Runtuhnya Modal Sosial

Oleh Sukowaluyo Mintorahardjo

 

Modal sosial (social capital) merupakan hal yang paling utama dalam mencapai kesejahteraan sosial, jauh lebih utama daripada modal-modal yang lain seperti modal finansial dan modal sumber daya alam.

Indonesia saat ini mengalami masalah yang cukup berat dalam hal ketersediaan modal sosial untuk membangun masyarakat yang sejahtera. Tanpa modal sosial yang kuat, Visi Indonesia 2030 yang disusun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sulit diwujudkan.

Modal sosial kita sudah runtuh seiring dengan berkuasanya Orde Baru, dan semakin hancur dalam dekade sesudahnya. Solidaritas dan kepercayaan antar anggota dan kelompok masyarakat semakin menipis. Bahkan solidaritas dan kepercayaan dalam kelompok pun sudah menurun drastis.

Kasus pembunuhan dan bunuh diri dalam satu keluarga karena kemiskinan yang terjadi belakangan ini, baik di Jakarta maupun di daerah menunjukkan semakin menipisnya kepedulian sosial antar warga masyarakat.

Kemiskinan kini dianggap kewajiban pemerintah dan bukan tanggungjawab masyarakat.

Sementara di lain pihak, pemerintah tidak memiliki komitmen yang kuat untuk menyejahterakan rakyatnya. Pemerintah juga hampir tidak memiliki keinginan untuk sekadar mengetahui kondisi masyarakat yang semakin miskin.

Bahkan dalam Pidato Presiden pada 2006, angka kemiskinan diperkecil menjadi hanya 39,05 juta atau 17,75% dari total 222 juta penduduk. Angka yang diperkecil ini dikritik banyak pihak. Saya melihatnya sebagai bentuk tiadanya solidaritas pemerintah terhadap rakyat miskin. Bank Dunia lebih memperhatikan rakyat kita, mereka mengemukakan ada sekitar 109 juta (49%) rakyat Indonesia (2006) yang jatuh dalam kubangan kemiskinan.

Konsep modal sosial diperkenalkan Robert Putnam (1993: The Prosperous Community Social Capital and Public Life) sewaktu meneliti Italia pada 1985. Masyarakatnya, terutama di Italia Utara, memiliki kesadaran politik yang sangat tinggi karena tiap indvidu punya minat besar untuk terlibat dalam masalah publik.

Hubungan antar masyarakat lebih bersifat horizontal karena semua masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Sebaliknya, Putnam menemukan kecenderungan runtuhnya jalinan sosial masyarakat Amerika Serikat (AS). Adanya televisi memberikan kontribusi bagi terciptanya couch potato syndrome. Kebiasaan orang AS nongkrong di depan layar televisi berjam-jam sebagai cerminan hidup yang sangat individualistik.

Menurut Putnam, modal sosial adalah kemampuan warga untuk mengatasi masalah publik dalam iklim demokratis. Schaft dan Brown (2002) mengatakan modal sosial adalah norma dan jaringan yang melancarkan interaksi. ***

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: