Daily Archives: 7 Februari 2010

Ibnu Taimiyah

Da’i dan Mujahid Besar

“Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut hawa nafsu.”1)

 

Qodhinya Para Qadhi Abdul Bar As-Subky.

Nama dan Nasab.

Beliau adalah imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H.

Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

 

Pertumbuhan dan Ghirahnya Kepada Ilmu.

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

 

Pujian Ulama.

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.”

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?”

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia …..” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

 

Da’i, Mujahid, Pembasmi Bid’ah dan Pemusnah Musuh.

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

 

Kehidupan Penjara.

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

“Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!! / Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku / Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku / dan tiada pernah tinggalkan aku. / Aku, terpenjaraku adalah khalwat / Kematianku adalah mati syahid / Terusirku dari negeriku adalah rekreasi. /

Beliau pernah berkata dalam penjara:

“Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

 

Wafatnya.

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selamaa dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da’i, mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau. ***

1) Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah-Dimasyq. hal. Depan.

Iklan

Al Imam an-Nawawi

Seorang ‘Alim Penasehat

 

Nasab Imam an-Nawawi.

Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad Dimasyqi asy-Syafi’i. Kata ‘an-Nawawi’ dinisbatkan kepada sebuah perkampungan yang bernama ‘Nawa’, salah satu perkampungan di Hauran, Syiria, tempat kelahiran beliau.

Beliau dianggap sebagai syaikh (soko guru) di dalam madzhab Syafi’i dan ahli fiqih terkenal pada zamannya.

 

Kelahiran dan Lingkungannya.

Beliau dilahirkan pada Bulan Muharram tahun 631 H di perkampungan ‘Nawa’ dari dua orang tua yang shalih. Ketika berusia 10 tahun, beliau sudah memulai hafal al-Qur’an dan membacakan kitab Fiqih pada sebagian ulama di sana. Proses pembelajaran ini di kalangan Ahli Hadits lebih dikenal dengan sebutan ‘al-Qira`ah’.

Suatu ketika, secara kebetulan seorang ulama bernama Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi melewati perkampungan tersebut dan menyaksikan banyak anak-anak yang memaksa ‘an-Nawawi kecil’ untuk bermain, namun dia tidak mau bahkan lari dari kejaran mereka dan menangis sembari membaca al-Qur’an. Syaikh ini kemudian mengantarkannya kepada ayahnya dan menasehati sang ayah agar mengarahkan anaknya tersebut untuk menuntut ilmu. Sang ayah setuju dengan nasehat ini.

Pada tahun 649 H, an-Nawawi, dengan diantar oleh sang ayah, tiba di Damaskus dalam rangka melanjutkan studinya di Madrasah Dar al-Hadits. Dia tinggal di al-Madrasah ar-Rawahiyyah yang menempel pada dinding masjid al-Umawy dari sebelah timur. Pada tahun 651 H, dia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, lalu pulang kembali ke Damaskus.

 

Pengalaman Intelektualnya.

Pada tahun 665 H saat baru berusia 34 tahun, beliau sudah menduduki posisi ‘Syaikh’ di Dar al-Hadits dan mengajar di sana. Tugas ini tetap dijalaninya hingga beliau wafat. Dari sisi pengalaman intelektualnya setelah bermukim di Damaskus terdapat tiga karakteristik yang sangat menonjol:

Pertama, kegigihan dan keseriusannya di dalam menuntut ilmu sejak kecil hingga menginjak remaja. Ilmu adalah segala-galanya bagi an-Nawawi sehingga dia merasakan kenikmatan yang tiada tara di dalamnya. Beliau amat serius ketika membaca dan menghafal. Beliau berhasil menghafal kitab ‘Tanbih al-Ghafilin’ dalam waktu empat bulan setengah. Sedangkan waktu yang tersisa lainnya dapat beliau gunakan untuk menghafal seperempat permasalahan ibadat dalam kitab ‘al-Muhadz-dzab’ karya asy-Syairazi. Dalam tempo yang relatif singkat itu pula, beliau telah berhasil membuat decak kagum sekaligus meraih kecintaan gurunya, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghriby, sehingga menjadikannya sebagai wakilnya di dalam halaqah pengajian yang dia pimpin bilamana berhalangan.

Kedua, keluasan ilmu dan wawasannya. Mengenai bagaimana beliau memanfaatkan waktu, seorang muridnya, ‘Ala`uddin bin al-‘Aththar bercerita, “Pertama beliau dapat membacakan 12 pelajaran setiap harinya kepada para Syaikhnya beserta syarah dan tashhihnya; kedua, pelajaran terhadap kitab ‘al-Wasith’, ketiga terhadap kitab ‘al-Muhadzdzab’, keempat terhadap kitab ‘al-Jam’u bayna ash-Shahihain’, kelima terhadap kitab ‘Shahih Muslim’, keenam terhadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Ibnu Jinny di dalam ilmu Nahwu, ketujuh terhadap kitab ‘Ishlah al-Manthiq’ karya Ibnu as-Sukait di dalam ilmu Linguistik (Bahasa), kedelapan di dalam ilmu Sharaf, kesembilan di dalam ilmu Ushul Fiqih, kesepuluh terkadang terhadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Abu Ishaq dan terkadang terhadap kitab ‘al-Muntakhab’ karya al-Fakhrur Razy, kesebelas di dalam ‘Asma’ ar-Rijal’, keduabelas di dalam Ushuluddin. Beliau selalu menulis syarah yang sulit dari setiap pelajaran tersebut dan menjelaskan kalimatnya serta meluruskan ejaannya”.

Ketiga, produktif di dalam menelorkan karya tulis. Beliau telah interes (berminat) terhadap dunia tulis-menulis dan menekuninya pada tahun 660 H saat baru berusia 30-an. Dalam karya-karya beliau tersebut akan didapati kemudahan di dalam mencernanya, keunggulan di dalam argumentasinya, kejelasan di dalam kerangka berfikirnya serta keobyektifannya di dalam memaparkan pendapat-pendapat Fuqaha‘. Buah karyanya tersebut hingga saat ini selalu menjadi bahan perhatian dan diskusi setiap Muslim serta selalu digunakan sebagai rujukan di hampir seluruh belantara Dunia Islam. Di antara karya-karya tulisnya tersebut adalah ‘Syarh Shahih Muslim’, ‘al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab’, ‘Riyadl ash-Shalihin’, ‘ al-Adzkar’, ‘Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat’ ‘al-Arba’in an-Nawawiyyah’, ‘Rawdlah ath-Thalibin’ dan ‘al-Minhaj fi al-Fiqh’.

 

Budi Pekerti dan Sifatnya.

Para pengarang buku-buku ‘biografi’ (Kutub at-Tarajim) sepakat, bahwa Imam an-Nawawi merupakan ujung tombak di dalam sikap hidup ‘zuhud’, teladan di dalam sifat wara’ serta tokoh tanpa tanding di dalam ‘menasehati para penguasa dan beramar ma’ruf nahi munkar’.

Zuhud. Beliau hidup bersahaja dan mengekang diri sekuat tenaga dari kungkungan hawa nafsu. Beliau mengurangi makan, sederhana di dalam berpakaian dan bahkan tidak sempat untuk menikah. Kenikmatan di dalam menuntut ilmu seakan membuat dirinya lupa dengan semua kenikmatan itu. Beliau seakan sudah mendapatkan gantinya.

Di antara indikatornya adalah ketika beliau pindah dari lingkungannya yang terbiasa dengan pola hidup ‘seadanya’ menuju kota Damaskus yang ‘serba ada’ dan penuh glamour. Perpindahan dari dua dunia yang amat kontras tersebut sama sekali tidak menjadikan dirinya tergoda dengan semua itu, bahkan sebaliknya semakin menghindarinya.

Wara’. Bila membaca riwayat hidupnya, maka akan banyak sekali dijumpai sifat seperti ini dari diri beliau. Sebagai contoh, misalnya, beliau mengambil sikap tidak mau memakan buah-buahan Damaskus karena merasa ada syubhat seputar kepemilikan tanah dan kebun-kebunnya di sana.

Contoh lainnya, ketika mengajar di Dar al-Hadits, beliau sebenarnya menerima gaji yang cukup besar, tetapi tidak sepeser pun diambilnya. Beliau justru mengumpulkannya dan menitipkannya pada kepala Madrasah. Setiap mendapatkan jatah tahunannya, beliau membeli sebidang tanah, kemudian mewakafkannya kepada Dar al-Hadits. Atau membeli beberapa buah buku kemudian mewakafkannya ke perpustakaan Madrasah. Beliau tidak pernah mau menerima hadiah atau pemberian, kecuali bila memang sangat memerlukannya sekali dan ini pun dengan syarat. Yaitu, orang yang membawanya haruslah sosok yang sudah beliau percayai diennya.

Beliau juga tidak mau menerima sesuatu, kecuali dari kedua orangtuanya atau kerabatnya. Ibunya selalu mengirimkan baju atau pakaian kepadanya. Demikian pula, ayahnya selalu mengirimkan makanan untuknya.

Ketika berada di al-Madrasah ar-Rawahiyyah, Damaskus, beliau hanya mau tidur di kamar yang disediakan untuknya saja di sana dan tidak mau diistimewakan atau diberikan fasilitas yang lebih dari itu.

Menasehati Penguasa dalam Rangka Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Pada masanya, banyak orang datang mengadu kepadanya dan meminta fatwa. Beliau pun dengan senang hati menyambut mereka dan berupaya seoptimal mungkin mencarikan solusi bagi permasalahan mereka, sebagaimana yang pernah terjadi dalam kasus penyegelan terhadap kebun-kebun di Syam.

Kisahnya, suatu ketika seorang sultan dan raja, bernama azh-Zhahir Bybres datang ke Damaskus. Beliau datang dari Mesir setelah memerangi tentara Tatar dan berhasil mengusir mereka. Saat itu, seorang wakil Baitul Mal mengadu kepadanya bahwa kebanyakan kebun-kebun di Syam masih milik negara. Pengaduan ini membuat sang raja langsung memerintahkan agar kebun-kebun tersebut dipagari dan disegel. Hanya orang yang mengklaim kepemilikannya di situ saja yang diperkenankan untuk menuntut haknya asalkan menunjukkan bukti, yaitu berupa sertifikat kepemilikan.

Akhirnya, para penduduk banyak yang mengadu kepada Imam an-Nawawi di Dar al-Hadits. Beliau pun menanggapinya dengan langsung menulis surat kepada sang raja. Sang Sultan gusar dengan keberaniannya ini yang dianggap sebagai sebuah kelancangan. Oleh karena itu, dengan serta merta dia memerintahkan bawahannya agar memotong gaji ulama ini dan memberhentikannya dari kedudukannya. Para bawahannya tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka dengan menyeletuk, “Sesungguhnya, ulama ini tidak memiliki gaji dan tidak pula kedudukan, paduka!!”.

Menyadari bahwa hanya dengan surat saja tidak mempan, maka Imam an-Nawawi langsung pergi sendiri menemui sang Sultan dan menasehatinya dengan ucapan yang keras dan pedas. Rupanya, sang Sultan ingin bertindak kasar terhadap diri beliau, namun Allah telah memalingkan hatinya dari hal itu, sehingga selamatlah Syaikh yang ikhlas ini. Akhirnya, sang Sultan membatalkan masalah penyegelan terhadap kebun-kebun tersebut, sehingga orang-orang terlepas dari bencananya dan merasa tentram kembali.

 

Wafatnya.

Pada tahun 676 H, Imam an-Nawawi kembali ke kampung halamannya, Nawa, setelah mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya dari badan urusan Waqaf di Damaskus. Di sana beliau sempat berziarah ke kuburan para syaikhnya. Beliau tidak lupa mendo’akan mereka atas jasa-jasa mereka sembari menangis. Setelah menziarahi kuburan ayahnya, beliau mengunjungi Baitul Maqdis dan kota al-Khalil, lalu pulang lagi ke ‘Nawa’.

Sepulangnya dari sanalah beliau jatuh sakit dan tak berapa lama dari itu, beliau dipanggil menghadap al-Khaliq pada tanggal 24 Rajab pada tahun itu. Di antara ulama yang ikut menyalatkannya adalah al-Qadly, ‘Izzuddin Muhammad bin ash-Sha`igh dan beberapa orang shahabatnya.

Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan menerima seluruh amal shalihnya. Amin.

(Diambil dari pengantar kitab Nuzhah al-Muttaqin Syarh Riyadl ash-Shalihin karya DR. Musthafa Sa’id al-Khin, et.ali, Jld. I, tentang biografi Imam an-Nawawiy).


[Kristologi] Fakta Seputar Perubahan Bible

Cuyut Kaka menulis pada 28 Oktober 2009

Salah satu prestasi paling penting para ulama Islam masa awal adalah pengembangan ajaran pada titik pandang yang luas, dalam mana masa lampau Yahudi dan Kristen telah mengkorupsi atau mengubah kitab suci mereka.

Pengubahan ini dilakukan tidak lama setelah kitab Taurat dan Injil yang sebenarnya (asli) diterima oleh Nabi Musa dan Nabi Isa secara berturut-turut. Hal ini memudahkan bagi umat Islam untuk menepis berbagai argumen dari umat Kristen yang didasarkan atas kitab Bibel.

Klaim bahwa ajaran Kristen ini telah dikorupsi atau “berubah”—tahrif—diketemukan di dalam Al-Qur’an. Ada empat ayat Al-Qur’an yang memakai kata yuharrifuna yang merupakan bentuk kata kerja dari kata tahrif sebagai masdarnya.

Pengujian ini menunjukkan bahwa keempat ayat itu tidak mengandung pengertian sebagai perubahan ajaran yang universal. Dalam terjemahan “mengubah” atau “mengganti” digunakan untuk mengalih bahasakan kata yuharrifuna itu.

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubah-nya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS.2:75).

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah (arti kata untuk menambah dan mengurangi) perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar tetapi kami tidak mau menurutinya.” Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah”, sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.” Dan (mereka mengatakan): “Ra’ina” (sudilah kamu memperhatikan kami) dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis” (QS.4:46).

“Tetapi karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dan tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan mereka kecuali sedikit yang tidak berkhianat, maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS.5:13).

“Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekufurannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan juga di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi) itu amat suka mendengarkan berita bohong dan amat suka mendengarkan perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepadamu, maka terimalah dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah.” (QS.5:41).

Frase yang samar-samar “mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya” dengan sengaja digunakan, sebab kata Arab mawadhi dapat berarti “tempat” atau “tujuan.” Akhir dari ayat-ayat di atas kemungkinan memberi preferensi yang agaknya menganggap rendah “tempat-tempat” sebagai suatu perubahan, karena secara literer “mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya”, dan ini dapat berarti “ke tempat-tempatnya (tujuan-tujuannya) pada keadaan-keadaannya.”

Akhir dari ayat-ayat di atas juga nyaris bermakna misterius dan tidak meyakini ketentuan “kesimpulan-kesimpulannya” yang diberikan pada komentar-komentar tersebut, namun arti ini tidak relevan digunakan di sini. Penting untuk dicatat bahwa perubahan ini adalah hal yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi Madinah yang sezaman dengan Nabi Muhammad dan kesan ini diberikan hingga apa yang mereka rubah itu hanyalah ayat-ayat (surat-surat) tertentu dan bukan Taurat yang sesungguhnya.

Manuskrip-manuskrip Bibel masih tetap ada sebelum Muhammad, namun secara absolut tidak dikatakan di dalam Al-Qur’an hingga di satu waktu seluruh kitab Bibel itu telah dirubah di masa lampau sebelumnya. Maka tidak ada kolusi yang dilakukan antara orang-orang Kristen dan orang-orang Yahudi yang terpenting dalam rangka mengubah kitab Perjanjian Lama.

Perlu juga dicatat bahwa contoh-contoh yang diberikan pada Al-Qur’an 4:46, bukan kutipan dari Bibel melainkan trik-trik verbal yang dimainkan oleh orang-orang Yahudi Madinah atas kaum muslimin.

Contoh pertama di atas itu adalah memperbaiki umat Islam dengan mempergunakan kesamaan pendengaran antara orang Yahudi “kami mendengar dan menuruti” (sami’u wa ‘ashinu) dan bahasa Arab menyebutkan sami’na wa ashayna.

Contoh kedua adalah tidak jelas dan cenderung menyimpang.

Contoh ketiga, Al-Qur’an rupanya hendak menyetop orang-orang Yahudi yang mengatakan: “perhatikanlah kami” (ra’ina), sebab menyerupai perjalanan orang Yahudi kepada “kejahatan” (ra’). Maka di sini jelas tidak ada yang menjelaskan perubahan terhadap kitab suci atau ajaran kitab suci.

Tuduhan lain dilakukan Al-Qur’an untuk menyerang orang-orang Yahudi Madinah karena mereka ini telah merubah teks Taurat pada saat mereka menceritakan ayat-ayat tersebut kepada umat Islam dengan “memutar-mutar lidah mereka.”

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, padahal dia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS.3:78).

“Mereka berkata telah menyalin ayat itu secara benar ketika menyebutkan salinan-salinan itu ternyata untuk menyalahkan: Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS.2:79).

Kemungkinan perubahan-perubahan itu dilakukan dalam penuturan dan salinan yang ditunjukkan pada saat Al-Qur’an menyatakan “membuat kesalahan terhadap Tuhan” pada sejumlah ayat-ayat.

Hal ini menjadi jumlah total materi Al-Qur’an yang relevan dengan persoalan pemalsuan kitab agama Yahudi dan kitab agama Kristen. Ini juga berarti tidak mendukung pandangan mereka yang secara ekstensif telah dirubah di masa lampau sebelum masa manuskrip-manuskrip kita. Bahkan ini hanya menjadi bentuk pandangan yang dapat dipercaya dalam cahaya evidensi manuskrip.

Sejauh tidak ada studi terinci dimana ajaran kitab suci yang diubah ini dielaborasi, maka segeralah sang komentator, Mujahid (meninggal tahun 721 Masehi), sebagaimana yang dikisahkan oleh Thabari, rupanya telah mengambil pandangan bahwa ayat-ayat yang menggunakan kata yusharifuna di atas secara implisit menyatakan perubahan umum terhadap kitab suci taurat.

Petunjuk awal lain yang dilaporkan oleh Catholicos Timothy dalam diskusi-diskusinya tentang Khalifah al Mahdi kira-kira tahun 781 Masehi. Khalifah al Mahdi mengatakan adanya perubahan umum terhadap kitab suci dan khususnya menjelaskan penghilangan ayat-ayat yang meramalkan akan datangnya Muhammad sebagai Nabi. Pernyataan ini secara implisit menjelaskan terjadinya perubahan teks kitab suci secara aktual.

Akhimya ada dua bentuk ajaran pokok dalam perubahan ini. Banyak ilmuwan mempertahankkan pendapat bahwa telah terjadi perubahan besar-besaran atas teks kitab suci. Suatu pandangan yang telah lama dijelaskan secara terinci dan dibela oleh Ibn Hazm (meninggal tahun 1064 Masehi). Kendatipun demikian, ilmuwan-ilmuwan lain mengambil pandangan yang lebih ringan dan berpegang dengan pendirian bahwa bukannya teks melainkan hanya penafsirannya yang telah diubah. Rupanya pandangan terakhir ini adalah pandangan yang diadopsi oleh al-Qasim Ibn Ibrahim (meninggal tahun 860 Masehi) dalam “Sanggahan Umat Kristen.”

Ada pula pandangan-pandangan yang bersifat tengah-tengah. Tidak adanya persetujuan terhadap apa yang tepat, dimaksudkan bukan oleh materi perubahan yang dilakukan. Agaknya cukup untuk mengatakan kepada seorang Kristen “kitab suci anda telah berubah dari aslinya atau palsu” dan itulah argumen yang disangkal.

 

Fungsi Persepsi yang Kurang Memadai

Dari berbagai ayat yang dikutip dan komentar-komentar yang dilakukan atas ayat-ayat tersebut, jelas bahwa bagi seorang modern persepsi Al-Qur’an terhadap Kristen itu secara serius kurang cukup kuat dan dalam beberapa hal malah boleh jadi salah atau keliru. Namun begitu, ada hal yang penting bahwa Kristen hari ini tidak perlu mengambil ini sebagai alasan untuk mengingkari bahwa Muhammad itu diberi petunjuk oleh Allah.

Apa yang menjadi penting adalah pertimbangan ulang tentang hakekat kenabian. Hal ini penting terutama sekali bagi umat Islam, karena menurut pandangan Islam tradisional Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan sulit untuk melihat betapa kesalahan-kesalahan yang terjadi itu dapat dikembalikan kepada Allah. Solusi terbaik dengan adanya problem ini bagi umat Islam yang berfikir dengan gaya tradisional itu kemungkinan hendak mengatakan bahwa Allah berfirman dalam terma-terma yang dipercayai di Madinah.

Menurut para ahli teologi Kristen terkemuka dewasa ini, nabi/rasul adalah seorang yang membawa pesan-pesan risalah dari Tuhan kepada umat manusia pada ruang dan waktu dimana ia hidup. Sejauh tentang persoalan-persoalan manusia universal yang terlibat pada ruang dan waktu yang khusus ini, pesan-pesan tersebut akan relevan dengan sedemikian banyak lingkungan manusia yang lebih luas.

Namun di tempat pertama nabi/rasul hidup ini, mereka adalah orang-orang yang sezaman langsung bagi tiap-tiap nabi. Isa sendiri berkata: “aku dikirim hanya untuk cara hidup yang sesaat dari Bani Israel” (Matius: 15: 24), akan tetapi setelah kebangkitannya kembali pengikut-pengikut Yesus itu segera dikatakan bahwa pesan-pesan Yesus ini adalah pekabaran yang baik bagi orang-orang yang bukan Yahudi (kafir), begitu pula merupakan pekabaran yang baik bagi orang-orang Yahudi. Meramalkan masa depan acapkali dipandang sebagai aspek ramalan, akan tetapi kebanyakan ramalan-ramalan kenabian itu terutama agaknya berada pada titik konsekuensi-konsekuensi sikap kekinian dengan jalan hukuman atau pahala. Masalah ini agaknya akan dibicarakan lebih lengkap lagi pada bab yang akan datang.

Agaknya Al Qur’an menyatakan relevansinya yang paling utama kepada bangsa Arab di masa Nabi. ***


[Kristologi] Jackz Michael: Yesus Bukan Tuhan

Seseorang bernama Jackz Michael menulis pada 13 November 2009.

Jackz mengaku sebagai seorang Nasrani, namun sama sekali tidak percaya jika Yesus adalah Tuhan. Jackz tetap pada keyakinannya bahwa Yesus hanyalah nabi/rasul, sama seperti nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya. Jackz memposting tulisan ini, sekadar untuk membantah pemahaman keliru kawan-kawannya. Paling tidak ini pendapat dari sisi Jackz Michael.

Posting berikut dimuat sesuai sejatinya. Saya hanya memperbaiki letak “huruf” yang keliru, dan “spasi” yang berlebih atau hilang. Tidak ada makna dan maksud yang berganti karena perbaikan tersebut. Berikut.

Jackz Michael menulis pada 13 November 2009

Untuk semuanya. Walau saya berkeyakinan dan beriman Nasrani tapi buat saya Yesus adalah nabi/rosul Allah. Sudah banyak buku yang saya baca.

Kristen itu ada sekitar 20.000 sekte/golongan? (Michael Keene, Agama-agama Dunia). Yang mana dalam setiap golongan itu terdapat banyak sekali perbedaan-perbedaannya & pertentangan-pertentangannya yang sering membuat mereka bertikai bahkan saling menyerang?

Sekte terbesar (dalam segi jumlah pemeluk) dalam Kristen adalah : Katolik Roma, Protestan, dan Ortodoks, yang masing-masingnya juga masih dibagi lagi dalam banyak sekte. Misalnya dalam Protestan pemeluk terbesarnya adalah sekte gereja Anglikan. Perbedaan-perbedaan yang ada antara kami juga sangat banyak, dari yang menyangkut tata cara ibadah sehari-hari sampai masalah konsep yang fundamental seperti masalah ketuhanan & kitab suci.

Misalnya dalam penentuan tanggal hari Natalpun kami juga berbeda, misalnya gereja Ortodoks Rusia merayakan natal pada tanggal 6 Januari, ada juga sekte yang berhari natal tanggal 1 Januari. Sementara aliran Katolik Roma & Protestan yang ada di Indonesia umumnya Natalan tanggal 25 Desember. Contoh lain yang juga mudah dilihat misalnya jumlah kitab dalam Bible Katolik (Duoy version) berbeda dengan Bible Protestan (banyak memakai King James version).

Katolik menganggap kitab Tobit s/d Makabe adalah termasuk firman Tuhan dan karenanya disertakan dalam Alkitab. Sedangkan Protestan tidak menggunakan kitab-kitab itu karena dianggap bukan firman Tuhan, dan karenanya kitab-kitab tersebut dikeluarkan dari Alkitab sewaktu revolusi Protestan dulu, dan hingga sekarang tidak dipakai lagi (saya tahu pasti hal ini karena saya juga punya beberapa versi Alkitab dalam bahasa Indonesia & Inggris).

Tahukah bahwa ada sekte-sekte Kristen yang tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan? Beberapa yang kami tahu ada sekte kristen Saksi Yehovah (The King of Pop, Michael Jackson menganut ini) yang sangat terkenal di Amerika, ada sekte Kristen Unitarian yang banyak di Timur Tengah & Eropa, dan bahkan di Indonesia ada Kristen Tauhid & Kristen Ibrahimik yang kami semua tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan!

Bahkan dalam sekte Kristen yang menuhankan Yesus seperti Katolik Roma & banyak sekte Protestan, sebenarnya juga banyak pemeluknya yang sesungguhnya tidak benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini terutama terlihat di negara-negara barat yang orang-orangnya lebih terbuka dalam mengemukakan pendapatnya. Ada banyak angket-angket tertutup yang membuktikan hal itu.

Kebanyakan dari kami umumnya memendam saja pertanyaan itu di hati karena takut dibilang kafir atau murtad kalau bertanya ke pendeta/pastur. Beberapa dari kami yang bertanya juga hanya dapat jawaban bahwa mereka cuma harus percaya karena iman, sebab dengan imanlah kami akan diselamatkan (inilah yang saya bilang beragama dengan doktrin, hanya harus percaya saja, tidak boleh berpikir, berpendapat, apalagi membantah!).

Banyak sekali buku-buku dari para ahli teologi yang mengulas tentang bagaimana kekristenan itu sebenarnya, termasuk menyatakan bahwa Yesus memang bukan Tuhan. Hal inilah yang kemudian memunculkan istilah “Yesus sejarah” dan “Yesus dalam iman” untuk dapat mengakomodir dua pendapat kami yang berlawanan itu. Di satu sisi, para ahli teologi, ahli sejarah kristen, dan kami yang mempelajari kekristenan, menyatakan kalau Yesus bukanlah Tuhan, dan kami berupaya menjelaskan sejarah kekristenan yang sebenarnya yang tidak pernah diberikan pada kami di gereja.

Mereka selain mempelajari Alkitab secara obyektif, mempelajari sejarah kristen, dan bagi tingkat-tingkat tertentu, mendapat akses membaca salinan naskah tertua kitab-kitab dalam Bible Kristen (yang tertua berasal dari abad ke 4, abad dimana berlangsung konsili Nicea yang penuh kontroversi itu).

Sedangkan di sisi lain, para pendeta, pastur, dan misionaris gereja mengajarkan kami di gereja bahwa Yesus itu adalah Tuhan, Yesus adalah putra Tuhan…, bahwa yang menulis Bible adalah para murid Yesus yang 12 itu…, bahwa tidak ada kitab-kitab lain selain yang tercantum dalam Bible…, bahwa kitab-kitab itu hanya ada satu versi yang sudah final dan tidak berubah sejak abad pertama…, bahwa tidak pernah ada pemaksaan keji oleh kerajaan & gereja terhadap orang untuk menganut agama kasih ini seperti yang terjadi saat peristiwa Inkuisisi di Eropa…, bahwa tidak pernah ada pembakaran hidup-hidup sekian banyak wanita dengan tuduhan tukang sihir oleh gereja tanpa diadili…, bahwa tidak pernah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang Islam & Yahudi di Yerussalem saat perang salib pertama yang penyerangannya dicetuskan oleh seorang Paus…, dan lain-lain, dan lain-lain… yang semua itu disebutkan berbeda dalam buku-buku resmi sejarah kristen yang juga dijual di toko-toko buku.

Jadi dalam ajaran kami, Kristen, istilah Yesus sejarah & Yesus dalam iman itu adalah untuk menunjukkan kalau sisi sejarah Yesus & kekristenan memang diakui seperti itu, tapi hanya dalam sejarah. Sedangkan dalam iman kami, artinya yang harus diimani, adalah Yesus dalam iman, yaitu segala sesuatu tentang Yesus & kekristenan yang sesuai ajaran gereja yang ironisnya bertentangan dengan Yesus sejarah. Walaupun kedengarannya sangat aneh, tapi hal ini adalah benar terjadi, dan banyak diulas di buku-buku Kristen. Anda bisa buktikan sendiri.

Sebagai sebuah contoh, kalau besok anda berkunjung ke toko buku Gramedia yang cukup besar dideretan buku laris mungkin akan anda temui buku best seller dari Bart D. Ehrman (kepala fakultas kajian agama di University of Carolina di Chapel Hill – Amerika Serikat) yang berjudul Misquoting Jesus, kesalahan penyalinan dalam kitab suci Perjanjian Baru, kisah siapa yang mengubah Alkitab dan apa alasannya (judul buku aslinya : Misquoting Jesus, The Story Behind Who Changed the Bible and Why). Saya juga melengkapi “perpustakaan” saya dengan buku itu.

Buku itu dibuka dengan kisah menyentuh dari si penulis dalam pertarungan batinnya saat melanjutkan kuliah kependetaannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan memasuki sebuah sekolah Evangelist terkenal di Amerika yaitu Wheaton College di Chicago yang adalah juga almamater dari Billy Graham, seorang penginjil terkenal dari Amerika. Konflik batin yang besar telah mengguncangnya saat menemui kenyataan yang sangat berbeda dengan apa yang selama ini ia terima di gereja & sekolah pendeta tentang kekristenan, dimana ia di sana mendapat akses untuk melihat naskah-naskah tertua (yang sebenarnya hanyalah salinan, sedang yang tulisan asli sudah tidak ada) yang sangat jauh berbeda dengan yang ia baca di Bible yang beredar sekarang ini, termasuk dalam topik ketuhanan Yesus. Di buku itu ia mengungkapkan semua yang ia ketahui yang kini telah mengubah semua persepsinya tentang kekristenan, khususnya berdasarkan sejarah penulisan kitab sucinya. Coba saja anda cari, sekitar 2 minggu yang lalu saya masih melihatnya di toko buku.

Jadi pada kami, umat Kristen ada banyak golongan yg mempunyai pandangan berbeda-beda tentang kekristenan, termasuk tentang ketuhanan Yesus. Saat Dan Brown diwawancarai & ditanya, sebagai orang kristen, kenapa anda menulis buku seperti itu yang banyak dikecam orang kristen lain? Ia menjawab bahwa ketika anda bertanya pada 3 orang kristen tentang apa arti kekristenan, maka anda akan mendapatkan 3 jawaban yang berbeda.

Sepertinya yang ia maksudkan adalah: sah-sah saja kalau ia punya pandangan demikian walaupun berbeda dari pandangan sekte-sekte besar, karena mungkin dalam sekte kristen yang ia anut (banyak yang mengira ia adalah seorang penganut sekte kristen Gnostik yang oleh sekte-sekte besar seperti Katolik Roma dianggap menyimpang) hal yang ia kemukakan dalam bukunya itu adalah bukan hal yang salah. Apalagi Brown menyatakan kalau sebelum menulis buku itu ia telah mengadakan serangkaian riset yang panjang dengan tim-nya & mengadakan perburuan data ke sumber-sumber yang otoritatif sehubungan dengan topik dalam bukunya itu.

Saya sepenuhnya bisa memahami Brown, sebab kami mengikuti ajaran yesus. Tidak merayakan natal, mayat dibungkus kain bersih.Yesus bukan tuhan, dll. []


Eksistensialis Tidak Sama dengan Atheis

Dalam debat dengan Bung Kevin.

Kevin memberi pemahaman penuh kepada peserta diskusi bahwa Atheisme sudah tumbuh dan berkembang sejak lama. Bahkan, eksistensialisme, mendukung pemikiran-pemikiran atheisme.

Saya sepenuhnya tidak sepakat ketika itu, maka lahirlah bantahan ini. Berikut.

Cogito ergo sum… ini ungkapan Descartes, seorang yang dianggap bapak eksistensialis. Cogito ergo sum… atau “aku berpikir maka aku ada” adalah angkapan yang dipetik oleh para etheis untuk menyatakan eksistensi mereka. Padahal, Descartes sendiri, tidak menyatakan hal ini untuk memberi para etheis sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi mereka.

Maka Descartes pun menolak olok-olok para filsuf eropa pada dirinya; “Descartes adalah sosok ambigu, sebelah kakinya berdiri pada kami kaum filsuf, sebelah kakinya yang lain berdiri bersama kaum atheis.”

Descartes pun menulis penolakan keras bahwa eksistensialis bukanlah atheisme. Descartes menulis; Eksistensialis adalah jawaban keberadaan seseorang setelah penciptaan. Sebuah bentuk penegasan bahwa dia ada karena berpikir. Sederhananya, seseorang baru dapat dianggap ada (eksis) jika berpikir, menggunakan otaknya (berpikir = hidup), sedang para atheis bertolak belakang dengan asumsi ini.

Demikian, Descartes menjawab olok-olok terhadap dirinya. Para Atheis, menurutnya, tidak dapat mewakili maksud eksistensialis. Kaum atheis adalah kaum yang malas berfikir, sehingga bisa dianggap tidak eksis. Kaum yang selalu bertanya-tanya tentang keberadaannya, bertanya tentang keberadaan adanya faktor X dibalik keberadaannya, kaum yang selalu bertanya siapa mereka, kaum yang selau bertanya alasan apa dibalik penciptaan manusia. Bagaimana kaum ini bisa mewakili eksistensialisme, jika saat disodori hal-hal yang bersifat eksistensial, mereka mendebat dengan pertanyaan-pertanyaan dasar…

@kawan-kawan…(Khususnya Bung Kevin)

Bagaimana bisa seseorang yang mengaku PhD. (seperti Anda) menanyakan hal-hal dasar yang seharusnya telah dipecahkannya, difikirkannya. Seseorang yang seharusnya berpikir linear dengan jutaan referensi, tanpa menutup diri dari referensi-referensi dasar yang telah ada. Jika Descartes saja dengan lantang menolak upaya para Atheis bersembunyi dibalik pesan Eksistensialis, dengan menganggap para atheis tidak ada (alias tidak eksis) kenapa pula masih ada orang (diantara kita) yang mau mendengarkan pertanyaan-pertanyaan sesuatu yang tidak eksis. Bukankah orang yang “tidak berfikir” equal dengan “tidak eksis” equal dengan “mati”?

Je pense donc je suis…” aku berpikir maka aku ada, kata Descartes.

Tragedi terhebat dalam hidup ini adalah kematian di dalam diri seseorang yang sesungguhnya masih hidup.” quote by Donald Robert.

“Bila bertemu seorang atheis, dan dia mendebat keyakinanmu, ingatlah satu hal; bahwa di tempat lain ada banyak orang yang sudah bosan mendengar ocehannya.” quote by F.S.Shulda.


%d blogger menyukai ini: