Daily Archives: 11 Januari 2010

Perpustakaan Nasional dan Asosiasi Pustakawan di Indonesia Dilihat dari Segi Sejarah

Oleh Tugina, S.Pd

1. Pendahuluan

Sejarah berdirinya Perpustakaan Nasional RI dan peran organisasi profesi. menurut hemat saya, harus dibahas secara terpisah karena walaupun berdekatan, kedua hal memiliki titik tolak yang berbeda. Dalam sejarah perpustakaan, asal usul sebuah perpustakaan nasional jauh lebih tua daripada usia asosiasi pustakawan. Hal tersebut bukan saja terjadi di negara maju yang sudah mapan melainkan juga di Negara berkembang, yang kebanyakan semula merupakan bekas negara jajahan. Sebagai contoh usia Library of Congress dapat ditelusuri ke koleksi Presiden Thomas Jefferson pada abad 18 sementara pustakawan Amerika yang dihasilkan oleh Lembaga Pendidikan (Columbia University) baru ada pada tahun 1876.

Di kawasan ASEAN seperti di Malaysia, Singapura, Philipina dan Thailand, titik awal keberadaan perpustakaan nasional jauh lebih mendahului keberadaan organisasi pustakawan. Organisasi pustakawan di ke-empat negara baru berdiri pada abad 20 sementara cikal bakal perpustakaan nasional sudah ada pada abad 19. Hal serupa juga terjadi di Indonesia sehingga topik Perpustakaan Nasional dan Ikatan Pustakawan Indonesia perlu dibahas secara terpisah.

2. Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan Nasional RI sebagai sebuah perpustakaan, bila dilihat dari koleksinya, dapat ditelusur ke Perpustakaan Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap yang didirikan pada tahun 1778. Kepala perpustakaan yang ditunjuk adalah seorang ilmuwan. Lembaga tersebut (Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap) kemudian diberi tambahan Koninklijk sebagai penghargaan atas karyawan serta merupakan lembaga ilmu pengetahuan tertua di Asia2. Koleksi KBGKW ini tetap utuh selama pendudukan karena pada tahun 1942 pemerintah Hindia belanda menyatakan Batavia sebagai kota terbuka, lalu gedung sebelah Museum Nasional (kini Departemen Pertahanan, dahulu Rechtshogeschool) dijadikan markas besar Kempetai (polisi rahasia Jepang) yang terkenal kekejamannya. Alhasil koleksi BKGKW tetap utuh, berbeda misalnya dengan koleksi perpustakaan khusus lainnya, ada yang dirusak misalnyanya berbagai perpustakaan dan perkebunan yang berada di luar kota besar yang banyak mengalami kerusakan semasa pendudukan Jepang dan sesudahnya3, padahal sebelumnya banyak yang masih dalam kondisi baik4.

Setelah Indonesia merdeka, BGKW berubah menjadi Lembaga Kebudajaan Nasional Indoensia, dengan demikian koleksinya menjadi koleksi perpustakaan Lembaga Kebudayaan Nasional. Dalam perkembangan selanjutnya lalu menjadi museum dengan sendirinya Perpustakaan Lembaga Kebudayaan Indonesia menjadi Perpustakaan Museum selanjutnya menjadi perpustakaan Museum Nasional, kemudian berkembang sebagai koleksi Perpustakaan Nasional di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980) selanjutnya menjadi Perpustakaan Nasional sebagai lembaga negara non departemen (1988). Kedudukan ini tetap sampai sekarang.

2. Catatan mengenai sejarah Perpustakaan Nasional menurut buku Kiprah

Pustakawan

Menyangkut penulisan sejarah Perpustakaan Nasional yang dimuat dalam Kiprah Pustakawan ada 4 hal yang ingin saya kemukakan sebagai berikut :

(1)   Bibligrafi Sebagai sebuah karya yang ditulis oleh 2 (dua) pustakawan senior, bibligrafi yang disebutkan pada halaman 476-480 cukup menyedihkan. Sebagai contoh nama Masini Hardjo Prakosa yang menulis sekitar 4 (empat) makalah tentang Perpustakaan Nasional sama sekali tidak ada.5 Apakah memang kesengajaan karena buku ini ditulis sekitar tahun 1997 dan 1998 yang ditandai dengan tumbangnya kekuasaan Presiden Suharto disusul dengan era reformasi? Ataukah dalam kaitannya dengan Perpustakaan Nasional, tahun 1998 ditandai dengan adanya demo mahasiswa JIP FSUI yang menuntut pembatalan penjualan Gedung Medan Merdeka Selatan 11 serta surat edaran yang mendesak mundurnya Ibu Mastini sebagi kepala Kepala Perpustakaan Nasional?6 Juga karya Natadjumena7 dan Zen8 mengenai perpustakaan nasional tidak dicantumkan.

(2)   Tiadanya sumber primer berupa dokumen tentang awal mula Perpustakaan Nasional pada p.476 dicantumkan karya Dunningham (1954) berupa “Intisari pidato petunjuk”9 padahal karya Dunningham yang sering dirujuk adalah laporannya yang ditulis bersama-sama R. Patah10 Laporan tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan perlunya sebuah perpustakaan nasional (national library) dalam konteks Unesco11, melainkan sebuah national library service yang membawahi provincial negara libraries dengan tujuan memberikan jasa kepustakawanan untuk umum. Dari segi dokumen tidak menyebutkan perpustakaan nasional, tetapi dari segi konteks, apa yang dimaksudkan dengan sebuah national library service adalah fungsi yang lazim dilakukan oleh sebuah perpustakaan nasional. Tiadanya sitiran pada karya Dunningham merupakan kesalahan besar bagi siapa saja yang mau menulis tentang sejarah Perpustakaan Nasioanl Indonesia12. Sumber disurat kabar tidak disebutkan sama sekali padahal kongres pustakawan Indonesia dimuat dalam koran yang terbit pada tahun 1954.

(3)   kurang menggunakan pelaku maupun saksi sejarah selaku sumber sejarah. Dokumen primer dapat berupa dokumen tertulis dapat juga kesaksian pelaku atau saksi sejarah. Buku Kiprah pustakawan hanya menyebutkan satu saksi sejarah (Amir Hamzah Nasution) walaupun sesungguhnya dalam buku Kiprah pustakawan banyak ditekankan perannya pada perpustakaan umum, namun kaitannya dengan Dewan Perpustakaan Nasional hanya sedikit saja13 Masih banyak pelaku sejarah yang tahu tentang Dewan Perpustakaan Nasional seperti Lily Koeshartini, Sjahrial Pamoentjak, Mastini Hardjoprakosa, Moertini Pendit, Soewati Soemarsidik dan lain-lainnya serta saksi sejarah lainnya. Para saksi sejarah ini umumnya mahasiswa Kurus Pendidikan Pegawai Perpustakaan, semula mensyaratkan penerimaan berupa sudah bekerja di perpustakaan, kemudian menjadi Kursus Pendidikan Ahli Perpustakaan lalu Sekolah Perpustakaan. Di antara mereka yang mengalaminya adalah Soekarman K, Teguh Notoprajitno, Zultanawar, Soedarminto, Sri Lestoeni, Soeatminah dll. Pelaku dan saksi sejarah harus diwawancari sebelum informasi yang ada di benak mereka hilang karena usia atau keberadaannya tidak diketahui ataupun keburu meninggal14.

(4)   Penulisan teks. Dalam kebiasaan sejarah, teks sejarah ditulis dalam huruf dan bahasa aslinya untuk menunjukkan keaslian dokumen serta konteks terjadinya dokumen. Halaman 7-13 seharusnya diajukan dalam huruf aslinya, buka menurut EYD yang berlaku sekarang.

3. Penulisan ulang sejarah Perpustakaan Nasional

Bila pihak Perpustakaan Nasional akan menulis kembali sejarahnya, maka sebaiknya menggunakan sumber primer termasuk pelaku sejarah dan saksi sejarah semampang beberapa pelaku dan saksi sejarah masih hidup. Sekedar contoh karangan tairas banyak dikutip oleh penulis Indonesia namun saya sendiri ragu apakah mereka pernah membaca dokumen asli karena karena dokumen tersebut baru dimiliki penulisnya sekitar tahun 2002.

Penulisan ulang sejarah perpustakaan harus mundur ke belakang (restrospektif) karena sejarah perpustakaan nasional dapat diurut sampai ke pendirian Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap. Hal itu berarti bahwa sejarah perpustakaan modern di Indonesia mulai pada tahun 177815 dan itulah di titik awal penulisan sejarah perpustakaan modern di Indonesia.

4. Sejarah asosiasi pustakawan

Kiprah Pustakawan memang menulis lebih banyak tentang organisasi pustakawan sesuai dengan judul dan tujuan buku tersebut. Sungguh pun demikian ada beberapa catatan yang perlu mengenai Kiprah Pustakawan adalah sebagai berikut :

(1)   Uraian tentang sejarah Ikatan Pustakawan Indonesia cukup panjang, karena memang inilah tujuan buku Kiprah Pustakawan. Dokumen primer seperti notulen, artikel majalah digunakan dengan baik termasuk karya Tjoen dan Pardede16. Namun demikian, ada keberatan tentang penulisan dokumen lama dalam ejaan yang lazim digunakan di Indonesia (EYD). Dalam penulisan sejarah, dokumen asli tetap dipertahankan, terutama bila dikaitkan dalam teks. Hal tersebut lazim dilakukan untuk memberikan gambaran tentang konteks dokumen dibuat, suasana pada mas itu serta penghayatan makna sejarah sebuah teks.

(2)   Sumbangan pelaku dan saksi sejarah Kiprah Pustakawan menguraikan pertemuan pendahuluan di Bandung17 yang merupakan awal pembentukan Kongres Pustakawan se-Indonesia di Ciawi tahun 1973. Uraian akan lebih hidup bila ditambah dengan kesaksian pelaku seperti Mastini Hardjoprakosa, Soekarman K, tjandra Mualim, Ipon S.Purawijaya, Ismed Pasja dll.

(3)   Masalah Dalam Bibliografi. Sebagai sebuah buku yang ditulis oleh 2 (dua) pustakawan senior seharusnya daftar kepustakaan yang dimuat pada halaman 476-480 haruslah komprehensif. Sebagai contoh entri pada Sulistyo-Basuki diberi tanda tanya padahal artikel tersebut dimuat secara lengkap pada Berita perpustakaan sekolah18. Uraian serupa dimuat dalam buku Periodisasi Perpustakaan Indonesia19 namun tidak dikutip dalam buku Kiprah Pustakawan. Sumber lain tentang organisasi pustakawan pada tahun 191620 dan semacam klab pustakawan21 menjelang tahun 1950an juga tidak disebutkan.

5. Penulisan Sejarah Perpustakaan Nasional

Masa gelap dalam sejarah menjelang terbentuknya Perpustakaan Nasional terjadi sekitar periode 1942 s.d awal 1950an tatkala KBGKW menghadapi kenyataan bahwa Indonesia sudah lama merdeka sementara nama lembaga masih tetap menggunakan nama Indonesia. Sejarah perpustakaan KBGKW menuju ke perpustakaan lembaga Kebudayaa Indonesia terus ke perpustakaan Museum selanjutnya ke perpustakaan Museum Nasional masih belum banyak ditulis terkecuali laporan tidak berkala mengenai perpustakaan. Salah satu pelaku sejarah yaitu Mastini Hardjoprakosa tidak menulis terlalu banyak mengenai periode itu serta belum pernah diwawancarai oleh pustakawan tentang periode tersebut.

Untuk periode 1778 sampai dengan 1942 tersedia banyak dokumen primer yang tersimpan di Perpustakaan Nasional. Salah satu dokumen ialah laporan tahunan KBGKW, di bagian akhir terdapat laporan mengenai “bibliotheek’. Sudah tentu semuanya tertulis dalam Bahasa Belanda sehingga siapa saja yang mau menulis tentang sejarah Perpustakaan Indonesia sebelum tahun 1950 harus menguasai Bahasa Belanda termasuk Bahasa Belanda yang digunakan pada abad 18.

Dokumen yang digunakan oleh Harahap dan Tairas untuk menulis sejarah organisasi cukup banyak. Penulis pernah menanyakan keberadaan dokumen tersebut kepada petugas Perpustakaan Nasional beberapa tahun yang lalu dalam rangka penulisan sejarah perpustakaan Indonesia. Jawaban yang diperoleh adalah dokumen penulisan Kiprah Pustakawan disimpan di Perpustakaan Nasional. Mudah-mudahan kondisi dokumen tersebut masih baik, syukur kalau sudah dimikrofilmkan atau alih bentuk ke digital. Dokumen lain mengenai Perpustakaan Nasional (baca Mastini Hardjoprakosa) pada periode 1980-1988 seharusnya tersedia di Perpustakaan Nasional terlepas dari perubahan zaman22.

6. Penutup

Penulisan sejarah perpustakaan serta organisasi pustakawan di Indonesia harus dipisahkan karena keduanya memiliki titik tolak yang berbeda. Sungguhpun demikian, penulisan kedua lembaga harus menggunakan sebanyak-banyaknya dokumen primer, berupa dokumen tertulis (notulen, surat keputusan, laporan tahunan, dekrit dan sejenisnya) serta pelaku dan saksi sejarah masih hidup.

Penulisan sejarah Perpustakaan Nasional dimulai dari berdirinya bibliotheek Bataviasch Genootschap van Kunsten en wetenschappen pada tahun 1778, disusul dengan Lembaga Kebudayaan Indonesia, lalu ke Museum selanjutnya ke Museum Nasional sebelum beranjak ke perpustakaan Nasional sebagai UPT Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kemudian ke lembaga non-departemen.

Hal serupa juga berlaku untuk sejarah organisasi pustakawan di Indonesia, khususnya untuk periode pasca 1916 sampai sekitar tahun 1970an, beberapa dokumen primer masih belum disebutkan.

Bibliografi

Bernet Kempers, A.J. de. De Bibliotheek van het Koninklijk Bataviasch Genootschap van

Kunsten en Wetenshcappen, October 19, 1936 tot Maart 1942. Tanpa Tahun.

Stensilan

—-“A short history of a time honoured library: the Library of the Bataviasch

Genootschap.” Dalam Improving Access to Indonesian Collections in the Netherlands: Contributions to a survey of Dutch Library and Documentation Activites in the Field of Indonesian Studies. Ed.s Marlene van Doorn; Irene Farjon; Cisca Pattipelohy; Gerald J. Telkamp. (Leiden: 1981),p.7-10. (Intercontinenta, no.2)

“Bibliothecarisen in Indonesie.”Bibliotheekleven 34, 1949:134

Bunda Mastini Hardjoprakosa. Jakarta: Perpustakaan Nasional, 1998. 10 hal.

Dunningham, AGW. and R. Patah. A Report on a survey and recommendation for………..

Stensilan

Dunninghan A.G.W. Indonesia: Library development: final report covering the periode 1

April 1959 to 31 October 1963. Paris : Unesco, 1964. 25 hal. Stensilan

—-. Indonesia: library development: 8 November 1968-7 January 1969. Paris: Unesco,

1969. 22 hal. Stensilan

 

Catatan:

1 Disampakan pada Temu Ilmiah Berdirinya Perpustakaan Nasional RI dan Peran Organisasi Profesi. Jakarta 4 Juni 2004

2 A.J. De Bernet Kempers. De Bibliotheek van het Koninklijk Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap, October 1936 tot Maart 1942. tanpa tahun. Stensilan

—–“A short history of a time-honourred library: the Library of the Bataviasch Genootschap.” Dalam Improving Access to Indonesia Collections in the Netherlands: Cotributions to a Survey of Dutch Libraryand Documentation Activities in the Field of Indonesian Studies. Ed. Marlene van Doorn; Irene farjon; Cisca Pttipelohy; Gerald J. Telkamp. (Leiden: 1981), p.7-10. (Intercontinenta, no.2)

3 Inotji Hajatullah, surja Mansjur and Maksum. 160th anniversary of Bibliotheca Bogoriensis (Bogor Indonesian Center for Agricultural Library dan Technology Dissemination, 2002), p.25-7

4 Kondisi beberapa perkebunan dan Pusat penelitian perkebunan dan tanaman dimuat dalam karya Victor Honig and Frans Verdoron, eds. Science and scienctist in Netherlands Indies. New York City: Board of the Netherlands Indies, Surinam and Curacao, 1943

5 Hardjoprakosa, Mastini. Pentingnya perpustakaan nasional bagi Indonesia. Jakarta : Perpustakaan Museum Pusat, 1973.

6 Periksa surat pernyatan yang ditandatangani oleh Ibu Mastini mengenai pembatalan penjualan gedung Merdeka Selatan 11 serta surat edaran menuntut pengunduran diri Ibu Mastini dari jabatan Kepala Perpustakaan Nasional yang ditandatangani oleh pustakawan yang (waktu itu) bekerja di Perpustakaan Nasional

7 Rachamat Natajumena. “An Indonesia national Library.” Australian Academic Research Libraries,9, 1977:127-30

8 Zulfikar Zen.”Perpustakaan Nasional Indonesia: perjalanan yang panjang” Majalah Ilmiah Perpustakaan dan Informatika, 9 (1) 1984:17-28

9 Dalam Pekan Buku Indoflonesia (1954),p.67-69

10 A.G.W. Dunningham, and R. Patah.(1953) A report on a survey and recommendation for the eslablishment of a national library service in Indonesia. (1953). Stensilan

hal serupa juga terdapat pada karya Haryati Soebadio Perpustakaan Nasional Indonesia (Jakarta : Perpustakaan Nasional, 1992) yang tidak menyebutkan laporan Dunningham walaupun dia menyebutkan karya lain Dunningham lainnya Indonesia: library development (1964, 1969) yang merupakan laporan konsultasi Dunningham. Kedua laporan tersebut hanya sedikit menyebut tentang perpustakaan nasional

11 Periksa Definisi perpustakaan nasional menurut Unesco. Pada tahun 1970, UNESCO dalamkonferensi umumnya ke 16 pada Recommendations Concerning the International Standarization of Library Statistics memutuskan definisi perpustakaan nasional sebagai berikut : Perpustakaan nasional: perpustakaan yang bertanggung jawab atas akuisis dan pelestarian kopi semua terbitan yang signifikan yang diterbitkan sebuah negara dan berfungsi sebagai perpustakaan “deposit,” baik berdasarkan undang-undang maupun kesepakatan lain, dengan tidak memandang nama

perpustakaan. Perpustakaan nasional juga umumnya menjalankan fungsi sebagai berikut menyusun bibliografi nasional; menyimpan dan memutakhirkan koleks asing yang besar dan representatif termasuk buku mengenai negara yang bersangkutan; bertindak sebagai pusat bibliografi nasional;menyusun catalog induk; menerbitkan bibliografi nasional retrospektif. Perpustakaan yang menyebut dirinya sebagai perpustakaan “nasional” namum fungsinya tidak sesuai dengan definisi di atas tidak dapat dimasukkan ke kategori “perpustakaan nasional”.

12 Laporan Dunningham disebutkan pada pagina 51 namun tidak disebutkan dalam bibliografi

13 Basjral Hamidi Harahap, J.N.B. Taira dan Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia. Kiprah pustakawan: seperempat abad Ikatan Pustakawan Indonesia (Jakarta: Ikatan Pustakawan Indonesia, 1998),p55-59

14 Contoh J.N.B. Tairas, pelaku sejarah meninggal 28 Mei 2004 yang lalu. Dia penulis makalah Towards a national for library for Indonesia yang banyak disitir penulis lainnya.

15 “The rise and growth of libraries in pre-war Indonesia,” Library History, 14, May 1998:55-64. Lihat juga karya Bennet Kempers

16 Mohd. Joesoef Tjoen dan S. Pardede. Perpustakaan Indonesia dari zaman ke zaman. Jakarta : kantor Bibliografi Nasional, 1966

17 Kiprah Pustakawan,.p.171

18 Sulistyo-Basuki “Sejarah organisasi pustakawan di Indonesia.” Berita perpustakaan sekolah 2 (2) Juli 1979:52-6

19 Sulistyo-Basuki. Periodisasi Perpustakaan Indonesia (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994) p.123-35

20 vereeiging tot Bevordering van het Bibliothekwezen yang merupakan organisasi pustakawan pada tahun 1916

21 “Bibliothecarisen in Indonesie.” Bibliothekleven 34, 1949:134

22 Contoh Bunda Mastinihardjoprakosa. Jakarta : Perpustakaan Nasional, 1998. 10 hal.

 

Artikel Terkait :

Perpustakaan.

Bibliotheca Alexandrina Egypt; Perpustakaan Pertama di Dunia.

Perpustakaan Alexandria Lama.

Perputakaan Digital Dunia.

Sejarah Perpustakaan di Indonesia.

 


Sejarah Perpustakaan di Indonesia

Oleh Abdul Rahman Saleh

Sejarah perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Arab. Jika kita mengambil pendapat bahwa sejarah perpustakaan ditandai dengan dikenalnya tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dapat dimulai pada tahun 400-an yaitu saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari periode Kerajaan Kutai.

Musafir Fa-Hsien dari tahun 414 M menyatakan bahwa di kerajaan Ye-po ti, yang sebenarnya Kerajaan Tarumanegara banyak dijumpai kaum Brahmana yang tentunya memerlukan buku atau manuskrip keagamaan yang mungkin disimpan di kediaman pendeta. Pada sekitar tahun 695 M, menurut musafir I-tsing dari Cina, di ibukota Kerajaan Sriwijaya hidup lebih dari 1.000 orang biksu dengan tugas keagamaan dan mempelajari agama Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai biasa.

Di pulau Jawa, sejarah perpustakaan tersebut dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini karena di kerajaan ini mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Budha Mahayana. Menyusul kemudian sembilan Parwa Sari Cerita Mahabharata dan satu Kanda Epos Ramayana. Juga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyata bahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan.

Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Selain itu Mpu Panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu Triguna dengan kitam Kresnayana. Semua kitab itu ditulis di atas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap berada dalam lingkungan keraton.

Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada periode ini tidak dihasilkan naskah terkenal. Kitab Pararaton yang terkenal itu diduga ditulis setelah keruntuhan kerajaan Singosari.

Pada jaman Majapahit dihasilkan dihasilkan buku Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma. Pada jaman ini dihasilkan pula karya-karya lain seperti Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Sorandaka, dan Sundayana.

Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, jaman kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa.

Dari Cerebon diketahui dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar abad ke-16 dan ke-17. Buku-buku tersebut adalah Pustaka Rajya-rajya & Bumi Nusantara (25 jilid), Pustaka Praratwan (10 jilid), Pustaka Nagarakretabhumi (12 jilid), Purwwaka Samatabhuwana (17 jilid), Naskah Hukum (2 jilid), Usadha (15 jilid), Naskah Masasastra (42 jilid), Usana (24 jilid), Kidung (18 jilid), Pustaka prasasti (35 jilid), Serat Nitrasamaya pantara ning raja-raja (18 jilid), Carita sang Waliya (20 jilid), dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Cirebon merupakan salah satu pusat perbukuan pada masanya. Seperti pada masa-masa sebelumnya buku-buku tersebut disimpan di istana.

Kedatangan bangsa Barat pada abad ke-16 membawa budaya tersendiri. Perpustakaan mulai didirikan mula-mula untuk tujuan menunjang program penyebaran agama mereka. Berdasarkan sumber sekunder perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini adalah pada masa VOC (Vereenigde Oost Indische Compaqnie) yaitu perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang dibangun sejak 1624.

Namun karena beberapa kesulitan perpustakaan ini baru diresmikan pada 27 April 1643 dengan penunjukan pustakawan bernama Dominus Abraham Fierenius. Pada masa inilah perpustakaan tidak lagi diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, namun mulai dinikmati oleh masyarakat umum. Perpustakaan meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit Batavia, bahkan peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana (Jawa Tengah). Jadi pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut dengan pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan).

Lebih dari seratus tahun kemudian berdiri perpustakaan khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan berdirinya lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M. Rademaker, ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya. Perpustakaan ini kemudian mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia yaitu pada tahun 1846 dengan judul Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florest Catalogue Systematicus hasil suntingan P. Bleeker. Edisi kedua terbit dalam bahasa Belanda pada tahun 1848. Perpustakaan ini aktif dalam pertukaran bahan perpustakaan. Penerbitan yang digunakan sebagai bahan pertukaran adalah Tijdschrift voor Indische Taal, Land- en Volkenkunde, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschapn van Kunsten en Wetenschappen, Jaarboek serta Werken buiten de Serie.

Karena prestasinya yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, maka namanya ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Nama ini kemudian berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanya pun diubah menjadi Museum Pusat.

Koleksi perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan Perpustakaan Museum Pusat. Nama Museum Pusat ini kemudian berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional. Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989 ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Sesudah pembangunan BKGW, berdirilah perpustakaan khusus lainnya seiring dengan berdirinya berbagai lembaga penelitian maupun lembaga pemerintahan lainnya. Sebagai contoh pada tahun 1842 didirikan Bibliotheek’s Lands Plantentuin te Buitenzorg.

Pada tahun 1911 namanya berubah menjadi Central Natuurwetenchap-pelijke Bibliotheek van het Departement van Lanbouw, Nijverheid en Handel. Nama ini kemudian berubah lagi menjadi Bibliotheca Bogoriensis. Tahun 1962 nama ini berubah lagi menjadi Pusat Perpustakaan Penelitian Teknik Pertanian, kemudian menjadi Pusat Perpustakaan Biologi dan Pertanian. Perpustakaan ini berubah nama kembali menjadi perpustakaan ini bernama Perpustakaan Pusat Pertanian dan Komunikasi Penelitian.

Kini perpustakaan ini bernama Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Hasil-hasil Penelitian. Setelah periode tanam paksa, pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik etis untuk membalas ”utang” kepada rakyat Indonesia. Salah satu kegiatan politik etis adalah pembangunan sekolah rakyat. Dalam bidang perpustakaan sekolah, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Volksbibliotheek atau terjemahan dari perpustakaan rakyat, namun pengertiannya berbeda dengan pengertian perpustakaan umum.

Volksbibliotheek artinya perpustakaan yang didirikan oleh Volkslectuur (kelak berubah menjadi Balai Pustaka), sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada Volkschool. Volkschool artinya sekolah rakyat yang menerima tamatan sekolah rendah tingkat dua. Perpustakaan ini melayani murid dan guru serta menyediakan bahan bacaan bagi rakyat setempat. Murid tidak dipungut bayaran, sedangkan masyarakat umum dipungut bayaran untuk setiap buku yang dipinjamnya.

Kalau pada tahun 1911 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Hindia Belanda mendirikan Indonesische Volksblibliotheken, maka pada tahun 1916 didirikan Nederlandsche Volksblibliotheken yang digabungkan dalam Holland-Inlandsche School (HIS). HIS merupakan sejenis sekolah lanjutan dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda. Tujuan Nederlandsche Volksblibliotheken adalah untuk memenuhi keperluan bacaan para guru dan murid. Di Batavia tercatat beberapa sekolah swasta, diantaranya sekolah milik Tiong Hoa, Hwe Koan, yang memiliki perpustakaan. Sekolah tersebut menerima bantuan buku dari Commercial Press (Shanghai) dan Chung Hua Book Co. (Shanghai).

Sebenarnya sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan perpustakaan sekolah, pihak swasta terlebih dahulu mendirikan perpustakaan yang mirip dengan pengertian perpustakaan umum dewasa ini. Pada tahun awal tahun 1910 berdiri Openbare leeszalen. Istilah ini mungkin dapat diterjemahkan dengan istilah ruang baca umum. Openbare leeszalen ini didirikan oleh antara lain Loge der Vrijmetselaren, Theosofische Vereeniging, dan Maatschappij tot Nut van het Algemeen.

Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia dimulai pada awal tahun 1920an yaitu mengikuti berdirinya sekolah tinggi, misalnya seperti Geneeskunde Hoogeschool di Batavia (1927) dan kemudian juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di Bandung (1920), Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941), Rechtshoogeschool di Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia (1940). Setiap sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang terpisah satu sama lain.

Pada jaman Hindia Belanda juga berkembang sejenis perpustakaan komersial yang dikenal dengan nama Huurbibliotheek atau perpustakaan sewa. Perpustakaan sewa adalah perpustakaan yang meminjamkan buku kepada kepada pemakainya dengan memungut uang sewa. Pada saat itu tejadi persaingan antara Volksbibliotheek dengan Huurbibliotheek. Sungguhpun demikian dalam prakteknya terdapat perbedaan bahan bacaan yang disediakan. Volksbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan populer ilmiah, maka perpustakaan Huurbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan berupa roman dalam bahasa Belanda, Inggris, Perancis, buku remaja serta bacaan gadis remaja.

Disamping penyewaan buku terdapat penyewaan naskah, misalnya penulis Muhammad Bakir pada tahun 1897 mengelola sebuah perpustakaan sewaan di Pecenongan, Jakarta. Jenis sewa naskah juga dijumpai di Palembang dan Banjarmasin. Naskah disewakan pada umumnya dengan biaya tertentu dengan disertai permohonan kepada pembacanya supaya menangani naskah dengan baik.

Disamping perpustakaan yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebenarnya tercatat juga perpustakaan yang didirikan oleh orang Indonesia. Pihak Keraton Mangkunegoro mendirikan perpustakaan keraton sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi perpustakaan ini tidak dipinjamkan, namun boleh dibaca di tempat.

Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting diantaranya Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen. Selama pendudukan Jepang openbare leeszalen ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh rakyat dan lenyap dari permukaan bumi. Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen maka koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, dan merupakan cikal bakal dari Perpustakaan Nasional.

Perkembangan pasca kemerdekaan mungkin dapat dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiri perpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Tanggal 7 Juni 1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial Departemen P & K.

Dalam rangka usaha melakukan pemberantasan buta huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat melakukan usaha pemberantasan buta huruf tersebut. Pada periode ini juga lahir perpustakaan Negara yang berfungsi sebagaiperpustakaan umum dan didirikan di Ibukota Propinsi. Perpustakaan Negara yang pertama didirikan di Yogyakarta pada tahun 1949, kemudian disusul Ambon (1952); Bandung (1953); Ujung Pandang (1954); Padang (1956); Palembang (1957); Jakarta (1958); Palangkaraya, Singaraja, Mataram, Medan, Pekanbaru dan Surabaya (1959). Setelah itu menyusul kemudian Perpustakaan Nagara di Banjarmasin (1960); Manado (1961); Kupang dan Samarinda (1964). Perpustakaan Negara ini dikembangkan secara lintas instansional oleh tiga instansi yaitu Biro Perpustakaan Departemen P & K yang membina secara teknis, Perwakilan Departemen P & K yang membina secara administratif, dan Pemerintah Daerah Tingkat Propinsi yang memberikan fasilitas. ***

(Abdul Rahman Saleh, Kontributor untuk Naskah Akademik Rancangan Undang-undang Perpustakaan).

 

Artikel Terkait :

Perpustakaan.

Bibliotheca Alexandrina Egypt; Perpustakaan Pertama di Dunia.

Perpustakaan Alexandria Lama.

Perputakaan Digital Dunia.

Perpustakaan Nasional dan Asosiasi Pustakawan di Indonesia Dilihat Dari Segi Sejarah.


Perpustakaan Digital Dunia

Perpustakaan Digital Dunia atau World Digital Library (WDL) adalah perpustakaan digital antarnegara yang dikelola oleh UNESCO dan Library of Congress (Perpustakaan Kongres) milik Amerika Serikat. Perpustakaan ini diresmikan pada tanggal 21 April 2009 dan dimaksudkan sebagai sumber rujukan dokumen primer berbagai dokumen penting dunia yang bisa diakses dengan bebas biaya.

Misi pembentukan perpustakaan ini adalah untuk mengembangkan pemahaman antar bangsa dan budaya, memperluas kandungan variasi dan isi pada internet, menyediakan bahan dasar pengajaran bagi pengajar, sarjana, dan peminat umum, serta untuk memperkuat kemampuan lembaga-lembaga mitra untuk mempersempit kesenjangan digital intra maupun antar negara. Sebagai tujuan adalah untuk mengembangkan dokumen non-bahasa Inggris dan non-barat di internet, dan membantu penyediaan bahan penelitian akademik.

Dalam wawancara dengan majalah Nature, Direktur WDL, John van Oudenaren, menyatakan bahwa sebagian besar generasi muda di dunia banyak memperoleh informasi melalui media elektronik. WDL berusaha menjadi salah satu sumber informasi ini. Selain itu, WDL juga menjadi upaya untuk lebih mendorong negara berkembang memacu digitalisasi arsip dan dokumen sejarah berharga yang mereka miliki.

Perpustakaan ini menyediakan berbagai material sumber primer dari berbagai kebudayaan dunia secara bebas biaya dan dalam format multibahasa, seperti manuskrip, peta, buku langka, partitur musik, rekaman, film, cetakan, foto, rancangan arsitektur, dan berbagai bahan budaya lainya. ***

[dari berbagai sumber]

 

Artikel Terkait :

Perpustakaan.

Bibliotheca Alexandrina Egypt; Perpustakaan Pertama di Dunia.

Perpustakaan Alexandria Lama.

Sejarah Perpustakaan di Indonesia.

Perpustakaan Nasional dan Asosiasi Pustakawan di Indonesia Dilihat Dari Segi Sejarah.


Perpustakaan Alexandria Lama

Pada zaman dahulu, kota Alexandria (Iskandariyah) terkenal dengan bangunannya yang termasyhur namun sekarang sudah lenyap, seperti Faros, mercusuar kuno yang konon tingginya mencapai 110 meter dan dianggap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, dan makam Alexander yang Agung. Dinasti Yunani, Ptolemeus mewarisi Mesir dari Alexander dan menguasai negeri itu sampai Caesar Octavianus Augustus mengalahkan Antonius dan Cleopatra pada tahun 30 SM. Dibawah Ptolemeus, Aleksandria berubah secara drastis.

Sesungguhnya, kota itu “Selama suatu masa menjadi pusat perdagangan dan budaya dunia,” menurut Atlas of the Greek World. Pada puncak kejayaannya. Aleksandria berpenduduk sekitar 600.000 jiwa.

Daya tarik kota itu adalah perpustakaan kerajaannya. Didirikan pada awal abad ketiga Sebelum Masehi (SM) dan disponsori sepenuhnya oleh keluarga Ptolemeus, perpustakaan itu beserta kuil dewi-dewi Muse menjadi pusat ilmu pengetahuann dalam dunia Helenik.

Konon, perpustakaan ini memiliki 700.000 gulungan papirus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14, Perpustakaan Sorbonne yang katanya memiliki koleksi terbesar dizamannya hanya memiliki 1.700 buku. Para penguasa Mesir begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi mereka sampai-sampai mereka memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya.

Deretan panjang nama-nama pemikir besar yang bekerja di perpustakaan dan museum Aleksandria mencakup para cendikiawan kelas dunia. Para cendekiawan di Aleksandria menghasilkan karya-karya besar dalam bidang geometri, trigonometri, dan astronomi, serta bahasa, kesusastraan dan kedokteran. Menurut kisah turun-temurun, di tempat inilah ke-72 cendekiawan Yahudi menerjemahkan kitab-kitab bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani, dengan demikian menghasilkan Septuaginta yang termasyhur itu.

Perpustakaan Itu Lenyap

Ironisnya, para panitera merasa tidak perlu menguraikan bangunan-bangunan umum Aleksandria secara terperinci. Sebab pernyataan Athenaus, sejarahwan abad ketiga, adalah contoh yang khas, yakni “Menyangkut jumlah buku, pendirian perpustakaan-perpustakaan, dan koleksi di Balai Dewi-Dewi Muse, buat apa saya ceritakan, karena semua itu ada dalam ingatan orang-orang?”

Komentar-komentar semacam itu membuat frustasi cendikiawan modern, yang ingin sekali mengetahui lebih banyak tentang perpustakaan kuno yang mempesona ini.

Sewaktu bangsa Arab menaklukkan Mesir pada tahun 640, perpustakaan Alexandria kemungkinan sudah tidak ada. Para cendikiawan masih berdebat tentang bagaimana dan kapan tepatnya perpustakaan itu lenyap. Ada yang mengatakan bahwa banyak isinya mungkin hilang sewaktu Julius Caesar membakar sebagian kota itu pada tahun 47 M. Apa pun penyebabnya, lenyapnya perpustakaan itu menyebabkan hilangnya segudang pengetahuan. Lenyap pula ratusan karya penulis drama Yunani serta catatan tentang 500 tahun pertama sejarah Yunani kecuali beberapa karya Herodotus, Tusidides dan Xenopon.

Antara abad ketiga dan keenam Masehi kota Alexandria sering mengalami kerusuhan, pertikaian dan peperangan antara orang Yahudi, orang Kristen dan agama lain. Sehingga tak terhitung banyaknya naskah naskah kuno yang musnah. Hal ini serupa dengan kejadian pada perpustakaan-perpustakaan di Baghdad ketika penyerbuan Genghis Khan dari bangsa Mongol ke Timur Tengah, bahkan sama ketika perpustakaan Bagdad mengalami penjarahan kembali ketika penyerbuan Amerika Serikat pada tahun 2003 lalu.

Menghidupkan Kembali Kemuliaan Masa Silam

Perpustakaan yang dibangun kembali ini dibuka pada bulan Oktober 2002 dan berisi sekitar 400.000 buku ditambah dengan sistem komputer yang modern dan mutakhir memungkinkan pengunjung mengakses koleksi perpustakaan lain. Koleksi utamanya dititik beratkan pada peradaban Mediterannia bagian timur. Perpustakaan baru ini memiliki kapasitas 8.000.000 buku. ***

[Berbagai Sumber]

 

Artikel Terkait :

Perpustakaan.

Bibliotheca Alexandrina Egypt; Perpustakaan Pertama di Dunia.

Perputakaan Digital Dunia.

Sejarah Perpustakaan di Indonesia.

Perpustakaan Nasional dan Asosiasi Pustakawan di Indonesia Dilihat Dari Segi Sejarah.


Bibliotheca Alexandria Egypt: Perpustakaan Pertama di Dunia

Ketika Alexander The Great (Iskandar Yang Agung) menginjakkan kakinya di pantai barat Mesir pada 332 SM, ia tercengang dengan keindahan alamnya. “Di sinilah kota impianku akan kubangun”, katanya.

Alexandria atau Iskandaria, nama kota itu kemudian menjadi ibukota Mesir selama hampir 1.000 tahun, sebuah kota cosmopolitan yang dihuni bukan saja oleh bangsa Mesir, tetapi juga Turki, Itali dan Yunani. Bersama Athena di Yunani dan Anthiocia di Syiria yang kini punah, Alexandria menjadi pusat intelektual imperium Iskandar yang membentang dari India hingga Mesir.

Berbeda dengan Kairo yang terkenal sebagai Kota Seribu Masjid, atau Luxor (al-Aqshar, 750 Km dari Kairo), pusat peradaban Mesir 3.000 SM yang kental nuansa Pharonic, Alexandria hampir sepenuhnya bercorak Barat. Tak mengherankan jika sebagian orang menyebutnya sebagai kota Eropa yang terdampar di Mesir dan letaknya yang di pinggir pantai, berhawa sejuk, bersih dan tertata menjadikan Alexandria tempat favorit liburan musim panas.

Di antara peninggalan Hellenic yang masih bisa disaksikan sampai sekarang adalah perpustakaan legendaris pertama di dunia, Bibliotheca Alexandrina. Manuskrip Aristrophanes di perpustakaan Calligio Romano, Roma, mengisahkan perpustakaan Mesir yang dibangun pada 300 tahun SM ini.

Atas usul seorang filsuf Yunani dan ahli politik bernama Demitrius Valiery, Ptolemi I penerus Alexander membangun pusat pengembangan ilmu pengetahuan bernama Mouseion (tempat ibadah semua Dewa Pengetahuan dan Seni).

Ia belanjakan harta kerajaan untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 lainnya berbentuk ringkasan tak berjilid. Hingga masa Ptolemi III tercatat sekitar 700.000 buku tersimpan di sana. Selain mengoleksi pustaka Yunani, perpustakaan ini juga menyimpan berbagai manuskrip Mesir kuno dan bangsa Phoenix, serta sebagian kitab Hindu dan Budha. Bukti lain keseriusan mereka adalah upaya penerjemahan, seperti Septuagint (Sabâ’iniyyat) terjemahan dari kitab suci Yahudi, Taurat.

Simbol peradaban Mesir ini telah melahirkan ilmuwan besar seperti Archimides, Euclide, Kalimakhus, Hypatia, Apollonius dan sebagainya. Namun tiga abad kemudian keemasan ini berakhir. Redupnya pelita ilmu Alexandria ini ditandai dengan tragedi pembakaran perpustakaan oleh Julius Caesar saat invasinya ke Mesir di tahun 48 SM.

Berdasar catatan Sinika, sejarawan yang turut dalam ekspedisi itu, tak kurang dari 400.000 buku dibakar. Dunia ilmu berduka, dan Julius Caesar minta maaf. Untuk menebusnya, Marx Antonio yang datang setelah Caesar menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Cleopatra yang berlanjut pada kisah cintanya. Sejak tragedi pembakaran tersebut, perpustakaan tidak terurus.

Kini, atas prakasa UNESCO bekerja sama dengan pemerintahan Mesir, munculah ide menghidupkan kembali perpustakaan legendaris ini. Pembangunannya dimulai 1990-an dan menghabiskan dana US$220 juta, US$120 juta ditanggung Mesir, sisanya dari bantuan internasional dan negara-negara lain.

Setelah terbengkalai 2.000 tahun, perpustakaan Alexandria kini berdiri lagi dengan arsitek unik dan megah. Bangunan utama berbentuk bulat beratap miring, terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk menetralkan suhu pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini dapat memuat sekitar 8 juta buku. Namun yang ada saat ini baru 250.000 buku dan akan terus bertambah tiap tahun.

Selain itu juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti 500 unit computer berbahasa Arab dan Inggris untuk memudahkan pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang, conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka anak-anak, museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset yang bisa dipakai gratis.

Yang juga menarik, lantai tengah yang gallery design dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang berbagai prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding. Perpustakaan ini relatif penuh pengunjung, meski di Alexandria tidak banyak universitas seperti di Kairo. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat Mesir dan perpustakaan yang dulu dihancurkan Julius Caesar itu kini menjadi salah satu objek wisata sebagaimana Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan para Firaun di Luxor atau Museum Kairo yang menyimpan timbunan emas Tut Ankh Amon. ***

Farid Mustofa, Dosen Filsafat UGM.

Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat (28/07/2008)

 

Artikel Terkait :

Perpustakaan.

Perpustakaan Alexandria Lama.

Perputakaan Digital Dunia.

Sejarah Perpustakaan di Indonesia.

Perpustakaan Nasional dan Asosiasi Pustakawan di Indonesia Dilihat Dari Segi Sejarah.


%d blogger menyukai ini: