[Essai] Remaja dan Facebook

(Ketika Orangtua Menuding, dan Media Membentuk Stereotype)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

BEBERAPA hari terakhir ini ada “booming” berita sejumlah orangtua yang mengeluhkan hilangnya anak remaja mereka. Usutan polisi menyebut, para gadis remaja—sebuah kasus bahkan melibatkan seorang dokter—itu ternyata “minggat” bersama pacar mereka. Gaya pacaran sambil lari ini, kontan mengalahkan popularitas kawin lari.

Orangtua para korban refleks mempersalahkan “Facebook” sebuah layanan jejaring sosial di dunia maya. “Ini gara-gara perkenalan mereka lewat Facebook,” kata para orangtua korban. Saat ditanya polisi pun, para tersangka pembawa lari anak gadis orang itu membenarkan bahwa perkenalan mereka dengan “korban” memang tidak selalu berawal dari jaringan sosial maya tadi. Facebook kadang pula menjadi medium melanjutkan hubungan yang sudah terbina lebih awal.

Saya tidak akan menyentil motif para pelaku “pacaran lari” ini. Bukan itu. Saya hanya tertarik dengan pernyataan para orangtua gadis-gadis itu, dan para lelaki yang disangka pelaku, serta style media yang memberitakan ini.

Pernyataan para orangtua gadis yang sekonyong-konyong menempatkan konten Facebook sebagai “sebab” para gadis remaja mereka berlaku liar, diperparah dengan gaya pemberitaan media-media yang memperkeras dugaan Facebook seolah-olah sebagai satu-satunya sebab.

Sebuah konten di dunia maya, sejatinya sama dengan “lokasi”, atau sama dengan “benda” di dunia nyata. Dalam hal ini, Facebook boleh disamakan dengan Mall, Plaza, Cafetaria, SMS, Chat, dan senjata api.

Sebagai sebuah objek, layanan ini tidak dapat dimasukkan sebagai penyebab melencengkan pengguna secara orientatif. Sebab pengguna, memiliki pilihan ketika menggunakan objek-objek layanan tersebut. Facebook adalah layanan, maka sebagai layanan domain ini adalah pula wilayah publik.

Jika demikian, sebagai wilayah publik, siapa saja bebas hadir di sana, kemudian berinteraksi. Tindakan aneh yang diakibatkan interaksi itu tidak bisa semena-mena ditimpakan pada objek-objek ini. Perilaku pengguna-lah, dan tentu saja motif yang mempengaruhi mereka, yang seharusnya dijadikan alasan.

Ketika anak remaja Anda, saban hari, bertemu dengan teman-temannya di sebuah Mall, atau Plaza, lalu dikemudian hari, anak remaja Anda terlihat “aneh dan menyimpang” akibat pengaruh teman-temannya, maka Anda tidak dapat menyalahkan Mall, atau Plaza-nya, bukan?

Soalnya di sini; bukan tempat sosialisasi yang membentuk arah sebuah hubungan, tetapi sosialisasi memang mempunyai dua sisi tajam yang jika tidak hati-hati akan berdampak menguntungkan, atau malah merugikan. Jika pola sosialisasi seseorang salah, maka kecenderungan negatif akan menyeret orang ini. Demikian pula sebaliknya.

“Tetapi, tempat juga mempengaruhi lho..,” kata seorang kawan, “jika kita bergaul di tempat sampah..kan kita bisa jadi sampah, kalo bergaul di kolam susu, kita juga akan seperti susu,” katanya panjang. Nah, ini dia. Manusia itu kan boleh memilih; sesuatu yang baik atau buruk. Pilihannya menentukan hasil akhirnya. Mungkin begitu.

Jika Anda memilih ke sebuah lokalisasi, kemungkinan besar tujuan Anda hendak “meniduri para PSK di situ”. Atau, jika Anda memilih ke sebuah rumah ibadah, ada kemungkinan memang Anda akan beribadah, bukan? Walau tujuan kadang kala tidak selaras dengan hasil akhirnya. Jika Anda ke Mall, atau Plaza—dalam hal ini pengertian “plaza” yang Indonesia. Di negara manca, plaza tidak mengalami pergeseran makna seperti di Indonesia. Plaza adalah zero ground, ruang publik berupa pelataran luas. Di Indonesia “plaza” bergeser menjadi tempat belanja atau pasar modern—tentu tujuan Anda untuk berbelanja bukan? Jika di sana Anda bertemu teman Anda, dan mengajak Anda “macam-macam”, dan Anda menerimanya, selanjutnya adalah urusan Anda.

Pemahaman ini juga harus selurus pada subjek SMS, Chat, Café, dan senjata api. Bukan benda/lokasi yang menyebabkan tindakan jahat, tetapi individu yang menggunakan benda atau memanfaatkan tempat, yang memiliki potensi mengubahnya dalam konteks negatif.

MEDIA YANG MEMPERKERAS UNGKAPAN

ANTV, programa Topik Malam, pada Senin malam, (15/02/2010), menyampaikan berita tentang seorang lagi gadis lari bersama pacarnya. “Satu lagi korban jejaring sosial Facebook…” begitu kata anchor yang jelita itu.

Esoknya, Selasa (16/02/2010), tvOne mewawancarai orangtua seorang gadis. Sang bapak membawa foto anak gadisnya itu, yang diduganya dibawa lari seorang lelaki karena perkenalan di Facebook. Lagi-lagi, host mengutip “..satu lagi korban jejaring Facebook..”

Pada 16 Februari 2010, Redaksi Sore Trans7, sang anchor, si cantik Zweta Manggarani, membacakan berita hilangnya Yuli yang diduga lari bersama pacarnya, seorang sopir angkot di Bogor. News tittle di bawah gambar berita itu, tertulis; Siswi SMP Diculik via Facebook”.

Tidak cuma tiga televisi itu, media televisi lainnya yang melansir kabar ini, tidak luput dari pengutipan serupa. Pun, koran, majalah, dan radio berita. Seolah-olah, pertanyaannya akan jadi seperti ini; Kemana si Facebook membawa lari anak gadis orang? Si Facebook berbuat apa pada orang yang kemudian disebut korban itu? Kenapa polisi tidak menangkap si Facebook?

Facebook tentu juga bisa jadi objek hukum. Seharusnya kan seperti ini; kemana pacar si gadis membawanya lari? Apa yang diperbuat mereka? Polisi akhirnya menangkap cowok si gadis.

Atau, para anchor, juga kawan-kawan jurnalis bisa mengutip kalimat yang lebih fair; “..satu lagi korban gadis dilarikan pacarnya..”, atau “..kasus gadis hilang terjadi lagi. Orangtua korban menduga anak gadisnya dibawa lari pacarnya yang dikenalnya melalui jejaring Facebook..” Ini lebih adil, karena menempatkan korban pada posisinya, dan meletakkan pelaku pada kedudukan sebenarnya.

TvOne sudah menyadari kekeliruan tersebut, dan segera memperbaikinya dalam bahasa-bahasa yang tepat. Tapi, rupanya ini belum diikuti oleh media lainnya. Paling tidak begitu yang terlihat.

Sukar rasanya menempatkan layanan sosial Facebook sebagai penyebab, terlebih jika media dan masyarakat menempatkannya sebagai “pelaku”. Selain memang tidak pas, agak aneh mendengarnya.

Simak kembali news tittle pada berita Trans7 di atas; “Siswi SMP Diculik via Facebook”. Ganjil mendengar atau membaca kalimat itu. Bagaimana bisa seseorang menculik orang lain lewat Facebook? Bukankah Facebook itu domain maya?

Jika seseorang dihina lewat perkataan, atau foto di Facebook, maka ini lebih pas. Jika orang bisa diculik lewat Facebook, jangan-jangan orang pun akan bisa “ditonjok”, atau “dicubit” lewat Facebook. Ada-ada saja.

SIAPA YANG SALAH?

Perilaku adalah faktor utama yang harus disalahkan. Selain itu ada peran orangtua di sana. Orangtua seharusnya mengawasi perilaku anak-anak mereka dalam menggunakan tehnologi. Ini untuk menciptakan rasa tanggung jawab dalam diri seorang anak, ketika menggunakan tehnologi. Pengetahuan baru pada diri seorang, cenderung menggiring pengguna pada hal-hal negatif yang sukar ditebak. Jika perilaku positif sudah terbentuk sejak dini, maka pengguna tehnologi berusia belia telah memiliki dasar tanggung jawab sebagai filter.

Ada yang menarik ketika menyimak berita-berita media tentang hilang para gadis remaja itu. Ternyata kasus-kasus itu memiliki kemiripan pemicu, bahkan nyaris identik. Kasus pertama; gadis “A” yang dilaporkan ibunya hilang dari Surabaya kemudian ditemukan di Jakarta. Kasus kedua; gadis “B” yang dilaporkan ayahnya hilang, kemudian ditemukan di Pondok Gede. Kasus ketiga; gadis “C” yang dilaporkan ibunya diculik di wilayah Bogor hingga kini belum ditemukan.

Ketiga kasus diatas, latar belakang kehidupan keluarga para gadis yang hilang—namanya saya ganti huruf kapital saja, biar mudah—ternyata memiliki kemiripan; berlatar belakang orangtua yang bercerai (gadis “A” dan “B”). Sedang gadis “C”, hanya memiliki ibu sebagai orangtua tunggal. Lihat lagi.

Gadis “B” dan gadis “C” diakui sama-sama sudah berkenalan lama, lebih dulu dengan pacar masing-masing, dan hubungan mereka makin “matang” di layanan Facebook. Selain orangtua, rata-rata, hanya kawan-kawan “kedua pelaku” yang mengetahui hubungan itu.

Ini baru tiga contoh saja. Laporan yang masuk ke Komnas Perlindungan Anak menyebut 100 kasus serupa. Sayangnya laporan ini masih menyebut bahwa kasus-kasus itu “terkait Facebook”. Jika diteliti lebih seksama, saya yakin, ada banyak kesamaan dari korban-korban tehnologi ini.

Latar belakang orangtua para pelaku “pacaran lari” ini ada yang sudah bercerai; belum bercerai tapi tidak tinggal serumah; diasuh orangtua tunggal; umur mereka yang rata-rata remaja (kecuali kasus dokter cantik yang lari bersama pacarnya); memberi gambaran besar pada kita, bahwa perilaku mereka dan cara mereka merefleksikan protesnya, adalah semata-mata persoalan domestik hubungan orangtua dan anak. Tehnologi layanan sosial kemudian mereka yakini sebagai medium yang baik untuk pelampiasan (kasus hina-menghina sesama teman), dan berkeluh kesah. Pada saat mereka menemukan kawan yang mereka anggap mampu menerima kesedihan dan curahan hati mereka, maka pada saat yang sama bibit perilaku menyimpang pun tumbuh. Bahkan, ketika mereka disodori ajakan yang aneh pun, tanpa berpikir lagi, para remaja ini langsung merespon.

Lalu, mensikapi gejala buruk ini, seringkali masyarakat meresponnya dengan tindakan dan pernyataan yang tidak logis lagi. Parahnya, beberapa media tertentu, luput melihat penyebab sesungguhnya, dan membingkai masalah ini dalam pengertian yang berbeda dan keras—paling tidak ini yang nampak.

Kalangan pendidik, orangtua, pemerintah atau lembaga yang intens dengan persoalan laten remaja tidak segera melihat ini sebagai masalah yang butuh penanganan serius. Persoalan hanya ditanggapi dalam bentuk pernyataan bahwa ini adalah gejala “fenomena gunung es”. Tidak ada tindakan yang lebih reaksioner. Lihatlah, kemana telunjuk mereka mengarah? Tehnologi Informasi.

Memangnya apa yang salah dengan Facebook, Twitter, Friendster, dan lain sebagainya itu? Karakter layanan tehnologi informasi sosial itu tiba-tiba jadi negatif karena kasus-kasus yang sesungguhnya hanya ulah sepihak remaja. “Tapi layanan-layanan sosial itulah pemicunya.” Wah, tunggu dulu… Tidakkah ketika hendak menyatakan itu, terlebih dahulu Anda harus menyadari posisi Anda sebagai apa?

Jika Anda orangtua, cobalah mendampingi putra-putri Anda mengenali karateristik layanan tehnologi informasi yang digunakan. Bagaimana sifat-sifat konten tersebut? Apakah layanan itu cocok  buat remaja seusia mereka atau tidak? Temani dan jelaskan pada putra-putri Anda.

Jika Anda lembaga pemerintah, cobalah lebih serius lagi menyikapi gejala pergeseran sosial yang kemungkinan timbul karena konten-konten tertentu. Bangunlah kampanye yang lebih intens dan fair tentang manfaat serta keburukan tehnologi informasi, agar masyarakat pengguna tahu harus memposisikan diri di mana. Jangan selalu menanggapi masalah dengan bertopang pada asumsi-asumsi kolosal dan teori-teori tertentu, semisal “fenomena gunung es”, untuk mencari pembenaran, sedang lembaga-lembaga ini tidak juga berbuat apa-apa terkait dengan fenomena itu.

Bukankah Facebook dan konten jejaring sosial lainnya itu juga sukses mendorong gerakan positif massa ketika KPK berseberangan dengan kepolisian? Bukankah jejaring sosial itu juga berhasil mendorong keadilan buat Prita, bantuan dana buat Bilqis, dan lainnya? Bukankah fenomena “pacaran lari” dan “kawin lari”, culik-menculik atau, bahkan human trafficking sudah lebih dulu ada dari pada layanan sosial itu? Kok baru sekarang terkaget-kaget…

Jika masyarakat sudah dapat menempatkan layanan Facebook sebagai “penyebab dan pelaku” penyimpangan perilaku sosial masyarakat, maka tunggulah sikap masyarakat ini pasti akan merembet pada layanan internet lainnya (semisal blog, situs informatif, dll), lalu akan menggiring penolakan pada media secara umum. Hal ini sudah pernah terjadi; ketika orang menyalahkan SMS, dan ajang pertemanan lewat radio.

Selebihnya, adalah kebijakan Anda. ***

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM [GOODREADS]: ilham_qm Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

One response to “[Essai] Remaja dan Facebook

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: