Kerja Keras Jurnalistik yang Menjatuhkan Presiden

Bab I:

Sebuah Studi Investigasi.

(Dari Titik Keberangkatan sampai Terobosan Delapan Bulan Kemudian)

Seandainya bukan karena kerja keras Jane Continente yang, seorang asisten perpustakaan dan peneliti di Pusat Jurnalisme Investigatif Filipina (PCIJ), Presiden Filipina Joseph Estrada mungkin akan tetap berkuasa—setidaknya sedikit lebih lama. Untuk membantu rekan-rekan jurnalisnya di PCIJ, Continente menghabiskan waktu berjam-jam dari pukul 7 pagi di public corporate register untuk melacak catatan yang pada akhirnya mendokumentasikan suatu jaringan perusahaan yang tidak jelas serta bisnis tersembunyi yang memasukkan miliaran peso (puluhan juta dollar AS) ke kocek sang presiden serta istri, gundik, anak-anak, dan iparnya yang bergaya hidup mewah.

Ini adalah pekerjaan jenis metodikal dan bahkan membosankan yang biasanya membuat para wartawan enggan menghabiskan waktu ataupun tenaga untuknya, namun inilah yang membuat perbedaan antara investigasi PCIJ yang efektif dan jurnalisme yang biasa-biasa saja: kukuh, gigih, mencoba semua kemungkinan. Karena Continente adalah juru tulis, PCIJ menggunakan ketrampilannya dalam mengikuti prosedur ketat di SEC, termasuk cara menyusun dan cara melengkapi formulir. Karena diizinkan untuk memperoleh hanya tiga catatan dalam sehari, Continente dan sekelompok kecil kader jurnalisme antre selama berminggu-minggu sampai para wartawan PCIJ dapat menyusun gambar keseluruhan tentang jaringan 66 perusahaan swasta milik presiden.

Mengikuti jejak dokumen perusahaan-perusahaan Estrada bukanlah satu-satunya cara bagi PCIJ untuk menginvestigasi kekayaan sang presiden. Jejak lain mengarah ke perolehan atas real estat dan pembangunan rumah-rumahnya. Ini bahkan lebih riskan untuk diikuti, melibatkan belasan wawancara dengan arsitek, pengacara, pembangun, desainer interior, tetangga, dan staf estat residensial ekskkusif, serta tak terhitung banyaknya kunjungan ke daftar real estat kotapraja. Akan tetapi, upaya itu sepadan dengan tersingkapnya mansion-mansion mewah milik keluarga presiden, yakni 11 anak, istri, dan lima gundik.

Setelah delapan bulan riset, PCIJ dapat mengekspos gaya hidup keluarga nomor satu ini, yang hanya dapat digambarkan sebagai mewah, arogan, dan benar-benar tidak memiliki kebijaksanaan. Direktur eksekutif PCIJ, Sheila Coronel, disertai oleh sekelompok inti terdiri dari empat staf jurnalis, tiga jurnalis yang kadang-kadang membantu dalam riset dan produksi berita TV serta lima siswa magang. Selain itu, seorang pensiunan pejabat pajak pemerintah dan asistennya memberikan bantuan yang tak ternilai dalam menemukan dan mendapatkan nama-nama pemegang hak atas tanah.

”Arah riset kami ditentukan oleh apa yang dapat didokumentasikan,” demikian Coronel dalam sebuah wawancara. Tidak seperti negara-negara lain di Asia Tenggara, akses ke banyak kategori catatan publik cukup rutin di Filipina, tambahnya. Ini mencakup pendaftaran perusahaan dan catatan finansial, izin bangunan serta izin-izin lainnya, dan pernyataan aset pejabat publik. Dokumen-dokumen ini menjadi tulang punggung riset PCIJ dan basis untuk mengecek informasi yang diberikan oleh sumber-sumber manusia.

Laporan Pertama: Tidak Ada Dampak

Kendati penemuan PCIJ didokumentasikan dengan baik, meski menghebohkan dan sensasional, Coronel kesulitan menemukan outlet media yang akan menerbitkan laporan pertamanya tentang perusahaan-perusahaan Estrada. Sebagai organisasi berita yang independen dan nonprofit, PCIJ tidak memiliki outlet media selain situs web-nya sendiri (http://www.pcij.org) dan majalah ”I” yang terbit tiga bulan sekali. Karena didanai dengan hibah, PCIJ terutama bergantung pada surat kabar dan jaringan televisi untuk menyebarluaskan temuan-temuannya.

Sewaktu PCIJ memulai investigasinya, Presiden Estrada sangat populer dan menikmati apa yang disebut Coronel sebagai bulan madu yang canggung dengan media. Popularitas Estrada di negeri itu sebagai bintang film yang membintangi sekitar 300 judul film, telah menuntunnya ke panggung politik, pertama sebagai walikota, kemudian senator dan wakil presiden, dan sejak pertengahan 1998, jabatan sebagai presiden, yang ia menangkan dengan suara paling banyak dibanding presiden Filipina mana pun sebelumnya.

Sebagian berkat popularitasnya, ekspos media tentang kesalahan-kesalahan Estrada hampir tidak terlihat. Namun, gaya hidupnya dan banyaknya mansion yang ia miliki segera menjadi bahan pembicaraan kota, dan pada tahun 1999, PCIJ menyingkapkan bobroknya kabinet tengah malam presiden dalam majalah ”I”. Acara minum-minum dengan para menteri dan kroni sering berlangsung hingga pagi hari, membuat sang presiden mengantuk atau bahkan tertidur selama rapat pada hari berikutnya.

Kecuali jurnal-jurnal alternatif dan kelompok diskusi internet, kebanyakan media Filipina memilih untuk bersikap lembut atau bahkan mendukung presiden. ”Ada rasa takut umum untuk mengkritik presiden bahkan di antara media independen. Estrada memiliki kendali atas pers karena ia tidak ragu-ragu untuk mengintimidasi, menyuap atau mendisiplin media dengan cara-cara lain,” jelas Coronel dalam sebuah wawancara.

Selama tahun pertama Estrada menjabat sebagai presdiden, media menyaksikan apa yang bisa terjadi kalau mereka bersikap kritis terhadapnya. Pada tahun 1999, Estrada memaksa penjualan Manila Times yang independen dan bersemangat kepada salah seorang kroninya. Kemudian, ia melakukan boikot iklan yang melumpuhkan terhadap Philippine Daily Inquirer. Ia bahkan berupaya mengendalikan salah satu jaringan radio/televisi terbesar di negara itu dengan menikahkan salah seorang putrinya dengan putra si pemilik.

Coronel sendiri tidak takut terhadap kemarahan presiden. Ia telah menyelidiki korupsi politik di Filipina sejak tahun 1989 sewaktu ia dan ketujuh koleganya mendirikan PCIJ dengan beberapa ribu peso (beberapa ratus dollar AS), sebuah mesin ketik dan seorang staf yang digaji. Coronel, yang merupakan satu-satunya pekerja purnawaktu bersama anggota staf, tidak mendapat bayaran untuk pekerjaannya selama hampir satu tahun.

Pada periode setelah mendirikan PCIJ, para wartawan pusat mendokumentasikan sejumlah kesalahan selama masa pendahulu Estrada, Fidel Ramos, termasuk penjarahan dana kesehatan masyarakat, pinjaman sembunyi-sembunyi kepada kroni-kroni, jual-habis keadilan Mahkamah Agung, sejumlah urusan tanah yang berbau korupsi serta penipuan investasi senilai multimiliaran peso.

Berdasarkan pengalaman ini, Coronel tidak khawatir terhadap reaksi Estrada—selama PCIJ menyingkapkan hanya apa yang benar yang dapat didokumentasikan. Sebaliknya, ia mengkonfrontasi sektretaris pers Estrada dengan temuan-temuannya sebelum penerbitan kisah itu, yang dimulai dengan laporan pertama tentang 66 perusahaan presiden pada bulan Juli.

”Saya menelepon istana selama berminggu-minggu untuk mendapatkan sisi cerita dari pihak Estrada, tetapi mereka mengabaikan kami,” katanya. ”Satu-satunya keraguan kami adalah apakah laporan kami akan diterbitkan—apakah surat kabar cukup berani untuk mencetak berita itu. Kami benar-benar kesulitan mengupayakan agar beberapa artikel pertama itu diterbitkan.”

Coronel berhasil meyakinkan tujuh surat kabar kecil—Business World, Philippine Post, Sun Star Daily, Pinoy Times, Sun Star Cebu, Cebu Daily News, dan The Freeman—untuk menerbitkan secara gabungan laporan pusat jurnalisme yang pertama tentang aset tersembunyi Estrada yang berjudul ”The State of the President’s Finances: Can Estrada Explain His Wealth” (Keadaan Keuangan Presiden: Dapatkah Estrada Menjelaskan Kekayaannya). Laporan itu mencantumkan berbagai milik presiden dan menunjukkan ketidaksesuaian antara apa yang ia nyatakan dalam pernyataan asetnya dan surat pemberitahuan pajak pendapatannya dan apa yang ditunjukkan oleh catatan pemerintah. Ia benar-benar sangat menutupi kekayaannya yang sebenarnya dalam pernyataannya.

Berdasarkan riset catatan publik yang saksama dan wawancara dengan para saksi mata, laporan panjang yang terdiri dari dua bagian mendaftarkan 66 perusahaan yang di dalamnya Estrada serta anggota keluarganya tercantum sebagai anggota dewan dan pendiri—-perusahaan-perusahaan yang tidak disebutkan Estrada dalam pernyataan asetnya.

Karena adanya tekanan dari presiden—serta kebijakan editorial media yang berlaku saat itu—laporan PCIJ sangat tidak dihiraukan pada mulanya. ”Tidak ada satu pun jaringan TV yang berani menggunakan laporan pertama kami, dan tidak ada stasiun radio ataupun surat kabar yang menindaklanjuti laporan itu, kecuali menyampaikan reaksi pemerintah,” kata Coronel.

Laporan pertama PCIJ diterbitkan pada tanggal 24 Juli, hari ketika Estrada menyampaikan pidato tahunan di hadapan negeri itu. Ia tidak menyebut tuduhan PCIJ dalam pidatonya, tetapi ia menyorot permasalahan korupsi. Dengan lugas ia berkata, ”Dari pemberontakan, saya mengalihkan peperangan terhadap musuh yang lain: suap dan korupsi. Ini adalah janji saya. Ini akan saya penuhi.”

Pada hari-hari berikutnya, sewaktu ia menyerang balik laporan PCIJ, ia hanya menyatakan bahwa organisasi itu didirikan oleh para musuh yang berupaya menghancurkan reputasinya.

Laporan Kedua: Terobosan

Tidak adanya dampak tidaklah mengecilkan hati para wartawan PCIJ sehingga tidak melanjutkan investigasi mereka. Seraya mengikuti jejak real estat, mereka segera mengetahui bahwa mereka sedang menuju sesuatu yang signifikan. Temuan-temuan mereka mencakup mansion-mansion mewah untuk ibu, istri, dan para gundik presiden, yang dihiasi dengan gordin-gordin besar, kayu ukiran dan sebuah kolam renang dengan pasir asli dan gelombang buatan.

Seluruhnya, para wartawan pusat jurnalisme ini menemukan 17 real estat yang dimiliki Presiden dan berbagai anggota keluarganya sejak tahun 1998. Properti-properti ini diperkirakan bernilai total sekitar 2 miliar PHP (sekitar 40 juta dollar AS), kebanyakan didaftarkan atas nama perusahaan bayangan yang dibentuk oleh rekan-rekan dekat presiden.

Tim investigatif PCIJ juga mendokumentasikan bagaimana Estrada bukan hanya secara sistematis mencemooh sejumlah peraturan dan undang-undang bangunan, melainkan juga melanggar konstitusi dan undang-undang anti-suap dengan tidak keluar dari perusahaan bangunannya yang sukses.

Maka, pada tanggal 21-22 Agustus, PCIJ menghasilkan kisah menghebohkan tetapi nyata, ”The Estradas’ Three Dozen Houses: First Family’s Firm Flouts the Law” (”Tiga Lusin Rumah Milik Keluarga Estrada: Perusahaan Keluarga Nomor Satu Mencemooh Hukum”), yang diverifikasi melalui dokumentasi, wawancara dan foto yang brilian tentang estat mewah milik keluarga Estrada. Artikel itu menguraikan bagaimana perusahaan real estat presiden mencemooh peraturan pemerintah dalam membangun proyek perumahan di Antipolo.

Beberapa surat kabar menerbitkan kisah itu—Business World, Philippine Star dan Pinoy Times—dan kali ini pusat jurnalisme berhasil mengupayakan sehingga kisah itu ditayangkan di televisi dengan bantuan sebuah perusahaan produksi independen. Namun, hal ini tidak mudah. ”Berita ini disiarkan dalam sebuah show yang diproduksi oleh perusahaan untuk jaringan utama. Persis sebelumnya, para pemilik jaringan menelepon dan memerintahkan mereka untuk tidak menyiarkannya, karena mereka takut akan apa yang bisa terjadi atas mereka,” kata Coronel.

”Saat itu cukup sulit, dan terjadi debat panjang. Tetapi, meski ada permintaan dari jaringan itu, perusahaan tersebut tetap menyiarkan kisahnya. Bagi kami hal itu adalah suatu terobosan. Itulah pertama kalinya TV menayangkan sesuatu yang kritis terhadap Estrada.”

Beberapa hari kemudian, PCIJ meringkaskan beberapa kejanggalan dalam artikel ketiga, yang diterbitkan dalam majalah ”I” milik pusat jurnalis, ”Erap & Families”, yang menjelaskan kemewahan yang tidak bijaksana di pihak banyak keluarga Estrada dan mengajukan pertanyaan tentang bagaimana ia dapat menunjang begitu banyak rumah tangga dengan gaya hidup yang demikian hebat.

Ini suatu terobosan bagi PCIJ. Penyingkapan itu bergema di seluruh kepulauan dan sampai ke balai parlemen, di mana banyak politisi yang kini mulai muak melihat perilaku presiden. ”Itu kisah pelanggaran hukum dan konstitusi yang sangat gamblang,” jelas Sheila Coronel.

Berdasarkan laporan PCIJ dan tuduhan-tuduhan lainnya, sejumlah anggota kongres di Lower House mengajukan dakwaan terhadap Estrada, menuduhnya melakukan korupsi dan suap. Akan tetapi, mereka tidak dapat mengumpulkan cukup tanda tangan dari rekan-rekan anggota kongres untuk meneruskan tuduhan itu.

Kendati demikian, upaya itu tidak lain merupakan kemenangan bagi PCIJ. Ini adalah gerakan politik pertama untuk melengserkan sang presiden dari kuasa yang jelas-jelas ia salah gunakan. Sekarang bola itu telah bergulir, dan bola itu dilambungkan oleh para jurnalis investigatif PCIJ.

Untuk studi kasus ini, bab paling penting adalah Cara Mereka Melakukannya, yang akan kita bahas secara terperinci pada bab berikutnya.

Akan tetapi, bagi rakyat Filipina, hasil akhirnyalah yang paling penting: Sang presiden akhirnya didakwa, dilengserkan dan dipenjarakan, seperti diuraikan di Bab 3.

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: