Perpustakaan

Sejarah Perpustakaan

Perkembangan perpustakaan tidak lepas dari sejarah manusia, karena perpustakaan merupakan produk manusia. Dalam sejarahnya, manusia mula mengembara ke berbagai tempat. Kehidupan ini disebut kehidupan nomaden Pada perkembangan berikutnya manusia mulai menetap dengan mata pencaharian utama yakni bertani. Dalam kehidupan mengembara dan bertani, manusia memperoleh pengalaman bahwa bila dia memberi tanda pada sebuah batu, pohon, papan, lempengan serta benda lainnya, ternyata manusia dapat menyampaikan berita ke manusia lainnya.

Pesan ini dipahatkan pada batu atau pohon atau benda lainnya, manusia mulai berkomunikasi dengan kelompok lain melalui bahasa tulisan. Bila kegiatan memberi tanda tersebut berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya, maupun dari suku ke suku lainnya, maka banyak dugaan perpustakaan dalam bentuknya yang sangat sederhana sudah dikenal ketika manusia mulai melakukan kegiatan penulisan ke berbagai benda. Benda itu dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya ataupun dapat dibaca suku lain. Walaupun demikian, kita tidak pernah mengtahui kapan perpustakaan pertama kali berdiri.

 

Sumeria dan Babylonia

Perpustakaan sedah dikenal sejak 3.000 tahun yang lalu. Penggalian di bekas kerajaan Sumeria menunjukkan bahwa bangsa Sumeria sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi, telah menyalin rekening, jadwal kegiatan, pengetahuan yang mereka peroleh dalam bentuk lempeng tanah liat (clay tablets). Tulisan yang dipergunakan masih berupa gambar (pictograph), kemudian ke aksara Sumeria. Kebudayaan Sumeria termasuk kepercayaan, praktek keagamaan, dan tulisan Sumeria, kemudian diserap oleh Babylonia yang menaklukkan Sumeria.

Tulisan Sumeria kemudian diubah menjadi tulisan paku (cuneiform) karena mirip paku. Semasa pemerintahan Raja Ashurbanipal dan Assyria (sekitar tahun 668-626 Sebelum Masehi) didirikan perpustakaan kerajaan di ibukota Niniveh, berisi puluhan ribu lempeng tanah liat yang dikumpulkan dari segala penjuru kerajaan. Untuk mencatat koleksi digunakan sistem subjek serta tanda pengenal pada tempat penyimpanan. Banyak dugaan bawa perpustakaan ini terbuka bagi kawula kerajaan.

 

Mesir

Pada masa yang hampir bersamaan, peradaban Mesir Kuno pun berkembang. Teks tertulis paling awal yang ada di Perpustakaan Mesir berasal dari sekitar tahun 40.000 SM, namun gaya tulisannya berbeda dengan tulisan Sumeria. Orang Mesir menggunakan tulisan yang disebut hieroglyph. Tujuan hieroglyph ialah memahatkan pesan terakhir di monumen karena tulisan dimaksudkan untuk mengagungkan raja sedangkan tulisan yang ada di tembok dan monumen dimaksudkan untuk memberi kesan kepada dunia.

Perpustakaan Mesir bertambah maju berkat penemuan penggunaan rumput papyrus sekitar tahun 1.200 SM. Untuk membuat lembar papyrus maka isi batang papyrus dipotong menjadi lembaran tipis, kemudian dibentangkan satu demi satu dan tumpuk demi tumpuk. Kedua lapisannya kemudian direkatkan dengan lem, ditekan, diratakan, dan dipukul sehingga permukaannya rata. Dengan demikian, permukaan lembaran papyrus dapat digunakan sebagai bahan tulis, sedangkan alat tulisnya berupa pena sapu dan tinta.

Umumnya tulisan hierolgyph hanya dipahami oleh pendeta karena itu papyrus banyak ditemukan di kuil-kuil berisi pengumuman resmi, tulisan keagamaan, filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Pengembangan Perpustakaan Mesir terjadi semasa Raja Khufu, Khafre, dan Ramses II sekitar tahun 1.250 SM. Perpustakaan Raja Ramses II memiliki sekitar 20.000 buku.

 

Yunani

Peradaban Yunani mengenal tulisan Mycena sekitar tahun 1.500 SM, kemudian tulisan tersebut lenyap. Sebagai penggantinya, orang Yunani menggunakan 22 aksara temuan orang Phonicia, kemudian dikembangkan 26 aksara seperti yang kita kenal dewasa ini. Yunani mulai mengenal perpustakaan milik Peistratus (dari Athena) dan Polyerratus (dari Samos) sekitar abad ke-6 SM dan ke-7 SM.

Perpustakaan berkembang pula semasa kejayaan Yunani dibawah pimpinan Pericles sekitar abad ke-5 SM. Pada saat itu, membaca merupakan pengisi waktu senggang serta merupakan awal dimulainya perdagangan buku. Filosof Aristoteles dianggap sebagai orang pertama kali yang mengumpulkan, menyimpan, dan memanfaatkan budaya masa lalu. Koleksi Aristotels kelak dibawa ke Roma.

Perkembangan perpustakaan zaman kuno Yunani mencapai puncaknya semasa Abad Hellenisme, yang ditandai dengan penyebaran ajaran dan kebudayaan Yunani. Ini terjadi berkat penaklukan Alexander Agung beserta penggantinya, pembentukan kota baru Yunani. Dan pengembangan pemerintahan Monarchi.

Perpustakaan utama terletak di Kota Alexandria, Mesir, dan Kota Pergamum, di Asia Kecil. Di Kota Alexandria berdirilah sebuah museum, salah satu bagian utamanya ialah perpustakaan dengan tujuan mengumpulkan teks Yunani dan manuskrip segala bahasa dari semua penjuru. Berkat usahan Demetrius dari Phalerum, perpustakaan Alexandria berkembang pesat sehingga memiliki 200.000 gulungan papyrus hingga nantinya mencapai 700.000 gulungan pada abad pertama SM.

Perpustakaan kedua disebut Serapeum, memiliki 42.800 gulungan terpilih, kelak berkembang hingga 100.000 gulungan. Semua gulungan papyrus ini disunting, disusun, menurut bentuknya, dan diberi catatan untuk disusun menjadi sebuah bibliografi sastra Yunani berjumlah 120 jilid.

Di Asia Kecil, Kota Pergamum, seperti halnya Alexandria berkembang menjadi pusat belajar serta kegiatan sastra. Pada abad ke-2 SM, Eumenes II mendirikan sebuah perpustakaan serta mulai mengumpulkan semua manuskrip, bahkan bila perlu membuat salinan manuskrip lain. Untuk menyalin ini digunakan sejumlah besar papyrus yang diimpor dari Mesir. Karena khawatir persediaan papyrus di Mesir akan habis serta rasa iri akan pesaingnya, maka raja Mesir menghentikan ekspor papyrus ke Pergamum. Akibatnya, perpustakaan Pergamum harus mencari bahan tulis lain kecuali papyrus. Maka dikembangkanlah bahan tulis baru yang disebut perchamen (baca; perkamen) artinya kulit binatang, terutama biri-biri atau anak lembu.

Sebenarnya bahan tulis ini sudah lama dikenal Yunani, namun karena harganya lebih mahal dari papyrus maka bahan itulah yang digunakan. Parchmen dikembangkan sehingga akhirnya menggantikan papyrus sebagai bahan tulis hingga penemuan mesin cetak pada abad menengah. Koleksi perpustakaan Pergamum mencapai 100.000 gulungan. Dalam perkembangannya, koleksi perpustakaan Pergamum nantinya diserahkan ke Perpustakaan Alexandria sehingga Perpustakaan Alexandria menjadi Perpustakaan terbesar pada zamannya.

 

Roma

Yunani mempengaruhi kehidupan budaya dan intelektual Roma. Ini terbukti bahwa banyak orang Roma mempelajari sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan Yunani, bahkan juga bertutur bahasa Yunani. Perpustakaan pribadi mulai tumbuh karena perwira tinggi banyak yang membawa rampasan perang termasuk buku. Julius Caesar bahkan memerintahkan agar perpustakaan terbuka untuk umum. Perpustakaan kemudian tersebar ke seluruh bagian kerajaan Roma. Pada masa ini diganti dengan codec, yang merupakan kumpulan parchmen, diikat serta dijilid menjadi satu seperti buku yang kita kenal dewasa ini. Codec mulai digunakan secara besar-besaran pada abad ke-4.

Perpustakaan mengalami kemunduran tatkala kerajaan Roma mulai mengalami mundur pula. Akhirnya, yang tinggal hanyalah Perpustakaan Biara, yang lain umumnya lenyap akibat serangan orang-orang barbar.

 

Byzantium

Kaisar Konstantin Agung menjadi Raja Kerajaan Roma Barat dan Timur pada tahun 324 M. Ia memilih ibukota di Byzantium, kemudian diubah menjadi Konstantinopel. Ia mendirikan perpustakaan kerajaan serta menekankan karya Latin karena bahasa Latin merupakan bahasa resmi hingga abad ke-6. Koleksi ini nanti ditambah dengan karya orang Kristen dan non-Kristen, baik dalam bahasa Yunani maupun Latin.

Koleksinya tercatat hingga 120.000 buku. Pada waktu itu gereja merupakan pranata kerajaan paling penting. Karena adanya ketentuan bahwa seorang uskup harus memiliki sebuah perpustakaan, maka perpustakaan gereja berkembang. Kerajaan Byzantium kaya, berpenduduk padat, secara kultural, intelektual dan politiknya cukup matang yang diperkaya oleh ajaran Yunani dan Timur serta dipengaruhi tradisi Roma dalam pemerintahan.

Kerajaan ini bertahan hingga abad ke-15. Antara pertengahan abad ke tujuh hingga pertengahan abad ke-9 terjadi kontoversi mengenai ikonoklasme yaitu penggambaran Yesus dan orang kudus lainnya pada benda. Akibat larangan ini banyak biara ditutup, hartanya disita. Akibatnya lagi, biarawan Yunani mengungsi ke Italia. Selama periode ini, hiasan manuskrip dengan menggunakan huruf rias, gulungan maupun miniatur tidak digunakan dalam karya keagamaan maupun Bibel. Setelah kontroversi berakhir, minat terhadap karya Yunani kuno berkembang lagi.

Selama 300 tahun karya Yunani disalin, ditulis kembali, diberi komentar, dibuatkan ringkasan sastra Yunani, bahkan juga dikembangkan ensiklopedia dan leksikon mengenai Yunani.

 

Arabia

Agama Islam muncul pada abad ke-7. Islam kemudian mulai menyebar ke daerah sekitar Arab. Dengan cepat pasukan Islam menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika, serta menyeberang ke Spanyol. Orang Arab berhasil dalam bidang perpustakaan dan berjasa besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan matematika ke Eropa.

Dalam Abad ke-8 dan ke-9, tatkala Konstantinopel mengalami kemandegan dalam hal karya sekuler, maka Bagdad berkembang sebagai pusat kajian karya Yunani. Ilmuwan Muslim mulai memahami pikiran Aristoteles. Ilmuwan Muslim mengkaji dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab; kadang-kadang dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic.

Puncak kejayaan terjemahan ini terjadi semasa pemerintahan Kalifah Abbasid Al-Mamun, yang mendirikan Rumah Kebijakan pada tahun 810 M, sebuah lembaga studi yang menggabungkan unsur perpustakaan, akademi, dan biro terjemahan. Selama abad ke-8, ilmu alam, matematika, dan kedokteran benar-benar dipelajari. Karya Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan Galen diterjamahkan ke dalam bahasa Arab, termasuk pula penelitian asli dalam bidang astrologi, alkhemi (kimia), dan magis.

Dalam penaklukan ke timur, orang Arab berhasil mengetahui cara pembuatan kertas dari orang Cina; pada abad ke-8 di Bagdad telah berdiri pabrik kertas. Teknik pembuatan kertas selama hampir lima adab dikuasai orang Arab. Karena harganya murah, banyak, serta mudah ditulis maka produksi buku melonjak dan Perpustakaan pun berkembang. Tercatat perpustakaan mesjid dan lembaga pendidikan. Perpustakaan kota Shiraz memiliki catalog, disusun menurut tempat serta dikelola oleh staf perpustakaan. Pada abad ke-11, Perpustakaan Kairo memiliki sekitar 150.000 buku.

Di Spanyol, orang Arab mendirikan Perpustakaan Cordoba yang memiliki 400.000 buku. Di Perpustakaan Cordoba, Toledo, dan Seville karya klasik diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Syriac. Ketika Spanyol direbut tentara Kristen, ribuan karya klasik ini diketemukan, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin kemudian disebar ke seluruh Eropa.

 

Renaissance

Jaman Renaissance dimulai pada abad ke-14 di Eropa Barat. Secara tidak langsung. Renaissance tumbuh akibat pengungsian ilmuwan Byzantine dari Konstantinope. Mereka lari karena ancaman pasukan Ottoman dari Turki. Sambil mengungsi, ilmuwan ini membawa juga manuskrip penulis kuno. Ilmuwan Italia menyambut kedatangan ilmuwan Byzantine ini serta mendorong pengembangan kajian Yunani dan Latin. Karya ini kemudian tersebar ke Eropa Utara dan Barat, sebagian diantarnya disimpan di Perpustakaan biara maupun universitas yang mulai tumbuh. ***

(Anang & dari berbagai sumber)

 

Artikel Terkait :

Bibliotheca Alexandrina Egypt; Perpustakaan Pertama di Dunia.

Perpustakaan Alexandria Lama.

Perputakaan Digital Dunia.

Sejarah Perpustakaan di Indonesia.

Perpustakaan Nasional dan Asosiasi Pustakawan di Indonesia Dilihat Dari Segi Sejarah.

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

2 responses to “Perpustakaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: