Sketsa: Behind the Scene Skype Nazaruddin (1)

Oleh Iwan Piliang

Semangat menjalankan elemen jurnalisme. Lain tidak.

Minggu, 24 Juli siang di pemakaman Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Saya menyerahkan surat keterangan kematian ayah saya kepada petugas, yang belum sempat kami berikan di saat berpulangnya mendiang, 16 Juli lalu. Makam-makam lain, dijejali peziarah. Rasa Ramadan sudah.

Menatap pusara ayah, tanah masih merah. Saya terpana berdiri. Di makam sama sudah terlebih dahulu ibu mendiami. Seorang bapak menghentikan langkah lalu menyapa.

“Ketemu di mana ya?” katanya sambil menunjuk wajah saya.

“Saya dari Depok, kita pernah ketemu di mana ya?”

Saya perhatikan bapak itu berpikir lama. Kian serius menduga-duga, hingga keningnya mengkerut. Demi menghentikannya berpikir jua saya jawab: ketemu di televisi ya Pak? Bapak itu langsung menarik keras tangan, menjabat sangat erat, lalu berujar “Iya, Iwan Piliang.”

Ketika bangun di pukul  04.30 pagi, isteri saya menepuk badan, “Eh selebriti bangun, jemputan Metro bentar lagi datang.” Pagi itu saya memang akan tampil lagi di Metro pagi .

Di dalam buku The Element of Journalism, disebutkan esensi jurnalisme adalah verfikasi, bermuara ke kebenaran, keberpihakan kepada publik. Jadi kalau ada ledekan selebriti dari orang rumah sendiri, jauhlah yauw dari tujuan jurnalisme.

Dan bila ada tudingan di media online Iwan Piliang sebagai pahlawan atau bayaran? Jauh pula dari dada dan benak saya. Sebagai salah satu sosok yang menemani Biill Kovach, ketika berkunjungan ke Jakarta pada 2003, penulis buku yang sebutkan tadi –kini dianggap simbol hati nurani jurnalisme Amerika Serikat— ajaran professionalnya saya camkan tajam mendalam.

Saya memang menerima bayaran menulis untuk opini yang dimuat koran. Juga menerima bayaran menulis untuk advertorial. Termasuk ketika pemilihan Capres 2009 lalu, saya diminta Edelman PR sebagai blogger menuliskan ketika ikut dalam kampanye Jusuf Kalla, sebanyak dua kali.

Kala itu rate card menulis saya Rp 1.200 per kata. Dan Edelman membayar lebih untuk tulisan Semangkok Soto Dalam Kampanye, di tulisan lebih dari 1.200 kata. Malahan karena saya senang dengan pemikiran Prabowo, beberapa kali saya menulis sebagai Ghost Writer untuknya di blog, tanpa dibayar. Kalau pun ada imbalan, itu terjadi  karena saya mengenalnya setelah saya menjadi pemenang menulis di blog yang diadakan Prabowo, mendapatkan hadiah satu laptop dan modem internet. Itulah pengertian bayaran yang saya maksudkan.

Sedangkan dalam banyak tulisan jurnalistik, tentulah jauh dari bayar-bayar. Memverifikasi kasus David, kasus penggelapan pajak, dan banyak hal lain, secara faktual karena saya bergerak di media alternatif, malah selalu devisit membiayai liputan sendiri. Di dalam ranah kejurnalistikan dari dulu hingga kapan pun saya melarang wartawan menerima amplop.

Karena pemahaman itulah misi utama mewawancarai Nazaruddin jelas berpegang kepada elemen jurnalisme. Misi utama berikutnya adalah semua data yang dia perlihatkan di wawancara sebelumnya, dapat dibuka. Saya menyarankan kepadanya untuk data itu ditempatkan di Rapidshare, sehingga linknya dapat diberikan ke semua media dan publik.

Wawancara ekslusif saya melalui jaringan Skype di internet dengan bendera Presstalk, sebuah nama untuk talkshow sejam di Qtv dulu, juga jaringan indie untuk pembelajaran menulis literair  –pernah disponsori Bank BNI— serta sebuah account Presstalktv di youtube.com, Presstalk di yahoogroups, juga blog-presstalk.com, bukanlah produk instan di lingkup jurnalisme.

Bendera presstalk-lah yang saya ajukan ke Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang keberadaannya hingga kini belum diketahui, untuk memuat wawancara dengannya. Di prestalktv di youtube dalam rekaman jejak merk ini, pernah saya pakai mengisi ruang bagi tampilnya Anas Urbaningrum maju menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, sebelum Kongres pada Mei 2010 lalu.

Saya sampaikan ke Nazaruddin: Ingat dulu Presstalk memuat wawancara untuk Anas di youtube. Kini jika ada yang tak benar, adalah layak Presstalk memverifikasi lagi?

Begitu selalu saya yakinkan Nazaruddin.

Dalam dunia jurnalisme, saya sampaikan juga kepada Nazar, kesemua pihak harus didengar keterangannya. Keterangan di internal Partai Demokrat, dan personal yang disebutkannya sudah banyak beredar, tetapi Nazar tak bisa ditemui?

Tak lama setelah Nazaruddin kabur ke Singapura, melalui BlackBerry Messenger (BBM), acap kali saya menyapanya.

Kapan bisa saya wawancarai?

Saya pernah tawarkan apakah berkenan kalau saya datang ke Singapura dan atau di mana Nazar ada, saya rekam wawancara, lalu saya “buang” ke Presstalk di Youtube?

Dalam satu kesempatan berbalas BBM, Nazar pernah menyetujui. Namun ada sepekan komunikasi terputus dengannya.

Fakta ini terus berulang. Saya tak bosan-bosan menanyakan, kapan bisa wawancara, sambil sesekali bertanya kesehatannya. Kemudian malah duluan dua teve nasional yang mendapatkan wawancara Nazar melalui telepon. Saya terus-terusan meyakinkannya, kalau BBM dan SMS-nya bisa dituding palsu. Bahkan faktanya ia dicap berhalusinasi oleh beberapa orang dari Partai Demokrat.

Sampai Minggu pertama Juli 2011, Nazar mengangetkan saya. Ia menawarkan mewawancarainya pakai Skype saja di internet?

Skype?

Saya agak terperanjat kala itu.

Mengingat setahu saya sebelumnya Nazar tidak terlalu biasa dan tahu dengan teknologi online.

Saya sampaikan pada Nazar untuk menunggu dulu. Sementara itu saya mempelajari landasan hukum, teknologi yang dapat dipertanggung-jawabkan secara digital forensik, jika dibutuhkan pembuktian bahwa wawancara itu bukanlah barang palsu. Termasuk untuk menghindari tudingan lainnya.

Maka demi menjaga keotentikan wawancara itu saya membeli aplikasi untuk merekam di komputer di youtube seharga US $ 39. Setelah itu saya mencari tempat yang memiliki akses internet broadband. Dan barulah saya pede menyampaikan kepada Nazar melalui BBM kepadanya untuk setuju ber-skype-ria.

Dari tanggal 12 Juli kepastian itu sudah saya dapat, lalu belum dipastikan waktunya. Tanggal 14 begitu lagi, pasti, tapi tak jadi lagi. Pada 16 Juli pas di hari ulangtahun saya ke-47, sesuai janji, akan kami lakukan Skype. Dan jika hari itu terjadi, wawancara menjadi kado ulang tahun buat saya, tanpa Nazar paham kalau saya hari itu ulang tahun. Namun Tuhan berkehendak lain, kado hari itu ternyata ayah saya berpulang di pukul 10 pagi. Dan saya otomatis tak jadi mengontak Nazar.

Singkatnya komunikasi terus saya jalin. Wawancara melalui Skype dapat saya lakukan dengan meminjam tempat di kediaman kawan yang akses internetnya broadband. Waktu diberi tahu mendadak oleh Nazar, di saat saya masih di atas taksi di jalan, di bilangan Jakarta Pusat. Saya meminta waktu lebih sejam agar  bisa online. Barulah pada tanggal 21 Juli pukul 23.12 kami bisa sama-sama melihat wajah di internet.

Saya melihat wajah Nazar segar. Ia tak turun berat badan hingga 18 kg seperti yang pernah disampaikan pengurus Partai Demokrat.

Saya mengajaknya berbicara rileks santai, lebih dari setengah jam. Barulah saya kemudian serius memulai wawancara yang sebagian besar sudah ditayangkan Metro TV.

Ketika Metro TV menayangkan rekaman itu, Jumat, 22 Juli malam, Indra Maulana, pembawa acara, membuka twitternya, mendapatkan kabar di beberapa kota jalanan sepi, dominan publik menyimak program itu. Di internal Metrotv sendiri, siaran breaking news itu telah menunda jam tayang Kick Andy. Tak lazim.

Saya benar-benar tak menduga perhatian demikian tinggi. Dan sekali lagi saya juga tak berpikir menjadi selebriti apalagi pahlawan, mengingat sejatinya verifikasi saya masih belum selesai, karena misi utama mendapatkan kebenaran dan siapa data di flash disk dan video yang ingin disampaikan Nazar, memang merujuk ke kebenaran sejati yang hingga hari ini masih saya tunggu.

Satu hal catatan pendek saya, yang akan saya urai di Sketsa berikutnya, terjadi keanehan menimpa kolega saya Oka, menetap di Bali, yang hari itu baru pulang menerima hadih sebagai pemenang animasi yang diadakan oleh MNC Group, di Bandung. Oka saya ajak ke Metro TV. Ketika saya dalam siaran live, HP dan BB saya mati. Anehnya ke HP Oka masuk telepon seseorang.

Suara menyapa Oka bilang begini, “Lagi bersama Iwan Piliang ya?”

Oka gemetar.

Ia lapor ke keamanan Metro TV.

Setelah handphone saya nyala, ancaman lisan dan sms mulai masuk.

Ada juga telepon baik-baik dari Denny Kailimang, Divisi Hukum Partai Demokrat yang memang saya kenal. Ia bilang, “Hai fren, yu bilang apa di Metro TV?”

Saya jawab apa Abang menonton semua?

“Tidak nonton semua, kawan-kawan bilang, you ngomong apa?”

Saya katakan saya menjalankan misi jurnalistik. Abang simak saja utuh.

“Iya hati-hatilah, ini kan ranah hukum,“ katanya ramah.

Masuknya telepon asing ke Oka, sudah membuat saya tak langsung pulang ke rumah malam itu. Kami pun ke luar dari Metro teve melalui jalan berliku, menuju parkir dan diantar oleh mobil tanpa merk Metro TV. Tentulah masih panjang kisah ini. (bersambung)

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blogger.

Baca artikel selanjutnya, Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin #2

 

Dapat dibaca juga di:

Kompasiana : Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (1)

The Indonesian Freedom Writers : Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (1)

About these ads

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: