[Puisi] Permintaan Seorang Prajurit Muda untuk Pantai Sydney dan Angelia Istrinya

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Dewa Ra amat marah siang itu.

Dua orang prajurit muda menunggu dari seb’rang.

Dua berkawan prajurit muda memanah hamparan di depan mereka dengan mata nanar. Awas sekali berdua menit-menit itu. Gelisah memutari mereka berkali-kali. Prajurit bernama Thomas mengigiti bibir bawahnya, kemudian bibir atasnya, berulang-ulang. Sejak tadi begitu, terus seperti ingin melempar tanya pada kawan prajurit Gustav

: “Kawan Gustav, kuda besi amat lama di seberang sana. Apa yang mereka tunggu?”

Kalasnikov kawan Gustav tidak bergeming. Kupingnya tiada menangkap tutur prajurit Thomas, sebab sejak tadi sepuluh menit lalu, bahkan sehabis menelan roti dua tangkup pagi tadi belum pernah bertegur. Kawan Thomas memang tidak pernah menegurnya, percakapan itu hanya terangkai dibenaknya.

“Aku lelah sekali kawan Thomas, percikan sinar Tuhan ini menghisap keringatku. Membuat mataku mencair.”

“Diamlah kawan Gustav! Sepatumu telah berdebu!”

Prajurit Gustav hening disebabkan teguran prajurit Thomas. Kesal, prajurit Gustav melepas helmetnya. Kulit kepalanya serasa terkelupas lengket dalam baja itu. Berbulan-bulan dia menyesali tindakannya melepas helmet, tapi jika tidak, air akan membanjir keluar dari pori kepalanya tinimbang dari sela ketiak dan lipatan lehernya. Anggapannya, Dewa Ra mungkin sedang jengkel padanya, sampai sampai rambutnya rontok.

Pada Angelia, istrinya, sudah diamplopkan dua helai rambutnya

: Untuk putriku, Georgina Minerva Olga Gustav.

Prajurit Gustav hempaskan tubuh pucatnya di hamparan pasir. Ia memejam, mencongkel ingatan pada percakapan semalam di barak bersama prajurit Thomas. Pada Thomas dikatakannya…

: “Aku tetap ingin pulang. Aku rindu pantai Sydney dan pada Angelia.”

Lalu dia tertidur.

Pukul tiga belas lewat dua puluh lima menit. Matahari garang di ubun-ubun. Tiada awan dan mereka…di parit.

Prajurit Gustav mengembalikan ingatannya. Lantas, duduklah dia berjongkok, ketika itu rindunya pada Georgina Minerva Olga Gustav dan Angelia menjadi-jadi.

Pukul tiga belas lewat dua puluh tujuh menit, matanya menangkap kepulan debu dari seberang parit. “Mereka datang!” teriaknya lalu menyongsong.

“Siapa?” Sambut Thomas.

“Mereka! Angkat senjatamu.” Prajurit Gustav terus maju.

Maka prajurit Thomas pun harus berteriak, menyangkali

:“Gustav…kembali! Tidak ada siapa siapa!”

Prajurit muda Gustav maju sambil menabur peluru dari mulut senjatanya. Prajurit Thomas gugup, prajurit Gustav lari ke ladang ranjau.

“Gustav…kembali! Kembali ke parit!”

Bumi bergetar, lalu sepi. Sobekan daging dan serpihan tulang kaki ada di mana-mana. Dalam suara yang hampir gaib, Gustav memohon :

“…sekarang aku bisa pulang. Tolong aku kawan, tolong temukan kakiku. Aku ingin berjalan pulang. Membagi sore bersama Georgina dan Angelia, di pantai Sydney. Merayu mentari senja, tegak di samping pohon ceri. Kawan, katakanlah kalau saat ini pantai Sydney memekarkan bunga bunga ceri semak. Temukan kakiku, aku ingin pulang.”

Lalu, ada gaib dan hening.

***

Sydney, 10 September 1997

Seorang prajurit tertunduk, menyesali keterlibatan negaranya dalam perang d gurun Irak (sumber foto: face.ge)

About these ads

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: