Kesaktian Pancasila

Satu Oktober, seperti yang sudah-sudah, rakyat Indonesia mengenang hari yang disebut Kesaktian Pancasila. Pada tanggal yang sama, 37 tahun lalu, tujuh orang jenderal di bunuh secara keji dan diluar batas perikemanusiaan oleh Partai Komunis Indonesia.

Kita tak mungkin tak mau tahu, bagaimana kejadian itu dapat di redam. Namun, yang jelas suasana yang tak pasti yang tercipta karena kejadian itu, berangsur pulih dan tenang kembali.

Kita mungkin bertanya-tanya, apa hubungan kejadian itu dengan lima sila yang menjadi dasar negara Indonesia? Pembunuhan keji yang kemudian dikenang dan dilabel dengan kata-kata Kesaktian Pancasila. Apa hikmah dan pelajaran dari kejadian ini? Yang paling tepat menilai dan mengambil inti pelajaran penting dari kejadian tersebut hanya kita sendiri.

Sampai dimana Pancasila membuktikan kesaktiannya sebagai dasar negara? Kita mungkin akan mengambil contoh dari peristiwa G 30 S PKI. Tapi, apa hanya itu?

37 Tahun berikutnya, Pancasila rupanya kurang beruntung menjadi lambang dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila mungkin sudah tua hingga kesaktiannya memudar. Ini dibuktikan dengan berseminya benih disintegrasi di bumi pertiwi ini. Bahkan benih itu
sudah tumbuh dan berbuah negara Timor Leste. Lalu dimana letak kesaktian sila ketiga Persatuan Indonesia.

Benih disintegrasi lainnya yang bisa saja tumbuh dan menjadi buah negara baru, jika pemerintah dan pemimpin kita masih tamak dan serakah. Korupsi merajalela, hingga rakyat terus hidup melarat dan miskin. Lantas dimana letak kesatian sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pelanggaran hak asasi manusia berupa penganiayaan, intimidasi dan penyiksaan oleh aparat keamanan, baik secara struktural dan moral, ternyata ikut menghilangkan kesaktian sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Para elit politik saling adu kekuatan yang berimbas pada masyarakat, juga menjadi soal lain di bumi Indonesia. Dalam perang politik, para elit pemimpinnya sering memanfaatkan nama rakyat untuk memuluskan tujuan-tujuan tersembunyi mereka. Pemimpin kita tidak hikmah, tak bijaksana, tak bermusyawarah dan tak menjadi wakil yang adil dalam setiap pengambilan keputusan. Rakyat sering dilangkahi dan disepelekan. Bertanyalah kita, seperti apa kesaktian sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan.

Masih ada harapan untuk Pancasila membuktikan kesaktiannya pada sila ketuhanan yang maha esa. Konflik agama yang terjadi di beberapa daerah menjadi semacam ancaman bagi Pancasila membuktikan kesaktian sila pertamanya.

Masih adakah harapan untuk mempertahankan Pancasila? Seperti apa harapan-harapan itu? Sebab kelima sila itu benar-benar tak dijadikan patokan dalam peri kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang. Atau dasar negara ini sebaiknya diganti saja? Silahkan Anda mentelaah dan menjawabnya sendiri. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]

About these ads

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: