Oleh Ilham Q. Moehiddin
Hikayat Tiga Ksatria
: Manjawari
Lelaki yang perkasa
Sebelah kakinya di gunung Sampapolulo
Di dadanya pokok-pokok enau berkelindan
Dialah raja bertubuh besar; Mokole RangkaEa.
Lompatannya melampaui pulau-pulau
tangannya menyisir awan
lalu matahari kentara dari timur
Dari Wolio datang kabar menggemparkan
Lamun laut akan menyerang benteng dalam tiga ratus ribu tombak
Kabaena sepandangan mata
Tetapi Wolio harus sabar
Sebelum Murhum dan Lakilaponto menjemput
Pantang baginya menulah sakti
sebelum dua saudaranya datang
Ohoi….Manjawari melompat sigap
Di gerbang Wolio, di pesisir yang bergejolak
Sapuan tangannya menenggelamkan armada lamun
Dia menghalau, dia menghadang, menjaga dua saudara
Di saat Murhum mengamuk di utara
Lakilaponto menerjang di barat daya
Manjawari, sang Mokole Kabaena
Padanya, Sapati dianugerahkan
Padanya, Selayar dikuasakan
Di tangannya, Kabaena menuai jaya
Mokole ketujuh yang perkasa, Opu Manjawari
Di bekas istananya kini dia tenang
Di keheningan Sampapolulo, dia bersedekap
Sebuah kerangka raksasa tujuh meter
Duduk hening di kursi batu.
: Lakilaponto
Lakilaponto mendulang firasat
Mimpinya semalam tentang putri yang dirapun
Putri yang bermukena
Entah siapa yang kini bersiasat
Dua pulau mengapit, haturkan sembah
di jantung Tongkuno
Murhum telah datang
Padanya terkabar perihal bencana
Wolio sedang dirapun, ada lamun mendekat
Murhum tak bergerak, Lakilaponto tak bangkit
Kesaktian tak akan berguna, jika Manjawari tak dijemput
Kepada siapa selendang Sultan hendak dititipkan
Pada riasan bomba di tengah makam
Tongkuno yang tua, Lakilaponto berwasiat
Jika dia tak kembali, selendang Sultan mesti dilipat
Lakilaponto, manusia sakti negeri Tongkuno
Di Barat Daya, lelaki perkasa ini mengamuk
Dia terjang lamun, yang merapun di sudut
Seratus tombak, musuh rebah ke tanah
Inilah akhir mimpinya, inilah tafsirnya
Wanita bermukena dalam mimpinya
adalah Wolio, penebus akhir riwayat
Pada Murhum, diwasiatkannya tentang mukena
Kerudung sebagai permulaan masa.
Manjawari diciumnya. Setiap lelaki perkasa
Tahu kemana harus pulang.
: Murhum
Murhum yang sakti datang
Di hadapan Lakilaponto dia bersimpuh
Sultan itu tak bangkit, Murhum pun tak bergerak
Wolio harus bersabar, katanya.
Kabar yang dibawa Murhum, sungguh lena
Wolio akan dirapun, lamun dari timur sepenggalahan
Murhum harus tahu, adalah Manjawari yang bertuah
Lakilaponto tak akan beranjak,
Maka Manjawari harus berbilang ikut serta
Lelaki beraras langit, Murhum orangnya
Utara Wolio dijaganya, dihalaunya dari lamun
Senjatanya berputar, memakan lawan
Tiga saudara, tiga tuah
Lakilaponto merusak lamun begitu hebat
Tubuh Manjawari yang besar bikin lamun ngeri
Menjerit dan lintang pukang mereka
Melihat amukan ketiga saudara
Pada Murhum, Lakilaponto menitip wasiat
Agar memasang gerudung pada Wolio
Opu Manjawari sebagai saksi
Pada Murhum, Lakilaponto memberi tegas
Opu Manjawari akan menjaganya dari selatan
Hormati kuasa Manjawari dengan kabalu
Jaga hati Manjawari dengan kande-kandea
Lunas mimpi Lakilaponto
Tunai harkat Manjawari
Wolio kini bermukena
Di bawah duli Murhum, Butuni bersolek
2011
***
Hikayat Tiga Ksatria adalah gubahan ke bentuk syair yang mereduksi kisah sejarah lampau perihal tiga kesatria yang datang membantu kerajaan Wolio, dari ancaman serbuan perompak di perairan Ternate dan Tidore.
***
Batu Lateng’U
1
berlimpah hormat kami haturkan
dua puluh lembah mengantarainya
benda persembahan terbentang di muka
Dari seberang lautan kau berperahu. Dua ribu armada dalam bentangan sayap bangau. Dua puluh empat bidadari menyambut dengan selendang. Dibukanya jalan saat kakimu menyentuh bumi. Batu Lateng’U, batu keramat, kau pijak, memecah tiga. Pusaka kau simpan di belahan rambut pada seorang bidadari tujuh wajah. Wahai, lelaki yang di dadanya keluar para Opu. Bilakah batu Lateng’U memberi isyarat? Pada rumpun padi yang bunting? Pada kemilau sebiji mutiara kuning laksana emas? Kau wasiatkan Bala Olo Pedandi’A padaku untuk aku ingat: pada masa ketiga akan datang tiga yang bercahaya bagai sebatang bombana dan dua lembar kain enu.
2
pinang satu kerat, sirih sekapur
kesana-kemari, laksana sebiji kemiri dalam gendang
tanduk rumah, bumbungan mahligai
Menemani perjalananmu, sebatang tongkat bambu yang ruasnya dari belulang naga. Oh, Sawerigading, kami harus menepuk pundak untuk mengingatmu. Di tepian konali engkau mengiris topi untuk kau pupuri tanah yang dipenuhi doa dan harapan. Dendeangi tunduk di kakimu, menerima perintah. Dendeangi menata keturunannya di pesisir selatan, pada tenggara pulau Sulawesi. Sebelum Sawerigading menurunkan tumit, engkau pijak batu Lateng’U, hingga pecah. Menjadi tiga lajur, tiga warna-warni. Sawerigading berjanji akan kembali, sebelum badik Tamano Moronene memutih garam pada ujungnya.
3
irisan atapnya, potongan pangkal kasaunya
teduh tirisan atapnya, ujung potongan kayunya
agar mereka senantiasa ingat kapak dan parang sebagai alat pencahariannya
sampai mereka beruban dan berjalan bungkuk bertongkat
Pada pagi yang rawan, datang kabar tentang Nungkulangi yang rebah. Lelaki perkasa itu hujub di anak sungai mata permaisuri. Digenggamnya hulu badik Tamano Moronene. “Inilah waktu yang diperjanjikan, wahai….para pewaris,” suara putri Luwuk mengiringi Bala Olo Pendandi’A. Tiga tuan dan seorang puan berdiri di bawah bambu, menunggu api menyentuh kepala. Badik Tamano Moronene di hujamkan ke bumi. Saat telapak Nungkulangi menyentuh bahu maka restu diberikan, titah diturunkan, wasiat disampaikan. Di hadapan Nungkulangi yang membusung, Ntina Sio Ropa, si putri tujuh rupa menjadi pembela Poleang. Di hadapan Nungkulangi yang tegak, Eluntoluwu, si putra bijak menjadi payung Rumbia. Dihadapan Nungkulangi yang perkasa, Indaulu, si putri jelita menjadi benteng Kabaena. Bala Olo Pedandi’A telah ditunaikan; tatkala batu Lateng’U pecah tiga di bawah telapak kaki moyangnya, sang Dendeangi. Bombana menjelma serupa tiga sulur bersimpul tunggal.
2011
***
Diangkat dari sejarah tua terbentuknya kerajaan Bombana yang kemudian memecah menjadi tiga protektorat kerajaan; Kabaena, Poleang, Rumbia.

Fig. 68. Wandzeichnungen aus der Batu Buri-Honle bei Tankeno - gez. Grundler. (Gambar 68: Lukisan dinding di Gua Batu Buri, di Tankeno - ttd. Grundler)

Fig. 2. Die beiden hochsten Berge Kabaenas vom Norden her. (Gambar 2: Gunung Tertinggi di Kabaena, tampak dari sisi utara).

Collectie Tropenmuseum: Tekening van Het Skelet van Een Woonhuis op Kabaena Celebes - tmnr 10003886 (Kerangka rumah di Kabaena Sulawesi - Gambar: Koleksi Tropenmuseum)

Fig. 2. Balo-Haus im ostlichen Kabaena; vorn ein Grab mit Opferpfahl (Gambar 2: Rumah Balo-Moronene di Kabaena bagian timur; dengan tiang pengorbanan pada bagian depannya).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita (Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita.

Deskripsi gambar 3: Kampiri, salah satu bentuk rumah dari tiga jenis rumah dalam peradatan orang Moronene, di Pulau Kabaena. Dua lainnya adalah; Laica Ngkoa (rumah besar), dan Olompu (rumah kebun).

Situs gua bersejarah Watu Buri (Batu bertulis) di Tankeno. Beberapa bentuk lukisan pada dinding gua dapat dilihat pada gambar pertama di atas. Goa ini dipercaya sebagai tempat Ratu Indaulu pertama bermukim sebelum membangun istana kerajaan di Tankeno. Di dalam gua ini masih dapat ditemui berbagai perkakas dan meubel terbuat dari batu. Mulut gua ini sangat besar. Perhatian gambar orang di tengah di sisi bawah foto.
Foto-foto berbahasa asing adalah koleksi antropolog Jerman, Grubeur dan Johannes serta koleksi Tropenmuseum, Belanda. Sedang foto lainnya diambil dari berbagai sumber terkait.








Juli 23rd, 2011 at 12:33 AM
Selamat Pagi .
Maju terus tuk berkarya. .