Bandit, Bandot, dan Badut

Oleh  Ilham Q. Moehiddin | Ditulis 17 Nopember 2009

Perkembangan kasus “gado-gado” yang saat ini sedang mempermalukan muka hukum Indonesia, makin menarik sekaligus memuakkan. Sepertinya drama satu babak ini akan berakhir dramatis: tidak ada tersangka, tidak ada si penyuap, tidak ada yang disuap, dan semua senang.

Asumsi terhadap drama yang akan berakhir seperti ini, tercermin dari pernyataan Tim Delapan yang membuahkan tiga rekomendasi, yang tanpa disebut pun, ketiganya mengarah pada vatsun penghentian penyelidikan.

Ada yang lega? Terang saja ada. Para oknum penerima suap dan penyuap, leganya bukan alang-kepalang. Dalam tayangan tvOne, Chandra dan Bibit, wajah keduanya terlihat seperti baru saja melepas beban. Lalu bagaimana kabar Susno Duadji, Abd Hakim Ritonga, Wisnu Broto, Ari Muladi, Anggoro, dan Anggodo? Sampai tulisan ini selesai dibuat, belum jelas. Sebab sejak rekomendasi Tim Delapan dirilis, nama-nama yang saya sebutkan ini belum ‘nongol’ di media mana pun, tiada secuil pernyataan. Saya pasti mengira, orang-orang ini selega Bibit dan Chandra. Semua senang.

Dimana-mana, jika ada bandit yang lepas, yang resah tentu polisi-nya. Tapi sikap reaksioner polisi menerima pernyataan Tim Delapan tidak terlihat, justru keresahan ini jelas nampak pada Kejaksaan Agung dan Komisi III DPR-RI.

Jaksa Agung, Hendarman Supanji langsung menyitir dengan pernyataan akan meneruskan perkara, sebab menurut dia—sekaligus lembaganya—kasus ini bergelimang bukti. Jika bisa, untuk meminimalisasi dampak “kerusakan nama lembaga” akibat kasus ini, jaring mereka siap-siap di lempar ke Bibit-Chandra.

Nyaris senada, Benny K Harman, Ketua Komisi III DPR-RI mencela Tim Pencari Fakta (Tim Delapan) bentukan presiden, yang diketuai tokoh Ahmadiyah, Adnan Buyung Nasution ini, yang dinilai Benny tidak bekerja ala biasanya TPF bekerja di seluruh dunia.

Menurut Benny, Tim Delapan tidak bekerja secara vatsun. “Tim 8 seharusnya bekerja secara diam-diam, seperti layaknya TPF bekerja di seluruh dunia. Seharusnya, apapun yang ditemukan oleh tim ini, diumumkan (atau tidak) oleh orang yang membentuknya, bukan oleh tim itu sendiri,” demikian Benny.

Beginilah, jika menepuk air di dulang terpercik ke muka sendiri. Setelah ketahuan salah, semuanya mendadak berlagak jadi hero. Tim Delapan yang sedari awal pembentukkannya sudah “lebay” alias berlebih-lebihan, sehingga membuat gerah Komisi III DPR-RI, yang langsung pula secara maraton mengagendakan rapat kerja dengan ketiga institusi hukum ini. Komisi ini pun rupanya, berharap dilihat sebagai hero oleh rakyat ditengah carut-marut perkara ini.

Seperti tidak mau kalah dengan Mahkamah Konstitusi yang “berhasil” meminta rekaman penyadapan diputar dan dinikmati khalayak, Komisi III DPR-RI pun berusaha keras memanggil dan berhasil mendatangkan, sebut saja; Susno Duadji (ketika itu hadir dalam rombongan Kapolri), lalu Abd Hakim Ritonga (yang juga datang bersama Kajagung).

Dalam pertemuan ini, kendati berhadapan dengan institusi yang secara moral “tidak santun”, rupanya Komisi III DPR-RI juga melupakan kesantunan. Bergiliran para anggota komisi, seperti berlomba, mencecar, bahkan ada yang menghujat ketidakberesan kinerja lembaga-lembaga negara yang sedang duduk di depan mereka. Mungkin karena ingin numpang tenar dihadapan rakyat dalam kasus yang menyita perhatian ini, beberapa anggota komisi yang berasal dari partai Islam, luput menyimak narasi sumpah Susno Duadji, yang belepotan dan tidak pakem.

Susno bersumpah di hadapan jutaan penonton tanpa menyebut nash sumpah dengan benar, dan parahnya, ini tidak diinterupsi oleh para anggota komisi yang berbasis partai Islam. Apa dengan sumpah model begitu, lantas semua orang yang berada dalam ruangan itu berharap rakyat Indonesia percaya begitu saja dengan “ludruk” yang pentas sampai pagi itu. Huh, dasar badut.

Jika pun Susno berhasil bersumpah dengan menyebut nash dengan benar, maka seharusnya narasi sumpahnya tidak begini, “Demi Allah, saya tidak menerima 10 milyar dari siapapun”. Konyol.

Kenapa Susno tidak bersumpah dengan nash dan akad sumpah yang benar dan dengan isi sumpah yang seperti ini, “Demi Allah, jika benar saya menerima suap barang sepeserpun dan dari siapapun, maka saya siap menerima azab apapun dari Allah SWT”. Tentu saja, Susno tidak akan berani.

Ada lagi ulah Komisi III DPR-RI ini yang dinilai aneh. Ketika menggelar rapat kerja dengan KPK (termasuk Bibit dan Chandra), Komisi III tidak mengadakannya dalam bentuk terbuka seperti dua lembaga negara lain, Polri dan Kejagung. Ada apa? Sama seperti Anda, saya pun bertanya demikian.

Adakah dalam rapat tersebut ada pernyataan yang harus dilindungi sehingga para jurnalis tidak boleh tahu. Apakah dengan aksi teatrikal ini, kita boleh mengira bahwa Bibit dan Chandra memang oknum penerima suap dalam tubuh KPK? Lalu apa kesimpulan komisi? Apakah dengan realitas yang kita saksikan sekarang adalah manifestasi kesimpulan komisi; Demi kredibiltas negara dan pemerintah serta presiden, sebaiknya Bibit-Chandra ‘tidak dipersoalkan’.

Jika hukum diberlakukan terhadap mereka atas tindakannya yang berkenaan dengan kredibilitas institusi negara, maka dikhawatirkan keduanya akan buka mulut, sehinga akan menyeret dan merusak beberapa institusi negara lainnya. Dampaknya bukan saja akan menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah yang legitimate, bahkan akan lebih jauh membuka kebobrokan sumberdaya manusia dalam lembaga-lembaga ini sehingga jelaslah terpampang di hadapan rakyat bahwa selama ini reformasi yang dijalankan hanya bualan semata. Huh, dasar bandit.

Drama ini makin jelas ending-nya. Ending yang aneh, mengejutkan, membuat kepercayaan hilang, dan makin membuka mata bahwa mafia peradilan sudah seperti kanker pada stadium akhir. Bayangkan saja, kanker korupsi ini sudah berhasil menggerogoti bagian vital tubuh negara.

Diagnosanya terlambat? Oh, tidak sama sekali. Sejak dahulu, Indonesian Coruption Watch dan Transparacy International sudah membenarkan bahwa kanker korupsi memang ada dan siap-siap menyerang area vital negara.

Obatnya tidak tepat? Oh, obatnya (KPK) sudah tepat. Hanya saja, dosis obatnya masing kurang dan kuat, hingga kankernya resistant, dan malah mengerogoti obatnya.

Apa tindakan medisnya? Satu-satunya cara adalah pembedahan besar (major surgery) dan transplantasi terhadap organ vital negara yang sudah terjangkit, organ lama diangkat lalu diganti organ baru. Organ penggantinya bisa saja berupa organ hasil donor (model penanganan hukum dari negara lain).

Setelah operasi apakah hasilnya akan baik? Yah…berharap saja semoga demikian. Sebab, cuma harapan yang tersisa dari bangsa ini.

Jadi tidak perlu ditanyakan lagi kenapa kasusnya seperti ini. Sebab lingkaran kasusnya sudah terbentuk sempurna, ujung yang satunya sudah berhasil mengait ujung lainnya, hingga sukar untuk dilepas. Apapun usaha, dan dari siapapun yang berusaha untuk memutus lingkaran ini akan berhadapan dengan tiga institusi besar hukum negara, termasuk DPR-RI, sejumlah departemen dan kementrian.

Coba saja simak grand scenario-nya: Jika Anggodo Widjojo bicara lebih banyak lagi, maka Susno Duadji (Polri), Abd Hakim Ritonga (Kejagung), Bibit-Chandra (KPK) akan terseret makin dalam di kubangan kasus Masaro. Jika Susno Duadji yang bicara, semua elemen lembaga hukum negara yang terlibat akan ikut jatuh. Demikian pula jika Abd Hakim Ritonga, atau Bibit dan Chandra yang bicara, maka mata rantai yang sudah disambung untuk menutup kemungkinan pihak lain masuk, mengait, dan membuka kebenarannya, tidak ada sama sekali.

Yulianto? Siapa lagi ini? Menurut Anggodo, ini karakter fiktif. Menurut polisi, orang ini real dan sedang dicari. Menurut Bibit-Chandra, karakter ini tidak mereka kenal dan tidak pernah menemui mereka.

Tetapi menurut saya, karakter ini (baik nyata atau tidak) sengaja diciptakan melalui mulut Ary Muladi agar semua pihak bisa cuci tangan. Sebab tanpa tokoh kunci ini, siapapun sulit menghubungkan aliran uang dari Anggodo kepada ke Bibit-Chandra, Susno Duadji, Abd Hakim Ritonga. Dan, dengan tokoh ini, semua pihak yang terkait, paling tidak saat ini, berada di posisi sebagai ter-fitnah.

Jadi, secara eksplisit, semua pihak yang sedang terkait dalam masalah ini, saling bergandengan tangan dan saling dukung agar kasus ini tertutup rapat. Siapa korban sesungguhnya?

Tentu saja masyarakat. Rakyat Indonesia, disuguhi tontonan “sampah” dan asyik menyimak episode demi episode drama ini. Seperti kebanyakan sinetron Indonesia; di setiap episodenya melahirkan konflik baru dari konflik yang sudah ada, karakter baru, dan—anehnya—seringkali mudah ditebak akan berujung kemana.

Masyarakat Indonesia terhadap kasus ini, dibiarkan berpendapat sendiri, dan memilih sendiri akan berada di pihak mana. Dengan kata lain; masyarakat Indonesia kini terbelah.

Ada mayarakat, yang menganggap kasus ini untuk melemahkan KPK secara institusi dengan berusaha membenturkannya dengan lembaga hukum lainnya, sehingga melahirkan komunitas Cinta Indonesia Cinta KPK.

Ada masyarakat, yang menganggap telah terjadi niat pelemahan KPK dengan tuduhan suap terhadap Bibit-Chandra. Penonton jenis ini terjebak dalam pemahaman buta bahwa penangkapan Bibit-Chandra akan melemahkan KPK secara institusi. Padahal, Anggodo dengan jelas menyatakan menyuap Bibit-Chandra bukan menyuap KPK. Sampai-sampai ada forum di facebook khusus menggalang dukungan terhadap kedua oknum ini, bukan membela KPK secara institusi. KPK sebagai lumbung bukan tidak mungkin bebas dari tikus, bukan? (Baca: Beberapa Fakta Empirik Tentang Mafia Peradilan).

Bukankah cerita model begini adalah lagu lama di negeri ini. Kejaksaan juga pernah coba dilemahkan di banyak kasus terdahulu. Demikian juga Polri, bahkan Sekretariat Negara pernah dituduh sebagai lembaga pemberi suaka pada para koruptor yang akan pulang ke Indonesia.

Lalu, ada masyarakat yang menganggap kasus ini hanya akal-akalan dan merupakan tontonan memalukan. Kelompok masyarakat ini, sepenuhnya percaya bahwa apa yang sedang terjadi tidak lebih dari praktek mafia hukum, dan memilih kemungkinan bahwa semua pihak terlibat, sampai mereka dapat membuktikan diri sebaliknya.

Dan, ada kelompok masyarakat yang sepenuhnya skeptis terhadap sumberdaya manusia dalam lembaga-lembaga hukum negara ini. Kelompok ini menghendaki adanya pembersihan menyeluruh dan perbaikan secara gradual dan sistematis. Jika perlu, kinerja aparat penegak hukum di Indonesia, ditransplantasi dengan model kinerja hukum negara lain (China, misalnya) yang sangat keras terhadap tindak kriminal, keras terhadap upaya korupsi. Mungkin, saya, berdiri di kelompok ini.

Jika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sukses menjadikan Indonesia sebagai negara kunjungan wisata dunia (pasca Bom Bali I dan Bom Bali II), dengan berhasil meraih devisa besar dari sektor ini, mungkin saja semua institusi hukum juga sukses menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan kriminal dunia.

Sebab dengan penanganan hukum model centang perenang dan carut marut seperti Indonesia, menjadikan negara ini sebagai lahan aksi kriminal transnasional (human trafficking, drugs trafficking, dll), dan tujuan utama para gembong mafia internasional (gembong narkotika Afrika, triad China, yakuza Jepang) untuk beroperasi di sini. Huh, dasar bandit.

Sampai-sampai, karena kisruh soal ini, perhatian masyarakat teralih dari pelantikan para kepala staf TNI yang baru; teralih dari kasus penembakan di Papua; teralih dari masalah penanganan gempa; teralih dari masalah korupsi Bupati Bombana dan keluarganya; bahkan teralih dari pembebasan Syech Puji yang menikahi anak di bawah umur. Huh, dasar bandot. ***

Baca juga Artikel Terkait :

Beberapa Fakta Empirik tentang Mafia Peradilan

Tentang ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua tulisan milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: