wartawan PCIJ berargumen tentang keberadaan rekening bank rahasia atas nama fiktif yang dapat digunakan Estrada untuk mengalirkan pendapatannya yang meragukan. Tetapi para wartawan itu tidak dapat membuktikannya.

Baru belakangan pendakwaan itu dapat mengungkapkan rekening bank aktual atas nama fiktif Jose Velarde, yang dibayar untuk salah satu mansion utama dengan cek senilai 142 juta PHP (US$ 2,84 juta). Tanda tangan Velarde dituduh sama dengan tanda tangan Estrada pada bon senilai 500 peso di bank nasional. Selama sidang, seorang wakil presiden sebuah bank bahkan memberi kesaksian bahwa ia melihat presiden menandatangani dokumen dengan nama palsu.

Akan tetapi, kmunduran terjadi pada tanggal 16 Januari, sewaktu Senat secara mengejutkan memutuskan untuk tidak menerima bukti yang mengaitkan presiden dengan rekening bank fiktif. Argumennya adalah prosedur formal bahwa mansion dan rekening bank tidak disebutkan secara eksplisit dalam artikel pendakwaan.

Di hadapan mata jutaan pemirsa TV di seluruh Filipina, senator memutuskan dengan satu suara mayoritas untuk tidak membuka amplop tersegel yang berisi dokumen bank yang dianggap memberatkan presiden.

Karena menyaksikan kemenangan para pembela Estrada dan para senator yang loyal setelah keputusan itu, rakyat Filipina tampaknya kehilangan kepercayaan kepada prosedur hukum keadilan. Mereka turun ke jalan untuk memprotes keputusan itu, dan pada hari-hari berkutnya, para pemrotes meningkat jumlahnya menjadi setengah juta orang yang berkumpul di Santos Avenue—jalan yang sama tempat Kekuatan Rakyat yang marah melengserkan Ferdinand Marcos 15 tahun sebelumnya. Lima puluh ribu pemrotes militan berkumpul di luar Malacanang, siap menerobos masuk ke istana kepresidenan.

Pada tanggal 20 Januari, setelah tiga hari protes—Estrada masih menolak untuk mengundurkan diri-Mahkamah Agung melengserkan dia dengan keputusan bulat dan mengizinkan wakil presiden, Gloria Macapagal-Arroyo, untuk disumpah sebagai presiden baru di kepulauan itu.

PCIJ Mengumpulkan Hadiah Tertinggi Jurnalisme

PCIJ dan Coronel meriset dan menerbitkan serangkaian kisah tentang skandal Estrada sepanjang proses pendakwaan. Pada bulan November, para wartawan itu menyingkapkan bagaimana sebuah hutan lindung ditebang untuk membuka lahan bagi ”Cronyville”, sebuah kawasan eksklusif bagi presiden dan kroni-kroninya. Kisah lain mendokumentasikan mansion-mansion yang bahkan lebih mewah dalam ”An Embarrassment of Houses” (Rumah-rumah Yang Memalukan), mencantumkan 17 properti presiden.

Pada bulan Desember, pusat jurnalisme ini menyusun artikel-artikel utamanya dalam buku Investigating Estrada: Millions, Mansions and Mistresses. Sebagian besar kisah-kisah itu dapat diakses di situs web PCIJ. Artikel-artikel yang belakangan antara lain berjudul ”The Multibillion-Peso President” (Presiden Multimilyar Peso) dan ”Firm Linked to Estrada Got Metro Manila Garbage Contract” (Perusahaan Yang Terkait dengan Estrada Mendapat Kontrak Sampah Manila).

Sebagai hasilnya, PCIJ dianugerahi hadiah utama pada Kompetisi Jurnalisme Investigatif Jaime V. Ongpin 2001. Hadiah pertama jatuh kepada ketiga laporan PCIJ yang disertakan dalam sidang pendakwaan: ”The State of the President’s Finances: Can Estrada Explain His Wealth?”, ”The Estradas’ Three Dozen Houses: First Family’s Firm Flouts the Law” dan ”Erap and Families”.

Hadiah ketiga dianugerahkan kepada artikel PCIJ ”Cronies Scramble to Get Clark Casino for Estrada” (Para Kroni Berebut Memberikan Clark Casino untuk Estrada).

Kira-kira 150 laporan disisihkan untuk penghargaan Ongpin. Para finalis PCIJ yang antara lain dipuji sebagai jurnalisme investigatif yang menonjol adalah ”Corruption and Waste Weigh Down Agriculture” (Korupsi dan Limbah Membebani Pertanian) dan ”Baguio Forest Cut Down to Build ’Cronyville’” (Hutan Baguio Ditebang Habis untuk Membangun ’Cronyville’). Ini adalah yang keempat kalinya sejak tahun 1997 PCIJ memenangkan kompetisi jurnalisme premier di negara itu. Para penulis pusat dipuji ”atas riset dan dokumentasi mereka yang unggul dan juga ketrampilan menonjol yang dapat dibandingkan dengan pekerjaan terbaik yang pernah dilakukan di kalangan jurnalisme di tempat lain; tetapi yang terutama atas dampak yang mereka hasilkan sebagai sebuah kelompok kerja … yang memainkan peranan yang sangat penting dalam … pemahaman [rakyat] akan dimensi politik akibat krisis pemerintahan, demokratisasi, dan perkembangan di Filipina”.

Pena Investigatif: Lebih Perkasa Ketimbang Pedang

Di antara semua pemimpin Asia yang dituduh korup, Joseph Estrada adalah yang pertama menghadapi sidang pendakwaan.

Sidang tersebut tidak membuahkan hasil akhir yang meyakinkan untuk memberikan legitimasi penuh atas kekuasaan presiden yang baru, tetapi meskipun demikian, dakwaan terhadap Estrada dan belakangan penghukuman terhadapnya dianggap sebagai sebuah kemenangan bagi demokrasi. Perubahan dalam iklim media dari yang tadinya ”anjing piaraan presiden” menjadi kekuatan estat keempat juga dipandang sebagai suatu kemenangan.

Namun, bagi PCIJ dan Coronel, tujuan akhirnya adalah untuk mengembangkan demokrasi lebih jauh, sampai taraf di mana politik dan ekonomi didasarkan pada supremasi hukum. ”Kami menginvestasikan waktu, bakat, dan sumber daya kami agar kami dapat benar-benar mendatangkan perubahan,” kata Coronel sewaktu ia dijuluki oleh Asiaweek sebagai salah satu pembongkar suap top di Asia.

Perlunya perubahan memang cukup menonjol: hanya ada segelintir dari perkiraan 15 juta keluarga Filipina yang dilaporkan mengendalikan hampir semua kekayaan bangsa itu, dan beberapa ratus konon mengendalikan kehidupan politik melalui utang na loob—suatu sistem kewajiban yang diperoleh melalui bantuan. Sementara orang kaya dapat mengeruk keuntungan dengan menghindari pajak dan melakukan suap, 40 persen dari 76 juta penduduk kepulauan itu hidup di bawah garis kemiskinan.

Asiaweek menggambarkan Coronel yang kini berusia 43 tahun sebagai wanita bertubuh langsing dengan suara seperti gadis muda. ”Tetapi siapa pun yang menyangka Sheila Coronel ada di kelas ringan membuat kesalahan perhitungan yang serius,” lanjut majalah itu, menggambarkan peranannya dalam kejatuhan Estrada. ”Kup terbesar Coronel menggarisbawahi peranan pers,” kata Asiaweek. ”Hal itu juga memperlihatkan bahwa pena lebih perkasa ketimbang pedang—khususnya bila yang menggunakannya tampaknya begitu tidak berbahaya.”

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: