[Cerpen] Beduk Masjid Tua

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Perasaan Doja (penjaga masjid) Rasyid sangat gundah. Saat hendak mengirim isyarat ketiga sebelum Jum’at, tanpa dia sengaja, pukulannya memecahkan satu-satunya beduk di masjid itu. Semua jamaah yang sudah hadir duluan, terperangah, bahkan ada yang terkejut dan mulai menyalahkan Doja Rasyid. Menyalahkan, mengapa Doja Rasyid tak mengira-ngira tenaganya saat hendak memukul beduk.

Beduk itu sama tuanya dengan umur masjid ini, begitu alasan mereka mempersalahkan Doja Rasyid. Tentu saja Doja Rasyid kecut dibuatnya. Dia memang tak sengaja, dan dia sendiri tak tahu entah mengapa tiba-tiba saja ada kejadian macam itu. Setiap hari dia melakukan tugasnya dengan baik. Memberi ingat pada orang banyak perihal datangnya waktu sholat. Tanpa disangkanya, beduk itu justru robek saat digunakan pada Jum’at kali ini.

Ada kebiasaan di kampung ini sebelum proses Jum’atan dimulai. Seorang doja harus mengirim tanda panggilan sebanyak tiga kali. Tanda pertama, sebelum azan dikumandangkan, beduk harus dipukul tiga kali dengan interval ritme yang pendek, lalu disusul pukulan pendek dan berulang kali ke pinggiran beduk. Tanda kedua, setelah shalawat, dipukul tiga kali tanpa memukul pinggiran beduk. Dan, tanda ketiga, sebelum ikhomat dikumandangkan, beduk akan dipukul sebanyak lima kali dengan ritme yang lambat. Karena itu adalah tanda terakhir, maka semua orang harus sudah berada di masjid sebelum tanda itu dibunyikan. Ketika inilah, Doja Rasyid memecahkan kulit beduk tua itu.

 

***

 

Berhari-hari Doja Rasyid mengandung rasa bersalah dan malu. Dia takut jadi sasaran amarah penduduk kampung, sebab sebagian kecil warga masih percaya tahayul tentang beduk tua yang katanya keramat itu. Dia malu, akan dianggap tak becus menjadi doja. Padahal, tugas itu diamanahkan almarhum bapaknya. Tugas yang sukarela diemban bapaknya selama berpuluh tahun tanpa pamrih, kemudian pindah padanya.

Pada saat-saat inilah, Rasyid merasakan perannya sebagai doja bukan peran sembarang. Doja dan beduk, tak luput memegang peran penting dalam komunitas macam ini. Kejadian ini ikut membuktikan, bahwa menjadi doja bukanlah pekerjaan yang ringan, walau sepele terlihat di mata orang.

Sejak hari dimana musibah itu datang, Doja Rasyid harus berdiri di atas sebuah batu besar di depan masjid, dan mengumandangkan azan dari atasnya. Imam Masjid Ustad Abduh, dan sebagian pemangku adat, untuk sementara melihat cara itu sebagai jalan keluar. Tetapi tidak bagi sebagian kecil warga lainnya. Mereka mulai menertawakan dan mengolok-olok Doja Rasyid, mengira bahwa itulah karma akibat merusak beduk keramat.

Pada hari kedua setelah peristiwa, Doja Rasyid dipanggil oleh Kepala Kampung Amran. Saat Doja Rasyid tiba di rumah kepala kampung, telah hadir pula imam masjid dan para pemangku adat. Doja Rasyid tak banyak bicara dalam pertemuan itu. Dia hanya mendengar saja keluhan para pemangku adat perihal berbagai hal yang tiba-tiba tak teratur semenjak beduk masjid itu rusak.

Mendengar semua itu, perasaan Rasyid bagai remuk. Wajah bapaknya tiba-tiba melintas dibenaknya. “Oh, Bapak…” Bisik Rasyid, berusaha tak terdengar oleh lainnya.

 

***

 

 

Rasyid memang tak pernah berniat menjadi doja. Bapaknya tidak berencana bahwa kelak nasib anaknya akan seperti dirinya. Sebelum dipinjami sebidang tanah untuk berhuma, hidup bapaknya sekeluarga benar-benar bergantung dari sumbangan orang pada masjid.

Ladang itu pula yang telah ‘membunuh’ ibunya. Perempuan yang sangat disayanginya itu tertimpa pohon yang batangnya lapuk saat mengambil air untuk menyiram sayuran. Masih mujur, bapaknya tidak ikut tertimpa.

Maka dari itu, Doja Rasyid sedikit kecewa pada perlakuan warga kampung terhadapnya. Mereka bahkan tak memandang barang sedikit sosok bapaknya, dan tentunya pengorbanan Rasyid yang telah setia melayani mereka semua. Rasyid mengorbankan sekolahnya, sekadar untuk bisa menjalankan wasiat bapaknya, meneruskan tugas bapaknya menjadi doja di mesjid itu.

“Biar aku sholat di bilik ini saja, Ustad!” Ujar Rasyid suatu ketika, menolak ajakan Ustad Abduh untuk sholat bersama, sehari setelah dirinya dipanggil kepala kampung. Ustad Abduh hendak mencari penyebab mengapa Rasyid mengurung diri macam itu. “Apa tidak sebaiknya, kau menemaniku sholat Dzuhur berjamaah saja, Rasyid?” Ajak Ustad Abduh dengan lembut.

Rasyid tak menjawab lagi. Karena malu, tak berani dia menatap wajah Ustad Abduh. Orang tua itu membiarkannya.

Tapi Doja Rasyid berusaha tetap sadar. Robeknya kulit beduk itu bukan kehendaknya. Nasibnya sekarang inipun, yang menjadi bulan-bulanan diolok orang, juga di luar kuasanya. Beberapa hari lalu, Rasyid sudah memikirkan masalah ini, dan sudah pula mengambil sebuah keputusan perihal beduk itu.

 

***

 

Rasyid menemukan jalan keluar atas masalah robeknya kulit beduk itu. Upah yang diperolehnya tatkala membantu mengecat rumah orang di kampung ini, boleh dibilang tak banyak. Sudah cukup lama uang itu dia kumpulkannya, tapi tetap saja jumlahnya jauh dari cukup untuk membeli kulit kering yang terbaik. Harga selembar kulit kerbau yang tersamak sempurna sangatlah mahal.

Tetapi, Doja Rasyid tetap menuju pasar hewan pada keesokan paginya. Setelah lama berkeliling, melihat-lihat dan menaksir, Rasyid berhenti di depan seorang lelaki tua gemuk yang menjual tiga ekor kambing, dua jantan dan seekor betina. Lelaki tua gemuk dengan misai memenuhi wajahnya.

“Berapa harga kambing yang ini?” Tanya Rasyid sambil menyentuh kepala seekor kambing jantan kurus.

“Mengapa tak memilih yang gemuk ini?” Tanya lelaki tua gemuk itu keheranan. Menganggap aneh pada pilihan Rasyid, pada kambing kurus miliknya itu.

Rasyid tersenyum takzim. “Tak mengapa, Pak. Aku suka yang ini saja. Kira-kira berapa harganya?” Rasyid bersikeras. Tak mau berpanjang-kata, lelaki tua gemuk itu menyebutkan harganya. “600 ribu rupiah. Boleh kurang sedikit.”

Rasyid menghela nafas berat. Jika pun dia harus menawar, uangnya sangat jauh dari cukup.

“Hendak kau buat apa kambing kurus ini?” Tanya si penjual kambing yang melihat Rasyid bergeming setelah mendengarnya menyebut harga. “Jika kau hendak beternak, sebaiknya pilihlah yang betina ini. Tubuhnya gemuk dan sehat. Jika hendak kau sembelih, hendaknya yang jantan gemuk ini.” Penjual kambing itu memberi saran.

Merah muka Doja Rasyid karena malu. “Sebenarnya hendak aku potong saja. Aku berniat memberikan dagingnya buat beberapa janda miskin di sekitar kampung. Dan kulitnya hendak aku pakai sebagai pengganti kulit beduk yang sobek.”

Lelaki tua gemuk itu terkekeh. “Jika beduk itu besar, tentu saja kulit kambing kurus ini tak akan cukup.”

Sekali lagi Rasyid menghela nafas, masygul. “Entahlah, Pak. Bahkan uangku sekarang tak cukup buat kambing kurus ini.”

Lelaki tua gemuk itu terdiam sesaat. “Berapa jumlah uangmu?” Tanyanya kemudian.

Rasyid merogoh sakunya, lalu mengeluarkan semua isinya. “Hanya sejumlah ini….” Ujarnya sambil menunjukkan uang sejumlah 450 ribu rupiah.

Lelaki tua gemuk itu tersenyum. “Uang sebegitu tentu tak cukup membayar kambingku ini,” ujarnya, “tapi jika kau bersedia membantuku menggiring pulang kambing-kambing ini, maka aku akan bersedia menukar kambing itu dengan berapapun sisa uang di sakumu,” Jelas lelaki tua gemuk itu.

Rasyid langsung mengangguk. Wajah Rasyid berbinar mendengar tawaran yang tak terlampau sukar itu. Tanda setuju, Rasyid menjabat tangan lelaki tua yang ternyata bernama Ama (bapak) Jalad.

Petang hampir habis ketika mereka tiba di rumah Ama Jalad. Sebelum membersihkan tubuh, Rasyid harus membantu memasukkan dua ekor kambing tersisa ke kandang sederhana yang tepat berada di bawah rumah panggung Ama Jalad. Sedang kambing yang hendak dibayarnya, diikatkan terpisah pada tiang dekat kandang.

Ama Jalad tak memiliki anak, itulah mengapa rumah ini terasa sepi. Tapi melihat suami-istri itu hidup rukun, Rasyid sungguh bersyukur. Jarang ada suami-istri yang bisa rukun bertahun-tahun walau hidup mereka tak dihibur anak-turunan.

“Rasyid, terima kasih kau sudah mengantarku pulang. Kau boleh bawa pulang kambing itu sesuai tawaranmu, dan juga ini” kata Ama Jalad ambil mengangsurkan bungkusan di tangannya pada Rasyid.

Rasyid mendongak, menatap wajah Ama Jalad. Lelaki tua itu sedang tersenyum padanya.

“Terimalah. Bawalah kambing itu juga. Uang darimu, rasanya, sudah cukup banyak untuk kambing dan kulit kerbau itu. Lagipula, kambingku masih ada dua,” kata Ama Jalad, sambil mengangguk tegas.

“Aku tak tahu hendak kuapakan kulit kerbau itu semenjak aku memelikinya. Kini aku tahu dengan siapa kulit kerbau itu berjodoh,” terang Ama Jalad. “Aku senang dan bahagia bisa ikut memperbaiki beduk di mesjidmu,” pungkasnya.

Lidah Rasyid kelu sesaat, tak bisa bicara. Pemberian Ama Jalad adalah rejeki yang benar-benar di luar dugaannya. Hal yang tak pernah diharapkannya sedikit pun. Jika dia memang mengharapkan sesuatu, semisal korting yang pantas untuk harga kambing itu, maka yang diberikan Ama Jalad lebih dari sekadar potongan harga. Betapa beruntungnya Rasyid yang telah menahan sabar dan mencari jalan keluar selama berhari-hari.

Sebelum pergi, Doja Rasyid berpamitan sambil meletakkan punggung telapak tangan Ama Jalad ke keningnya. Tak putus syukurnya, dan tak henti terima kasihnya pada Ama Jalad. Perjalanan pulang terasa begitu singkat bagi Rasyid. (*)

(Republika, 7 Agustus 2011)

Tentang ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua tulisan milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: