Arsip Penulis: ilhamqmoehiddin

Tentang ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm

[Cerpen] Beduk Masjid Tua

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Perasaan Doja (penjaga masjid) Rasyid sangat gundah. Saat hendak mengirim isyarat ketiga sebelum Jum’at, tanpa dia sengaja, pukulannya memecahkan satu-satunya beduk di masjid itu. Semua jamaah yang sudah hadir duluan, terperangah, bahkan ada yang terkejut dan mulai menyalahkan Doja Rasyid. Menyalahkan, mengapa Doja Rasyid tak mengira-ngira tenaganya saat hendak memukul beduk.

Beduk itu sama tuanya dengan umur masjid ini, begitu alasan mereka mempersalahkan Doja Rasyid. Tentu saja Doja Rasyid kecut dibuatnya. Dia memang tak sengaja, dan dia sendiri tak tahu entah mengapa tiba-tiba saja ada kejadian macam itu. Setiap hari dia melakukan tugasnya dengan baik. Memberi ingat pada orang banyak perihal datangnya waktu sholat. Tanpa disangkanya, beduk itu justru robek saat digunakan pada Jum’at kali ini.

Ada kebiasaan di kampung ini sebelum proses Jum’atan dimulai. Seorang doja harus mengirim tanda panggilan sebanyak tiga kali. Tanda pertama, sebelum azan dikumandangkan, beduk harus dipukul tiga kali dengan interval ritme yang pendek, lalu disusul pukulan pendek dan berulang kali ke pinggiran beduk. Tanda kedua, setelah shalawat, dipukul tiga kali tanpa memukul pinggiran beduk. Dan, tanda ketiga, sebelum ikhomat dikumandangkan, beduk akan dipukul sebanyak lima kali dengan ritme yang lambat. Karena itu adalah tanda terakhir, maka semua orang harus sudah berada di masjid sebelum tanda itu dibunyikan. Ketika inilah, Doja Rasyid memecahkan kulit beduk tua itu.

 

***

 

Berhari-hari Doja Rasyid mengandung rasa bersalah dan malu. Dia takut jadi sasaran amarah penduduk kampung, sebab sebagian kecil warga masih percaya tahayul tentang beduk tua yang katanya keramat itu. Dia malu, akan dianggap tak becus menjadi doja. Padahal, tugas itu diamanahkan almarhum bapaknya. Tugas yang sukarela diemban bapaknya selama berpuluh tahun tanpa pamrih, kemudian pindah padanya.

Pada saat-saat inilah, Rasyid merasakan perannya sebagai doja bukan peran sembarang. Doja dan beduk, tak luput memegang peran penting dalam komunitas macam ini. Kejadian ini ikut membuktikan, bahwa menjadi doja bukanlah pekerjaan yang ringan, walau sepele terlihat di mata orang.

Sejak hari dimana musibah itu datang, Doja Rasyid harus berdiri di atas sebuah batu besar di depan masjid, dan mengumandangkan azan dari atasnya. Imam Masjid Ustad Abduh, dan sebagian pemangku adat, untuk sementara melihat cara itu sebagai jalan keluar. Tetapi tidak bagi sebagian kecil warga lainnya. Mereka mulai menertawakan dan mengolok-olok Doja Rasyid, mengira bahwa itulah karma akibat merusak beduk keramat.

Pada hari kedua setelah peristiwa, Doja Rasyid dipanggil oleh Kepala Kampung Amran. Saat Doja Rasyid tiba di rumah kepala kampung, telah hadir pula imam masjid dan para pemangku adat. Doja Rasyid tak banyak bicara dalam pertemuan itu. Dia hanya mendengar saja keluhan para pemangku adat perihal berbagai hal yang tiba-tiba tak teratur semenjak beduk masjid itu rusak.

Mendengar semua itu, perasaan Rasyid bagai remuk. Wajah bapaknya tiba-tiba melintas dibenaknya. “Oh, Bapak…” Bisik Rasyid, berusaha tak terdengar oleh lainnya.

 

***

 

 

Rasyid memang tak pernah berniat menjadi doja. Bapaknya tidak berencana bahwa kelak nasib anaknya akan seperti dirinya. Sebelum dipinjami sebidang tanah untuk berhuma, hidup bapaknya sekeluarga benar-benar bergantung dari sumbangan orang pada masjid.

Ladang itu pula yang telah ‘membunuh’ ibunya. Perempuan yang sangat disayanginya itu tertimpa pohon yang batangnya lapuk saat mengambil air untuk menyiram sayuran. Masih mujur, bapaknya tidak ikut tertimpa.

Maka dari itu, Doja Rasyid sedikit kecewa pada perlakuan warga kampung terhadapnya. Mereka bahkan tak memandang barang sedikit sosok bapaknya, dan tentunya pengorbanan Rasyid yang telah setia melayani mereka semua. Rasyid mengorbankan sekolahnya, sekadar untuk bisa menjalankan wasiat bapaknya, meneruskan tugas bapaknya menjadi doja di mesjid itu.

“Biar aku sholat di bilik ini saja, Ustad!” Ujar Rasyid suatu ketika, menolak ajakan Ustad Abduh untuk sholat bersama, sehari setelah dirinya dipanggil kepala kampung. Ustad Abduh hendak mencari penyebab mengapa Rasyid mengurung diri macam itu. “Apa tidak sebaiknya, kau menemaniku sholat Dzuhur berjamaah saja, Rasyid?” Ajak Ustad Abduh dengan lembut.

Rasyid tak menjawab lagi. Karena malu, tak berani dia menatap wajah Ustad Abduh. Orang tua itu membiarkannya.

Tapi Doja Rasyid berusaha tetap sadar. Robeknya kulit beduk itu bukan kehendaknya. Nasibnya sekarang inipun, yang menjadi bulan-bulanan diolok orang, juga di luar kuasanya. Beberapa hari lalu, Rasyid sudah memikirkan masalah ini, dan sudah pula mengambil sebuah keputusan perihal beduk itu.

 

***

 

Rasyid menemukan jalan keluar atas masalah robeknya kulit beduk itu. Upah yang diperolehnya tatkala membantu mengecat rumah orang di kampung ini, boleh dibilang tak banyak. Sudah cukup lama uang itu dia kumpulkannya, tapi tetap saja jumlahnya jauh dari cukup untuk membeli kulit kering yang terbaik. Harga selembar kulit kerbau yang tersamak sempurna sangatlah mahal.

Tetapi, Doja Rasyid tetap menuju pasar hewan pada keesokan paginya. Setelah lama berkeliling, melihat-lihat dan menaksir, Rasyid berhenti di depan seorang lelaki tua gemuk yang menjual tiga ekor kambing, dua jantan dan seekor betina. Lelaki tua gemuk dengan misai memenuhi wajahnya.

“Berapa harga kambing yang ini?” Tanya Rasyid sambil menyentuh kepala seekor kambing jantan kurus.

“Mengapa tak memilih yang gemuk ini?” Tanya lelaki tua gemuk itu keheranan. Menganggap aneh pada pilihan Rasyid, pada kambing kurus miliknya itu.

Rasyid tersenyum takzim. “Tak mengapa, Pak. Aku suka yang ini saja. Kira-kira berapa harganya?” Rasyid bersikeras. Tak mau berpanjang-kata, lelaki tua gemuk itu menyebutkan harganya. “600 ribu rupiah. Boleh kurang sedikit.”

Rasyid menghela nafas berat. Jika pun dia harus menawar, uangnya sangat jauh dari cukup.

“Hendak kau buat apa kambing kurus ini?” Tanya si penjual kambing yang melihat Rasyid bergeming setelah mendengarnya menyebut harga. “Jika kau hendak beternak, sebaiknya pilihlah yang betina ini. Tubuhnya gemuk dan sehat. Jika hendak kau sembelih, hendaknya yang jantan gemuk ini.” Penjual kambing itu memberi saran.

Merah muka Doja Rasyid karena malu. “Sebenarnya hendak aku potong saja. Aku berniat memberikan dagingnya buat beberapa janda miskin di sekitar kampung. Dan kulitnya hendak aku pakai sebagai pengganti kulit beduk yang sobek.”

Lelaki tua gemuk itu terkekeh. “Jika beduk itu besar, tentu saja kulit kambing kurus ini tak akan cukup.”

Sekali lagi Rasyid menghela nafas, masygul. “Entahlah, Pak. Bahkan uangku sekarang tak cukup buat kambing kurus ini.”

Lelaki tua gemuk itu terdiam sesaat. “Berapa jumlah uangmu?” Tanyanya kemudian.

Rasyid merogoh sakunya, lalu mengeluarkan semua isinya. “Hanya sejumlah ini….” Ujarnya sambil menunjukkan uang sejumlah 450 ribu rupiah.

Lelaki tua gemuk itu tersenyum. “Uang sebegitu tentu tak cukup membayar kambingku ini,” ujarnya, “tapi jika kau bersedia membantuku menggiring pulang kambing-kambing ini, maka aku akan bersedia menukar kambing itu dengan berapapun sisa uang di sakumu,” Jelas lelaki tua gemuk itu.

Rasyid langsung mengangguk. Wajah Rasyid berbinar mendengar tawaran yang tak terlampau sukar itu. Tanda setuju, Rasyid menjabat tangan lelaki tua yang ternyata bernama Ama (bapak) Jalad.

Petang hampir habis ketika mereka tiba di rumah Ama Jalad. Sebelum membersihkan tubuh, Rasyid harus membantu memasukkan dua ekor kambing tersisa ke kandang sederhana yang tepat berada di bawah rumah panggung Ama Jalad. Sedang kambing yang hendak dibayarnya, diikatkan terpisah pada tiang dekat kandang.

Ama Jalad tak memiliki anak, itulah mengapa rumah ini terasa sepi. Tapi melihat suami-istri itu hidup rukun, Rasyid sungguh bersyukur. Jarang ada suami-istri yang bisa rukun bertahun-tahun walau hidup mereka tak dihibur anak-turunan.

“Rasyid, terima kasih kau sudah mengantarku pulang. Kau boleh bawa pulang kambing itu sesuai tawaranmu, dan juga ini” kata Ama Jalad ambil mengangsurkan bungkusan di tangannya pada Rasyid.

Rasyid mendongak, menatap wajah Ama Jalad. Lelaki tua itu sedang tersenyum padanya.

“Terimalah. Bawalah kambing itu juga. Uang darimu, rasanya, sudah cukup banyak untuk kambing dan kulit kerbau itu. Lagipula, kambingku masih ada dua,” kata Ama Jalad, sambil mengangguk tegas.

“Aku tak tahu hendak kuapakan kulit kerbau itu semenjak aku memelikinya. Kini aku tahu dengan siapa kulit kerbau itu berjodoh,” terang Ama Jalad. “Aku senang dan bahagia bisa ikut memperbaiki beduk di mesjidmu,” pungkasnya.

Lidah Rasyid kelu sesaat, tak bisa bicara. Pemberian Ama Jalad adalah rejeki yang benar-benar di luar dugaannya. Hal yang tak pernah diharapkannya sedikit pun. Jika dia memang mengharapkan sesuatu, semisal korting yang pantas untuk harga kambing itu, maka yang diberikan Ama Jalad lebih dari sekadar potongan harga. Betapa beruntungnya Rasyid yang telah menahan sabar dan mencari jalan keluar selama berhari-hari.

Sebelum pergi, Doja Rasyid berpamitan sambil meletakkan punggung telapak tangan Ama Jalad ke keningnya. Tak putus syukurnya, dan tak henti terima kasihnya pada Ama Jalad. Perjalanan pulang terasa begitu singkat bagi Rasyid. (*)

(Republika, 7 Agustus 2011)


Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (2)

Oleh Iwan Piliang

 

Nazaruddin terindikasi berbohong untuk kebohongan dan kini kekeh ingin membongkar kebohongan.

SETELAH penayangan wawancara via Skype dengan Nazaruddin, aplikasi online berbicara tatap muka, ditayangkan oleh Metro TV pada 22 Juli 2011malam, telepon genggam saya seakan tiada henti bergetar. Miss call banyak. Ada telepon masuk dari sahabat lama, hingga pesan misterius tak beridentitas.

Maka tidak berlebihan bila Sabtu 23 Juli itu hari terasa panjang. Perasaan was-was menghadang. Ada ancaman baik-baik. Masuk pula telepon berkata-kata kasar. Di rembang petang menjelang, di saat saya masih berada di atas taksi di bilangan Cik Ditiro, Jakarta Pusat, seorang menelepon dari hand phone yang tiga nomor akhirnya 626.

“Halo apa kabar?”

Suara terkesan muda bernada gaul.

Maaf nih, HP gue hilang, data banyak lenyap, siapa ni? Saya menjawab.

Ahh masa lupa…saya Djoko, itu lho yang kontak waktu masalah David?”

Mendadak sontak saya berujar, nuwun sewu, waah orang besar menelepon, terima kasih, maaf banget ya Pak.

“He he tak apa …”

Saya mempersingkat obrolan dengan menyampaikan bahwa saya meminta waktu akan menghadap ke kantor Menko Polhukam.

Benar. Sosok itu adalah: Djoko Suyanto, Menteri Kordinator Politik dan Keamanan (Menko Polhukam), yang mengkordinasi 10 kementrian, termasuk Polri, dan lima badan seperti Badan Intelijen Negara (BIN).

Pada saat kasus David Haryanto, mahasiswa Indonesia yang “dibunuh” di Singapura di saat persidangan coroner terakhirnya, Wapres Boediono, bersamaan waktunya meresmikan kerjasama program S2 Rajaratnam-Nanyang Technological University (NTU) dengan Indonesia, di Singapura.

NTU adalah kampus di mana David “dibunuh”. Sehingga peresmian kerjasama dengan sekolah itu di akhir persidangan coroner kasus David, saya rasakan sebagai “penghinaan” kepada keluarga David, kepada anak dan bangsa Indonesia umumnya.

Maka sehari sebelum hal itu terjadi, saya berbicara keras di TVONE. Saya sampaikan ke pemirsa, bahwa saya bertemu dan berbicara dengan seorang warga Singapura. Saya Tanya opininya menyimak kasus seperti David. Dia bilang kalau warga Singapura satu saja kalimatnya, “Are you patriot or not?” Apalagi di tingkat penyidik, sebagai polisi. Pastilah yang diutamakannya kepatriotannya sebagai bangsa Singapura.

Pertanyaan yang sama seakan saya tujkukan di TVONE kepada Boediono, “Are you patriot or not?”

Jawabannya?

Di saat saya hendak menutup pintu rumah menuju bandara, sosok Djoko Suyanto menelepon. Ia bertanya apa sebaiknya dilakukan terhadap David? Saya katakan kerjasama antar negara karena memang sudah direncanakan lama silakan saja. Namun paling tidak negara harus menunjukkan empati.

Saya lempar ide, bagaimana bila keluarga David diterima oleh Bapak Boediono di Singapura. Djoko Suyanto lalu meminta waktu. Sekitar 10 menit ia balik menelepon saya kembali. Djoko mengatakan silakan pukul 14 hari itu juga Boediono berkenan menerima keluarga David di Hotel Shangrilla, Singapura. Pertemuan itu pun terjadilah. Adalah Menko Polhukam di belakang layar mengatur pertemuan itu.

Begitulah seorang Djoko Suyanto, yang saya kenal. Sosok rendah hati. Di luar kasus David itu, saya tak pernah lagi menjalin kontak. Pernah sekali waktu sebelum nomor HP-nya raib dari file saya, pernah mengirim SMS sekadar mengirim salam, tapi tak berbalas. Anda paham, sebagai Menko, pastilah ia sangat sibuk sekali.

Barulah setelah Metro TV menayangkan wawancara Skype saya dengan Nazaruddin, untuk kedua kalinya, Djoko Suyanto menjalin kontak kembali..

Senin, 25 Juli 2011, karena kesibukan sehari-hari, saya belum berkunjung ke kantor Menko Polhukam. Barulah Selasa esoknya setelah tampil di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, dengan meminta diantar oleh mobil TVOne, saya langsung menuju ke kantor di kawasan Merdeka Barat itu.

Tentulah saya tak membuat janji. Saya langung menuju area belakang di mana ada warung kecil di pinggir parkir yang bersebelahan dengan kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan.

Sambil minum teh panas, saya mencoba menghubungi staf Djoko. Hari itu dapat kabar jadwal padat sang Menko. Saya melamun di warung yang masih sepi. Membayangkan apa gerangan yang hendak disampaikan. Saya berusaha berpikir positif.

Setelah lebih tiga puluh menit berlalu, kaki seakan menggerakkan saya untuk melangkah pulang. Namun di luar dugaan, sebelum melewati bangunan rumah bak pendopo di mana Menko berkantor, tampak keluar beberapa ajudan. Tak lama kemudian tampak Djoko Suyanto berjalan, menuju ke arah saya. Ia berpantalon hitam, berbaju batik bercorak coklat tua. Rambutnya diberi jeli, ditegakkan, bagaikan gaya anak muda. Segar.

Tentu dengan mudah saya dapat menyalaminya. Saya menjabat tangannya. Saya tanyakan kapan bisa mengahadap. Kepada stafnya Djoko bertanya apakah nanti sore setelah dengan Presiden ada jeda waktu untuk saya bisa jumpa. Stafnya mengatakan akan dicoba. Saya pun menyampaikan kesiapan kembali. Lalu kami berpisah.

Belum tiga langkah berjalan, Djoko memanggil, ia mengajak saya turut ke lantai 6. “Ada kegiatan media, sekalian saja ikut,” ujarnya.

Maka saya pun berjalan bersamanya menuju lantai 6 di Gedung Dewan Ketahanan Nasional. Rupanya di lantai 6 itu sudah banyak hadirin. Dominan yang hadir para tokoh media, pimpinan PWI, KPI dan lainnya. Di podium saya lihat bertuliskan: Peran Media Massa dalam Pengelolaan Masalah-Masalah Nasional. Rupanya ada seminar terbatas.

Begitu Menko Polhukam datang, acara langsung dibuka. Ia mengutarakan seluruh konten media setidaknya harus menganut tiga hal, yakni informasi, pendidikan, dan hiburan. Walaupun tidak lepas bahwa media ada unsur komoditas, tapi seyogianya roh jurnalisme harus menjadi topangan utama dibandingkan dengan roh bisnis.

Djoko juga mensitir bahwa media sosial yang berkembang saat ini, sebagai sesuatu yang positif. Agak tak “nyaman” saya, ketika di pengantar seminar ia menyebut saya sebagai tokoh media sosial yang hadir di ruangan itu. Kikuk rasanya , sebagai sosok tak diundang, mendadak datang. Apalagi di ruangan itu ada senior di jurnalisme Indonesia seperti Sabam Siagian.

Djoko Suyanto mengingatkan bahwa salah satu tanggung jawab media agar memiliki jiwa nasionalisme. Pola pikir besar media juga harus berpihak kepada negara. ”Pers harus ada keberpihakan terhadap negara,” tuturnya.

Sebelumnya F.H.B. Soelistyo, Deputi VII Menko Polhukam, di pengantarnya mengatakan desain silaturahmi iti ditujukan bukan untuk mempengaruhi peran dan fungsi masing-masing kelembagaan maupun institusi khususnya media massa, namun lebih pada upaya mencari titik temu simbol profesionalitas diantara fungsi dan peran masing-masing kelembagaan.

Pertemuan itu juga dihadiri J. Kristiadi Peneliti Senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Margiono Ketua PWI Pusat. Mereka berdua Pembicara. Moderator Tarman Azam Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat.

Margiono mengutip hasil riset Kompas, bagaimana saat ini lembaga yang dipercaya publik adalah TNI dan Pers. “Itu artinya kalau pers dan TNI bersatu, bikin apapun saat ini dukung rakyat,” ujar Margiono tertawa. Lembaga terendah mendapat kepercayaan rakyat kini adalah DPR, hanya 16%. Dalam hati saya bertanya berapa persen pula kalau dirinci kepercayaan publik terhadap pers mainstream dibanding media alternatif, media sosial?Saya mengikuti hingga acara tuntas di jam makan siang.

Hingga hari ini pertemuan khusus saya dengan Menko Polhukam belum terjadi. Agendanya padat sekali. Saya belum bisa menduga apa gerangan yang akan ia sampaikan berkait dengan kasus Skyping saya dengan Nazaruddin.

Bagi saya jika ditanyakan apa premis berwawancara dengan Nazaruddin?

Jawabnya sederhana, verifikasi. Tidak ada niat menjadi corongnya Nazar. Tanpa saya berwawancara pun jagad jurnalis sudah pasti mencari sosoknya untuk konfirmasi. Bukan media di Indonesia saja. Saya tahu pasti lembaga kantor berita asingpun mencari akses untuk bisa mewawancarainya.

Logikanya, bagaimana kita menilai sesuatu itu benar atau salah jika informasi saja tak ada. Dalam kerangka inilah menjadi penting mewawacarai Nazaruddin, tersangka kongkalingkong di kasus Wisma Atlit. Dari paparan Nazar pula, kita semua paham, bahwa ada indikasi tajam pemakaian uang, anggaran APBN, yang dominan dihimpun dari pajak rakyat, digunakan untuk kepentingan pribadi, di mana melibat beberapa nama mulai Anas Urbaningrum, Machfud Suroso, Andi Muchayat, dan kalangan anggota DPR, sebagaimana sudah banyak diberitakan media massa.

Dari wawancara melalui Skype dengan Nazar pula kita dapat informasi bahwa ada indikasi pertemuan anggota KPK di kediaman Nazar. Ia menyebut nama-nama anggota KPK Ade Raharja dan Chandra Hamzah. Sesesorang menuding saya, karena wawancara Skype saya telah membuat tokoh seperti mereka plus Johan Budi tidak lulus seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Begitukah?

Menanggapi tudingan itu, saya hanya menjawab, bahwa saya sudah lama juga memverifikasi KPK, karenanya saya tidak mendukung salah satu pihak di era gencar-gencarnya dualisme Cicak-Buaya. Namun jika saya diminta beropini, saya tentu juga tak akan mengamini kalimat Marzuki Alie yang bikin kontroversi mengusulkan KPK dibubarkan saja.

Bagi saya institusi KPK penting. Ia menjadi tidak bergigi dan kredibel, karena orang-orang di dalamnya terindikasi melanggar komitmen pemeberantasan korupsi. Jika insannya bermasalah, mengapa institusinya kita lebur? Di lain sisi tak dipungkiri dengan banyak lembaga add-hoc kini, telah membenahi anggaran negara, namun hasil dicapai tak sesuai dengan harapan.

Selasa malam 27 Juli itu sebagaimana telah disimak publik, saya hadir di acara Jakarta Lawyer Club, TVOne, yang dipandu Karni Ilyas, dengan topik “Salahkah Media Menyiarkan Kasus Nazaruddin”, tentu termasuk di dalam topik utama ihwal ber-skype-ria saya dan Nazaruddin. Kuat dugaan saya Anda tentu telah menyimaknya apalagi Minggu, 31 Juli malam program itu telah disiarkan ulang.

Satu catatan saya, bahwa pada Kamis, 28 Juli, 2011, usai bertemu berberapa kawan dari TVOne di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, saya menemui seorang kenalan di Mood Café. Saat itu pengunjung café sedang berkonsentrasi ke televisi, menyimak pertandingan bola Indonesia-Turkmenistan. Pada kesempatan bola masih 2-0 untuk Indonesia seuntaian kalimat itu disampaikan ke saya, “Bisa tidak seluruh data Nazar Anda minta dan ia tak usah pulang ke Indonesia?” Kalimat itu diikuti dengan tawaran ini dan itu.

Saya menjadi teringat akan serial film The Godfather. Bagaimana sebuah deal mafia dilangusngkan. Saya sangat kagum denagn orang-orang yang memainkan peran demikian, di banding dengan sosok yang mengaku “jagoan” mengancam-ancam lewat telepon.

Dulu ketika saya menulis soal sebuah restrukturisasi yang dilakukan BPPN, kini PRT Pengelola Asset, oknum pejabat di sana mengancam saya. Karena beraninya hanya melalui telepon saya berikan alamat lengkap saya dan saya tunggu ia kala itu juga.

Sehingga berbeda sekali langgam dulu dengan yang saya hadapi kini. Rada ngeri-ngeri sedap.

Saya akan menceritakan lagi ihwal ini di Sketsa berikutnya, sembari saat ini berfokus menjalin komunikasi dengan Nazaruddin menuntut janjinya untuk ber-skype lagi. Komunikasi dengannya, bagi akan juga terus berjalan dengan wartawan lain, terus terjalin melalui BackBerry Messenger.

Di balik hari-hari sejak wawancara ditayangkan Skype dengan Nazaruddin di Metro TV, hingga tulisan ini saya buat, keseharian saya tentulah tidak lagi sebagaimana biasanya.

Sekarang setiap saya keluar rumah, saya harus membuat janji dengan tek-tok; maksudnya dengan mengubah tempat pertemuan mendadak. Handphone disadap sudah biasa. Tetapi ancaman aneh-aneh tampaknya memang harus diantisipasi.

Akan halnya “serangan” terhadap tulisan dan momen mendapatkan Skype eksklusif itu, saya cukupkan ke haribaan publik yang menilainya.

Saya hanya sangat percaya satu: kerja jurnalisme itu kerja hati nurani. Muaranya kebenaran. Verifikasi tiada henti dengan kejernihan hati, saya yakini mengantarkan ke kebenaran sejati. (bersambung)

 

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blogger, blog-presstalk.com

Baca artikel sebelumnya, Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin #1

Nazaruddin memegang flashdisk berisi bukti yang diklaimnya, dalam rekaman percakapan Skype dengan jurnalis Iwan Piliang (sumber foto: iwan piliang/istimewa)


Sketsa: Behind the Scene Skype Nazaruddin (1)

Oleh Iwan Piliang

Semangat menjalankan elemen jurnalisme. Lain tidak.

Minggu, 24 Juli siang di pemakaman Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Saya menyerahkan surat keterangan kematian ayah saya kepada petugas, yang belum sempat kami berikan di saat berpulangnya mendiang, 16 Juli lalu. Makam-makam lain, dijejali peziarah. Rasa Ramadan sudah.

Menatap pusara ayah, tanah masih merah. Saya terpana berdiri. Di makam sama sudah terlebih dahulu ibu mendiami. Seorang bapak menghentikan langkah lalu menyapa.

“Ketemu di mana ya?” katanya sambil menunjuk wajah saya.

“Saya dari Depok, kita pernah ketemu di mana ya?”

Saya perhatikan bapak itu berpikir lama. Kian serius menduga-duga, hingga keningnya mengkerut. Demi menghentikannya berpikir jua saya jawab: ketemu di televisi ya Pak? Bapak itu langsung menarik keras tangan, menjabat sangat erat, lalu berujar “Iya, Iwan Piliang.”

Ketika bangun di pukul  04.30 pagi, isteri saya menepuk badan, “Eh selebriti bangun, jemputan Metro bentar lagi datang.” Pagi itu saya memang akan tampil lagi di Metro pagi .

Di dalam buku The Element of Journalism, disebutkan esensi jurnalisme adalah verfikasi, bermuara ke kebenaran, keberpihakan kepada publik. Jadi kalau ada ledekan selebriti dari orang rumah sendiri, jauhlah yauw dari tujuan jurnalisme.

Dan bila ada tudingan di media online Iwan Piliang sebagai pahlawan atau bayaran? Jauh pula dari dada dan benak saya. Sebagai salah satu sosok yang menemani Biill Kovach, ketika berkunjungan ke Jakarta pada 2003, penulis buku yang sebutkan tadi –kini dianggap simbol hati nurani jurnalisme Amerika Serikat— ajaran professionalnya saya camkan tajam mendalam.

Saya memang menerima bayaran menulis untuk opini yang dimuat koran. Juga menerima bayaran menulis untuk advertorial. Termasuk ketika pemilihan Capres 2009 lalu, saya diminta Edelman PR sebagai blogger menuliskan ketika ikut dalam kampanye Jusuf Kalla, sebanyak dua kali.

Kala itu rate card menulis saya Rp 1.200 per kata. Dan Edelman membayar lebih untuk tulisan Semangkok Soto Dalam Kampanye, di tulisan lebih dari 1.200 kata. Malahan karena saya senang dengan pemikiran Prabowo, beberapa kali saya menulis sebagai Ghost Writer untuknya di blog, tanpa dibayar. Kalau pun ada imbalan, itu terjadi  karena saya mengenalnya setelah saya menjadi pemenang menulis di blog yang diadakan Prabowo, mendapatkan hadiah satu laptop dan modem internet. Itulah pengertian bayaran yang saya maksudkan.

Sedangkan dalam banyak tulisan jurnalistik, tentulah jauh dari bayar-bayar. Memverifikasi kasus David, kasus penggelapan pajak, dan banyak hal lain, secara faktual karena saya bergerak di media alternatif, malah selalu devisit membiayai liputan sendiri. Di dalam ranah kejurnalistikan dari dulu hingga kapan pun saya melarang wartawan menerima amplop.

Karena pemahaman itulah misi utama mewawancarai Nazaruddin jelas berpegang kepada elemen jurnalisme. Misi utama berikutnya adalah semua data yang dia perlihatkan di wawancara sebelumnya, dapat dibuka. Saya menyarankan kepadanya untuk data itu ditempatkan di Rapidshare, sehingga linknya dapat diberikan ke semua media dan publik.

Wawancara ekslusif saya melalui jaringan Skype di internet dengan bendera Presstalk, sebuah nama untuk talkshow sejam di Qtv dulu, juga jaringan indie untuk pembelajaran menulis literair  –pernah disponsori Bank BNI— serta sebuah account Presstalktv di youtube.com, Presstalk di yahoogroups, juga blog-presstalk.com, bukanlah produk instan di lingkup jurnalisme.

Bendera presstalk-lah yang saya ajukan ke Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang keberadaannya hingga kini belum diketahui, untuk memuat wawancara dengannya. Di prestalktv di youtube dalam rekaman jejak merk ini, pernah saya pakai mengisi ruang bagi tampilnya Anas Urbaningrum maju menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, sebelum Kongres pada Mei 2010 lalu.

Saya sampaikan ke Nazaruddin: Ingat dulu Presstalk memuat wawancara untuk Anas di youtube. Kini jika ada yang tak benar, adalah layak Presstalk memverifikasi lagi?

Begitu selalu saya yakinkan Nazaruddin.

Dalam dunia jurnalisme, saya sampaikan juga kepada Nazar, kesemua pihak harus didengar keterangannya. Keterangan di internal Partai Demokrat, dan personal yang disebutkannya sudah banyak beredar, tetapi Nazar tak bisa ditemui?

Tak lama setelah Nazaruddin kabur ke Singapura, melalui BlackBerry Messenger (BBM), acap kali saya menyapanya.

Kapan bisa saya wawancarai?

Saya pernah tawarkan apakah berkenan kalau saya datang ke Singapura dan atau di mana Nazar ada, saya rekam wawancara, lalu saya “buang” ke Presstalk di Youtube?

Dalam satu kesempatan berbalas BBM, Nazar pernah menyetujui. Namun ada sepekan komunikasi terputus dengannya.

Fakta ini terus berulang. Saya tak bosan-bosan menanyakan, kapan bisa wawancara, sambil sesekali bertanya kesehatannya. Kemudian malah duluan dua teve nasional yang mendapatkan wawancara Nazar melalui telepon. Saya terus-terusan meyakinkannya, kalau BBM dan SMS-nya bisa dituding palsu. Bahkan faktanya ia dicap berhalusinasi oleh beberapa orang dari Partai Demokrat.

Sampai Minggu pertama Juli 2011, Nazar mengangetkan saya. Ia menawarkan mewawancarainya pakai Skype saja di internet?

Skype?

Saya agak terperanjat kala itu.

Mengingat setahu saya sebelumnya Nazar tidak terlalu biasa dan tahu dengan teknologi online.

Saya sampaikan pada Nazar untuk menunggu dulu. Sementara itu saya mempelajari landasan hukum, teknologi yang dapat dipertanggung-jawabkan secara digital forensik, jika dibutuhkan pembuktian bahwa wawancara itu bukanlah barang palsu. Termasuk untuk menghindari tudingan lainnya.

Maka demi menjaga keotentikan wawancara itu saya membeli aplikasi untuk merekam di komputer di youtube seharga US $ 39. Setelah itu saya mencari tempat yang memiliki akses internet broadband. Dan barulah saya pede menyampaikan kepada Nazar melalui BBM kepadanya untuk setuju ber-skype-ria.

Dari tanggal 12 Juli kepastian itu sudah saya dapat, lalu belum dipastikan waktunya. Tanggal 14 begitu lagi, pasti, tapi tak jadi lagi. Pada 16 Juli pas di hari ulangtahun saya ke-47, sesuai janji, akan kami lakukan Skype. Dan jika hari itu terjadi, wawancara menjadi kado ulang tahun buat saya, tanpa Nazar paham kalau saya hari itu ulang tahun. Namun Tuhan berkehendak lain, kado hari itu ternyata ayah saya berpulang di pukul 10 pagi. Dan saya otomatis tak jadi mengontak Nazar.

Singkatnya komunikasi terus saya jalin. Wawancara melalui Skype dapat saya lakukan dengan meminjam tempat di kediaman kawan yang akses internetnya broadband. Waktu diberi tahu mendadak oleh Nazar, di saat saya masih di atas taksi di jalan, di bilangan Jakarta Pusat. Saya meminta waktu lebih sejam agar  bisa online. Barulah pada tanggal 21 Juli pukul 23.12 kami bisa sama-sama melihat wajah di internet.

Saya melihat wajah Nazar segar. Ia tak turun berat badan hingga 18 kg seperti yang pernah disampaikan pengurus Partai Demokrat.

Saya mengajaknya berbicara rileks santai, lebih dari setengah jam. Barulah saya kemudian serius memulai wawancara yang sebagian besar sudah ditayangkan Metro TV.

Ketika Metro TV menayangkan rekaman itu, Jumat, 22 Juli malam, Indra Maulana, pembawa acara, membuka twitternya, mendapatkan kabar di beberapa kota jalanan sepi, dominan publik menyimak program itu. Di internal Metrotv sendiri, siaran breaking news itu telah menunda jam tayang Kick Andy. Tak lazim.

Saya benar-benar tak menduga perhatian demikian tinggi. Dan sekali lagi saya juga tak berpikir menjadi selebriti apalagi pahlawan, mengingat sejatinya verifikasi saya masih belum selesai, karena misi utama mendapatkan kebenaran dan siapa data di flash disk dan video yang ingin disampaikan Nazar, memang merujuk ke kebenaran sejati yang hingga hari ini masih saya tunggu.

Satu hal catatan pendek saya, yang akan saya urai di Sketsa berikutnya, terjadi keanehan menimpa kolega saya Oka, menetap di Bali, yang hari itu baru pulang menerima hadih sebagai pemenang animasi yang diadakan oleh MNC Group, di Bandung. Oka saya ajak ke Metro TV. Ketika saya dalam siaran live, HP dan BB saya mati. Anehnya ke HP Oka masuk telepon seseorang.

Suara menyapa Oka bilang begini, “Lagi bersama Iwan Piliang ya?”

Oka gemetar.

Ia lapor ke keamanan Metro TV.

Setelah handphone saya nyala, ancaman lisan dan sms mulai masuk.

Ada juga telepon baik-baik dari Denny Kailimang, Divisi Hukum Partai Demokrat yang memang saya kenal. Ia bilang, “Hai fren, yu bilang apa di Metro TV?”

Saya jawab apa Abang menonton semua?

“Tidak nonton semua, kawan-kawan bilang, you ngomong apa?”

Saya katakan saya menjalankan misi jurnalistik. Abang simak saja utuh.

“Iya hati-hatilah, ini kan ranah hukum,“ katanya ramah.

Masuknya telepon asing ke Oka, sudah membuat saya tak langsung pulang ke rumah malam itu. Kami pun ke luar dari Metro teve melalui jalan berliku, menuju parkir dan diantar oleh mobil tanpa merk Metro TV. Tentulah masih panjang kisah ini. (bersambung)

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blogger.

Baca artikel selanjutnya, Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin #2

 

Dapat dibaca juga di:

Kompasiana : Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (1)

The Indonesian Freedom Writers : Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (1)


German-Indonesian Film Award Winner 2003

[Dokumen]

FILM JERMAN :

 Quiero Ser

Der Peruckenmacher

Ein Einfacher Auftrag

Balance

Kleingeld

Quest

Schwarzfahrer

Gregors Grobte Erfindung

FILM INDONESIA :

 Kamar Mandi

Dapupu Project

Mayar

Violance Against Fruits

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Mass Grave

Ketok

Loud Me Loud

Geothe Institute Jakarta

 

Loud Me Loud

Loud Me Loud. Sutradara: Bayu Sulistyo S.

Bayu Sulistyo S (Sutradara), Indonesia, 2002, Animasi, Digital AV, Berwarna, 26’ 49”.

Bercerita tentang Muki, perjaka tulen yang senang berjoget diiringi musik keras kesukaannya yang bertetangga dengan Jowee yang cinta damai dan pemuja ketenangan. Apa yang kemudian dilakukan Jowee, dan bagaimana aksi balas dendam Muki?

Penghargaan : Special Mention Kuldesak Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2002.

***

Ketok

Ketok. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, Eksperimental, DV, Berwarna, 5’ 35”.

Menggambarkan kesaksian sepasang suami-istri tentang ketukan misterius di pintu rumah mereka… atau?

Penghargaan: Best Film SET Award & Best Technical Achievement Kuldesak Award FFVII 2002.

***

Mass Grave

Mass Grave. Sutradara: Lexy Junior Rambadeta

Lexy Junior Rambadeta (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, DV, Berwarna, 26’.

Setelah diktator Soeharto dijatuhkan pada 21 Mei 1998, rakyat Indonesia mulai berani mempertanyakan kembali sejarah bangsanya. Salah satu peristiwa kejam yang ditutup-tutupi adalah pembantaian massal terhadap lebih dari 500 ribu rakyat Indonesia tahun 1965-1968 yang diorganisasikan oleh militer di bawah perintah diktator tersebut. Pada tanggal 16 November 2000, beberapa orang tua yang merupakan keluarga dari korban pembantaian 1965-1968 tersebut, menggali sebidang tanah perkebunan di hutan di pinggiran Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mereka, dengan bantuan beberapa dokter forensik, menemukan 26 kerangka manusia yang ditimbun bertumpuk-tumpuk menjadi satu. Beberapa keluarga korban berhasil mengindentifikasi tulang-belulang yang ditemukan sebagai keluarga yang mereka cari. Ibu Sri Muhayati misalnya, mengenali tulang ayahnya yang dibunuh tentara pada 1966. Keluarga lainnya juga mengenali identitas keluarga mereka. Empat bulan setelah pemugaran kuburan massal di tengah hutan wilayah Wonosobo tersebut, keluarga korban ingin melakukan pemakaman kembali yang layak untuk kerangka-kerangka keluarga mereka. Seorang teman mereka bernama Pak Irawan berbaik hati menyumbangkan sebagian tanahnya di Desa Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, untuk tempat penguburan. Namun, rencana pemakaman kembali tersebut digagalkan oleh sekelompok orang. Peristiwa ini tidak dipublikasikan dengan jujur dan terbuka oleh media massa.

Penghargaan : Best Documentary SET Award FFVII 2002.

***

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang. Sutradara: Eddie Cahyono

Eddie Cahyono (Sutradara), Indonesia, 2001, DV, Berwarna, 12’.

Film ini bercerita tentang semangat perjuangan yang tidak pernah luntur dari seorang anak bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Keprihatinan dalam melihat kenyataan bangsa Indonesia pada saat ini, dimana segala cita-cita pada masa perjuangan telah dikotori oleh keserakahan manusia. Film ini juga menyentuh kesadaran sosial tentang pentingnya penghormatan terhadap semangat perjuangan yang tidak pernah luntur.

Penghargaan : Best Short Film SET Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2001.

***

Violance Against Fruits

Violance Against Fruits. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2000, Eksperimental, DV, Berwarna, 3’

Santai saja, nikmati pembantaian Diospyros Kaki di depan mata Anda. Terinspirasi oleh kerusuhan Mei 1998.

Penghargaan : Best Cenceptual Film Kuldesak Award FFVII 2000.

***

Mayar

Mayar. Sutradara: Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah (Sutradara), Indonesia, 2002, Fiksi, MiniDV, Berwarna, 32’.

Mayar adalah seorang penduduk urban di Jakarta Selatan. Pada tanggal 15 sampai 18 Agustus ia pulang ke kampungnya, Yogyakarta, untuk menengok ibunya. Banyak hal yang terjadi dikampungnya ketika ia pulang, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menetap di Jakarta Selatan. 

Penghargaan : Best Art Director & Director of Photography SET Award FFVII 2002, Jakarta.

***

Dapupu Project

Dapupu Project. Sutradara: Wahyu Aditya

Wahyu Aditya (Sutradara), Indonesia, 2000, Animasi Komputer, Berwarna, 3’

Menceritakan sebuah robot burung unta yang diburu oleh robot seniman.

Penghargaan : Best Film Animation Film Festival 2001, Best Animation Film SET Award FFVII 2001.

***

Kamar Mandi

Kamar Mandi. Sutradara: Rusli

Rusli (Sutradara), Indonesia, 1999, Fiksi, Betacam, Hitam-Putih, 10’ 11”.

Keluarga… Ayah… Ibu… Anak… Satu hari… Di kamar mandi…

Penghargaan : Best Independen Short Film Garin Nugroho Award & Best Short Film Director Kuldesak Award in 1st Indonesia Independent Film-Video Festival (FFVII) 1999.

***

Gregors Grobte Erfindung

Gregors Grobte Erfindung. Sutradara: Johannes Kiefer

Johannes Kiefer (Sutradara), Jerman, 2001, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 11’.

Dari hari ke hari neneknya Gregor makin susah berjalan. Teman-teman wanitanya mendesak dia untuk pindah ke panti jompo… Tetapi Gregor menyayangi neneknya dan ia adalah seorang penemu yang jenius: ketika ia menyadari, bahwa neneknya bisa berjalan di air tanpa rasa sakit, ia punya ide yang hebat…

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Nomination for Best Short Film 2002, Best Comedy Los Angeles 2002, Audience Award Best Short Austin 2001, Jury Award New York 2001, Best Comedy Burbank 2001, Best Comedy Short Cinequest 2002, Best Short Magnolia 2002.

***

Schwarzfahrer

Schwarzfahrer. Sutradara: Pepe Danquart

Pepe Danquart (Sutradara), Jerman, 1992, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Hitam-Putih, 35mm, 12’.

Ia seorang kulit hitam dalam perjalanan dengan sebuah trem, duduk di tempat pilihannya: hal ini membuat meledaknya kebencian ras seorang nenek Jerman. Namun orang kulit hitam itu tahu bagaimana harus bereaksi.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Film Berlinale 1993, First Audience Award Hamburg Short Film Festival NO BUDGET 1993, Best Short Film in Melbourne 1993, New York 1994, Oscar Best Short Film, 1st Prize, 11th International Odense Film Festival 1995 and many others.

***

Quest

Quest. Sutradara: Thomas Stellmach

Thomas Stellmach (Sutradara), Jerman, 1996, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 11’.

Sebuah figur dari pasir menunggalkan dunia pasir, tempat ia tinggal, untuk mencari air. Ia berkelana ke dunia-dunia lain dari kertas, batu dan besi, selalu mengikuti titik-titik air. Pada akhirnya figur pasir ini berhasil mencapai air… dengan cara tragis. 

Penghargaan / Anerkennung : 1997 Oscar for Best Short Animation Film, Cartoon-d’Or-Preis 1996, Friedrich-Wilhelm Murnau Preis Best Shortfilm 1996, etc. (about 50).

***

Kleingeld

Kleingeld. Sutradara: Marc Andreas Bochert

Marc Andreas Bochert (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Drama Sosial, Berwarna, 35mm, 15’ 32”.

Film karya Bochert mengisahkan tentang hubungan yang luar biasa antara seorang pengemis dengan seorang pengusaha. Suatu hari si pengemis berdiri membisu di trotoar diantara sebuah bangunan kantor dan tempat parkir. Dengan sebuah gelas kertas ia meminta-minta uang. Berawal dari sebuah sumbangan dari seorang berdasi yang kemudian menjadi kebiasaan setiap hari. Keadaannya menjadi rumit ketika suatu hari si pengemis mulai mencuci mobil sang pengusaha… Kisah dari Berlin tahun 90-an yang diceritakan secara tragis, lucu dan profesional.

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Student 1999, Deutscher Kurzfilmpreis in Silber 1999, Oscar Nomination for Best Short Film 1999.

***

Balance

Balance. Sutradara: Wolfgang & Christoph Lauenstein

Wolfgang & Christoph Lauenstein (Sutradara), Jerman, 1989, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 7’ 20”.

Lima figur bergerak di atas sebuah plat. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila ada keseimbangan, dengan cara keseimbangan semua orang/figur dibagi merata. Permainan dimulai, dimana keseimbangan terus-terusan terancam, dan ketergantungan satu figur dengan yang lainnya menjadi jelas terlihat.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Animation Film Oscar 1990.

***

Ein Einfacher Auftrag

Ein Einfacher Auftrag. Sutradara: Raymond Boy

Raymond Boy (Sutradara), Jerman, 1996, Dialog Bahasa Jerman, Kurzpielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 10’ 50”.

Fee Marie, yang sudah sejak bertahun-tahun berhasil memenuhi keinginan-keinginan orang, harus mengunjungi seorang tukang tembok Jakob Brumme di gubuknya yang reot dan memenuhi 3 keinginannya. Sebuah pekerjaan yang mudah, kelihatannya.

Penghargaan / Anerkennung : International Short Film Festival Hamburg 1996, “Premiere-Preis” / Oscar Student 1997.

***

Der Peruckenmacher

Der Peruckenmacher. Sutradara: Steffen Schoffler

Steffen Schoffler (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Bahasa Inggris, Film Animasi, Fantasi, Berwarna, 35mm, 15’.

Kisah seorang pria yang menutupi dirinya sendiri rapat-rapat di Landon yang tercemar pest pada jaman abad pertengahan untuk menghindar dari infeksi. Ketika seorang gadis kecil yang sakit meminta pertolongannya, dunianya seakan mau runtuh.

Penghargaan / Annerkennung : Jury Etudiant, Prix de la mise en scene – Vendome 2000, 2001 Oscar Nomination for Best Short (Animation) Film.

***

Quiero Ser

Quiero Ser. Sutradara: Florian Gallenberger

Florian Gallenberger (Sutradara), Jerman, 1999, 35mm, Berwarna, Dialog Bahasa Spanyol, Fiksi, 34’.

Dua orang kakak beradik yatim piatu berjuang hidup di jalan-jalan kota Mexico. Impian akan masa depan yang lebih baik membuat mereka mampu menyisihkan setiap peso yang mereka dapat untuk ditabung. Tetapi ketika si kakak jatuh cinta, maka semua uang tabungannya dipakai untuk pacaran dengan sang gadis, perbuatannya ini memyebabkan si adik sakit hati. 25 tahun kemudian secara tak sengaja mereka bertemu kembali…

Penghargaan / Anerkennung : (terseleksi)

Academy Award (Oscar) 2001/Student Academy Award, First Steps Award 2001, GWFF – Award for Best Film for Graduation 1999, Prize UNICEF Bilbao, Film Prize from The City of Munich, Best Jury Jeune Best Shortfilm, Best Actors Vendome, Audience Award & Horizont Award Aspen, Best Directing & Audience Award Poitiers, Internationales Festival der Filmhochschulen Munchen, Best Actors & Audience Award Giffoni, Grand Prix Lodz. FBW Pradikat Obesonders Wertvollo. ***


[Kritik Sastra] Staging Readers Reading

Simaklah essai kritikus sastra William B. Warner ini. Sungguh kritik sastra modern yang membuka mata. Warner merujuk sekian banyak premis yang terkait budaya cetak terhadap sastra novel secara global. Warner juga menyitir sekelumit premis lain dari kritikus kawakan (termasuk yang baru).

Yang menarik, dalam essainya, Warner menafsirkan beberapa lukisan dan gambar cetak yang ditemukan dari periode awal pembaca di Inggris mulai menyenangi membaca novel, yang berguna untuk memperluas pemahaman tentang “abad pertama membaca novel”. Dengan mengadopsi strategi ini, Warner melakukan kebalikan dari apa yang dibuat para pelukis modern sejak awal. Seniman modern awal menggunakan gambar “pembaca membaca” untuk merenungkan sifat lukisan. Dalam esai ini, Warner akan membaca lukisan-lukisan itu untuk melihat bagaimana para pelukis menampilkan krisis dalam tradisi awal membaca yang dipicu oleh popularitas membaca sastra untuk tujuan hiburan.

Menurut Warner, dalam kiritknya pada bukunya Licensing Entertainment bahwa gaya klasik Watt pada novel, dalam narasi yang progresif, mengasumsikan bahwa era modern telah menemukan tehnik menulis yang semakin kuat untuk mewakili realitas: disebutkan sebagai “realisme formal” dan hubungan ke fokus lain narasi menandakan kemenangan modernis: borjuis menemukan diri mereka secara kompleks dan mendalam. Munculnya narasi novel, efektif disebabkan fakta pada tujuan utama; untuk melegitimasi novel sebagai bentuk sastra. Jadi, munculnya narasi baru menunjukkan bahwa tehnik narasi pada prosa tentang realisme cinta, dihidupkan oleh sejumlah besar pembaca mulai menjadikan membaca sebagai hiburan, pada paruh kedua abad ke-17. Ini membuat novel menjadi bentuk sastra yang berharga dan penting, yang dilihat sebagai jenis sastra mapan, sebagaimana puisi, epik dan drama.

Penggunaan definite article dalam “kebangkitan novel” sebagai frase novelness yang berganti menjadi esensi setiap bentuk pencarian baru, yang pada sisi tertentu, berusaha untuk disadari. Apa efek dari ini? Warner telah meratifikasi proyek elevasi novel moral dan estetika yang dilakukan oleh novelis Richardson, Fielding, Prevost dan Rousseau untuk Flaubert, (Henry) James, Joyce dan Woolf.

Tetapi juga ada yang kurang dari pengertian kita tentang apa inti novel. Bentuk ini telah mengambil kritik novel ke bentuk perdebatan berkesudahan dan tendensius tentang apa realisme sebenarnya, dan menjadi penjaga batas yang “benar” antara novelistik dan fiksi. Kita perlu konsep yang lebih historis, termasuk apa dan bagaimana budaya novel itu sendiri.

Pada bukunya, Licensing Entertainment, William B. Warner, menyatakan kontribusinya; “Di sana, saya mendokumentasikan perkembangan munculnya narasi baru dalam sejarah tradisi sastra yang panjang yang dimulai dari Clara Reeve (1785) dan John Dunlop (1814), dan kemudian meluas melalui banyak sejarah sastra sebelum Watt (termasuk Scott, Hazlitt, Taine, Saintsbury). Pada saat yang sama, saya telah menyatakan perbedaan pendapat kritis saya dari Watt dan banyak kritikus yang lebih baru yang telah berusaha untuk memperbarui atau merevisi narasi itu.” (Licensing Entertainment, hal. 1-44)

++++++

Berikut essai William B. Warner yang saya tampilkan sebagaimana aslinya. Belum saya terjemahkan. Nantilah, di lain kesempatan saja, jika ada waktu luang. Demikian.

Staging Readers Reading

by William B. Warner

(UC/Santa Barbara)

***

The rise of the novel narrative, as perfected by Ian Watt in 1957, and extended by many other literary histories in the years since, is not “wrong,” but it is biased and incomplete. Why is this so? First of all, Watt’s classic account places the novel within a progressive narrative, which assumes that the modern era has discovered increasingly powerful writing technologies for representing reality: he calls this “formal realism” and links it to another focus of modernist triumphant narratives: the bourgeois invention of a complex and deep self. Secondly, the rise of the novel narrative is vitiated by the fact that its essential aim is to legitimize the novel as a form of literature. Thus the rise of the novel narrative demonstrates that the technology of realism enabled prose narratives about love and adventure, which large numbers of readers had begun to read for entertainment by the second half of the 17th century, to rise into a form of literature every bit as valuable and important as the established literary types of poetry, epic and drama. Thirdly, and this follows from the first two, the use of the definite article in the phrase “rise of the novel” turns novelness into a fugitive essence every particular novel strives to realize. What has been the effect of this narrative? It has ratified the project of the novel’s moral and aesthetic elevation undertaken by novelists from Richardson, Fielding, Prevost and Rousseau to Flaubert, (Henry) James, Joyce and Woolf. But it has also impoverished our sense of what the novel is, first by taking novel criticism into interminable and tendentious debates about what realism really is, and second by making it our business to be guardians of the boundary between the “truly” novelistic and the “merely” fictional. We need a more historically rigorous and culturally inclusive conception of what the novel is and has been. My recent book, Licensing Entertainment aims to contribute to such a project. There, I document the development of the rise of the novel narrative within a long literary historical tradition that begins with Clara Reeve (1785) and John Dunlop (1814) and extends through many of the literary histories before Watt (including Scott, Hazlitt, Taine, Saintsbury, ). At the same time I have articulated my critical differences from Watt and many more recent critics who have sought to update or revise that narrative. (Licensing Entertainment, 1-44)

To develop a more inclusive understanding of early modern novel reading and to grasp novels at their highest level of generality, it is useful to compare the novel to that other successful offspring of the cultures of print, the newspaper. A newspaper is not just an unbound folio sheet printed with ads and news. It evolved within a social practice of reading, drinking (usually coffee or tea) and conversation; it required the development of the idea of “the world” as a plenum of more or less remote, more or less strange things–events, disasters, commodities–translated into print and worthy of our daily attention. The idea of the modern may be the effect of this media-assisted mutation in our way of taking in the world. This intricate marriage of print form and social practice has survived to this day as “reading the paper.” In an analogous fashion the institution of novel reading requires a distinct mutation of both print forms and reading practices. While the printing of books devoted to prestigious cultural activities (like religion, law, natural philosophy) began in the 15th century and gained momentum in the 16th century, it was not until the later 17th century that short novels helped to shift the practices of reading so that novels could become a mode of entertainment. Several factors helped promote novel reading for entertainment: lower printing costs; an infrastructure of booksellers, printers and means of transport; a critical mass of readers of vernacular writing; and the opportunistic exploitation of the new vogue for reading novels (usually in octavo or duodecimo format) by generations of printers and booksellers. But if there was to be a rise of novel reading, it required a complex shift in reading practices. Historians of reading like Robert Darnton and Roger Chartier have described these changes, changes which are never complete or unidirectional: from intensive reading of a few books (like the Bible) to extensive reading of a series of similar books (like novels); from slow reading as a prod to meditation to an absorptive reading for plot; from reading aloud in groups to reading alone and in silence; from reading the Bible or conduct books as a way of consolidating dominant cultural authority to reading novels as a way to link kindred spirits; from reading what is good for you to reading what you like. Like television watching in the mid 20th century, novel reading took France and England by storm; like television watching, reading novels engendered excitement and resistance in the societies where it first flourished.

In this essay I will interpret some of the paintings and prints of the period that stage readers reading in hopes of broadening our understanding of the first century of novel reading. In adopting this strategy, I will be doing the reverse of what early modern image makers have done. As we shall see, early modern artists use images of readers reading to reflect upon the nature of viewing painting; in this essay, I will read these paintings to see how they reflect the crisis in early modern reading provoked by the popularity of reading novels for entertainment. Anyone surveying the Dutch and French genre paintings and prints of the 17th and 18th century–a type of image making that captures ordinary people in their everyday domestic activities–will quickly discover the currency of images of readers reading. From old men reading grand folios in solitude to young women absorbed in their novels, the paintings and prints of the period stage reading as inviting, compelling, and sometimes dangerous. They document the period’s fascination with what was after all still a relatively new activity, one which, with the spread of literacy, was becoming an increasingly important part of everyday life. These images don’t merely reflect a struggle around literacy happening elsewhere; instead, these images are themselves part of a critical debate that developed, over the course of the early modern period, as to how reading influences readers. What started as a promotional campaign for the reading of moral and didactic books ends up as a culture war about the pleasures and dangers of novel reading. However these visual texts also meditate upon a cultural problem closely related to book reading, the question of how a viewer should benefit from their encounter with a painting.

"The Prophetess Anne" (figure 1; 1631) By Rembrandt’s

I begin with several images that communicate the higher purposes of reading. Rembrandt’s “The Prophetess Anne” (figure 1: 1631) suggests the thoughtful solitude of a reader absorbed in her book. Several features of this painting’s composition imbue reading with hushed reverence: the old woman bends into the grand folio volume she holds; the hand with which she gently touches the page is painted in high focus; a swirl of color and light–hood, shawl and page–cast her face into the shade of meditation; there is an utter absence of distracting background. This painting, in which Rembrandt used his mother as a model, stages reading as an intimate and delicious encounter with the light of truth. In a painting by Chardin from 1734 (figure 2), reading is imbued with a similar hush and solemnity. However, the different titles given to this celebrated painting suggest the pivotal role of reading in the professions: “The Chemist in his laboratory”, “The Alchemist”, “A Philosopher occupied with his Reading” (1734; the Salon of 1753), and more recently, “Portrait of the Painter Joseph Aved.”

"Portrait of the Painter Joseph Aved" by Chardin (1734)

This painting’s communication of the cultural centrality of reading is made explicit in the contemporary commentary upon this image by the Abbe Laugier at the Salon of 1753: “This is a truly philosophical reader who is not content merely to read, but who meditates and ponders, and who appears so deeply absorbed in his meditation that is seems one would have a hard time distracting him.”(Fried, 11) In Absorption and Theatricality, a broad spectrum of French 18th century genre painting, Michael Fried demonstrates what he calls “the primacy of absorption,” in the subjects , who are represented reading, sleeping, playing games, or caught up in a moment of high personal drama. Fried shows how representation of figures deeply absorbed in some activity becomes a strategy for taking painting beyond the arch theatricality and superficial sensuality attributed to the Rococo style by mid century. At the same time various compositional effects are used to produce paintings that will absorb the beholder of the painting: rich painterly surfaces (Chardin), animated brush work (Fragonard), and didactic drama (Greuze). It is no surprise, I think, that figures of readers reading figure so prominently in this elevation of the cultural role of genre painting: by articulating beholding an image with reading a book, images of reading could anchor the greater cultural significance being claimed for painting. It is as though these images are saying, “look at this image with the same seriousness of purpose that these readers accord to reading.”

"The Father of the Family reads the Bible to his children" (figure 3; Salon 1755) by Greuze

In the 18th century, reading was not always silent and solitary; it was also oral and collective. Reading could offer a means of inculcating religious and family values. In this painting by Greuze, entitled “The Father of the Family reads the Bible to his children”, (figure 3; Salon 1755) reading has the power to compose a magic circle in which nearly the whole family is absorbed into the power of Scripture as it is relayed through the father’s voice. Like the paintings of Rembrandt and Chardin, this painting grasps a particular moment: when the smallest child’s effort to play with a dog fails to distract a family utterly absorbed by the reading. In this way the power of reading to move its auditors is put on visual display. How does this painting earn its claim to broad moral significance? Norman Bryson argues that Greuze’s dramatic tableaus of family life arrange a variety of ages and human types out of a single family, so that, hermetically sealed off from the world outside the home, a general “idea of ‘humanity’ with its powerful emotional and didactic charge, can be generated.”(Bryson, 128).

In all three of these paintings—whether reading is oral or silent, part of solitude or social exchange—it is supposed that one reads to improve the self. In The Practices of Everyday Life, Michel DeCerteau suggests that a particular concept of the book lies at the heart of the enlightenment educational project: “The ideology of the Enlightenment claimed that the book was capable of reforming society, that educational popularization could transform manners and customs, that an elite’s products could, if they were sufficiently widespread, remodel a whole nation.”(166) This enlightenment project is, according to De Certeau, structured around a certain concept of education as mimicry, with a “scriptural system” that assumes that “although the public is more or less resistant, it is molded by (verbal or iconic) writing, that it becomes similar to what it receives, and that it is imprinted by and like the text which is imposed on it.”(167)

"Boy Reading" (figure 4; 1747) by Reynolds

The disciplinary promise and weight of the book receives their most explicit expression in early modern education. Here are several images that express different aspects of that vast cultural project. In a painting by Reynolds, entitled a “Boy Reading”(figure 4; 1747), the tension between resolute body language and an abstracted gaze communicates the arduous demands of labor with books.

 

To imprint the knowledge of the book upon one’s mind requires all of one’s energy, as expressed for example, in Greuze’s “A Student who studies his Lesson” (figure 5; 1757), where the posture of the student–he is poised over the book–and the high focus of the fingers crossed over the volume–suggest the concentration required to memorize.

"A Student who studies his Lesson" (figure 5; 1757) by Greuze’s

"A Child Who Sleeps on his Book" (figure 6; 1755) by Greuze's

This student, like Rembrandt’s Prophetess, and like Chardin’s philosopher, is touched into a state of silent thought by the book he touches. In the companion piece of the same child, we can see the exhaustion this sort of intensive reading may entail. ( Greuze, “A Child Who Sleeps on his Book” (figure 6; 1755)).

Finally, in a painting by Chardin, “A young girl reciting her Gospels,” (figure 7;1753), one grasps the expected payoff of the enlightenment pedagogical project: a young girl stands before her mother, who is holding a book, and recites what she has learned from her reading. The intimacy of this domestic space does not qualify the solemn importance of what is transpiring. Here truth is given its ideal symbolic resonance as light: it passes from Nature (as sunlight) to the mother (‘s dress) to the gospels she holds, to the face and bonnet of the young girl who recites the Word she has learned. While this metaphorical substitution of light for truth has its grounds in the fourth Gospel (John 1:4-5,9), this trope was also of course adapted by secular thinkers of the Eighteenth century to characterize this epoch as an “age of Enlightenment.”(Kant) These four paintings describe, celebrate, and promote the proper practice of reading as a way to enlighten readers by educating them. Of course, like all representations of reading or spectatorship, these images don’t really tell us what is going on when one reads. But notice the implicit corollary of the enlightenment program of reading as mimicry: by making the reader a passive receptacle for the book’s meaning, this theory of reading makes the reading of the wrong kind of writing especially dangerous. By interpreting reading as automatic and uncritical, the enlightenment theory of reading produced as its logical correllary the anxiety triggered by the popularity of novels among the young.

"A young girl reciting her Gospels" (figure 7;1753) by Chardin

Given the enormous cultural investment in reading for instruction, how did reading for entertainment become an important new form of reading? The market plays a pivotal role in advancing this new kind of reading. In the England of the early 18th century, printed matter became what it is today: a commodity on the market. Rather than requiring subsidy by patrons, print received its ultimate support from that complex collaboration between producers and consumers we call “the market.” Eighteenth century observers of these changes were less sanguine and less resigned about the effects of taking culture to the market than we seem to be today. In The Fable of the Bees (1712, 1714) Bernard Mandeville offers an ironic celebration of the surprising effects of markets: many individual decisions produce effects in excess of any single guiding intention. But while the market in books meant increases in both production and wealth, it also entailed the publication of anything that might sell, a relaxation of “standards” and an unprecedented access to print for writers of all levels of quality, in both 18th century senses of that word—value and class. Since the 18th century this new cultural formation—then dubbed “Grub Street”, now called “Hollywood”—has been celebrated and condemned for its fecundity and filth, its compelling vulgarity. To conservative critics of the 18th century print market, the trade in books seemed a system dangerously out of control precisely because no one was in control.

"The Spanish Reading" (figure 8; 1754) by Carle Van Loo

Improvements in the production and distribution of printed books allowed booksellers to expand the numbers, kinds and formats of books printed; this allowed booksellers to promote reading for entertainment. However, reading for entertainment set off a debate about the proper functions of reading. Although publishers found that many species of books (from ghost stories to travel narratives to a criminal’s Newgate confessions) might gratify this desire for reading pleasure, no genre was more broadly popular than novels. We can glimpse one way novels were used in this painting by Carle Van Loo, entitled “the Spanish Reading” (figure 8; 1754). In this idealized bucolic setting, reading aloud harmonizes a diverse group into a tableau of “the good life.” Here a young beau reads to two young women, who appear entirely enraptured by what he reads. An 18th century commentator interprets the painting in terms of the anti-novel discourse which developed to oppose novel reading.

“A young man dressed in Spanish costume is reading aloud from a small book which, on the evidence of his keen attention and that of the company, can be recognized as a novel dealing with love. Two young girls listen to him with a pleasure expressed by everything about them. Their mother (actually their governess), who is on the other side of the reader and behind him, suspends her needlework in order to listen also. But her attention is altogether different from that of the girls; one reads in it the thoughts that she is having, and the mixture of pleasure given to her by the book and the fear she perhaps entertains of the dangerous impression that that book might make on young girl’s hearts.” [Quoted by Fried, 27]

Print might impress itself upon the (page of an) impressionable heart: this metaphor, which uses the mechanism of printing (the press which makes identical impressions) to elucidate the practice of reading, resonates through Eighteenth century discussions of print media policy. Worry focuses upon a possible reversal of proper agency, by which a weakened subject—the susceptible reader—might come under the control of a smart object—the insinuating novel. Thus “The Whole Duty of Woman” (of 1737) registers this warning to novel readers: “Those amorous Passions, which it is [the novel’s] Design to paint to the utmost Life, are apt to insinuate themselves into their unwary Readers, and by an unhappy Inversion a Copy shall produce an Original.” In keeping with the latent misogyny of the period’s anti-novel discourse, it was widely thought that novel reading could induce a restructuring of the labile emotions of the woman reader.

"The Reader" (figure 9; 1769-72) by Fragonard’s

If collective reading of a novel carried risks, what might be the effect of novel reading upon a solitary woman reader? We can approach this question by looking at what two major French painters of the mid 18th century do with the topic of the woman alone with her novel. Fragonard’s painting, “The Reader,” (figure 9; 1769-72) does not invest the figure with a specific legible meaning. The painting is one of fourteen paintings art historians call “Figures de Fantaisie,” all men and women in half-length portraits of the same dimension, apparently executed very quickly, and dressed in what were known as Spanish costumes…with “expressions lively, their eyes turned away…as if they have been frozen in the middle of an action.” (Jean-Pierre Cuzin, 102) Norman Bryson has explained the effect of these paintings of Fragonard’s in terms that are useful to understanding the absorptive power of novel reading, especially of the vivid “hallucination” of experiencing Richardson’s characters as though they were real persons.(104) To know a character in a novel or the woman in this painting as an “ideal presence, half transmitted by the artwork” requires “for its full existence the imaginative participation of reader or viewer”(Bryson, 104). There are several ways “The Reader” teases its viewer into interpretation: the painting is incomplete (for example in the drawing of the left hand) but the brush-strokes are richly evocative; the blankness of the background withholds any context for this figure; and, and finally, the brilliant foreground lighting of the Reader’s gold and white Spanish costume gives this pretty young woman an oddly extravagant aura. She seems to be posed for our gaze, but she looks away. The delicate balance of book, hand and head as seen in profile, and the ease of her body resting against cushion and arm rail, communicates the graceful self-completeness of the solitary reader. Some art historians suppose that “The Reader” is the portrait of an actual young woman (Curzin, 123-125), “The Reader” remains enveloped in mystery, as illusive as the thoughts and feelings of another person’s reading. In this painting, reading achieves an allegorical generality.

"Lady Reading Eloise and Abelard" (figure 10; 1758-59) by Greuze's

If Fragonard’s painting offers an implicit endorsement of the pleasures of a young girl’s reading, Greuze’s “Lady reading Eloise and Abelard” (figure 10; 1758-59) seeks to make visible the explicitly erotic dangers of novel reading. In contrast with the self-possession of Fragonard’s reader, passion sweeps through this solitary reader: there is a strong contortion to her position, her lips are open, her hands languorous. The title of this painting by Greuze gives the reason for this disorder: “Lady Reading the Letters of Helouise and Abelard.” The tokens on her table—a billet-doux, a string of black pearls, a sheet of music, and a book entitled “The Art of Love”—are the details that allow the viewer of the painting to surmise that this reader is involved in an affair of her own. The lighting and contiguity of book, dress and bosom invite the viewer to detect a causal relationship: it is precisely this kind of reading that leads to illicit affairs, it is this novel that has transported this lady into a state of distracted arousal. But the didacticism of this image is fraught with unintended consequences. By linking the animated white leaves of the book to the white morning dress that is slipping off the partially exposed breasts of this aroused reader, by inviting us to survey the erotic effects of novel reading upon the body of this woman, this painting becomes as lush and explicit and arousing as the novel reading it intends to warn us against. The resulting confusion of erotic means and ends is one Greuze’s painting will share with Richardson’s novels. (Warner, Licensing Entertainment, 212-224)

William Hogarth’s playful pair of erotic prints from 1736, entitled "Before" (figure 11; 1736)

William Hogarth embeds a warning against novel reading into a non-seductive, broadly comic set of images. In Hogarth’s playful pair of erotic prints from 1736, entitled “Before”(figure 11; 1736) and “After” (figure 12; 1736), William Hogarth finds a very different way to encode a warning against novel reading.

Hogarth’s playful pair of erotic prints from 1736, entitled "After" (figure 12; 1736)

The heroine’s succumbing to her admirer suggests that the influence of the volume of “Novels”, as well as the poems of Rochester, have prevailed over the other book on her night stand, “The Practice of Piety.” In this pair of prints, the abrupt movement from the “before” to “after” (sex), prevents precisely the sort of absorptive identification Greuze’s painting encourages.

The reader of these two prints is positioned as a bemused observer of a comic deflation in condition: in “Before,” the woman is a heroic defender of her virtue, but “After” she is a pathetic petitioner for the man’s attentions; and likewise, the man goes from being the robust lover to a condition of confused, and slightly harassed, sexual reticence. While Hogarth’s moral rhetoric in this pair obliquely invokes the warning of the epoch’s anti-novel discourse—that is, ‘purify your reading if you would guard your virtue’—, his more famous Progress Pieces, are much closer in their narrative trajectory and entertainment values of the novels they ostensibly spurn. For most of the 18th century, readers accepted as a truism the proposition that novel reading did one no real good, and that other, more serious reading, should attract our reading energies. For an example of this by then antiquated opinion, one can read Jane Austen’s satirical account of Mr. Collins attempted reading of Fordyce’s sermons after supper on his first night with the Bennet’s in Pride and Prejudice (1812?).

One pair of paintings, John Opie offers wry social commentary upon this chronic schism in the order of reading. In "A Moral Homily" (figure 13; date)

In one pair of paintings, John Opie offers wry social commentary upon this chronic schism in the order of reading. In “A Moral Homily” (figure 13; date), Opie represents the likely effects of improving reading here imposed by a solemn dame upon her comely young auditors—yawns and boredom. However, the structure the governess or teacher has imposed—auditors gathered around one reader with the book—can be adopted to other purposes.

One pair of paintings, John Opie offers wry social commentary upon this chronic schism in the order of reading. In "A Tale of Romance" (figure 14; date)

Once the austere matriarch has left, evidently taking her heavy tomes with her, the girls can gather into a rapt circle to hear “A Tale of Romance,”(figure 14; date) the title of this painting. Opie’s representations of novel reading and its effects suggest a question for those who want to exploit the improving potential of books.

The connection between books and mediation is illustrated by the print entitled "Meditation" (figure 15; date) from Ripa's Iconologia (1709)

How is an author to solve the problem posed by adolescent boredom with conduct discourse and fascination with narratives of love? For a writer like Samuel Richardson what was required was above all the development of a hybrid form of writing, one which would use stories of love to attract young readers to the higher purposes of reading, reading as a spur to meditation. The connection between books and mediation is illustrated by the print entitled “Meditation” (figure 15; date) from Ripa’s Iconologia (1709). With a book on her lap, and her feet on several grand folios, reading has become a prod to deep thought. In Ripa’s gloss on this iconography, dame Meditation’s “holding up her head with her hand, denotes the gravity of her thoughts.”(Paulowicz, 50).

In this Reynolds portrait, entitled “Theophilia Palmer Reading Clarissa Harlow”(figure 16; date), we find the same tight compositional circle of head, arms and book we have found in other absorbed readers. But here Reynold’s use of the iconography of meditation–the touch of the hand to the forehead–gives visual expression to Richardson’s program to reconcile novel reading with the weighty purposes of moral reflection. With this painting, Reynolds represents the woman reader Richardson intended Clarissa to win: one immune from erotic appropriation. Thus, Reynolds does not imbue this woman novel reader with any of the mystery of Fragonard’s “Reader” or the emotionally labile susceptibility of Greuze’s reader. Instead, here we have an ordinary girl, safely ensconced in her sturdy chair, directing her full attentions to Clarissa Harlowe. But the actual readers of Richardson’s novels found them rife with erotic potential. (footnote:For the remarkably erotic imagery that develops around the Pamela vogue, see James Turner, Representations. For accounts of the dangous effects of reading Richarson’s novels see RC, LE.).

"Theophilia Palmer Reading Clarissa Harlow" (figure 16; date) by Reynolds

Why are so many images of readers reading so close to the plane of the canvas that they threaten to fall right into the viewer’s own space? Norman Bryson’s interpretation of the “transformations of rococo space” during the first half of the 18th century offers an account that links one of the chief traits of the rococo–the elimination of classical space established through Renaissance perspective–and the way the subject on the surface of the rococo makes itself available to the fascinated gaze of the beholder.

"Mme. Pompador" the mistress to Louis the XVth (figure 17; date) by Francois Boucher

Within “rococo space” Bryson finds that “the erotic body is not a place of meanings and the erotic gaze does not attend to signification… [instead the painting devotes its painterly resources to] providing a setting for the spectacle…transported to [a] space that is as close as possible to that inhabited by the viewer..[that] of the picture plane [itself].”(Bryson, 91-92).

One can see the erotic potential of this sort of compositional strategy at work, in a rather sublimated form, in a glamorous portrait by Francois Boucher, of his celebrated patron “Mme. Pompador,” the mistress to Louis the XVth (figure 17; date). This portrait catches its subject in a momentary pause in the elegant leisure activity of what is most likely novel reading.

"Reclining Nude" (figure 18; 1751; Cologne, Wallraf-Richartz Museum), Bouncher uses another of Louis XV's mistresses, Louise O'Murphy as a model.

Several factors conspire to compose a shimmering surface that invites the spectator’s gaze to wander: the oblique gaze of Mme. Pompador releases our eyes from her face; instead the viewer’s eye is free to wander over the artful arrangement of her arms and hands, over the richly detailed silk brocade of her dress, to the animated leaves of the book that lies at the center of this composition. Here is painting that addresses its beholder outside of any informing moral purpose, looking that is in danger of becoming its own pleasurable end. The anti-rococo reaction, most evident in the morally programmatic paintings of Greuze, resonates with the anti-novel discourse deployed by Richardson in his morally programmatic narratives.

"Reclining Nude" (figure 18; 1751) by Bouncher. Model Louise O'Murphy, another of Louis XV's mistresses.

For critics of early modern novel reading were not just concerned about mimicry of a novel’s action; they were also alarmed about the perverse displacement by which the reader, through the repetitive effects of absorptive reading for pleasure, conducted in freedom and solitude, (in other words in the sort of autonomous erotic reverie the rococo encourages) might become a compulsively reading body. In a painting entitled “Reclining Nude” (figure 18; 1751; Cologne, Wallraf-Richartz Museum), Boucher uses another of Louis XV’s mistresses, Louise O’Murphy as a model. Here, the open book to the left of the nude woman reclining on the couch suggests that the equivocal potential of reading novels for pleasure arises in part from a shift in location: one may read these books in the intimate undress of the boudoir.

Replica "Reclining Nude" by Bouncher.

The novel in this setting functions as a stimulant, like tea in the samovar, which has replaced the novel in this rendering of the same model in the same pose in a painting of the same title (figure 19; 1752; Munich, Alte Pinokotk ).

The erotic use of novels becomes quite explicit in this Pierre Antoine Baudourin’s print of 1770, entitled "Midi" (figure 21)

With a small difference in position, and woth a dark haired model, the painting becomes more explicitly salacious, and well on the way to the pornographic image. (figure 20; 1745). 1748, the year of the publication of the third and final installment of Clarissa, is the same year as John Cleland’s anonymous publication of “The Memoirs of a Woman of Pleasure”, better known to us by the title, “Fanny Hill.” The erotic use of novels becomes quite explicit in this Pierre Antoine Baudourin’s print of 1770, entitled “Midi” (figure 21). This image suggests that the head or heart were not the only body parts that might be stimulated by reading. In his analysis of this print, Jean Marie Goulemot notes what invites the viewer to enjoy this spectacle of this aroused young lady: the secure enclosure of a stage-like garden setting, the presence of a voyeur in the form of a statue, and the young female body posed to maximize our view of her. The print invites us to note the crucial details: a small book has dropped from her right hand; her left hand had disappeared into her dress. In this print the outcome dreaded within the anti novel discourse, the reader aroused to the point of orgasm, becomes a positive program: solitary reading for entertainment is a preparative to masturbation. The reading body has become a pleasure machine.

Given the range of these images of readers reading, one might well ask “Is reading to serve education, provide entertainment, promote moral improvement, or turn us on?” My study of British print media culture suggests the answer should be, “All of the above.” The diverse representation of novel reading in the painting and prints of the 18th century, and the polymorphous uses of painting (for instruction, pleasure, etc.) suggest the struggle going on in the culture at large. Over the arc of the period, educational and moral projects to improve reading collide with market driven efforts to popularize reading in such a way as to expand and deepen the repertoire of reading practices. Thus between 1684 and 1730, Behn, Manley and Haywood wrote short, erotic, plot-centered novels that were accepted as the fashionable new thing in reading. However, the avid reading of these novels, especially by youth, drew a strong critique from those who wished to reserve reading for valuable, elevating, educational practices. In response, novelists like Manley and Haywood blended the anti-novel discourse into their own novels as a way to make novel reading more deliciously transgressive, as well as to protect their own novels from censure. Reformers of the novel –from Defoe and Aubin to Richardson and Fielding—sought to rewrite reading by offering their novels as substitutes and antidotes to the novels of amorous intrigue. But while they sought to purify their narratives of novelistic erotics, they could only guarantee the popularity of their books by incorporating the plot formulas and character types perfected by their antagonists. By my account, the Pamela media event—the outpouring of criticism, sequels, and revisions that followed the 1740 publication of Pamela—marks a turning point in the debate about the pleasures and dangers of novel reading. By winning a large and admiring readership, and by attracting sustained acts of criticism, Pamela changed the terms of the anti- and pro-novel discourse. Now it is not a question of whether one should read novels, but of what kind of novels will be beneficial or dangerous to readers. Richardson’s project finds itself overcome by this irony: while he seeks to purge print media culture of corrupting novel reading, he can only do so by inventing new hybrids, like Pamela. While Pamela is supposed to be a non-novel which will end novel reading, in fact, of course, it expands the practices of reading, and the possibilities for novel writing. In order to enter the psychosexual life of its protagonists, the readers of Pamela practice hyper-absorptive reading which achieves new levels of emotional intensity and identification. This provides the pretext for new forms of erotic writing, like John Cleland’s Memoirs of a Woman of Pleasure, which stars a heroine-prostitute who has an odd combination of innocence and experience. In later decades Richardson’s Clarissa and Rousseau’s Richardsonian novel La Nouvelle Heloise invite rewriting as Laclos’s Les Liasions Dangereuses and Sade’s Justine. Efforts at moral and generic purification breed new hybids and mediators.

I can summarize the literary historical implications of this narrative, and come back to issue of the novel’s “rise,” in this way: when the market’s modernization of reading for entertainment stimulates an ethically motivated anti-modern critique, we get a hybrid of amorous novels and conduct discourse, which subsequent English literary historians dub “the first modern novels in English.” Richardson and Fielding are usually given credit for this invention. Why? Because their novels include something central to all subsequent novels: a reader’s guide on how to use print media. Thus, at least since Fielding’s model Don Quixote, the novel warns readers of the dangers of mindless emulation; the novel teaches the reader the difference between fiction and reality; and the novel interrupts the atavistic absorption of the reader by promoting an ethical reflection upon the self. In this way the early modern struggle around the proper uses of reading sediments itself as thematic concerns and narrative processes within the elevated novel. But such a project of purification can not prevent, it may in fact incite, the development of new hybrids. By 1764, Horace Walpole pronounces himself bored with the limitations of the modern novel’s reading protocols and its version of reality. So Walpole offers his “gothic tale,” The Castle of Ortranto, as a self-consciously concocted blend of ancient and modern romance.

These comments suggest some of the ways I have sought, in my book Licensing Entertainment, to challenge the distinctions, separations and efforts at purification evident in the canonical account of the novel’s acquisition of modern legitimacy, Ian Watt’s The Rise of the Novel. By aligning the formal traits of Richardson’s writing with reality, Watt countersigns the rough drafts for the ‘rise of the novel’ thesis Richardson and Fielding penned during and after the Pamela media event. By making a single novel an object and occasion for sustained critical writing, the Pamela media event defined task of much future novel criticism: selected novels are declared to be more than a vehicle of leisure entertainment. They come to be objectified as “the” novel and valued as a new literary genre. In the process, the promiscuous and unclassified mass of romances and novels that remain are cast into limbo as “non-novels.” In order to secure the distinction between “the” novel and its others, criticism acquires the gate-keeping function evident in a range of practices developed over the 60 years following the Pamela media event: the emergence of journals reviewing novels (Monthly Review, 1749-; and Critical Review,1756-); literary histories of the novel; the collection of novels into anthologies and multi-volume sets; and the inclusion of novels in pedagogical projects, from those directed at young girls to those of Scottish university professors.(Court, 17-38) Of course, my book and this talk don’t escape that academic discursive system for defining novels. The institution of criticism and the pedagogical practice of English professors are shaped to teach informed reading, that is, reading purged of mimicry. Pedagogy becomes the cure prescribed for market based media. Of course, in the process, we may be replacing compulsive novel reading with our own repetitive and obsessional practice: “close” reading. Our institutional practices of teaching literature, and cultural narratives like “the rise of the novel,” are deeply implicated in an ongoing effort, which began with the anti-print media discourse of the eighteenth century, to protect readers from market culture. In short, we are the late-modern offspring of early modern media policy. (*)


[Cerpen] Mencerap Capung

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

BHARA melompati pematang dan terus berlari ke arah hutan. Dia tak hirau pada seruan Dewik yang berjarak cukup jauh di belakangnya. Wajah Dewik terlihat kesal sekali, tapi Bhara terus saja berlari. Kini Bhara sudah nyaris sampai di mulut hutan dan sebentar lagi akan segera menghilang. Tingkah Bhara itu adalah hasil dari pertengkaran kecil beberapa saat yang lalu.

***

“Jangan ikut!” Bhara nyaris berteriak.

“Kenapa tak boleh ikut! Teriak Dewik membalas, “kalian menyembunyikan sesuatu dariku, kan?” Wajah Dewik galak bukan main.

“Bukan tak boleh….tapi belum waktunya.” Bhara menyahut lagi, tangannya merenggut katapel yang tergantung pada paku di dinding.

“Ah, sama saja. Bilang saja kalau kalian tak mau mengajakku!” Dewik tetap bertahan pada sikapnya.

“Huh….!” Desah Bhara kasar. Ditepisnya tangan adiknya yang hendak merenggut ujung kemejanya. Dewik biasa melakukan itu jika berniat menahan abangnya agar tidak kemana-mana dan meninggalkannya sendirian. Tak akan dilepasnya ujung baju abangnya, sehingga ibu mereka datang melerai.

Bhara menggunakan kesempatan itu. Dia melompat ke beranda depan, lalu melompat sekali lagi, melewati tangga, menjejak tanah. Dewik berteriak kesal, memanggil ibu. Tapi Bhara sudah cukup jauh. Terpaksa Dewik pun mengejar.

Tapi lari Bhara tentu saja tak bisa disaingi oleh Dewik. Sebentar saja abangnya itu sudah sampai di hamparan sawah kering, dan dengan lincah melompat kesana-kemari, melampaui pematang. Orang-orang kampung baru usai panen raya, menyisakan deretan sawah kering yang dipenuhi timbunan jerami, dionggokkan dengan sengaja di tengah-tengah petakan.

Dewik tak melanjutkan pengejarannya. Dia menjatuhkan diri ke salah satu pematang, dan berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Hatinya kesal sekali. Entah apa yang sedang dirahasiakan abangnya itu.

***

Esok harinya, sepulang sekolah, Dewik sudah duduk gelisah di beranda depan. Sesekali ditengoknya jalan besar di depan rumahnya. Setiap kendaraan umum yang melintas diperhatikannya dengan saksama. Dan, pada setiap kendaraan yang berhenti, diharap-harapkannya sosok abangnya, si Bhara itu, yang turun.

Bhara bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama di kota kecamatan ini. Jam pulang sekolah Bhara seringkali lewat dari biasanya. Kadangkala, Dewik sudah usai makan siang dan membantu ibunya berbenah di dapur, barulah abangnya itu muncul.

Dewik mendesah lega, saat melihat sebuah angkot berhenti dan menurunkan abangnya. Dia harus bisa membujuk abangnya agar membawanya serta ke hutan kecil di pinggiran desa mereka. Itulah satu-satunya tekad Dewik hari ini.

Bhara tersenyum padanya, begitu kakinya lepas dari anak tangga terakhir dan menjejak beranda depan itu. Aneh, guman Dewik dalam hati.

“Hari ini abang harus membawaku bersama abang!” Dewik berseru pada Bhara. Keinginannya sudah tak tertahankan lagi. Begitu usai dia menegur abangnya serupa itu, sedikit kelegaan menyusupi hatinya.

Tapi abangnya tidak menanggapinya kasar kali ini. Bhara hanya tersenyum, mengangguk dan bilang, “tunggulah abang barang sebentar. Usai makan siang, kau boleh menemani abang ke hutan. Wak Bajin sudah menunggu di sana.” Kata Bhara, lalu masuk ke kamarnya.

Wak Bajin? Apa pula hubungan rahasia abangnya itu dengan Wak Bajin? Paman dari pihak ibunya itu sudah tak pantas lagi bergaul dengan remaja sepantaran Bhara. Dewik sekarang diliputi pertanyaan-pertanyaan baru. Dia tegak mematung di depan kamar abangnya.

Saat Bhara keluar kamar, Dewik terus saja menatap abangnya dengan wajah seperti sedang memohon sesuatu. “Hei….,” tegur Bhara, “kau harus belajar bersabar untuk mendapatkan sesuatu. Jika kau kerap mendesak orang macam itu, bukan sesuatu yang kau harapkan yang datang, tapi kau lebih banyak kecewa.” Kata Bhara menyabarkan adiknya.

“Tenanglah barang sebentar, duduklah dulu. Kau harus belajar sabar seperti Capung. Hewan itu lebih pandai dari kau rupanya, ha ha ha….” tukas Bhara sambil tertawa, meninggalkannya sendirian menuju ruang makan.

Bah! Bhara memang senang mengulur-ulur waktu. Senang hatinya jika melihatku gelisah macam ini—gumam Dewik. Tapi, apa sebenarnya yang dilakukan abangnya itu di tengah hutan bersama Wak Bajin. Sepengetahuan Dewik, di sebalik hutan kecil itu adalah padang luas yang ditumbuhi Ilalang dan sedikit perdu berduri. Kadang burung Branjangan menyimpan telur mereka di cerukan tanah, di bawah perdu-perdu itu. Anak remaja senang sekali memerangkap mereka untuk dipelihara. Tapi lebih sering menunggui dan menjerat biawak yang datang hendak mencuri telur Branjangan.

Dewik pernah ke padang itu. Arealnya cukup luas, kurang lebih dua kali lapangan bola sepak. Padang ilalang itu adalah pemisah antara areal hutan kecil dan kaki bukit Sangampuri. Dari bukit itulah, ada percabangan anak sungai yang mengalir melewati pinggiran padang. Anakan sungai itu tak lebar, hanya dua meter setengah lebarnya, dan kedalaman airnya hanya sebatas lutut remaja. Airnya mengalir tenang, walau musim penghujan sekalipun. Maka itulah, orang-orang desa memanfaatkan sumber aliran air ini sebagai sumber pengairan sekunder bagi hamparan sawah di pinggiran desa.

Dewik hampir saja terlelap akibat lelah menunggu, saat dia terkejut disentak abangnya. Bhara tersenyum padanya. “Ayo, sekarang saatnya. Wak Bajin dan anak-anak lainnya pasti sudah menunggu,’ ujar Bhara.

***

Ah, mereka tak cuma berdua rupanya. Wak Bajin sudah menunggu bersama anak-anak lainnya. Untuk membunuh penasarannya, Dewik memutuskan diam saja sambil mengikuti langkah abangnya. Tidak lima menit, mereka berdua sudah sampai di batas antara sawah dan mulut hutan.

Abangnya berjalan pelan, seperti menuntun dirinya. Sesekali abangnya mempermainkan ketapel kayu yang tergantung di lehernya. Agak lama kemudian, telinga Dewik sudah menangkap suara gurau anak-remaja lainnya. Berarti mereka hampir mencapai tepian lain dari hutan kecil ini.

Begitu sampai pada kerumunan anak-remaja lainnya, mata Dewik dibuat terpukau dengan pemandangan di depannya. Padang Ilalang itu ternyata sedang memekarkan banyak sekali bunga rumput. Warnanya jingga dan kuning, elok sekali. Pemandangan itu menghampar sempurna dan luar biasa indah.

Tapi, tak dilihatnya Wak Bajin. Kemana pamannya itu? Kata Bhara, pamannya itu ikut serta pula hari ini. “Kemana Wak Bajin?” Tanya Dewik pada abangnya.

“Oh, Wak Bajin sebentar lagi akan muncul. Tapi paman sudah sedari tadi di sini, sedang melakukan sesuatu di dalam hutan sana,” kata Bhara sambil menunjuk ke arah hutan kecil di belakang mereka. “Kau mau melihat apa yang dilakukan Wak Bajin, ya?” Tanya Bhara. Dewik mengangguk mengiyakan.

Bhara kembali berjalan mendahuluinya. Mereka berjalan, hingga mendapati pinggiran aliran sungai kecil. Selanjutnya mereka berjalan menelusuri pinggiran sungai kecil itu, sampai mata mereka melihat seorang lelaki dewasa. Itu Wak Bajin, dan dia sedang merunduk-runduk, mendekatkan matanya ke semak air di pinggiran sungai. Serius sekali tampaknya dengan apa yang sedang dilakukannya.

“Mereka hampir kering semua!” Seru Wak Bajin.

Wak Bajin adalah sarjana biologi dari perguruan tinggi ilmu pendidikan di Jakarta. Baru sekitar dua tahun dia kembali ke desa ini. Rencananya, Wak Bajin akan mengabdi sebagai guru pada salah satu sekolah menengah pertama di sini. Tapi nasib belum berpihak padanya. Tak ada lowongan bagi guru biologi dalam waktu dekat, dan oleh kepala sekolah dia diminta bersabar menunggu. Sesekali waktu, Wak Bajin mengisi jam mengajar yang kosong sebagai guru pengganti. Lumayan honornya.

Dewik menjulurkan lehernya, hendak pula melihat lebih dekat apa yang sedang dikerjakan pamannya itu. Tiba-tiba Dewik menjerit takut. “Itu kan….ulat!” Teriak Dewik sambil berjalan mundur. Dia nyaris jatuh ke air, jika saja Bhara tak tangkas menyambar tanggannya.

Bhara dan Wak Bajin tertawa terbahak-bahak. Wak Bajin menarik tangan Dewik yang masih setengah takut agar mendekat. Wak Bajin memegang pundaknya, sambil menunjuk pada sejumlah benda yang melekat tak bergerak di batang-batang semak air.

“Itu bukan ulat. Itu bakal Capung, disebut juga Nimfa,” jelas Wak Bajin, tersenyum, “Nah, lihatlah Wik, beberapa capung sudah berhasil keluar dari tubuh Nimfa, dan mereka sedang menunggu sayap-sayapnya kering dan kakinya kuat untuk bisa terbang.”

Dewik memang melihat ada banyak Capung yang masih bertengger diam di batang-batang semak air. Ada yang sayapnya masih terlipat kusut, tapi sebagaian besar sudah mengembang dan sedang berusaha mengepak-ngepak gugup.

“Memang agak lama mereka bertingkah macam itu sebelum benar-benar siap untuk terbang,” jelas Wak Bajin. “Setelah meninggalkan tubuh Nimfa dan mengering dengan sempurna, capung akan mencoba seluruh kaki dan sayapnya. Kaki-kaki dilipat dan diregangkan satu demi satu dan sayapnya dinaik-turunkan. Nah, seperti itu,” kata Wak bajin sambil menunjuk seekor capung yang sedang mengerak-gerakkan sayap dan kakinya.

“Sebelum kalian datang, sudah banyak capung yang berhasil terbang, dan langsung menuju ke padang itu.” Kata Wak Bajin sambil menunjuk padang Ilalang yang dipenuhi bebungaan jingga dan kuning.

“Ini rupanya yang kalian rahasiakan selama ini. Mengapa tak memberitahuku sejak awal?” Ujar Dewik bersungut-sungut, protes.

Bhara tertawa-tawa senang, dan Wak Bajin hanya tersenyum. “Tadinya paman hendak mengajakmu juga, sebab bagus sekali jika kau mempelajari capung ini sejak awal. Tapi abangmu itu memang sengaja hendak mengerjaimu saja.”

Dewik merengut kecewa. Wak Bajin kembali tersenyum melihat wajah Dewik serupa itu. “Tak mengapa. Wak Bajin akan jelaskan lagi,” ujar Wak Bajin membujuknya.

“Capung memang senang bermain di permukaan air. Seperti biasa, mereka bertempat di aliran air macam ini. Walau ada juga yang senang tinggal di aliran air yang cuklup deras. Ketika hendak bertelur, Capung betina akan mencari air dengan kedangkalan tertentu dan meletakkan telur-telurnya di situ. Telur Capung berupa untaian bola putih yang sangat kecil namun kuat. Setelah menetas, kepompong atau nimfa Capung akan tinggal di dalam air selama tiga sampai empat tahun. Untuk bisa bertahan hidup, dengan capitnya yang kuat, nimfa memakan hewan kecil seperti ikan atau berudu. Nimfa menggunakan waktu-waktu itu untuk memperkuat lapisan tubuhnya.”

Wak Bajin kini berjongkok sambil meraup air sungai. “Itulah mengapa orang desa mempercayai Capung sebagai penanda air bersih. Karena, ketika masih berupa nimfa, sebagian besar hidup Capung dihabiskannya di dalam air. Makanya, nimfa Capung butuh kondisi air yang baik; bersih dan tidak mengandung zat pencemar. Jika orang-orang melihat nimfa dalam air, atau melihat Capung beterbangan di atas permukaan air, itu artinya, air tersebut bersih.”

“Selama tiga atau empat tahun itu, nimfa akan melepaskan kulitnya dalam empat masa yang berbeda. Hingga sampai pada perubahan terakhir, Nimfa akan meninggalkan air dengan memanjati batang tumbuhan atau batu, hingga kaki-kakinya terpancang kokoh. Nimfa akan berdiam di situ, melakukan proses pengubahan wujudnya menjadi capung, seperti yang kita lihat sekarang ini.”

Dewik mengangguk-angguk mengerti. Kini dia mulai memberanikan diri mendekati beberapa capung yang sedang bersiap terbang. Wak Bajin tersenyum melihatnya. “Lalu kulitnya lamanya bagaimana?” Tanya Dewik ingin tahu.

“Itu namanya Exuviae. Setelah kering akan jatuh sendiri dan terbawa air. Itu proses alami, Dewik,” jelas Wak Bajin.

“Manusia pun bisa belajar dari mencerap cara hidup Capung. Manusia harus arif menjaga lingkungannya agar tetap bersih sebagaimana halnya Capung. Menghargai kehidupan seperti yang tercermin dari keseluruhan proses perubahan dan hidup Capung. Secara kerohanian, Capung juga adalah contoh yang baik, sebagaimana Capung dewasa yang menjaga air dalam masa hidupnya yang demikian singkat.” Jelas Wak Bajin sambil tersenyum.

Setelah menjelaskan semua proses alami Capung, Wak Bajin mengajak Bhara dan Dewik meninggalkan tempat itu untuk bergabung bersama anak-remaja lainnya. Mereka semua melepas lelah di gundukan tanah sambil memandangi Capung-capung yang beterbangan riang di antara bunga-bunga rumput. ***

Capung (Dragonfy) di sisi sungai berkabut (sumber foto: accad.osu.edu)


[Puisi] Hikayat Tiga Ksatria & Batu Lateng’U

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Hikayat Tiga Ksatria

 

: Manjawari

 

Lelaki yang perkasa

Sebelah kakinya di gunung Sampapolulo

Di dadanya pokok-pokok enau berkelindan

Dialah raja bertubuh besar; Mokole RangkaEa.

 

Lompatannya melampaui pulau-pulau

tangannya menyisir awan

lalu matahari kentara dari timur

Dari Wolio datang kabar menggemparkan

Lamun laut akan menyerang benteng dalam tiga ratus ribu tombak

 

Kabaena sepandangan mata

Tetapi Wolio harus sabar

Sebelum Murhum dan Lakilaponto menjemput

Pantang baginya menulah sakti

sebelum dua saudaranya datang

 

Ohoi….Manjawari melompat sigap

Di gerbang Wolio, di pesisir yang bergejolak

Sapuan tangannya menenggelamkan armada lamun

Dia menghalau, dia menghadang, menjaga dua saudara

Di saat Murhum mengamuk di utara

Lakilaponto menerjang di barat daya

 

Manjawari, sang Mokole Kabaena

Padanya, Sapati dianugerahkan

Padanya, Selayar dikuasakan

 

Di tangannya, Kabaena menuai jaya

Mokole ketujuh yang perkasa, Opu Manjawari

Di bekas istananya kini dia tenang

Di keheningan Sampapolulo, dia bersedekap

Sebuah kerangka raksasa tujuh meter

Duduk hening di kursi batu.

 

: Lakilaponto

 

Lakilaponto mendulang firasat

Mimpinya semalam tentang putri yang dirapun

Putri yang bermukena

Entah siapa yang kini bersiasat

Dua pulau mengapit, haturkan sembah

di jantung Tongkuno

 

Murhum telah datang

Padanya terkabar perihal bencana

Wolio sedang dirapun, ada lamun mendekat

Murhum tak bergerak, Lakilaponto tak bangkit

Kesaktian tak akan berguna, jika Manjawari tak dijemput

 

Kepada siapa selendang Sultan hendak dititipkan

Pada riasan bomba di tengah makam

Tongkuno yang tua, Lakilaponto berwasiat

Jika dia tak kembali, selendang Sultan mesti dilipat

 

Lakilaponto, manusia sakti negeri Tongkuno

Di Barat Daya, lelaki perkasa ini mengamuk

Dia terjang lamun, yang merapun di sudut

Seratus tombak, musuh rebah ke tanah

Inilah akhir mimpinya, inilah tafsirnya

 

Wanita bermukena dalam mimpinya

adalah Wolio, penebus akhir riwayat

Pada Murhum, diwasiatkannya tentang mukena

Kerudung sebagai permulaan masa.

Manjawari diciumnya. Setiap lelaki perkasa

Tahu kemana harus pulang.

 

: Murhum

 

Murhum yang sakti datang

Di hadapan Lakilaponto dia bersimpuh

Sultan itu tak bangkit, Murhum pun tak bergerak

Wolio harus bersabar, katanya.

 

Kabar yang dibawa Murhum, sungguh lena

Wolio akan dirapun, lamun dari timur sepenggalahan

Murhum harus tahu, adalah Manjawari yang bertuah

Lakilaponto tak akan beranjak,

Maka Manjawari harus berbilang ikut serta

 

Lelaki beraras langit, Murhum orangnya

Utara Wolio dijaganya, dihalaunya dari lamun

Senjatanya berputar, memakan lawan

Tiga saudara, tiga tuah

Lakilaponto merusak lamun begitu hebat

Tubuh Manjawari yang besar bikin lamun ngeri

Menjerit dan lintang pukang mereka

Melihat amukan ketiga saudara

 

Pada Murhum, Lakilaponto menitip wasiat

Agar memasang gerudung pada Wolio

Opu Manjawari sebagai saksi

 

Pada Murhum, Lakilaponto memberi tegas

Opu Manjawari akan menjaganya dari selatan

Hormati kuasa Manjawari dengan kabalu

Jaga hati Manjawari dengan kande-kandea

 

Lunas mimpi Lakilaponto

Tunai harkat Manjawari

Wolio kini bermukena

Di bawah duli Murhum, Butuni bersolek

2011

***

Hikayat Tiga Ksatria adalah gubahan ke bentuk syair yang mereduksi kisah sejarah lampau perihal tiga kesatria yang datang membantu kerajaan Wolio, dari ancaman serbuan perompak di perairan Ternate dan Tidore.

***

Batu Lateng’U

 

1

berlimpah hormat kami haturkan

dua puluh lembah mengantarainya

benda persembahan terbentang di muka

Dari seberang lautan kau berperahu. Dua ribu armada dalam bentangan sayap bangau. Dua puluh empat bidadari menyambut dengan selendang. Dibukanya jalan saat kakimu menyentuh bumi. Batu Lateng’U, batu keramat, kau pijak, memecah tiga. Pusaka kau simpan di belahan rambut pada seorang bidadari tujuh wajah. Wahai, lelaki yang di dadanya keluar para Opu. Bilakah batu Lateng’U memberi isyarat? Pada rumpun padi yang bunting? Pada kemilau sebiji mutiara kuning laksana emas? Kau wasiatkan Bala Olo Pedandi’A padaku untuk aku ingat: pada masa ketiga akan datang tiga yang bercahaya bagai sebatang bombana dan dua lembar kain enu.

2

pinang satu kerat, sirih sekapur

kesana-kemari, laksana sebiji kemiri dalam gendang

tanduk rumah, bumbungan mahligai

Menemani perjalananmu, sebatang tongkat bambu yang ruasnya dari belulang naga. Oh, Sawerigading, kami harus menepuk pundak untuk mengingatmu. Di tepian konali engkau mengiris topi untuk kau pupuri tanah yang dipenuhi doa dan harapan. Dendeangi tunduk di kakimu, menerima perintah. Dendeangi menata keturunannya di pesisir selatan, pada tenggara pulau Sulawesi. Sebelum Sawerigading menurunkan tumit, engkau pijak batu Lateng’U, hingga pecah. Menjadi tiga lajur, tiga warna-warni. Sawerigading berjanji akan kembali, sebelum badik Tamano Moronene memutih garam pada ujungnya.

3

irisan atapnya, potongan pangkal kasaunya

teduh tirisan atapnya, ujung potongan kayunya

agar mereka senantiasa ingat kapak dan parang sebagai alat pencahariannya

sampai mereka beruban dan berjalan bungkuk bertongkat

Pada pagi yang rawan, datang kabar tentang Nungkulangi yang rebah. Lelaki perkasa itu hujub di anak sungai mata permaisuri. Digenggamnya hulu badik Tamano Moronene. “Inilah waktu yang diperjanjikan, wahai….para pewaris,” suara putri Luwuk mengiringi Bala Olo Pendandi’A. Tiga tuan dan seorang puan berdiri di bawah bambu, menunggu api menyentuh kepala. Badik Tamano Moronene di hujamkan ke bumi. Saat telapak Nungkulangi menyentuh bahu maka restu diberikan, titah diturunkan, wasiat disampaikan. Di hadapan Nungkulangi yang membusung, Ntina Sio Ropa, si putri tujuh rupa menjadi pembela Poleang. Di hadapan Nungkulangi yang tegak, Eluntoluwu, si putra bijak menjadi payung Rumbia. Dihadapan Nungkulangi yang perkasa, Indaulu, si putri jelita menjadi benteng Kabaena. Bala Olo Pedandi’A telah ditunaikan; tatkala batu Lateng’U pecah tiga di bawah telapak kaki moyangnya, sang Dendeangi. Bombana menjelma serupa tiga sulur bersimpul tunggal.

2011

***

Diangkat dari sejarah tua terbentuknya kerajaan Bombana yang kemudian memecah menjadi tiga protektorat kerajaan; Kabaena, Poleang, Rumbia.

Fig. 68. Wandzeichnungen aus der Batu Buri-Honle bei Tankeno - gez. Grundler. (Gambar 68: Lukisan dinding di Gua Batu Buri, di Tankeno - ttd. Grundler)

Fig. 2. Die beiden hochsten Berge Kabaenas vom Norden her. (Gambar 2: Gunung Tertinggi di Kabaena, tampak dari sisi utara).

Collectie Tropenmuseum: Tekening van Het Skelet van Een Woonhuis op Kabaena Celebes - tmnr 10003886 (Kerangka rumah di Kabaena Sulawesi - Gambar: Koleksi Tropenmuseum)

Fig. 2. Balo-Haus im ostlichen Kabaena; vorn ein Grab mit Opferpfahl (Gambar 2: Rumah Balo-Moronene di Kabaena bagian timur; dengan tiang pengorbanan pada bagian depannya).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita (Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita.

Ein Moronene-Haus in Sud-Rumbia (Sebuah rumah orang Moronene di wilayah Rumbia).

Deskripsi gambar 3: Kampiri, salah satu bentuk rumah dari tiga jenis rumah dalam peradatan orang Moronene, di Pulau Kabaena. Dua lainnya adalah; Laica Ngkoa (rumah besar), dan Olompu (rumah kebun).

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Papan Bilangan Orang Moronene.

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Matriks Bilang'ari Sosial-Ekonomi Orang Moronene.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Gunung Watu Sangia, dilihat dari Tankeno.

Gunung Sampapolulo (di selatan Gunung Watu Sangia).

Situs gua bersejarah Watu Buri (Batu bertulis) di Tankeno. Beberapa bentuk lukisan pada dinding gua dapat dilihat pada gambar pertama di atas. Goa ini dipercaya sebagai tempat Ratu Indaulu pertama bermukim sebelum membangun istana kerajaan di Tankeno. Di dalam gua ini masih dapat ditemui berbagai perkakas dan meubel terbuat dari batu. Mulut gua ini sangat besar. Perhatian gambar orang di tengah di sisi bawah foto.

Gua Watuburi (gambar tampak dari bagian dalam).

Foto-foto berbahasa asing adalah koleksi antropolog Jerman, Grubeur dan Johannes serta koleksi Tropenmuseum, Belanda. Sedang foto lainnya diambil dari berbagai sumber terkait.


[Telisik Literasi] ‘Three Hermits’ sampai ‘Dodolitdodolitdodolibret’

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Sengkarut ini bermula dari pengumuman pemenang Cerpen Terbaik Kompas, di Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011, di Bentara Budaya Jakarta pada Senin, 27 Juni 2011 lalu. Kemiripan cerpen pemenang dengan karya Three Hermits karya Tolstoy segera disadari oleh Akmal Nasery Basral dan dibuatkan kritikannya dengan judul karikaturis “Dodolit Dodolstoy”. Di kajian itu Akmal NB menemukan sekurang-kurangnya 8 (delapan) kesamaan besar.

Saya menampilkan kembali kedua cerpen ini, disertai terjemahannya oleh Atta Verin, yang diketik ulang oleh Hanna Fransisca.

Dalam pembacaanku, setidaknya aku menemukan 12 persamaan mendasar, selain bahwa kedua cerpen itu memiliki ide dan gagasan yang sama persis. Dua belas (12) persamaan mendasar itu bisa di baca di bagian paling bawah catatan ini. Terlepas dari semua sengkarut yang bermula, dan tambahan catatan ini, silahkan berasumsi dan membangun penilaian masing-masing terhadap dua entitas karya ini. Demikian.

 ***

Three Hermits

By : Leo Tolstoy (Ditulis pada 1886)

Leo Tolstoy

A BISHOPwas sailing from Archangel to the Solovétsk Monastery; and on the same vessel were a number of pilgrims on their way to visit the shrines at that place. The voyage was a smooth one. The wind favourable, and the weather fair. The pilgrims lay on deck, eating, or sat in groups talking to one another. The Bishop, too, came on deck, and as he was pacing up and down, he noticed a group of men standing near the prow and listening to a fisherman who was pointing to the sea and telling them something. The Bishop stopped, and looked in the direction in which the man was pointing. He could see nothing however, but the sea glistening in the sunshine. He drew nearer to listen, but when the man saw him, he took off his cap and was silent. The rest of the people also took off their caps, and bowed.

‘Do not let me disturb you, friends,’ said the Bishop. ‘I came to hear what this good man was saying.’

‘The fisherman was telling us about the hermits,’ replied one, a tradesman, rather bolder than the rest.

‘What hermits?’ asked the Bishop, going to the side of the vessel and seating himself on a box. ‘Tell me about them. I should like to hear. What were you pointing at?’

‘Why, that little island you can just see over there,’ answered the man, pointing to a spot ahead and a little to the right. ‘That is the island where the hermits live for the salvation of their souls.’

‘Where is the island?’ asked the Bishop. ‘I see nothing.’

‘There, in the distance, if you will please look along my hand. Do you see that little cloud? Below it and a bit to the left, there is just a faint streak. That is the island.’

The Bishop looked carefully, but his unaccustomed eyes could make out nothing but the water shimmering in the sun.

‘I cannot see it,’ he said. ‘But who are the hermits that live there?’

‘They are holy men,’ answered the fisherman. ‘I had long heard tell of them, but never chanced to see them myself till the year before last.’

And the fisherman related how once, when he was out fishing, he had been stranded at night upon that island, not knowing where he was. In the morning, as he wandered about the island, he came across an earth hut, and met an old man standing near it. Presently two others came out, and after having fed him, and dried his things, they helped him mend his boat.

‘And what are they like?’ asked the Bishop.

‘One is a small man and his back is bent. He wears a priest’s cassock and is very old; he must be more than a hundred, I should say. He is so old that the white of his beard is taking a greenish tinge, but he is always smiling, and his face is as bright as an angel’s from heaven. The second is taller, but he also is very old. He wears tattered, peasant coat. His beard is broad, and of a yellowish grey colour. He is a strong man. Before I had time to help him, he turned my boat over as if it were only a pail. He too, is kindly and cheerful. The third is tall, and has a beard as white as snow and reaching to his knees. He is stern, with over-hanging eyebrows; and he wears nothing but a mat tied round his waist.’

‘And did they speak to you?’ asked the Bishop.

‘For the most part they did everything in silence and spoke but little even to one another. One of them would just give a glance, and the others would understand him. I asked the tallest whether they had lived there long. He frowned, and muttered something as if he were angry; but the oldest one took his hand and smiled, and then the tall one was quiet. The oldest one only said: “Have mercy upon us,” and smiled.’

While the fisherman was talking, the ship had drawn nearer to the island.

‘There, now you can see it plainly, if your Grace will please to look,’ said the tradesman, pointing with his hand.

The Bishop looked, and now he really saw a dark streak — which was the island. Having looked at it a while, he left the prow of the vessel, and going to the stern, asked the helmsman:

‘What island is that?’

‘That one,’ replied the man, ‘has no name. There are many such in this sea.’

‘Is it true that there are hermits who live there for the salvation of their souls?’

‘So it is said, your Grace, but I don’t know if it’s true. Fishermen say they have seen them; but of course they may only be spinning yarns.’

‘I should like to land on the island and see these men,’ said the Bishop. ‘How could I manage it?’

‘The ship cannot get close to the island,’ replied the helmsman, ‘but you might be rowed there in a boat. You had better speak to the captain.’

The captain was sent for and came.

‘I should like to see these hermits,’ said the Bishop. ‘Could I not be rowed ashore?’

The captain tried to dissuade him.

‘Of course it could be done,’ said he, ‘but we should lose much time. And if I might venture to say so to your Grace, the old men are not worth your pains. I have heard say that they are foolish old fellows, who understand nothing, and never speak a word, any more than the fish in the sea.’

‘I wish to see them,’ said the Bishop, ‘and I will pay you for your trouble and loss of time. Please let me have a boat.’

There was no help for it; so the order was given. The sailors trimmed the sails, the steersman put up the helm, and the ship’s course was set for the island. A chair was placed at the prow for the Bishop, and he sat there, looking ahead. The passengers all collected at the prow, and gazed at the island. Those who had the sharpest eyes could presently make out the rocks on it, and then a mud hut was seen. At last one man saw the hermits themselves. The captain brought a telescope and, after looking through it, handed it to the Bishop.

‘It’s right enough. There are three men standing on the shore. There, a little to the right of that big rock.’

The Bishop took the telescope, got it into position, and he saw the three men: a tall one, a shorter one, and one very small and bent, standing on the shore and holding each other by the hand.

The captain turned to the Bishop.

‘The vessel can get no nearer in than this, your Grace. If you wish to go ashore, we must ask you to go in the boat, while we anchor here.’

The cable was quickly let out, the anchor cast, and the sails furled. There was a jerk, and the vessel shook. Then a boat having been lowered, the oarsmen jumped in, and the Bishop descended the ladder and took his seat. The men pulled at their oars, and the boat moved rapidly towards the island. When they came within a stone’s throw they saw three old men: a tall one with only a mat tied round his waist: a shorter one in a tattered peasant coat, and a very old one bent with age and wearing an old cassock — all three standing hand in hand.

The oarsmen pulled in to the shore, and held on with the boathook while the Bishop got out.

The old men bowed to him, and he gave them his benediction, at which they bowed still lower. Then the Bishop began to speak to them.

‘I have heard,’ he said, ‘that you, godly men, live here saving your own souls, and praying to our Lord Christ for your fellow men. I, an unworthy servant of Christ, am called, by God’s mercy, to keep and teach His flock. I wished to see you, servants of God, and to do what I can to teach you, also.’

The old men looked at each other smiling, but remained silent.

‘Tell me,’ said the Bishop, ‘what you are doing to save your souls, and how you serve God on this island.’

The second hermit sighed, and looked at the oldest, the very ancient one. The latter smiled, and said:

‘We do not know how to serve God. We only serve and support ourselves, servant of God.’

‘But how do you pray to God?’ asked the Bishop.

‘We pray in this way,’ replied the hermit. ‘Three are ye, three are we, have mercy upon us.’

And when the old man said this, all three raised their eyes to heaven, and repeated:

‘Three are ye, three are we, have mercy upon us!’

The Bishop smiled.

‘You have evidently heard something about the Holy Trinity,’ said he. ‘But you do not pray aright. You have won my affection, godly men. I see you wish to please the Lord, but you do not know how to serve Him. That is not the way to pray; but listen to me, and I will teach you. I will teach you, not a way of my own, but the way in which God in the Holy Scriptures has commanded all men to pray to Him.’

And the Bishop began explaining to the hermits how God had revealed Himself to men; telling them of God the Father, and God the Son, and God the Holy Ghost.

‘God the Son came down on earth,’ said he, ‘to save men, and this is how He taught us all to pray. Listen and repeat after me: “Our Father.”‘

And the first old man repeated after him, ‘Our Father,’ and the second said, ‘Our Father,’ and the third said, ‘Our Father.’

‘Which art in heaven,’ continued the Bishop.

The first hermit repeated, ‘Which art in heaven,’ but the second blundered over the words, and the tall hermit could not say them properly. His hair had grown over his mouth so that he could not speak plainly. The very old hermit, having no teeth, also mumbled indistinctly.

The Bishop repeated the words again, and the old men repeated them after him. The Bishop sat down on a stone, and the old men stood before him, watching his mouth, and repeating the words as he uttered them. And all day long the Bishop laboured, saying a word twenty, thirty, a hundred times over, and the old men repeated it after him. They blundered, and he corrected them, and made them begin again.

The Bishop did not leave off till he had taught them the whole of the Lord’s prayer so that they could not only repeat it after him, but could say it by themselves. The middle one was the first to know it, and to repeat the whole of it alone. The Bishop made him say it again and again, and at last the others could say it too.

It was getting dark, and the moon was appearing over the water, before the Bishop rose to return to the vessel. When he took leave of the old men, they all bowed down to the ground before him. He raised them, and kissed each of them, telling them to pray as he had taught them. Then he got into the boat and returned to the ship.

And as he sat in the boat and was rowed to the ship he could hear the three voices of the hermits loudly repeating the Lord’s prayer. As the boat drew near the vessel their voices could no longer be heard, but they could still be seen in the moonlight, standing as he had left them on the shore, the shortest in the middle, the tallest on the right, the middle one on the left. As soon as the Bishop had reached the vessel and got on board, the anchor was weighed and the sails unfurled. The wind filled them, and the ship sailed away, and the Bishop took a seat in the stern and watched the island they had left. For a time he could still see the hermits, but presently they disappeared from sight, though the island was still visible. At last it too vanished, and only the sea was to be seen, rippling in the moonlight.

The pilgrims lay down to sleep, and all was quiet on deck. The Bishop did not wish to sleep, but sat alone at the stern, gazing at the sea where the island was no longer visible, and thinking of the good old men. He thought how pleased they had been to learn the Lord’s prayer; and he thanked God for having sent him to teach and help such godly men.

So the Bishop sat, thinking, and gazing at the sea where the island had disappeared. And the moonlight flickered before his eyes, sparkling, now here, now there, upon the waves. Suddenly he saw something white and shining, on the bright path which the moon cast across the sea. Was it a seagull, or the little gleaming sail of some small boat? The Bishop fixed his eyes on it, wondering.

‘It must be a boat sailing after us,’ thought he ‘but it is overtaking us very rapidly. It was far, far away a minute ago, but now it is much nearer. It cannot be a boat, for I can see no sail; but whatever it may be, it is following us, and catching us up.’

And he could not make out what it was. Not a boat, nor a bird, nor a fish! It was too large for a man, and besides a man could not be out there in the midst of the sea. The Bishop rose, and said to the helmsman:

‘Look there, what is that, my friend? What is it?’ the Bishop repeated, though he could now see plainly what it was — the three hermits running upon the water, all gleaming white, their grey beards shining, and approaching the ship as quickly as though it were not morning.

The steersman looked and let go the helm in terror.

‘Oh Lord! The hermits are running after us on the water as though it were dry land!’

The passengers hearing him, jumped up, and crowded to the stern. They saw the hermits coming along hand in hand, and the two outer ones beckoning the ship to stop. All three were gliding along upon the water without moving their feet. Before the ship could be stopped, the hermits had reached it, and raising their heads, all three as with one voice, began to say:

‘We have forgotten your teaching, servant of God. As long as we kept repeating it we remembered, but when we stopped saying it for a time, a word dropped out, and now it has all gone to pieces. We can remember nothing of it. Teach us again.’

The Bishop crossed himself, and leaning over the ship’s side, said:

‘Your own prayer will reach the Lord, men of God. It is not for me to teach you. Pray for us sinners.

And the Bishop bowed low before the old men; and they turned and went back across the sea. And a light shone until daybreak on the spot where they were lost to sight.***

AN OLD LEGEND CURRENT IN THE VOLGA DISTRICT

‘And in praying use not vain repetitions, as the Gentiles do: for they think that they shall be heard for their much speaking. Be not therefore like unto them: for your Father knoweth what things ye have need of, before ye ask Him.’ — Matt. vi. 7, 8.

Sumber: www.online-literature.com

***

Di bawah ini adalah terjemahan Three Hermits di atas. Diketik ulang oleh Hanna Fransisca dari buku kumpulan cerpen Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada karya Leo Tolstoy, diterjemahkan oleh Atta Verin. Di copy-paste dari catatan Hanna Fransisca.

Tiga Pertapa

Oleh : Leo Tolstoy (Terjemahan oleh Atta Verin)

Buku Kumpulan Cerpen Leo Tolstoy "Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada" (terjemahan)

SEORANG uskup berlayar menuju sebuah biara yang jauh. Pada kapal yang sama terdapat sejumlah peziarah. Mereka juga hendak mengunjungi tempat suci. Perjalanan itu berjalan lancar. Angin begitu kencang dan cuaca cerah.

Para peziarah di geledak kapal menatap hamparan air laut atau duduk berkelompok seraya bercakap-cakap. Lalu, sang uskup pun ikut bergabung di gelagak kapal. Saat ia melihat-lihat keadaan, ia melihat sekelompok lelaki tengah berdiri di buritan kapal. Mereka sedang mendengarkan seorang nelayan yang tengah menunjuk-nunjuk ke arah laut dan menceritakan sesuatu pada mereka. Uskup itu berhenti dan mencoba melihat ke arah yang ditunjuk oleh nelayan itu. Ia tak bisa melihat apa pun, kecuali laut yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Uskup itu mendekat dan ikut menyimak. Namun, nelayan itu melihatnya. Dilepasnya topinya dan ia berhenti bicara. Orang-orang lainnya juga melepas topi mereka dan membungkuk hormat.

“Jangan biarkan aku mengganggu kalian,” ujar uskup itu dengan ramah. “Aku ingin mendengar apa yang dikatakan oleh orang baik ini.”

“Nelayan ini sedang bercerita pada kami tentang para pertapa,” jawab salah seorang di antara para lelaki itu, seorang saudagar. Ia lebih berani bicara dibanding yang lainnya.

“Pertapa apa?” tanya sang uskup. Ia bergerak ke sisi gelagak dan duduk di atas sebuah kotak. “Ceritakan padaku tentang mereka. Aku ingin mendengarnya. Apakah yang tadi kamu tunjuk?”

“Pulau mungil itu. Anda bisa melihatnya dari sini, “sahut lelaki itu. Ia menunjuk sebuah titik di depan agak ke kanan. “Di pulau itulah para pertapa itu tinggal. Hanya mereka yang menghuni pulau itu. Mereka ingin menyelamatkan jiwa mereka.”

“Pulau manakah?” tanya uskup itu. “Aku tidak melihat apapun.”

“Di sana di kejauhan—jika Anda mengikuti arah tangan saya. Apakah Anda melihat awan mungil itu? Lihatlah tepat di bawahnya, sedikit ke kiri. Ada sebuah gugus kecil. Itulah pulau yang dimaksud.”

Uskup itu menajamkan pandangan matanya dengan saksama. Tapi matanya tak terbiasa melihat ke lautan. Yang bisa dilihatnya hanyalah air yang berkilauan diterpa cahaya matahari.

“Aku tak bisa melihatnya,” ujarnya. “Tapi siapakah para pertapa yang tinggal di sana?”

“Mereka orang-orang suci,” sahut si nelayan. “Sudah lama saya mendengar kabar tentang mereka. Tapi saya belum pernah melihatnya sendiri hingga akhir tahun kemarin.”

Lalu nelayan itu bercerita tentang saat ia terdampar pada suatu malam di pulau itu. Ia baru saja hendak pergi menangkap ikan saat badai datang. Dalam kegelapan ia terseret arus hingga ke pantai. Ia tak tahu berada di mana saat itu.

Pada pagi harinya ia berkeliling dan sampai di sebuah pondok. Ada seorang lelaki tua tengah berdiri di dekat pondok itu. Sejenak kemudian, dua orang lainnya muncul. Lalu ketiga lelaki tua itu memberinya makan, mengeringkan bajunya yang basah, dan membantunya memperbaiki perahu.

“Seperti apakah mereka?” tanya sang uskup.

“Yang satu bertubuh mungil dan punggungya bungkuk,” sahut nelayan itu. “Ia memakai jubah pendeta dan tampak sangat tua. Mungkin umurnya lebih dari seratus tahun.Begitu tuanya sehingga janggut putihnya mulai berganti warna menjadi kehijau-hijauan. Tapi, ia selalu tersenyum—dan wajahnya secerah wajah malaikat.

“Yang kedua lebih tinggi, tapi juga sudah amat tua,” lanjut nelayan itu. “Ia memakai mantel petani. Janggutnya lebat dan berwarna kuning kelabu. Ia amat kuat. Sebelum saya sempat membantunya, ia telah membalikkan perahu sendirian seolah-olah itu hanyalah sebuah ember. Ia juga amat baik dan ramah.

“Yang ketiga bertubuh tinggi. Janggutnya seputih salju dan panjangnya hingga mencapai lutut. Ia orang yang tegas dengan alis tebal seperti semak belukar. Dan ia hanya memakai semacam kain melingkari pinggangnya.”

“Apakah mereka berbicara padamu?” tanya uskup.

“Sebagian besar mereka melakukan segala sesuatu sambil berdiam diri,” sahut nelayan itu. “Mereka bahkan tidak berbicara satu sama lain. Salah seorang dari mereka mengganggukan kepala dan yang lainnya tampak mengerrti apa yang dimaksud. Saya bertanya pada yang paling tinggi berapa lama mereka telah hidup di sana. Ia malah bermuka masam dan bergumam seakan-akan ia marah. Tapi yang paling tua menggamit lengannya dan tersenyum. Entah bagaimana itu membuat yang tinggi menjadi tenang. Yang tertua itu hanya bilang, ‘Kasihilah kami,’ dan kemudian ia tersenyum.”

Ketika nelayan itu tengah berbicara, kapal mereka mendekat ke pulau yang tengah mereka percakapkan.

“Itu! Kini Anda bisa melihatnya dengan jelas,” ujar si saudagar pada uskup. Ia menunjuk dengan jarinya.

“Uskup itu melihat gugusan gelap yang merupakan sebuah pulau. Sejenak ia hanya menatapnya. Lalu ia beranjak dari bagian depan kapal dan beralih ke tepi.

“Pulau apakah itu?” tanya uskup.

“Pulau itu tidak bernama,” ujar yang ditanya. “Ada banyak pulau kecil seperti itu di laut ini.”

“Benarkah ada pertapa yang tinggal di sana?” tanya uskup itu. “Benarkah mereka tinggal di sana untuk menyelamatkan jiwa mereka?”

“Begitulah kabarnya,” sahut yang ditanya. “Tapi saya tak tahu soal kebenarannya. Banyak nelayan mengatakan bahwa mereka pernah melihat para pertapa itu. Tapi, tentu saja mereka mungkin hanya tahu dari desas-desus belaka.”

“Sebaiknya aku mendarat di sana untuk membuktikannya,” kata uskup. “Bagaimanakah caranya?”

“Kapal ini tidak bisa mendekat ke pulau itu,” sahut seseorang. “Kita bisa karam. Tapi Anda bisa naik perahu kecil ke sana. Sebaiknya Anda berbicara dengan kapten kapal.”

Kapten kapal dipanggil dan kini berdiri di hadapan sang uskup.

“Aku ingin bertemu para pertapa itu,” Kata uskup. “Bisakah aku berdayung ke tepi pantai?”

Kapten mencoba mencegah niat sang uskup. “Tentu saja itu bisa dilakukan,” ujarnya. “Tapi kita akan kehilangan banyak waktu. Dan jika saya boleh mengatakan satu hal lagi. Para orangtua itu tak cukup layak membuat Anda sedemikian bersusah payah. Kabarnya mereka hanyalah orang-orang bodoh yang tak memahami apapun. Mereka tak pernah bicara—lebih pendiam daripada ikan-ikan di lautan.”

“Aku tetap ingin menjumpai mereka,” kata uskup. “Aku akan membayar semua jerih payah dan waktumu yang hilang. Tolong beri aku sebuah perahu.”

Tak ada lagi alasan, maka permintaan itu pun diluluskan. Para awak kapal mengembangkan layar. Juru mudi membelokkan arah kapal menuju pulau itu.

Sebuah kursi diletakkan di haluan untuk tempat duduk sang uskup. Para penumpang berkumpul di sisi kapal dan memandang pulau itu.  Yang memiliki pandangan paling tajam segera bisa melihat batu karang di sekitar pulau itu. Lalu terlihat sebuah pondok yang terbuat dari lumpur. Akhirnya seseorang melihat ketiga pertapa itu. Kapten kapal mengeluarkan teleskopnya. Setelah melihat melalui teleskop, ia menyodorkan benda itu pada sang uskup.

“Memang benar,” ujar kapten itu. “Ada tiga lelaki berdiri di pantai. Di sebelah sana—sedikit di sebelah kanan batu karang besar itu.”

Uskup mengambil teleskop dan memastikan arahnya. Lalu ia melihat ketiga orangtua itu. Ada yang bertubuh tinggi, yang bertubuh lebih pendek dengan punggung bungkuk. Mereka berdiri di tepi pantai, saling berpegangan tangan.

Kapten menoleh ke arah uskup. “Kapal ini tak bisa lebih dekat lagi ke pulau itu. Jika Anda ingin menepi, Anda sebaiknya menggunakan perahu kecil. Kami akan membuang jangkar di sini dan menunggu Anda.”

Jangkar pun diturunkan dan layar digulung. Kapal itu bergoncang saat ia berhenti. Lalu sebuah perahu dayung diturunkan dan juru dayung meloncat masuk. Akhirnya uskup itu turun dengan sebuah tangga dan duduk di perahu dayung.

Para juru dayung mulai mengayuh dan perahu itu pun bergerak dengan cepat menuju pulau itu. Saat jarak mereka tinggal sepelemparan batu, mereka melihat ketiga orangtua itu dengan sangat jelas. Yang paling tinggi hanya mengenakan semacam kain melingkari pinggangnya. Di sampingnya adalah lelaki yang lebih pendek yang memakai mantel petani. Di dekatnya tampak seorang lelaki amat tua, punggungnya bungkuk oleh usia dan ia mengenakan jubah pendeta. Ketiganya berdiri mematung, saling berpegangan tangan.

Para juru dayung mengayuh ke arah pantai. Mereka menambatkan perahu, lalu sang uskup beranjak turun.

Orang-orang tua itu membungkuk padanya. Uskup memberi salam pada mereka dan mereka membungkuk lebih dalam. Lalu uskup angkat bicara.

“Aku telah mendengar kabar bahwa kalian adalah orang-orang suci. Mereka bilang kalian tinggal di sini untuk menyelamatkan jiwa kalian dan berdoa  pada Tuhan,” ujarnya. “Aku, seorang pelayan Tuhan yang hina, terpanggil oleh kasih Tuhan untuk menjaga dan mengajari domba-dombanya. Aku berharap bisa bertemu dengan kalian yang juga merupakan pelayan Tuhan sehingga aku pun bisa mengajari kalian.“

Para orangtua itu saling melempar senyum, tapi tetap berdiam diri.

“Katakan kepadaku, apakah yang kalian lakukan untuk menyelamatkan jiwa kalian?” tanya uskup. “Dan bagaimana kalian melayani Tuhan di pulau ini?”

Pertapa yang kedua menarik nafas dan menatap yang tertua—yang usianya telah amat sangat tua. Orang ini tersenyum dan berkata, “Kami tidak tahu bagaimana cara melayani Tuhan. Kami hanya melayani dan membantu diri kami, wahai pelayan Tuhan.”

“Tapi bagaimana cara kalian berdoa kepada Tuhan?” tanya uskup.

“Kami berdoa seperti ini,” pertapa tua itu menjawab. “Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”

Uskup itu tersenyum.

“Tampaknya kalian pernah mendengar tentang Trinitas Suci,” ujar uskup. “Tapi cara kalian berdoa tidak benar. Kalian membuatku iba. Kulihat kalian ingin berbakti pada Tuhan. Tapi kalian tak tahu bagaimana caranya. Bukan begitu cara berdoa. Dengarkan aku dan akan kuajari kalian. Yang kuajarkan ini bukan sesuatu yang mengada-ada, melainkan menurut apa yang diajarkan Tuhan melalui Kitab Suci kepada seluruh umat manusia.”

Lalu uskup itu mulai bercerita pada para pertapa bagaimana Tuhan memberi wahyu kepada manusia. Ia bercerita kepada mereka tentang Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.

“Tuhan Anak turun ke bumi untuk menyelamatkan kita,” ujar uskup. “Dan seperti inilah berdoa yang diajarkan Tuhan pada kita. Dengarkan dan ikuti sesudahnya. “Bapak kami…”

Orang yang pertama lalu mengikutinya, “Bapak kami.” Yang kedua berkata, “Bapak kami.” Begitu pula yang ketiga.

“Yang ada di surga…” lanjut sang uskup.

Pertapa pertama mencoba mengulangi, “Yang ada di surga.” Tapi yang kedua tak mampu melafalkannya dengan benar. Begitu pula pertama yang bertubuh tinggi. Rambut di kepala dan wajahnya telah menutupi mulutnya sehingga ia tak bisa berbicara dengan jelas. Pertapa paling tua, yang sudah ompong, juga mengalami kesulitan dengan kata-kata itu.

Uskup mengulangi kata-kata itu lagi dan para orangtua itu mengikutinya. Lalu uskup duduk di atas sebuah batu dan para pertapa itu berdiri di hadapannya. Mereka menatap mulut uskup itu dengan saksama. Setiap kata yang diucapkan uskup itu mereka ulangi. Sepanjang hari uskup itu bekerja. Ia mengucapkan tiap-tiap kata hingga 20, 30, bahkan 100 kali. Lalu para pertapa tua itu menirunya. Saat mereka membuat kesalahan, ia membetulkannya, lalu mereka mulai lagi dari awal.

Uskup itu tidak berhenti hingga ia selesai mengajarkan seluruh doa itu. Ia mengajari mereka hingga mereka mampu mengucapkannya tanpa dibimbing lagi, bukan sekadar menirukan kata-katanya. Pertapa yang kedualah yang pertama kali berhasil mempelajarinya. Tak lama, yang lainnya berhasil pula mengucapkannya dengan baik.

Kini sudah mulai gelap. Bulan muncul di atas permukaan air. Uskup itu akhirnya bangkit untuk kembali ke kapal. Saat ia beranjak, ketiga lelaki itu bersujud di atas bumi di hadapannya. Ia membangunkan mereka dan mencium mereka satu persatu. Ia berpesan kepada mereka agar berdoa sesuai cara yang tadi telah diajarkannya. Lalu ia masuk ke perahu dayung dan kembali ke kapal.

Ketika uskup itu mendekat ke kapal, ia dapat mendengar suara ketiga pertapa itu. Mereka berdoa dengan suara nyaring. Saat perahu mencapai kapal, suara mereka tak lagi terdengar. Tapi ketiga lelaki tua itu masih bisa terlihat di bawah cahaya bulan. Mereka masih berdiri di tempat semula saat uskup meninggalkan mereka di tepi pantai.

Saat sang uskup telah masuk ke dalam kapal, jangkar dinaikkan dan layar kembali dikembangkan. Angin dengan cepat mendorong kapal layar itu dan mereka pun kembali berlayar ke laut lepas. Sang uskup duduk dan menatap ke arah pulau yang baru saja mereka tinggalkan. Sejenak ia bisa melihat para pertapa itu. Tapi segera mereka lenyap. Akhirnya, pulau itu juga hilang dari pandangan dan hanya laut belaka yang terlihat beriak di bawah sinar bulan.

Para peziarah membaringkan diri, bersiap untuk tidur. Segalanya terasa sepi di atas geladak. Tapi uskup itu tidak ingin tidur. Ia duduk sendirian memandang lautan, ke arah pulau yang tak lagi terlihat. Ia berpikir tentang para orangtua yang baik itu. Ia berpikir tentang betapa semangatnya mereka belajar berdoa. Dan ia berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimnya untuk mengajari dan membantu orang-orang sebaik itu.

Lalu tiba-tiba uskup itu melihat sesuatu yang putih dan bersinar-sinar. Secercah cahaya aneh bergerak di atas permukaan laut yang diterangi sinar bulan. Apakah itu seekor anjing laut? Atau hanyalah kilauan layar sebuah perahu kecil? Sang uskup berusaha menajamkan penglihatannya bertanya-tanya dalam hati.

“Pasti tu perahu yang berlayar di belakang kami,” pikirnya. “Tapi ia membututi kami begitu cepat. Beberapa saat yang lalu ia masih jauh. Kini ia makin mendekat. Tapi tampaknya itu bukan perahu—kini aku bisa melihat bahwa benda itu tak memiliki layar.”

Uskup tak tahu benda apakah itu sesungguhnya. Itu bukan perahu, juga bukan burung dan bukan pula ikan! Terlalu besar bila itu adalah orang. Lagi pula, mana mungkin orang berenang secepat itu di laut lepas?

Uskup itu bangkit dan bicara kepada juri mudi. “Lihatlah! Apakah itu?” teriaknya. “Apa itu?” ulangnya. Tapi kini ia bisa melihat benda itu dengan jelas. Ketiga pertapa itu berlari di atas air! Mereka memburu ke arah kapal seolah-olah perahu itu tidak bergerak sama sekali.”

Juri mudi melihatnya dan melepaskan kemudi dengan ketakutan. “Ya, Tuhan!” pekiknya. “Para pertapa itu berlari di atas air seolah-olah sedang berada di daratan.”

Para penumpang mendengarnya. Mereka melompat dan bergegas ke arah bagian belakang perahu. Mereka juga melihat para pertapa itu datang bersama-sama, saling berpegangan tangan. Dua lelaki tua di bagian samping melambaikan tangan, meminta agar kapal berhenti. Mereka bertiga meluncur di atas permukaan air laut tanpa menggerakkan kaki. Sebelum kapal berhenti, para pertapa itu telah lebih dulu mencapainya. Mereka menegakkan kepala dan berkata seolah-olah dengan satu suara.

“Kami lupa apa yang tadi kau ajarkan, wahai pelayan Tuhan, “kata mereka kepada sang uskup. “Saat kami terus menerus mengulanginya, kami ingat. Tapi saat kami berhenti mengatakannya suatu kali, satu kata terlupa. Kini doa itu tak bisa kami ingat lagi sedikit pun. Ajarilah kami sekali lagi.”

Uskup itu membuat tanda salib di dadanya. Lalu ia bersandar ke tepi kapal. “Doa kalian akan didengar Tuhan. Bukan aku yang harus mengajari kalian. Berdoalah untuk kami, para pendosa ini.”

Sang uskup lalu membungkuk dalam-dalam di hadapan ketiga orang tua itu. Mereka berbalik dan kembali melintasi laut. Hingga terbit fajar, secercah cahaya bersinar-sinar di titik mereka lenyap dari pandangan.

***

Bandingkan lagi dengan tulisan berikut, di bawah ini:

We Are Three, You Are Three

by Anthony de Mello S. J

THE SONG OF THE BIRD by Anthony de Mello S. J. (Image Books, 1982)

WHEN his ship stopped at a remote island for a day, the bishop determined to use the time as profitably as possible. He strolled along the seashore and came across three fishermen attending to their nets. In Pidgin English they announced to him that centuries be/ore they had been Christianized by missionaries. “We, Christians!” they said, proudly pointing to one another.

The bishop was impressed. Did they know the Lord’s Prayer? They had never heard of it. The bishop was shocked.

“What do you say, then, when you pray?”

“We lift eyes in heaven. We pray, ‘We are three, you are three, have mercy on us.” The bishop was appalled at the primitive, the downright here-tical, nature of the prayer. So he spent the whole day teaching them the Lord’s Prayer. The fishermen were poor learners, but they gave it all they had and before the bishop sailed away next day he had the satisfaction of hearing them go through the formula faultlessly.

Months later his ship happened to pass by those islands again and the bishop, as he paced the deck reciting evening prayer, recalled with pleasure the three men on that distant island who were now able to pray, thanks to his patient efforts.

Suddenly he saw a spot of light in the east that kept approaching the ship and, as he gazed in wonder, he saw three figures walking on the water. The captain stopped the boat and everyone leaned over the rails to see this sight.

They were the bishop’s fishermen, of course. “Bishop,” they exclaimed, “We hear your boat go past and come hurry-hurry meet you.”

“What is it you want?” asked the awe-stricken bishop.

“Bishop,” they said, “We so, so sorry. We forget lovely prayer. We say: Our Father in heaven, holy be your name, your kingdom come… then we forget. Tell us prayer again.”

It was a chastened bishop who replied, “Go back to your homes, my friends, and each time you pray, say, “We are three, you are three, and have mercy on us!”

From THE SONG OF THE BIRD by Anthony de Mello S. J. (Image Books, 1982)

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia “Burung Berkicau” (1984).

***

Pada buku Anthony, bagian prakata kita dengan mudah menemukan pengakuan frater Anthony, secara implisit, bahwa cerita-cerita yang ditemukan di bukunya hanyalah sejenis kumpulan dari berbagai kisah dari berbagai tempat dan latar belakang agama. Dan, memang, jika membaca buku ini, kita dengan mudah menemukan berbagai kecenderungan religius di dalamnya; Buddha, Kristen, Zen, Hasidic, Rusia, Cina, Hindu, Sufi, kisah-kisah kuno, dan bahkan kontemporer.

This book has been written for people of every persuasion religious and non religious, I cannot, however, hide from my readers the fact that I am a priest of the Catholic Church. I have wandered free-ly in mystical traditions that are not Christian and not religious and I have been profoundly influenced by them. It is to my Church, however, that I keep returning, for she is my spiritual home; and while I am acutely, sometimes embarrassingly, conscious of her limitations and narrowness, I also know that it is she who has formed me and made me what I am today. So it is to her that I gratefully dedicate this book.

Everyone loves stories and you will find plenty of them in this book: Stories that are Buddhist, Christian, Zen, Hasidic, Russian, Chinese, Hindu, Sufi; stories ancient and contemporary. And they all have a special quality: if read in a cer-tain kind of way, they will produce spiritual growth.

Dalam Anthony terjadi pula pengubahan karakter dan alur kisah dari yang mula dituliskan Tolstoy;

  • Jumlah paragraf sangat pendek, hanya 10 paragraf.
  • Tiga Pertapa menjadi tiga nelayan.
  • Pengubahan alur kisah, yang mana pada Tolstoy ketiga pertapa hanyalah pertapa biasa, dan tidak mengakui diri mereka sebagai kristen, namun dalam Anthony, ketiga nelayan seketika mengaku sebagai, “Kami, orang Kristen!”
  • Alur kisah juga melipir jauh. Pada Tolstoy kapal yang ditumpangi sang Uskup tidak dituliskan telah melalui area perairan di mana pulau tersebut berada sebanyak dua kali. Tapi bahwa kapal itu hanya singgah. Tidak demikian pada Anthony, kapal sang Uskup sepertinya pernah singgah di suatu waktu, dan melayari perairan itu di lain waktu.

Months later his ship happened to pass by those islands again and the bishop, as he paced the deck reciting evening prayer, recalled with pleasure the three men on that distant island who were now able to pray, thanks to his patient efforts.

Atau, “Bishop,” they exclaimed, “We hear your boat go past and come hurry-hurry meet you.”

Apakah pengubahan drastis seperti ini akan ikut mengubah identitas dan penciri utama kisah yang dapat kita temukan dalam karakter dan alur kisah? Selain bahwa ide dan gagasannya yang sama, pengubahan drastis ini juga tidak mengubah prasangka apapun, bahwa kisah ini adalah milik Tolstoy.

Namun dua hal yang menarik, ketika kisah ini dituliskan kembali oleh Anthony; Anthony cukup jujur membangun pemahaman pada prakata bahwa kisah ini bukan kisah miliknya (yang hanya dilakukan sepintas lalu oleh SGA dalam bentuk disclaimer pada Dodolibret); dan, bahkan Anthony pun tidak menuliskan sumber kisah di mana dia terinspirasi/ambil (tak kita temukan nama Tolstoy atau Three Hermits dituliskan pada awal/akhir buku kumpulannya itu).

***

Dodolitdodolitdodolibret

Oleh : Seno Gumira Ajidarma (Dimuat Kompas pada 26 September 2010)

           KIPLIK sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

“Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, “karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

“Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, “untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

“Izinkan kami mengikutimu, Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

“Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, “dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

“Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Danau seluas lautan,” pikirnya, “apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

“Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

“Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, “mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

“Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

“Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

“Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

“Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

“Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!” (*)

Ubud, Oktober 2009 / Kampung Utan, Agustus 2010

Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

Cerpen ini memenangkan penghargaan Cerpen Terbaik Kompas, pada Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011, di Bentara Budaya Jakarta, Senin, 27 Juni 2011.

***

Kemiripan (atau, kesamaan) sebagai berikut :

  1. Adanya karakter dalam cerita yang berjalan di atas air,
  2. Kesamaan ide cerita tentang belajar berdoa dengan benar,
  3. Pulau di tengah lautan; pulau di tengah danau yang luas laksana lautan,
  4. Tiga pertapa; sembilan penduduk,
  5. Karakter utama dalam kedua kisah ini berdoa tapi salah,
  6. Uskup mengajarkan cara berdoa; Guru Kiplik mengajarkan mereka cara berdoa,
  7. Kesamaan alur kisah: setiap kali mereka berdoa, maka setiap kali merekapun lupa,
  8. Ketiga orang berhasil berdoa secara benar; sembilan orang berhasil berdoa secara benar,
  9. Uskup di kapal; Guru Kiplik di perahu (sama-sama moda air),
  10. Nahkoda berteriak; pendayung berteriak,
  11. Tiga orang mendatangi kapal dengan berlari di atas air; sembilan orang mendatangi perahu dengan berlari di atas air,
  12. Mendatangi kapal dengan maksud yang sama: minta diajari kembali cara berdoa yang benar, sebab mereka selalu lupa setiap kata seusai mengulangi doa.

Hal-hal yang terganti (sekadar diganti tanpa mengubah citra dan fungsi karakter/alur) :

  1. Pulau di tengah laut; digubah menjadi Pulau di tengah danau yang luas laksana laut.
  2. Karakter Uskup; digubah menjadi karakter Guru Kiplik.
  3. Tiga pertapa; digubah menjadi karakter sembilan orang biasa yang rajin bekerja.
  4. Kapal; digubah menjadi perahu (ditemukan pula perahu dalam karya Tolstoy).
  5. Nahkoda kapal; digubah menjadi pendayung perahu (ditemukan juga adanya karakter pendayung perahu pada karya Tolstoy).
  6. Alur percakapan antara Uskup dan ketiga pertapa; berusaha digubah sedemikian rupa, kendati tetap tak bisa menyembunyikan kesan bahwa alur percakapannya itu sangat identik.

Kesamaan ide dan gagasan dasar:

  • Bahwa apa yang menurut Anda benar, belum tentu demikian halnya bagi orang lain.
  • Setiap orang (atau komunitas) memiliki cara sendiri-sendiri menuju Tuhannya.
  • Esensi Ketuhanan tak dapat diukur oleh girah kemanusiaan. Kemutlakan itu tidak fana.

Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa adanya upaya mengubah sejumlah unsur dalam kisah asli. Upaya-upaya itu terlihat dari usaha mengubah karakter utama, alur percakapan, alur utuh cerita, namun semua upaya itu terlihat gagal. Upaya pengaburan alur juga terjadi; yakni dengan memotong ending kisah (percakapan) di akhir kisah karya Tolstoy, dengan tidak menampilkannya pada cerpen gubahan. Penyederhanaan alur boleh juga disebut demikian. Upaya-upaya (pengubahan, pengaburan, pemotongan) dalam kisah Tolstoy ternyata gagal dilakukan, sehingga aroma alur kisah yang khas Tolstoy dalam Three Hermits, masih sangit–dan begitu mudah dibaui–walau kedua kisah hanya cukup di dengarkan saja.

Lalu, pada cerpen gubahan, penulis seperti hendak mendesakkan pemahaman yang ditangkapnya dalam cerpen Three Hermits. Terlalu banyak penjelasan, begitu kira-kira. Jadi, seolah-olah, cerpen gubahan itu, menjadi “juru takwil” dari sulur-sulur makna yang ditabur Tolstoy dan berusaha disampaikannya dalam cerpen Three Hermits.

Sekali lagi ini penilaian subjektif yang sifatnya tinjauan umum belaka. Sekian. (*)

Diskusi tentang ini dapat dilihat pada Catatan Ilham Q. Moehiddin di Facebook.



[Cerpen] Magnolia de Capoterra

Oleh :  Ilham Q. Moehiddin

 

SEORANG wanita 72 tahun, duduk di sebuah kursi Bar Cavallo. Bergaun mewah, dengan belahan dada rendah, memamerkan garis buah dada dan sebentuk kalung mutiara. Syal putih bulu Angsa tersampir di sekitar pundaknya. Rambutnya tergelung dengan baik. Jemari dan pergelangan tangannya, berhias emas. Bahkan telinganya, ada sepasang giwang bermata berlian kecil.

Wanita tua itu duduk tenang di sudut remang Bar Cavallo, dekat bartender biasa menyajikan minuman. Setiap kali wanita itu datang, selalu saja duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, Cannonau. Di permulaan pagi, wanita itu pulang dalam keadaan yang sama pula—sempoyongan karena sedikit mabuk.

Aku bukan warga kota Capoterra. Aku berasal dari kota lain, Cabras, berjarak 300 kilometer dari kota ini. Aku sangat suka Capoterra. Suka pada udara kering yang berhembus dari laut Mediterania.

Di kota ini, aku datang untuk membunuh sepi di tepian pantai Capoterra, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis lokal, menyantap Bottarga yang gurih, ditemani anggur putih Vernaccia beraroma kacang Badam. Entah kenapa? Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku selalu bergairah ketika membaui aroma udara pagi yang kering dan asin dari balkon kamarku saat menikmati dua tangkup roti dan Pecorino.

Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe kecil di sepanjang jalan pasar ikan, di utara kota Capoterra. Bercerita hal yang tak perlu pada gadis-gadis Sassari yang wangi dan sintal sambil memangku beberapa dari mereka. Gadis-gadis itu akan menemaniku tidur dengan bayaran murah setelah mendengarkan bualanku perihal kapal-kapal, samudera dan benua-benua.

Sejak kunjungan pertamaku di Bar Cavallo ini, wanita tua itu tak pernah absen dari penglihatanku. Dia selalu hadir di sana. Sambil memainkan jemarinya pada bibir gelas, lamat-lamat kudengar dia menyenandungkan lagu Tu Per Me Canta La Voce Del Nord. Lagu tentang hati yang patah. Senandungnya hanya berhenti saat pintu bar terbuka dan seseorang terlihat masuk. Tubuhnya akan ditegakkan, lalu matanya seperti menyala dalam rupa yang aneh.

Ya, matanya itu tak pernah luput dari pintu masuk. Setiap tamu lelaki yang melalui pintu itu, ditatapinya dengan tajam. Seolah mata itu sanggup menelanjangi setiap mereka, satu per satu. Wanita tua ini seperti sedang mencari sesuatu pada wajah-wajah itu.

Aku baru menyadari sikapnya saat mata kami bersirobok pandang. Saat kami bertatapan, wanita itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Matanya segera beralih pada wajah orang lain yang baru datang, dan begitu seterusnya.

Aku menanyakan kelakuan wanita itu pada bartender yang dengan senang hati berkisah padaku. Katanya, wanita itu bernama Magnolia. Nama panggung yang begitu dikenali setiap pria di Capoterra ini, 50 tahun silam. Namanya membuat Bar Cavallo ramai setiap malam. Tak ada malam yang dilewatkan para pria di kota ini tanpa berkerumun di dekat panggung pada pesona Magnolia saat menyanyikan A Tenore dengan suara soprannya yang memukau.

Kini orang-orang telah menyangka wanita tua itu sudah gila.

***

Gadis muda Magnolia, cantik seperti arti namanya. Panggung Bar Cavallo selalu semarak dengan hentakan kakinya saat bernyanyi. Magnolia saat itu berumur 22 tahun.

Sepi gadis itu sirna saat cintanya tersangkut pada Morty, seorang cellis muda yang baru setahun bekerja di Cavallo. Morty menawan hati Magnolia lewat gesekan Cello-nya yang membuat merinding.

Magnolia dan Morty, seperti kebanyakan pasangan muda yang dirundung asmara, menikmati hari-hari mereka dalam cinta yang gelora. Pada malam yang berangin, saat kabut menghampar di sepanjang pantai Capoterra, menyusupi belulang kota itu yang sedang lelap, keduanya dimabuk gairah. Cahaya lampu minyak memantulkan bayang mereka yang berkelindan. Dua bayang yang saling memagut, merasuk, dan berusaha merampungkan petualangan dalam hasrat yang menjilam-jilam. Kemudian pecah dalam gemuruh yang tuntas. Mereka berdua lindap dalam senyum, memagut sekali lagi di penghabisan, sebelum pulas dalam dekapan satu sama lain.

Cinta mereka memang manis. Semua lelaki iri pada keberuntungan Morty. Namun semua wanita di Capoterra justru bersukacita. Akhirnya, ada lelaki yang akan membawa Magnolia de Capoterra itu pergi dari kota ini. Meninggalkan kota itu dengan kaum lelaki hanya untuk mereka saja.

Magnolia hamil dan begitu bahagia karenanya. Tetapi Morty lebih murung dari biasanya. Dia tak bergairah lagi mengesek Cello. Gadis itu tak pernah menyangka Morty akan menyangkali kehamilannya. Mereka bertahan dalam kepura-puraan cinta di hadapan semua orang, hingga suatu malam Morty tak pernah lagi muncul di panggung Bar Cavallo.

Gadis itu hanya menemukan selembar surat yang berisi maaf Morty untuk kepergiannya yang tiba-tiba itu. Lelaki itu pergi. Meninggalkan Magnolia yang merasa sangat terkutuk telah menerima semua cinta lelaki itu. Magnolia bertekad menunggu Morty. Walau dia harus terus menghibur dengan perut yang kian membesar.

Magnolia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tetapi Magnolia segera kehilangan bayinya empat jam berikutnya. Bayi perempuannya itu mati karena gagal jantung. Bukan main hancur perasaan Magnolia. Satu-satunya alasan dia terus bertahan menunggu Morty, adalah bayinya itu.

Setelah ditinggalkan oleh bayinya, kini Magnolia benar-benar berada dalam kesepian yang tak berujung. Magnolia memang tolol. Buat apa menunggu lelaki yang telah menyetubuhinya, lalu pergi begitu saja? Barangkali saja, lelaki itu kini sedang bersama gadis lain di Tortili. Atau, sedang menjual cintanya pada janda-janda kaya di Carbonia.

“Ah, brengsek kau Morty! Persetan dengan tubuhmu, dan cintamu. Kau menawanku dalam penjara tak bertepi ini. Aku akan memelihara parasaan ini dan menunggumu hingga kau kembali padaku,” kecam Magnolia, sebelum memukul keras permukaan meja dan meneguk seketika wisky dari slokinya.

Hari itu, hari terakhir Magnolia menyanyi untuk Bar Cavallo.

Dia memulai penantiannya. Magnolia menolak tawaran bernyanyi dari beberapa bar dan restoran ternama lainnya di Capoterra. Dia juga menolak cinta seorang lelaki yang begitu gigih merebut perhatiannya. Namun hati Magnolia hanyalah untuk Morty saja.

***

Barangkali aku memang beruntung. Tak pernah menyangka, menyaksikan bagian akhir dari kisah Magnolia.

Saat aku sedang menikmati suasana Cavallo seperti biasa, Magnolia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berseru. Melihatnya berdiam di keremangan sudut Cavallo saja sudah aneh, apalagi melihatnya berdiri dan berseru seperti itu.

“Morty!” Teriak Magnolia.

Seorang lelaki tua yang baru masuk dan hendak memilih meja, berpaling dengan heran. Mencoba menajamkan mata pada sosok yang menyebut namanya di keremangan Cavallo ini.

Lelaki tua itu berjalan mendekat. Saat jarak keduanya tinggal dua meter, lelaki itu terkejut. “Kaukah itu, Magnolia? Aku kira, engkau sudah…” katanya gugup.

Magnolia menarik segaris senyum di wajahnya yang keriput. Dia telah menyebut nama yang puluhan tahun tak bisa enyah dari kepalanya. “Inilah aku, Morty…Magnolia-mu. Cinta yang menunggumu pulang, Morty.” Suara Magnolia bergetar.

Morty nanap. Sejujurnya, Morty tak berharap mengalami peristiwa ini. Dia mengira Magnolia telah lama mati. Pertemuan ini sulit membuatnya tersenyum. Tapi ada rasa aneh yang menuntunnya hendak merangkul wanita tua di depannya itu. Sedikit cinta yang tersisa mendorongnya untuk memeluk Magnolia. Tangan Morty berkembang.

“Hukkk….!”

Morty langsung terbatuk. Menggeriap. Mata tuanya nanar menjelajahi wajah Magnolia. Perlahan matanya turun, melihat telapak tangan kirinya yang kini merah. Perutnya tiba-tiba terasa panas.

Sebilah pisau tipis kini menancap di perut Morty. Magnolia menghujamkan pisau itu tepat sebelum Morty memeluknya. Lelaki tua itu kaget bukan main.

Morty luruh di lantai Cavallo. Darah membanjir dari sobekan luka di perutnya.

Kepanikan lalu pecah di bar itu. Pengunjung wanita histeris. Beberapa lelaki, termasuk aku, segera mendekati Morty. Tetapi, lelaki tua itu baru saja mati.

Magnolia tersenyum. Matanya tak berkedip menatap tubuh Morty. Cavallo adalah tempat pertama kali mereka bertemu, dan di tempat itu pula Magnolia mengakhiri riwayat Morty. “Akulah saja yang mencintaimu. Jangan kemana-mana lagi, Morty?” katanya tenang.

Airmata mengaliri pipi Magnolia.  Itulah kata-kata terakhir Magnolia yang aku dengar, karena beberapa saat kemudian, polisi datang dan membawanya pergi.

Magnolia tak gila.

Selama 49 tahun, Magnolia hanya menunggu datangnya hari ini. (*)

 

Sardinia, 2009

Catatan :

Capoterra; salah satu kota pesisir di Pulau Sardinia (Sardegna), Italia.

Cannonau; anggur merah asal Cagliari.

Bottarga; telur ikan kering, biasa dihidangkan dengan pasta, makanan khas Costa Smeralda. 

Vernaccia; anggur putih asal Oristano, umumnya beraroma kacang Badam. 

Pecorino; keju dari susu domba, dihasilkan banyak pertanian di Logudoro. 

Cellis; istilah untuk pemusik yang memainkan Cello.

Sassari,Tortili, dan Carbonia; nama kota-kota lain di Sardegna

*) Salah satu cerpen yang termuat dalam Kumcer “Membunuh Gibran” (2011).

**) Dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu 17 Juli 2011.

Woman In A Blue Summer Dress Standing Alone Enjoying View On The Mediterranean Sea Cyprus (sumber: flickr)

 

 


[Cerpen] Empang Kosong

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“JASHAR bilang, ikan Nila sedang mahal sekarang ini, Ros!”

Rayu Tamim pada Rostini, istrinya, yang saat itu sibuk menjerang sayur untuk makan malam mereka.

Tamim jongkok di sisi Rostini sambil mengunjukkan wajah memelas. Rostini bertahan tak mau melihat wajah suaminya jika sedang bersikap begitu. Sejak semalam, di ranjang, Tamim sudah merayunya. Mulut Tamim sekadar berhenti bicara soal empang dan ikan Nila hanya saat dia merenggangkan selangkangan Rostini dan sibuk di sana sekitar lima menit. Setelah hajadnya tunai, mulutnya mulai mencacau lagi. Rostini bahkan tak tahu kapan Tamim berhenti, sebab Rostini terlelap tanpa sengaja.

Jashar, kawan sekerja suaminya, memang pernah cerita perihal keuntungan menambak ikan Nila Merah dalam obrolannya dengan Tamim, saat mereka istirahat di kedai kopi Imah, di luar pagar pelabuhan. Kedua berkawan ini, sudah dua tahun lalu, bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan. Jashar menyebut-nyebut soal keuntungan besar apabila empang Nila panen sesuai rencana. Mulut Tamim sampai-sampai terbuka, tercengang mendengar jumlah uang yang disebut-sebut Jashar. Entah darimana si Jashar memperoleh beragam informasi soal bertambak ikan Nila Merah, sedang dia sendiri tak punya warisan tanah empang seperti dirinya.

Empang miliknya itu tak besar, cuman sekitar 50 x 25 meter per segi. Letaknya persis di belakang rumah kecilnya. Empang itu warisan ayahnya yang meninggal dua tahun silam. Begitu diwariskan, Tamim dan Rostini langsung pindah ke sana. Bermodal seadanya, Tamim memperbaiki rumah kecil di samping empang. Tapi, ketika itu modalnya tak cukup untuk membiayai pengelolaan empang. Ayahnya hanya mewariskan padanya empang itu saja, tanpa uang tunai sama sekali. Dua tahun mereka mukim di situ, Rostini melahirkan dua anak yang umurnya berpaut setahun.

Kata-kata Jashar sungguh mempengaruhi Tamim. Empat hari dipikirkannya, dan baru pada hari kelima dia berani menyinggungkannya pada Rostini. Dia tahu mereka tak punya uang sama sekali. Satu-satunya harapan Tamim untuk rencananya itu adalah cincin milik Rostini, yang dulu dimas-kawinkannya buat perempuan itu.

Demi agar Rostini mau memberi cincinnya, Tamim rela melepas martabatnya barang sebentar, merayu istrinya itu hingga seolah memelas. Kini, tinggal menunggu putusan istrinya saja, maka empang itu akan segera terwujud.

***

Pada akhirnya Rostini menyetujui niat Tamim. Perempuan kurus itu menggadaikan satu-satunya harta miliknya yang paling berharga saat ini. Rostini tak peduli masih ada beberapa hutang mereka pada rentenir yang sebentar lagi jatuh tempo. Dia sangat berharap Tamim akan bersungguh-sungguh, dan mereka bisa menikmati laba dari hasil menambak di empang kecil itu.

Jika Tamim gagal, entah apalagi yang mesti diperjuangkannya. Tanah warisan mertuanya cuman sedikit. Hendak dijual pun, tak ada yang mau beli. Lalu setelah itu mereka berempat hendak tinggal di mana? Tanah di sekitar muara tak begitu diminati pembeli, sebab jauh jaraknya dari lokasi gudang pelabuhan. Parahnya, lokasi tanah mereka berjarak 200 meter dari jalan besar, dan 1.5 kilometer dari muara.

Dua anaknya masih kecil-kecil. Yang sulung saja umurnya baru dua tahun. Kebutuhan kedua anaknya pun tidak sedikit. Termasuk masih harus menbayar mahal bila mereka berdua sakit. Pembebasan biaya berobat yang dibilang pemerintah itu, seperti tak berlaku di wilayah pinggiran macam ini. Setiapkali anaknya sakit, Rostini harus menebus obat sedikit lebih mahal dari harga obat yang di jual di kios pinggiran jalan. Jangan tanya soal surat keterangan miskin dari kelurahan. Surat keterangan itu sudah lama dia buang, sebab ternyata tak berguna sama sekali.

Kini satu-satunya yang berharga padanya sudah dibawa pergi Tamim. Semua pikiran tentang kondisi hidupnya dan kedua anaknya itulah yang membuat Rostini menunda menyetujui permintaan Tamim tempo hari. Dia bisa stress karena memikirkan semua kebutuhan hidup keluarga kecil ini selanjutnya.

***

Setelah menggadaikan cincin istrinya, Tamim segera menuju Balai Benih Ikan. Untung saja harga emas sedang naik, sehingga hasil penjualan untuk cincin seberat tiga gram, lumayan banyak. Semoga saja, setelah dikurangi harga bibit ikan dan pakan, sisanya masih cukup banyak untuk diberikan pada istrinya. Begitu harapan Tamim.

Tapi, di Balai Benih Ikan, Tamim harus menelan ludahnya sendiri. Untuk empang seluas miliknya itu, dia harus membenam 25.000 ekor bibit ikan yang seukuran dua jari orang dewasa. Artinya, per meter akan berisi 20 ekor bibit ikan. Ini hitungan pas. Sebab jika terlalu banyak, maka bibit ikan akan mati, dan jika terlalu sedikit, maka dia tak akan balik modal. Tamim akhirnya memutuskan yang terbaik baginya.

Kini di boncengan sepedanya, tersusun rapi sekarung besar pakan ikan, dan lima kantong besar berisi bibit ikan. Dia harus hati-hati membawa bibit-bibit itu, sebab jika pecah, maka dia akan rugi besar.

Hatinya lapang dan tenang setelah usai menuang semua bibit ke empangnya. Hati yang diliputi bahagia membuatnya lupa pesan Wak Rasyid, pemilik empang lainnya, mempesankan agar Tamim lebih dulu menguatkan tanggul empang sebelum memasukkan bibit ikan.

***

Hati Rostini gundah luar biasa. Setelah Tamim berbelanja bibit ikan, dia hanya mengembalikan 75 ribu rupiah. Uang sejumlah itu tak akan membuat mereka berempat hidup seminggu, sedangkan suaminya menerima upah seminggu sekali dari mandor pelabuhan. Tamim harus bekerja lebih giat lagi di pelabuhan untuk mencukupi kebutuhan mereka di minggu berikutnya.

Ingin sekali Rostini membantu suaminya. Tapi sayang, tidak ada pekerjaan yang memberikan upah walau hanya dikerjakan di rumah saja. Tidak satupun ada perusahaan yang mau memberikan pola plasma di sekitar situ. Ada lowongan di perusahaan pengalengan ikan, namun sayang yang diterima hanya perempuan yang belum menikah atau tanpa anak.

Sejak hari itu, Rostini sudah tak bisa berkumpul bersama ibu-ibu lainnya dalam arisan PKK. Dia berutang dua bulan di situ. Pemilik toko sembako di simpang keluarahan sudah pula datang padanya, menagih piutang selama dua bulan ini. Si pemilik toko datang setelah mendapat kabar bahwa Tamim barusan belanja bibit dan pakan ikan, dan sedang mengupayakan empangnya lagi. Rostini sudah berusaha meyakinkan si pemilik toko tentang cerita sebenarnya. Tapi, si pemilik toko justru mencibirnya, dan menyebut dia dan suaminya sebagai pasangan pembohong. Sebelum pulang, dia mengancam, jika Rostini tak membayar utangnya, maka masalah itu akan diadukannya pada lurah.

Dua masalah itu saja sudah cukup membuat kepalanya nyaris pecah. Barangkali dia akan gila jika pemilik peralatan dapur yang dahulu dikreditkan padanya datang menagih juga. Bulan lalu saja dia sudah menunggak, dan diancam akan dikenakan bunga tinggi. Jika bulan ini tak juga dibayarnya, maka bunganya akan bertambah. Tamim sudah diberitahukannya, dan suaminya itu berjanji akan mengusahakan agar mandor memberinya panjar upah kerja. Tapi Rostini tak bisa percaya sepenuhnya. Dua pekan lalu saja, Tamim bermohon untuk hal yang sama, tapi ditolak.

Malam itu, Rostini terjebak ketakutan-ketakutan dalam pikirannya sendiri. Matanya menatap kosong, ke arah kedua anaknya, yang tertidur pulas setelah melahap bubur yang diaduk bersama gula putih.

***

“Air datang! Menyingkir… Air datang!!”

Wak Rasyid berlari menembus hujan badai sambil berteriak kesetanan. Setelah melompati pagar dan menggedor pintu rumah Tamim, Wak Rasyid berbalik kembali ke rumahnya. Lelaki tua itu berlari memutari rumahnya dan menendang pintu kandang kambing sambil berseru-seru. Kambing-kambingnya berlarian keluar, ikut bersamanya menembus hujan. Istri dan anak-anaknya sudah diselamatkannya lebih dulu.

Sedari sore, Wak Rasyid berdiri di belakang rumahnya, sambil memegang payung. Hujan sedari pagi membuatnya khawatir. Menurut pengalamannya, setiap kali hujan seharian penuh di musim penghujan macam ini, maka air akan berangsur naik. Kadangkala, air hanya perlahan saja merambat naik. Tapi tidak kali ini. Air begitu cepat mencapai pancang pemancingan, tempat yang tandai Wak Rasyid sebagai batas normal ketinggian air. Jika air sudah merendam pancang itu, artinya hulu sungai sedang tak bersahabat.

Benar saja dugaan Wak Rasyid. Air datang bergulung dan ikut menyeret sampah kayu dari hulu, menghantam pancang hingga hancur dan ikut hanyut terbawa air. Menurut perhitungannya, akan berselang 15 menit dari hanyutnya pancang itu, air akan mencapai pekarangan belakang rumahnya dan segera merendam dapur.

Semua tetangganya sudah dia peringatkan. Beberapa orang lainnya juga sudah menyebar untuk memperingatkan sekian banyak warga yang tinggal di dekat sungai agar segera menyingkir. Dia sendiri segera menuju balai kecamatan untuk bergabung bersama warga lainnya.

Setibanya Wak Rasyid di sana, dia heran, tak ditemuinya Tamim dan keluarganya. Ah, barangkali, mereka mengungsi di lain tempat. Balai ini saja sudah hampir dipenuhi orang.

Semakin larut, air sungai semakin naik. Air kemudian surut perlahan bersamaan dengan berhentinya hujan-badai saat larut malam. Menjelang pagi, air ikut surut, kendati masih cukup berbahaya karena arusnya cukup kuat di tengah sungai.

***

Tamim mencengkerem lengan Wak Rasyid. Matanya merah.

“Mengapa…Wak…tak…memeriksanya…sekali lagi?” Tanya Tamim terbata-bata.

Tapi Wak Rasyid bergeming. Lelaki tua itu juga sedang diliputi perasaan bersalah, sehingga menurutnya, bicara hanya akan memperkeruh suasana. Sepengetahuannya sudah semua warga diberitahukannya soal datangnya air besar.

Hati Tamim benar-benar terpuruk. Dia lunglai, matanya menatap kosong ke arah empang dan rumahnya.

Air telah menjebol tanggul empang di sisi utara, sehingga tanpa bisa dicegah, air menyapu rumahnya, mendorongnya hingga tumbang masuk empang. Jika saja tanggul di sisi selatan dan barat ikut roboh, tentu kerangka rumahnya akan terbawa air hingga ke muara.

Tamim rupanya tak ada di rumah ketika kejadian itu. Sepulang mereka dari pelabuhan, Dia dan Jashar terlambat mencapai jembatan. Keduanya harus bernaung sebab mereka dihadang angin kencang dalam perjalanan. Saat mencapai jembatan, mereka sudah terlambat. Ratusan orang tertahan dan berkerumun tak jauh dari lokasi jembatan yang telah putus dihanyutkan air.

Semua orang akhirnya menunggu hingga pagi menjelang. Bersama beberapa prajurit dan SAR, mereka membangun jembatan darurat dari lima pokok kelapa yang diikat menyatu. Orang-orang SAR itu bilang mereka harus mendahulukan evakuasi korban manusia.

***

Setelah para korban meninggal dibersihkan dan dikafani, orang-orang mempersiapkan penguburan. Tamim berdiri sejenak dan memandang onggokan kerangka rumah dalam empang miliknya, yang kembali kosong, tersapu air. Matanya berganti memandang kakinya sendiri. Perih hati Tamim, membayangkan bahwa di tempatnya berdiri itu, tadinya berdiri rumahnya.

Di antara puing-puing rumah di tengah empang, orang-orang menemukan istri dan kedua anaknya. Terbenam, tubuh mereka memutih pias.

Membayangkan wajah-wajah orang yang dicintainya, Tamim terhuyung, menubruk pohon, dan merosot ke tanah. Dalam kepiluan dan rintihan, lelaki itu meraung sekuat-kuatnya. (*)

Kendari, 2011

Tradisional (sumber: Wilhelm Gross)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.