[Resensi] Bercermin pada Badik

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Judul : Badik

Penulis : Aspar Paturusi

Penerbit : Garis Warna Indonesia, Jakarta

Terbit : I, Maret 2011

Halaman : 372 halaman

Harga : Rp. 100.000

 

SAMBIL memegang buku pada kedua tangannya, seorang perempuan tua berjalan lurus ke arah Aspar Paturusi dan istrinya. Perempuan itu barusan dari meja counter penjualan. Begitu bermuka-muka dengan sastrawan dan aktor Aspar Paturusi, perempuan tua itu meminta Aspar menandatangani buku Badik, seraya bilang, ”duit cepat hilang, tapi buku akan tersimpan lama.” Katanya sambil tersenyum. Terharu, nyaris saja, Aspar meminta panitia mengembalikan uang perempuan itu, jika tak ingat bahwa perempuan itu pasti akan sangat tersinggung.

Kejadian barusan itu seusai Aspar Paturusi bersama istri berduet dalam sebuah pembacaan puisi, yang menandai soft launching buku Badik, untuk kalangan terbatas. Nama Aspar Paturusi memang tak asing lagi bagi penikmat sastra dan seni pementasan era 60-an hingga kini. Aktor yang pernah meraih Piala Vidia untuk Aktor Pemeran Utama Pria Terbaik 1992 dalam sinetron Anak Hilang, ini rasanya telah lengkap menjalani semua bentuk berkesenian.

Tapi yang juga sama pentingnya adalah peran Aspar dalam kesusasteraan Indonesia. Jejak kesusasteraan Aspar dapat dirujuk sejak tahun 1959 hingga saat ini. Dalam pada itu, Aspar terlanjur dikenal sebagai sastrawan asal Makassar yang menonjol. Buku Badik inilah puncak pencapaian kepenyairannya (poeta legalization).

Puisi LakekomaE (hal.345) juga menarik perhatian saya. Puisi ini termasuk karya yang berhasil mereduksi segala persoalan sosial berupa pertanyaan inti yang kritis. Ya, akan kemana engkau? Begitulah Aspar bertanya. LakekomaE, seolah sedang mempertanyakan secara langsung langkah kita dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mencuat di sekitar kita.

Puisi LakekomaE adalah sebuah puisi unik yang tidak hanya berpijak pada teks semata, tetapi juga di luar teks. Pengulangan bunyi dan tekstur kata LakekomaE dapat memberi efek pada pembacaan (tergantung suasana emosi pembacanya pada tiap baitnya).

Pada puisi Badik (2010), yang diangkat sebagai judul buku ini, Aspar berhasil membentuk ulang filosofi (re-building philosophy) sebuah Badik.

Kebanyakan orang, Badik seringkali diidentikkan pada sesuatu yang penuh kekerasan. Ini tentu anggapan yang keliru. Dalam kebudayaan dan peradatan Bugis-Makassar, dikenal tiga filosofi yang melekat pada Badik (Tellu Cappa; tiga ujung); setiap orang harus menjaga ujung lidahnya (Cappa Lila/ujung lidah), agar tidak mudah mempermalukan orang lain. Harus menjaga ujung martabatnya (Cappa Buto), agar tidak melakukan hal-hal yang memalukan baginya. Dan, menjaga ujung badiknya (Cappa Badi’), agar tidak direndahkan, dipermalukan, yang akan berujung pada pertentangan.

 

badik itu tidak terselip di pinggang

tapi harus kukuh tegak di hati

badik itu bernama badik iman

pamornya berukir takwa

(Badik, 2010, hal.161)

 

Bahwa secara peristiadatan, pada Badik masih melekat makna Tellu Cappa. Namun, prakondisi dan jaman akan memberi kita ruang yang luas pada pemaknaan Badik. Makna senjata itu tidak lagi sekadar artifisial, tetapi pemaknaannya lebih pada soal keimanan, logika dan ketakwaan.

Buku Badik ini amat menarik. Penyair Aspar Paturusi berhasil memadukan puisi-puisi lama dengan yang baru. Penggabungan ini akhirnya menciptakan ramuan yang asyik sekali. Karya puisi lama Aspar dalam buku ini berangka tahun 1964 hingga yang terbaru, tahun 2011.

Puisi-puisi Aspar memang melegitimasi semua kondisi yang sedang terjadi. Dengan penyampaian yang santun, metafora yang terang, dan diksi yang terpilih, Aspar bukan saja berhasil meletakkan segel pengesahan terhadap kondisi sekitar kita, tetapi juga membangun perlambang baru terhadap jaman yang sedang mengemuka. Maka tidak keliru, apabila Maman S. Mahayana, pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, menyebut puisi-puisi Aspar telah sampai pada apa yang dikatakan Chairil Anwar sebagai; menggali kata hingga ke putih tulang.

Aspar tidak saja dianggap sebagai salah satu penyair terkemuka saat ini, namun konsistensinya pada proses kepenyairan dengan tetap berada pada ‘jalur tengah’.

Menurut Maman S. Mahayana dalam kata pengantarnya pada buku Badik, ada tiga jalur penciptaan puisi pada para penyair Indonesia. Ada golongan penyair yang mewakili jalur puisi gelap, jalur tengah, dan jalur puisi terang. Bentuk pembaitan dan penciptaan metafora yang lebih berbagai adalah bagian dari usaha capaian estetik mereka. Para penyair yang mencoba mengikuti jalur ini, tidak sedikit yang terjerembab masuk pada model epigonisme Afrizal Malna.

Pada jalur puisi terang, masih menurut Maman, kecenderungan penyair memanfaatkan kelugasan bahasa Chairil Anwar yang membangun metafora dalam larik-larik melalui frasa atau kalimat lengkap; usaha menjaga persajakan dan rima akhir, menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan.

Aspar justru sangat tenang memilih jalur tengah; berjaya dalam merayakan metafora dengan frasa atau kalimat yang sengaja diciptakan dengan memberi ruang kosong bagi interpretasi pembaca.

Dari yang saya lihat, jejak Aspar telah mematangkan jalur tengah dalam khazanah kepenyairan Indonesia. Puisi-puisinya yang orisinil, tidak terjebak kata yang diindah-indahkan, mampu membahasakan kondisi di sekitarnya dengan tendensi yang tak berlebihan namun membangun pengaruh kuat pada setiap pembacanya.

Satu hal lainnya, Aspar pun tidak memilih mengasingkan diri dari perkembangan medium literasi, seperti yang sangat mempengaruhi kebanyakan penyair mapan. Dia mampu meninggalkan zona nyamannya dan memberi pencerahan serta edukasi pada berbagai lapisan penikmat karyanya dengan ikut membaginya dalam jejaring sosial. ***

Buku Kumpulan Puisi BADIK (foto: garis warna indonesia)

About these ads

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: