Suara-suara dalam Transisi

Ari J Adipurwawidjana

Ketika saya membaca judul novel pertama Anita Kastubi, Ripta: Perjuangan Tentara Pecundang, terbuka bagi saya berbagai tafsiran, dan, karena itu, mengundang minat membacanya.

Namun sayang, suatu buku tidak hanya terbit dengan kata-kata dan cerita yang membangunnya, melainkan juga lahir ke dalam suatu sistem ekonomi politik penerbitan-atau meminjam istilah Benedict Anderson dalam bukunya yang tersohor, Imagined Communities, sebuah print capitalism-sehingga komunikasi pembaca dengan bukunya diperantarai (atau tepatnya dimakelari) dan dikontaminasi oleh peran industri penerbitan yang menggiring pemaknaan pembaca terhadap buku ke arah yang mungkin diharapkan pihak penerbit dan segala perangkat editorialnya.

Begitulah tampaknya yang terjadi pada novel Ripta. Judulnya yang menarik dan membuka peluang untuk beragam minat dan pandangan diarahkan dan dipersempit oleh serangkaian kutipan di sampul belakang dari para pakar dan selebriti dunia sastra dan budaya. Sepotong pernyataan dari Asvi Warman Adam dan Budi Susanto SJ memberi kesan bahwa yang menjadi inti novel itu adalah suatu usaha pembangunan wacana alternatif tentang tentara dalam kehidupan di Indonesia.

Di samping itu, ada kutipan Hersri Setiawan (mungkin untuk memberi nuansa revolusioner agar Ripta tampak hadir seiring dengan terbitan Galang Press lainnya) yang, dengan bahasa fasih berbunga susastra, sesungguhnya kurang jelas komentarnya karena kurang jelas pula rujukan materialnya.

Novel Ripta menyimpan tiga potensi penting, yaitu (1) pola naratif yang dibangun oleh tiga perawi atau juru kisah yang secara bergiliran menyampaikan riwayatnya-masing-masing terpisah namun bertautan secara tangensial; berkaitan dengan pola naratif ini, (2) wacana fragmenter, yang seiring dengan berjalannya cerita dan dibangunnya alur, membangun identitas masing-masing perawi; dan, karena adanya wacana fragmenter itu, (3) terpaparnya sebuah kritik atas identitas-identitas hibrid yang berada dalam relung keantaraan masa transisi dari budaya romantik-feodal ke wilayah modern.

Walaupun novel ini berjudul Ripta, yang artinya novel ini tentang dan berpusat pada tokoh Ripta (nama aslinya sebenarnya Suripto), kisahnya bukanlah milik Ripta saja melainkan juga milik dua perawi lainnya, yaitu Lasmini (istri Ripta) dan Hesti (anak perempuan Ripta). Lasmini bahkan mendapat peran penting, yaitu membuka rangkaian narasi dalam novel ini. Giliran kedua pun diperoleh Hesti, bukan Ripta, sehingga pada Bab 3 ketika Ripta mendapat kesempatan berbicara sebagai perawi, ia sekadar menjadi pelengkap bangun naratif yang sudah dirintis

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: